0

Buku Pertama Kami

Lagi, dia lah yang menjadi sayap sesungguhnya..

Percaya ga percaya, saya menulis ini sambil menahan tetesan air mata, duh jadi mellow…

Entah serius atau bercanda, tapi dia sering sekali bertanya, “Apa ya kebaikan mas sama ade?” Yang selalu saya jawab hanya dengan tatapan aneh atau cukup helaan nafas. Ditanya ini, sungguh ngeri-ngeri sedap, khawatir terjerumus menjadi istri yang kufur nikmat. Maka saya memilih diam, sembari merenungi kebaikan-kebaikannya yang sungguh tak ternilai, tak terhingga.

Sebagai mamah muda, dulu saya sering kali dihinggapi rasa galau akan identitas diri, aktualisasi, atau emansipasi. Tapi si dia yang membesarkan hati, akan selalu menjawabnya dengan tindakan nyata yang kadang kala tetap saja saya hujani dengan keluhan bertubi-tubi.

Iseng ingin jadi momprener, maka ia belikan semua yang dibutuhkan, ia keluarkan harta yang dipunya, yang pada akhirnya kini alat-alat itu malah tersembunyi cantik di lemari dapur.hiksss…

Ingin jadi guru yang bermanfaat. Maka, dari mulai masukin lamaran, antar wawancara, jadi tutor pribadi, pengasuh anak, hingga ojek antar jemput selama 2,5 tahun pun rela ia jalani.

Kini, saat tiba-tiba temannya membantu menelurkan sebuah buku atas nama saya, hikss padahal mah si saya ngerasa belum layak untuk itu, maka yang saya ingat adalah si dia. Saya ingat sejarah asal muasal tulisan-tulisan itu hadir.

Diary Alfatih, blog ini, hadir saat saya mabok hamil muda. Jangankan keluar rumah, lihat matahari saja langsung pusing. Maka, untuk mengobati kejenuhan, si dia pun berbaik hati membuatkan saya blog ini.

Saya bukan orang yang pandai bicara di depan khalayak ramai. Istilahnya, orang di balik layar. Kadang saya suka guyon sama teman sesama guru dulu di Tuban, yang karakternya mirip-miriplah sama saya, tapi shalihahnya mah jauh ke mana-mana. “Kita mah hanya debu-debu yang beterbangan ya Us..” Untuk mengibaratkan betapa kecilnya peran kami, tak berarti. Namun sering dijawab kawan lain, “Debu itu mensucikan loh kalau dipakai tayammum.” hehe iya juga..

Saking senangnya sembunyi di balik layar, kadang saya berfikir, apa yang bisa saya lakukan untuk berbagi? Bagaimana pun seorang wanita tetaplah harus punya manfaat bagi ummat dan dakwah. Nggak mungkin saya jadi penceramah seperti Mamah Dedeh. Bukan hanya karena tak pede berbicara, tapi ilmu pun memang tak punya. Maka, salah satu cara yang terpikir adalah dengan menulis. Yang kata suami mah tulisan saya teh no thing to lose. Mungkin beliau menjaga rasa, sebenarnya mau bilang tulisan saya itu tulisan alakadarnya khas emak-emak.hehe..

Maka, saat Mas Rifai (sobat pak suami) menyodorkan foto si calon buku, saya cuma bengong sambil di-backsound-in cie cie nya pak suami. Kepala saya pening, bulu kuduk berdiri. Bukan apa-apa, beberapa hari sebelumnya baru dapat kajian Ust.Budi tentang betapa bahayanya fenomena zaman sekarang yang mudah men-share ini itu dan menuliskan ini itu tanpa ilmu.

Kebayang ngerinya. Apa kabar nasib saya, jika ada satu saja kalimat dalam buku itu yang menjerumuskan orang pada kebodohan dan dosa. Namun setidaknya saya agak tenang, karena banyak dari isinya yang adalah tulisan dari isi kajian para ustadz hafidzahumullah. InsyaAllah ilmunya shahih. Mudah-mudahan saya terciprati pahala menuliskan.

Dulu, kalau tidak salah, saya pernah baca status Mas Rifai tentang setidaknya meninggalkan satu buku selama kita hidup. Gara-gara baca status itu, saya sampai kepikiran buat ngeprint beberapa tulisan yang akan saya jilid sendiri. Cukup print-printan itu sebagai kenangan anak cucu di rumah kelak. Tapi qodarullah, ternyata Allah gariskan lain.

Akhir kata, saya benar-benar memohon perlindungan kepada Allah, memohon ampun kepada Allah, memohon petunjuk kepada Allah. Semoga Dia senantiasa membimbing saya hanya berkata yang shahih, menulis yang shahih. Jika lah terlanjur ada tulisan saya di buku atau blog yang ternyata mengandung kejahilan, semoga Allah lindungi mereka yang membaca dari kejahilan itu. Tapi jika memang ada sedikit kebaikan dari tulisan-tulisan itu, semoga kami sekeluarga, Mas Rifai serta tim, dan tentunya yang “terjebak” membaca, Allah karuniakan pula pahala kebaikan

Advertisements
0

Allah Lebih Mencintaimu, Bapak…

“Bi, apa yang abi rasakan kalau suatu saat bapak mempoligami ibuk? Padahal kebaikan dan khidmat ibuk ke bapak luar biasa?“ Itu sebenarnya hanya pertanyaan emosional saya jika sudah dihadapkan dengan isu poligami, agar abinya anak-anak bisa ikut membaca rasa. Lalu dia jawab, “Ya nggak mau lah..” Tapi kemudian abinya berkata lagi, “Tapi Mi, pengorbanan bapak ga kalah besarnya. “ Lalu ia pun mulai berkaca-kaca..

Dari bapak saya mengenal suami lebih banyak. Saya ingat kenangan pertama ngobrol agak panjang dengan bapak, yaitu saat saya, beliau dan Kayyis bayi harus puas hanya menunggu di luar gedung Sabuga saat wisuda S2 kangmas. Beliau menceritakan panjang lebar  masa kecil suami, dan saya bisa menangkap betul betapa beliau sanggat bangga pada putranya itu..

Tahun-tahun yang panjang perjuangan beliau melawan kanker, tapi masyaallah secara fisik beliau terlihat bugar dan sehat. Bahkan di tengah-tengah masa pengobatan, sempat-sempatnya bapak merelakan ibuk untuk menemani saya dan Kayyis yang saat itu harus jauh dari kangmas selama sebulan. Yang kemudian ditutup adegan beliau bela-belain naik motor Surabaya-Lamongan hanya untuk mengantar cucu dan mantunya yang hamil besar pergi ke stasiun.

Barangkali kenangan terakhir saya dengan Bapak adalah saat beliau berbicara dengan saya ditelpon dua bulan lalu. Hanya sedikit, beliau meminta maaf, dan tenggorokan saya rasanya sudah tercekat, menahan agar tidak sampai menangis. Mana pantas seorang anak dimintakan maaf, padahal kesalahan kami lah yang menggunung-gunung.

“Laah, Kayyis ga bisa maen sama kakek lagi.” Itu lah ungkapan spontan bocah saat abinya beri tahu kakeknya sudah meninggal. “Kayyis doakan kakeknya biar nanti bisa main lagi di Surga.” Maka hanya dengan kalimat itu dia langsung riang, “Yeaaay, bisa main lagi sama kakek di Surga…”. “ Iya Kak, makanya yuk doain kakek biar disayang Allah..” “Oh, biar kuburannya luas ya kayak istana. Kalau orang jahat kuburannya sempiit..Aku juga mau kuburan yang luas”

Kami masih belum bisa jadi anak yang shalih, tapi kami yakin Allah Maha Tahu bahwa bapak adalah orang yang shalih, dan kami menjadi saksi. Panjang dan beratnya masa sakit yang beliau rasakan semoga menjadi pembersih semua dosa-dosanya dan pemberat timbangan amalnya kelak di Yaumil Hisab.

“ Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku. “ (QS.Al-Fajr : 27-30)

 

0

TA’LIFUL QULUB : Kedekatan Hati dalam Jama’ah Islamiyah

Pelajaran Berjama’ah dari Ashabul Kahfi

Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang memuat tentang berjama’ah adalah QS.Al-Kahfi: 28. Seperti yang diketahui, surat Al-Kahfi memiliki tema besar tentang fitnah/ujian dari Allah SWT, yang meliputi:

  • Fitnah Aqidah (kisah Ashabul Kahfi)
  • Fitnah Harta (kisah pemilik 2 kebun)
  • Fitnah Ilmu (kisah Nabi Musa AS dan Khidir, yang para ulama berbeda pendapat apakah Khidir ini Nabi ataukah hanya orang shalih yang Allah cintai)
  • Fitnah kekuasaan (Kisah Dzulqornain)

Oleh karena itu, kita disunnahkan untuk membaca Al-Kahfi setiap hari Jum’at salah satunya adalah sebagai pengingat bagi kita akan ujian-ujian tersebut. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyampaikan bahwa barangsiapa yang menghafal 10 ayat pertama dan 10 ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, maka akan Allah selamatkan dari fitnah terbesar yaitu fitnah Dajjal.

Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.” (HR.Muslim)

Untuk selamat dari setiap fitnah tersebut, Allah SWT sudah memberikan panduan cara mengatasinya. Salah satunya adalah mengenai fitnah aqidah ini yang  Allah sampaikan melalui kisah Ashabul Kahfi.

  وَاصْبِرْ    نَفْسَكَ    مَعَ    الَّذِينَ    يَدْعُونَ    رَبَّهُم    بِالْغَدَوٰةِ    وَالْعَشِىِّ  يُرِيدُونَ    وَجْهَهُۥ    ۖ    وَلَا    تَعْدُ    عَيْنَاكَ    عَنْهُمْ    تُرِيدُ    زِينَةَ    الْحَيَوٰةِ    الدُّنْيَا    ۖ    وَلَا    تُطِعْ    مَنْ    أَغْفَلْنَا    قَلْبَهُۥ    عَن    ذِكْرِنَا    وَاتَّبَعَ    هَوَٮٰهُ    وَكَانَ    أَمْرُهُۥ    فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas”. (QS.Al-Kahfi : 28)

Salah satu yang menyelamatkan Ashabul Kahfi dari raja dzalim saat itu (fitnah Aqidah) adalah keteguhan mereka dalam berjamaah. Mereka bermusyawarah (syuro’) untuk hijrah dan mereka sangat patuh dalam jamaahnya.

Dalam berjama’ah harus memperhatikan 2 hal :

  1. Bersabar dan membuka hati

Bagaimanapun orang baik bukanlah malaikat. Oleh karenanya, dalam berjama’ah pasti tetap akan kita temui hal-hal yang tidak mengenakkan. Maka perintahnya adalah “Fashbir”, bersabarlah bersama orang-orang baik yang menyeru kepada Allah. Bahkan umat terbaik, yaitu para sahabat pun diperintahkan untuk saling bersabar sesama mereka.

Orang yang bergaul dan bersabar lebih baik dibanding yang hidup sendiri .

“Seorang Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka”. (HR. Bukhari dan At-Tirmidzi)

  1. Jangan berpaling dari jamaah dan malah memilih yang tidak lebih baik

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu  tidak akan diberi pertolongan.”(QS.Hud : 113)

Dalam ayat tersebut, Allah  menyebutkan kata “CENDERUNG” yang identik dengan amalan hati. Cenderung atau keberpihakan hati saja sudah Allah ancam dengan api neraka, apalagi yang lebih dari itu. Terang-terangan mendukung orang dzalim, mengkampanyaken orang dzalim, membela orang dzalim.

Ta’liful Qulub (Menyatukan Hati)

Allafa secara bahasa, dalam kitab Al-Mufradat, artinya berkumpul yang diilhami oleh keserasian. Jadi bukan sekadar berkumpul, namun berkumpul karena serasi.

Dalam Al-Qur’an,kata Allafa (mengumpulkan) disebutkan 4 kali dalam dua tempat, yaitu pada QS.Ali Imran : 103 sebanyak 1 kali, dan pada QS.Al-Anfal:63 sebanyak 3 kali. Dari 4 kali itu, tiga di antaranya kata “Allafa” selalu disandingkan dengan kata “Qalb” (hati), artinya ta’lif di sini adalah mengikat hati.

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً  فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ  فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ  مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ ’

 “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah   dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya  agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imron: 103)

لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِم

“ Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS.Al-Anfal: 63)

Dari dua ayat di atas, ada pelajaran penting yang bisa diambil, yaitu mengenai kunci pokok kemajuan dan kemenangan umat Islam :

  1. Berpegang teguh pada tali Allah (Al-Qur’an dan Sunnah)
  2. Bersatunya ummat Islam

Keutamaan Ukhuwah

 “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS. Az Zukhruf: 67)

Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah  untuk  memperjuangkan hak saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon, “Wahai Rabb kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Lalu dikatakanm, “Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Orang-orang mukmin itupun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.” (HR Ibnu Majah)

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah ta’ala.”

Mereka berkata, Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka? Beliau bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih.” (HR. Abu Daud)

Sarana Mempererat Ikatan Hati

  1. Meningkatkan keimanan

Allah lah yang mengumpulkan hati orang-orang beriman, maka caranya tentu adalah cara Allah. Persaudaraan sesama mukmin adalah karena cinta kepada Allah. Oleh karenanya, bila suatu waktu kita berselisih dengan saudara kita, merasa tersinggung oleh saudara kita padahal sebenarnya tidak ada maksud saudara kita menyakiti, maka cek lah dulu hati kita, ruhiyah kita, jangan-jangan iman kita sedang turun.

  1. Mendoakan

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim)

  1. Mengunjungi saudara
  2. Membahagiakan saudara
  3. Menutup aib
  4. Memberi hadiah
  5. Mudah memaafkan

Balaslah kebaikan dengan balasan yang baik. Adapun terhadap kedzaliman, Allah memberikan dua pilihan. Pertama, membalas kedzaliman itu dengan kedzaliman yang sama persis atau yang kedua, memaafkan kedzaliman itu maka telah menanti pahala di sisi Allah.

Rasulullah SAW adalah sebaik-baik teladan. Beliau tidak pernah menuntut jika itu menyangkut dirinya sendiri. Akan tetapi, beliau akan marah dan menuntut jika itu menyangkut hak Allah, urusan agama, dan hak orang lain.

Bersabar terhadap kedzaliman bukan berarti kita diam karena memang kita lemah tak mampu membalas. Namun bersabar artinya kita sesungguhnya berada dalam kondisi kuat dan mampu untuk membalas, namun kita memilih untuk tidak membalas. Itulah sabar. Dan memaafkan itu artinya benar-benar tidak akan menuntut bahkan menuntut di akhirat kelak.

  1. Menjalankan rukun ukhuwah dengan benar, yaitu ta’aruf (mengenal) dengan benar–>tafahhum (saling memahami)–> takafful (saling menanggung beban saudaranya)

Wallahu ta’ala a’lam

===

Sumber : Kajian Orang Tua Kuttab Al-Fatih Tangsel, yang disampaikan oleh Ust.Akhmad Nizaruddin, MA. (Dewan Syariah Kuttab Al-Fatih Tangsel)

====

Epilog Penulis

Kajian kali ini rasanya sangat istimewa. Beberapa hari ini saya menimbun rasa kecewa terhadap saudara namun seolah diingatkan dengan indah melalui lisan orang-orang shalih; ustadz, suami, dan saudari-saudari seperjuangan.

Tak ada satu takdir pun melainkan sudah menjadi ketetapan Allah. Bahkan takdir buruk sekalipun dalam pandangan kita. Tugas kita hanya bersabar dan introspeksi pada diri.

Barangkali musibah yang datang adalah bentuk kasih sayang Allah mengingatkan diri yang seringkali lalai. Merasa aman dari berbagai gangguan hanya mengandalkan bermacam teori dan ikhtiar lahiriah. Sedang segala yang ada di muka bumi ini ada dalam genggaman-Nya. Ikhtiar takkan pernah sempurna tanpa doa dan tawakkal. Doa adalah senjata orang beriman.

Nyomot perkataan abinya anak-anak, “Jangan sibuk mengurusi kesalahan orang lain, itu adalah tanggung jawabnya kepada Allah. Fokus saja pada diri, aib kita jauh lebih banyak tapi Allah tutupi, amal dan pahala kita ini belum tentu seberapa. Bahkan kita tak tahu akhir hidup seseorang. Barangkali dia yang hari ini terus kita bicarakan kesalahannya, kelak mendahului kita melangkah ke surga .”

Kita diberi dua pilihan, membalas atau memaafkan. Maka belajarlah memaafkan Hai Wulan ! Semoga Allah berikan pahala. Aamiin Allahumma Aamiin.

 

0

Ta’dib dalam Pendidikan Islam

Awalnya kajian kali ini berjudul “Hukuman dalam Islam”, tetapi oleh ustadz diganti menjadi “Ta’dib dalam Pendidikan Islam.”  Mengapa? Karena yang akan dibahas adalah pendidikan untuk usia Kuttab yang notabene berusia di bawah 10  tahun. Adapun anak di bawah 10 tahun akalnya belumlah sempurna, sehingga bilapun anak itu melakukan kesalahan, maka tidak bisa dikatakan salah. Oleh karena itu, meluruskan kesalahannya bukan dengan hukuman melainkan dengan ta’dib.

Secara lahiriah, ta’dib dan hukuman seolah-olah sama, tetapi hakikatnya beda. Ta’dib berasal dari kata Adab yang artinya kesantunan atau kebaikan. Dari sini kita bisa memahami bahwa tujuan ta’dib adalah untuk menjadikan anak beradab. Karena tujuan ini lah, maka orang tua ketika menta’dib pun harus dengan adab. Menasihati dengan adab, menjewer dengan adab,  pun kalau  harus memukul maka memukul dengan adab. Semuanya penuh dengan hikmah.

URGENSI TA’DIB

Dari Jabir bin Sumuah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Laki-laki yang menta’dib anaknya, lebih baik baginya daripada bersedekah setiap hari 1 sha”. (HR.Ahmad)

“Dari ‘Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya), “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

Dalam dunia pendidikan saat ini, ada dua kutub yang bersebrangan. Pertama, yang meyakini bahwa tidak diperbolehkan memukul dalam pendidikan. Dalilnya adalah hadits Rasul bahwa beliau tidak pernah memukul istri, anak dan budak beliau. Yang kedua, pihak yang meyakini bahwa pendidikan tidak bisa baik jika tidak ada pelurusan anak  termasuk dengan memukul. Dalilnya adalah hadits Rasul tentang perintah memukul jika usia 10 tahun anak tidak shalat.

Mengapa ada dua hadits yang bertolak belakang begini? Satu sisi Rasulullah SAW memerintahkan memukul, tapi beliau sendiri pun tidak pernah memukul. Jika ada dalil berbeda seperti ini, maka janganlah terburu-buru untuk mentarjih atau menyebut dalil ini lebih kuat dan yang lain lemah, namun sebaiknya dikompromikan terlebih dulu dengan mengambil  jalan tengahnya.

Mengapa Rasulullah SAW tidak pernah memukul?

  1. Karena istri-istri, anak-anak, dan budak beliau adalah orang-orang baik yang tidak pantas dipukul. Tanpa dipukul pun sudah baik.
  2. Ini menunjukkan betapa baiknya pendidikan Nabi. Sehingga tanpa beliau memukul pun, yang dididiknya sudah baik.

Hikmahnya apa? Orang tua yang cerdas adalah yang tidak perlu memukul untuk meluruskan anak. Dan anak yang cerdas adalah anak yang tidak perlu dipukul untuk diluruskan. Adapun memukuladalah langkah dan obat terakhir yang bisa ditempuh, ini pun benar-benar dibatasi.

MELURUSKAN KESALAHAN

Sebelum meluruskan kesalahan, kita perlu mengetahui faktor-faktor anak berbuat salah, karena beda faktor beda pula penanganannya.

1.Berbuat salah karena tidak faham, maka berilah pemahaman yang benar

  • Dalam Musnad Abu Ya’la Al-Mawsili diriwayatkan bahwa ada seorang budak dari sahabat Anshar yang masih menyebut dirinya budak dari Persi, maka Rasulullah SAW meluruskannya dengan mengatakan bahwa harusnya budak itu menisbatkan dirinya pada kaum Anshar.
  • Dari Imam Muslim diriwayatkan bahwa suatu hari Hasan bin Ali mengambil 1 biji kurma dari shodaqoh. Saat Hasan hendak memasukkan ke dalam mulutnya, Rasulullah mengatakan,’Kih.. kih..keluarkan keluarkan..karena keluargaku tidak memakan dari shodaqoh’. Hasan bin Ali lahir pada 3 H,sedang Rasul SAW wafat pada 11 H. Artinya, hadits ini terjadi pada rentang usia Hasan di bawah 8 tahun.
  • Dari Imam Bukhari diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW safar, sedang bersama beliau ada budak bernama Anjasyah. Anjasyah menuntun unta sambil membaca lagu-lagu dengan suaranya yang sangat merdu. Maka Rasulullah SAW mengatakan kepadanya, “ Pelan-pelanlah Ya Anjasyah janganlah kamu memecahkan sesuau yang mudah pecah (wanita)”. Dalam hadits ini Rasulullah SAW mengingatkan bahwa syahwat melalui pendengaran sangat berbahaya terutama bagi wanita.
  • Dari Ibnu Hibban diriwayatkan bahwa suatu hari Ummu Salamah sedang bersama budaknya Thalhah bin Ubaidillah. Kemudian budak ini melaksanakan shalat. Saat dia hendak sujud, budak tersebut melihat tempat sujud berdebu, maka ia bangun kembali dan membersihkannya dulu. Melihat itu, Ummu Salama berkata, “Jangan lakukan itu, benamkan wajahmu ke tanah”.
  • Dari Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Abu Rafi bercerita. Saat masih kecil ia pernah mencuri kurma dengan melempari pohon kurma, padahal saat itu Abu Rafi tidak dalam keadaan lapar. Saat Rasulullah SAW melihatnya, beliau berkata, “Jangan melempari kurma tapi ambil saja kurma jatuh yang matang”. Kemudian Rasulullah SAW mendoakan Abu Rafi, “Ya Allah kenyangkanlah perutnya.” MasyaAllah, begitu luar biasanya Sang Baginda memberi contoh kepada kita, padahal kesalahan Abu Rafi kecil ini termasuk perbuatan tercela yaitu mencuri, tapi lihatlah bagaimana cara Rasulullah SAW meluruskan bahkan mendoakan.
  • Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA. Suatu hari Anas bin Malik menyampaikan suatu hadits sedang saat itu ada putri beliau bersamanya. Anas bin Malik menceritakan bahwa suatu hari datang seorang wanita menawarkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah SAW. Putri Anas bin Malik kemudian berkata, “Alangkah sedikit malunya wanita itu.” Anas menjawab, “Wanita itu lebih baik dari dirimu, karena dia mencintai Nabi dan menawarkan dirinya kepada Nabi.” Anas bin Malik langsung meluruskan putrinya yang mencela wanita tsb,sedang wanita itu termasuk sahabiyah. Karena Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa mencintai  sahabat Nabi, tidak mencela sahabat Nabi adalah bagian dari keimanan.
  • Dari Ibnu Abbas RA diriwayatkan bahwa suatu saat Rasulullah SAW memboceng keponakannya Al-Fadhl bin Abbas di belakangnya. Kemudian datanglah seorang wanita menghadap Rasulullah dan Al-Fadhl melihatnya. Maka Rasulullah SAW memalingkan wajahnya agar tak melihat wanita tersebut.
  1. Berbuat salah karena tidak bisa, maka ajarilah dengan benar.

Misalkan, seorang anak sudah faham bahwa membantu orang tua adalah suatu kewajiban. Kemudian anak ingin membantu menyetrika tapi ternyata berbuat salah. Dia berbuat salah karena memang belum bisa menyetrika dengan benar, maka solusinya adalah ajari menyetrika.

Dari sahih Ibnu Hibban diriwayatkan bahwa sutu hari Rasulullah SAW meliat seorang anak sedang menguliti kambing namun salah cara mengulitinya. Maka Rasulullah pun mengajari anak itu menguliti yang benar.

Dari Imam Ahmad diriwayatkan bahwa sahabat Nabi, Abu Malik Al-Asy’ari, mengumpulkan kaumnya khusus untuk mengajari mereka cara wudlu dan salat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

  1. Berbuat salah karena kebiasaan buruk, maka MUJAHADAH untuk menghilangkan kebiasaan itu

Kebiasaan adalah cetakan kedua setelah tabi’at. Tabi’at sendiri adalah sifat bawaan lahir. Allah memberi seseorang tabi’at seperti Allah memberi rizki kepada semua manusia. Hanya saja jatahya yang berbeda-beda. Ada yang rizkinya banyak, ada yang sedikit. Pun dengan tabia’at, semua orang diberi rasa marah, malu, lembut, dst, tapi kadarnya yang beda. Ada anak yang jatah marahnya besar sehingga mudah tantrum, ada anak yang jatah marahnya sedikit, sehingga ia kalem. Hanya  satu yang bukan merupakan tabi’at bawaan lahir, yaitu BOHONG.

Adapun bila anak melakukan kesalahan karena terlanjur memiliki kebiasaan buruk, maka tak ada cara lain selain bermujaadah/ bersungguh-sungguh mengubah kebiasaan tersebut. Ustadz memberikan contoh melalui hadits berikut:

“Ketika kalian tidur, syetan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas.” (HR. Bukhari)

Bayangkan, bila ada orang yang tidak mengamalkan tiga perkara tersebut setiap hari, maka sudah ada tiga ikatan syaitan yang membuat jiwanya kotor dan malas. Itu kalau satu hari, bagaimana kalau satu minggu, satu bulan, bertahun-tahun, coba kalikan saja, sudah berapa ratus ikatan syaitan yang mengotori jiwa. Maka, memang akan sulit mengubah kebiasaan buruk, tapi tetap harus diubah dengan kesungguhan.

SEBELUM MENTA’DIB ANAK

Dalam menta’dib diperlukan kreativitas dan kesabaran. Jangan berharap segala sesuatu yang instan. Bila kita melihat hadits tentang perintah shalat kepada anak, maka ada jeda hampir tiga tahun dari mulai memerintahkannya di usia 7 tahun hingga mendisiplinkan di usia 10 tahun. Maka, jika kita misalnya ingin mengajari anak tentang adab terhadap tamu, itu pula jarak waktu bagi kita untuk mamahamkan dan mengajari, 3 tahun. Harus terus  menasihati dengan sabar. Memberi nasihat  harus sering, berulang-ulang, dan juga tak kalah penting haruslah bervariasi. Bila nasihat bunyinya hanya begitu-begitu saja, itu sama saja seperti menasihati cuma satu kali.

Berikut adalah bentuk-bentuk teguran yang bisa dilakukan sebelum langkah terakhir.

  • Memberi nasihat
  • Berpaling
  • Ekspresi wajah (Ta’bis)
  • Menghardik
  • Menghentikan kesalahan
  • Mendiamkan
  • Menyebutkan keburukan

Akan tetapi, teguran-teguran ini memiliki kaidah, yaitu:

  1. Tidak boleh dilakukan di depan teman anak yang sedang bersaing dengan anak kita
  2. Tidak boleh dilakukan di depan orang yang dikagumi anak kita

TAHAPAN TA’DIB

  • Perlihatkan cambuk

“Gantungkanlah cambuk di tempat yang mudah dilihat anggota keluarga, karena demikian ini merupakan pendidikan bagi mereka.” (HR. Ath-Thabarani)

  • Menjewer telinga

Dari ‘Abdullah bin Busr Ash-Shahabi RA, ia berkata: “Ibu saya pernah mengutus saya ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan setandan buah anggur. Akan tetapi, sebelum saya sampai kepada beliau saya makan (buah itu) sebagian. Ketika saya tiba di rumah Rasulullah, beliau menjewer telinga saya seraya bersabda: ‘Wahai anak yang tidak amanah’” (HR. Bukhari )

Dalam menjewer, yang diperbolehkan hanya menyakiti bagian kulit saja,jangan sampai menyakiti hingga daging telinga. Selain itu, dalam menjewer bukan hanya jewerannya saja yang dilakukan, yang juga penting adalah menyampaikan nasihat dan maksud dari jeweran tersebut, seperti contoh Rasulullah dalam hadits di atas, “Wahai anak yang tidak amanah.”

Menjewer telinga ini tidak bisa dijadikan pembenaran atau dikiaskan dengan tindakan lain seperti mencubit lengan, memukul pantat,mencubit paha, dst.

  • Memukul

Ini adalah langkah paling akhir dalam menta’dib. Ada kaidah-kaidah dalam memukul:

  1. Memukul hanya berlaku untuk anak diatas usia 10 tahun, sedang untuk anak di bawah 10 tahun hukumnya haram. Untuk anak di bawah 10 tahun, tidak ada cara dengan memukul. Cukup bersabar dan semakin mempertebal kesabaran.
  2. Pukulan dalam ta’dib maksimal 3x , itu pun untuk kesalahan yang besar
  3. Perhatikan alat memukul. Tidak boleh memukul dengan cambuk, karena akan menyakiti hingga ke daging, sedang memukul hanya boleh menyakiti kulit. Maka dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah memerintahkan sahabat untuk menggunakan alat pukul dari pelepah kurma, bukan pelepah yang besar dan keras, bukan pula yang terlalu lembek, namun di antara keduanya (sedang).
  4. Bagian yang tidak boleh dipukul: wajah, tengkuk, kepala, kemaluan. Dan tidak boleh memukul hanya pada satu tempat.
  5. Tidak boleh memukul saat sedang marah
  6. Hentikan pukulan jika anak berlindung kepada Allah SWT.

======

Sumber: Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel 8 oleh Ust. Herfi G. Faizi (Pembina Kuttab Al-Fatih)

 

0

Our Love Story

Hehe..beberapa hari ini, yang ginian lagi booming di kalangan emak-emak..Mau ikutan juga, tapi malu kalau di pesbuk mah, jadi weh ngageje di blog…Saya ajak kangmas jawab bareng-bareng..Si saya cekikikan dia mah datar aja, naon cenah aneh..heu..Baiklah..mulakan..

Our Love Story ❤️

  1. Anniversary?
    9 Oktober 2010
  1. First date?

Kangmas bilang jalan bareng beli obat sakit perut ke Alfam*rt habis resepsi teh sebagai first date, meni sedih hikss..Kalau kata saya first date kami waktu 10 Oktober 2010, bertepatan dengan Pasar Seni ITB. Apa daya saat itu ITB penuh puoool, akhirnya kami malah nyusurin jalan Dago lanjut Nyalman..Pulangnya,tiba-tiba ada ikhwan SMS dia, “Akhi, saya kok liat antum tadi jalan bareng akhwat???” 😀

  1. How did you first met?

Si  dia mah ga inget kapan ketemu saya pertama kali..Saya mah inget banget sampai sekarang, lebih tepatnya pertama kali tau yang namanya Khabib Khumaini..Kalau ga salah akhir semester 4 saat ada dauroh Mata’..Ada game bikin menara dari sedotan trus diuji kekuatannya sama panitia..Jreng jreng muncul lah seorang ikhwan bawa tiker kayaknya mau “ngagebrigkeun’ tuh tiker buat bikin angin..Apa daya, semua menara sedotan malah luluh lantah kesenggol tikernya dia..hihii

  1. What is “your song” together?
    Ga ada..Kangmas ga suka lagu dan musik
  1. Do you remember the first movie?
    Alangkah Lucunya Negeri ini ATAU Upin Ipin The Movie, lupa…hehe..Itupun nontonnya di laptop
  1. First road trip together?
    Ke Garut pas Idul Adha pertama habis nikah..Yang gini trip bukan?
  1. Do you have kids?
    Alamdullillah, duo Maryam yang sangat nemplok sama bapake
  1. Which of you is Older?
    Diriku, beda 170 hari
  1. Who was interested first?
    Si dia atuh
  1. More sensitive?
    Angkat tangan tinggi-tinggi
  1. Worst temper?
    Tutup muka
  1. Who is the funniest?
    Ga ada yang lucu,,dua-duanya garing tapi ngangenin,,hehe
  1. More social?
    Bingung..dua-duannya pemalu, pendiam, tapi baik hati dan tidak sombong
  1. More stubborn?
    Kata dia saya, kata saya mah dia da
  1. Wakes up first?
    Si dia lah…
  2. Has the bigger family?
    Kalau keluarga saya hampir deketan semua, jadi sekalinya ngumpul tumpah ruah..Kalau dia, keluarganya jauh-jauhan..Jadi, entahlah..
  1. Eat the most?
    Saya, kan saya busui (pembenaran)
  1. Who said I love you first?
    Ya kangmas laaaah…
  1. Holds the remote?
    Saya doong
  1. Better cook?
    Saya sering masak, tapi sekalinya kangmas yang masak, kesalip semua masakan saya..hehe  😀
  1. More romantic?
    Ga ada yang romantis 😀
  1. Lebih lama di toilet?
    Nya dia atuuh..sekalian ngegosok kamar mandi, kayaknya itu pekerjaan bapak-bapak sedunia

 

Udah begitu aja..Yang penting mah love love nya membawa berkah dari Allah..Aamiin

0

AGHNIYA ( 1 Tahun.. Galeri dari Bulan ke Bulan)

Aghniya Newborn 

Beberapa malam sebelum melahirkan, ummi sempat mimpi melahirkan anak perempuan yang digendong Utinya..Wajahnya manis lebih mirip keluarga dari Jawa..MasyaAllah ternyata betul, saat lahir kalau diamat-amati Aghniya manis seperti Utinya, yaa bolehlah kalau abinya mau dibilang mirip juga :p

newborn2


newborn

Aghniya 1 Bulan

1-bln-2

Serius banget De..

Aghniya 2 Bulan

didandanin cantik karena mau diimunisasi 🙂

Aghniya 3 Bulan

3-bln

Ekspresi nyengir karena bahagia sudah punya 2 gigi…

Aghniya 4 Bulan

4-bln

Berhasil gulang-guling sendiri…

Aghniya 5 Bulan

5-bln


5-bln3

Aghniya 6 Bulan

Tidur di kereta, pulang mudik dari rumah Uti

6-bln

Aghniya 7 Bulan7-bln

Aghniya 8 Bulan

Di bulan ini, entah kenapa foto-foto Aghniya semua posisinya begini..Sungguh, tak ada maksud promosi salah satu supermarket 😛




Aghniya 9 Bulan

img-20170204-wa0001

Aghniya lelah nih Bi…

 

img-20170204-wa0000

Aghniya 10 Bulan

img-20161123-wa0006

img-20161123-wa0005

Aghniya 11 Bulan

11-bln

img-20170204-wa0002

Aghniya 12 Bulan

p_20170121_105336

Alhamdulillah, satu minggu sebelum tepat satu tahun, Aghniya bisa lancar berjalan…Semoga kelak langkah kakinya hanya menuju tempat yang baik 🙂

 

 

Lagi di nikahan om Adam dan tante Monik


 

3

Satu Semester Kayyisah Alfatih dan Kuttab Al-Fatih

Beberapa orang bertanya bagaimana perkembangan Kayyis selama di Kuttab.

Jawabannya  adalah….

===

Bismillahirrahmanirrahim

Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Manusia hanya berikhtiar sedemikian rupa, setiap anugerah semata-mata adalah kemurahan dari sang Pencipta, Allah Jalla Jalaluh.

Iman sebelum Quran. Adab sebelum ilmu. Ilmu sebelum amal.

Iman

Ini lah yang paling berharga. Terlebih bagi kami orang tua yang minim ilmu syar’i, serba bingung dan meraba-raba.

Hadits-hadits pertama yang diajarkan dan dihafal anak-anak adalah tentang tauhid. Hadits-hadits tersebut terus diulang-ulang , sampai tanpa sadar saat Kayyis bermain pun  ia menggumamkan hafalan-hafalan haditsnya. “Ihfadizillaha yahfadzuka ..” “Ittaqillaaha haitsu maa kunta….”. “Waidzasta’anta fasta’in billah..”, dst.

Kayyis sendiri lebih banyak saya tekankan tentang masalah penjagaan Allah, Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat, juga Allah lah pencipta segala sesuatu. Terkadang Kayyis enggan ditinggal sendirian, maka selalu saya tekankan, “Ada Allah. Allah yang Maha Menjaga. ”Eh,dia ngeyel, “Mana? Ga ada tuh..” “Yiis, Kayyis tidak bisa melihat Allah, tapi Allah selalu melihat dan menjaga Kayyis”. Sampai suatu hari dia bicara pada adiknya yang masih banyi, “Ga usah takut ya Deek, kan ada Allah.” Hehe..

Kalau lihat hujan, lihat hewan, liat pohon  maka ia akan katakan, “Ciptaan Allah ya Umi.” Sampai kalau lagi baca iqra pun dia  komentar, ”Ini yang nulis Allah juga ya?” “Bukaan,yang nulis orang, orangnya ciptaan Allah.”

Nah, salah satu hal lain yang sudah dia fahami sekarang adalah bahwa adek itu dikasihnya sama Allah. Maka, mulailah dia berdoa, “Yaa Allah, berikanlah aku adek Muhammad”. Hmmm…Umminya kerut-kerut kening..

Selain terus menerus menanamkan tentang Allah, juga yang paling sering disampaikan adalah tentang adanya surga dan neraka. Menjelaskan keduanya  adalah penting, tidak bisa hanya surga saja atau neraka saja. Terkadang saya terkagum-kagum jika sudah  mendengar ungkapan-ungkapan spontan Kayyis.  Pernah suatu saat saya mengajaknya ngobrol, “Kak, kenapa sih kita shalat?”..Dia jawab,”Hmmm..biar disayang Allah kan ummi…hmmm..sama biar dapat air susu di sungai yang banyaaaak  di surga.”

Lain hari tiba- tiba dia merengek, “Ummi..Kayyis ga mau jadi tulaaang.” Si umminya ga ngerti, akhirnya ngadu lah sama abinya sambil nangis ngahinghing, “Abiii..Kayyis ga mau jadi tulaang..”  Ternyata eh ternyata, salah satu jarinya ada yang luka dan kulitnya mengelupas. “Ga Yis, itu besok sembuh kok, ga akan jadi tulang.” Dia lanjut lagi, “Oh, ga ya Bi, Kayyis takut jadi tulang kayak di neraka itu.” Dan, kami pun terdiam…

Selanjutnya yang tentu diperkenalkan adalah tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikit-dikit, “Kayak Rasulullah ya Ummi.” ”Mau istana kayak Rasulullah ya Ummi.” Dst. Juga mengenalkan para sahabatnya, terutama 10 sahabat mulia yang dijamin masuk surga.

Quran

Seperti yang selalu ditekankan, bahwa Kuttab bukanlah lembaga tahfidzul Quran, melainkan lembaga Iman dan Quran. Bukan berarti Al-Quran ditinggalkan, tetapi penanaman iman menjadi sesuatu yang lebih diprioritaskan.

Untuk kelas Kuttab Awal 1, Kayyis belajar membaca Quran menggunakan metode Baghdadiyah. Alhamdulillah, cukup bisa mengikuti karena sebelum di Kuttab sudah lebih dahulu memulai dengan metode Iqra. Sedangkan untuk hafalan Quran alhmdulillah cukup lancar, walau kadang ada beberapa surat yang harus setor ulang 2-3 kali. Parameter kelulusan pun cukup ketat, bukan hanya kelancaran tapi yang utama tentang makhraj dan tajwid.

Suatu hari Kayyis minta main sekolah-sekolahan. Dan, jadi lah ummi abinya sebagai murid. Ternyata dia ingin ngajarin makhorijul huruf. “Gini loh Ummi kata ustadz,’Abb’ bibirnya ditahan dulu baru dibuka..” dst, dia ajarin hampir semua huruf. Kami disuruh mengulang ucapan dia,  habis itu diminta takbir,”Allahu Akbar !!!”

Seperti yang pernah disampaikan saat Stadium General, di Kuttab musik sangat diminimalisir. Bukan mau masuk ranah fiqh haram atau tidak haramnya musik, tapi Kuttab memilih berhati-hati dan mengambil ibroh dari sejarah tentang keruntuhan daulah-daulah Islam. Efeknya, saat mendengar musik Kayyis langsung menghindar. Boro-boro musik, umminya keceplosan berdendang aja lansung disemprit, “Ummiii..istighfar ummi istighfaar.”

 Adab

Sebelum belajar ilmu dari guru, sesungguhnya yang ditiru adalah adab terlebih dulu. Dimulai dari hal-hal kecil dan rutin, seperti adab menuntut ilmu, adab makan,adab ke kamar mandi, adab tidur, adab bertamu, hingga adab dengan lawan jenis. Anak TK diajarin adab lawan jenis? Ya, contohnya adalah diajarkan cara salaman dengan ustadz tanpa boleh bersentuhan tangan.

Selain tentang sentuhan dengan bukan mahram, Kayyis mulai ngeh tentang aurat. Keluar kamar mandi belum sempat tutup aurat, dia akan ngacir kalau ada abinya, “Maluuu, ada ikhwaaan.” Kalau abinya ga sengaja lepas baju atas, dia komplain, “Abiii maluuu.” Tapi sekarang mah udah nggak protes, “Ooh gapapa ya, aurat ikhwan kan dari perut sampai lutut ya.” Hmm..aya-aya wae.

Tentang adab, yang cukup nempel adalah tentang berdoa . Masuk rumah baca doa, keluar rumah otomatis baca doa, semua seolah sudah otomatis baca doa. Tapi, kadang-kadang juga perlu diingatkan, walau  ummi abinya sih yang lebih sering kena semprit sama dia  kalau lupa baca doa.

Cerita lainnya, suatu hari saat abinya pulang, abinya kena omel Kayyis. “Abiii, kata ustadz,kalau habis salam mukanya ngadap sana dulu, jangan liat pintu.” Hehe..langsung praktek dah.  Kalau bersin, dia mengucap “Alhamdulillah”, dan yang lain tidak ngeh, maka dia segera protes,”Kok ga ada yang jawaaab?” Maksudnya kenapa ga ada yang jawab ’Yarhamukallah’..Protes atau rengekan lainnya adalah kalau ia membantu umminya lalu si ummi lupa berterima kasih, ia akan bilang, “Ummi kok ga bilang ‘baarakallahu fiik’?” Hmmm…

Yang kadang ketar-ketir adalah kalau ni bocah belum bisa mencerna dengan utuh apa yang disampaikan ustadz. Misal, suatu hari ustadznya ngasih tau kalau jatuh itu lebih baik mengatakan “Innalillah…” bukannya “Aduh..” Lagi-lagi langsung praktek lah dia ke temannya di komplek rumah atau di masjid. Dengar temannya bilang ‘Aduh’, langsung dia ingatkan, “Kata ustadz ga boleh bilang aduh, dosa loh.” Haduuh..

Adab yang juga menjadi perhatian di  Kuttab adalah tentang berbakti kepada orang tua. Maka, beberapa kali kami mendapat tugas mendampingi Kayyis untuk belajar mencuci bekas makan sendiri, mencuci kaki ummi dan abi, memijiti, menyuapi, membuatkan minum, dll. Tugas itu padahal hanya berlangsung dua atau tiga kali, tapi alhamdulillah kebiasaanya masih berlanjut sampai sekarang. Dia lah yang sekarang menyuguhi abinya air saat abinya pulang kerja. Terkadang dia pula yang membuatkan umminya teh di subuh hari.

Ilmu

Ini yang cukup menarik bagi saya. Salah satu tematik yang dipelajari Kayyis adalah tentang tadabbur Juz 30. Semester ini  bahasannya tentang alam yang mencakup  waktu, unsur, dan energi. Pembelajaran tematik ini sesungguhnya bagian dari pembelajaran iman, modulnya pun khusus disusun oleh tim Kuttab. Saya waktu awal membacanya, puyeng, gimana anaknya.hehe.. Tapi ternyata lambat laun kami menjadi terbiasa.

Misalnya tentang waktu, ada sub bab mengenal waktu malam. “Proses terjadinya malam ada di surat Al-Insyiqoq ayat  16-17, dst”. Anak-anak selalu diminta menghafal ayat dan terjemahnya. Dari situ muncullah dialog-dialog iman, “Oh, Allah yang menciptakan malam..Tanda malam mulai datang adalah dengan muncul syafaq.” Dst dst.. Lanjut lagi, nyambung ke pembahasan ilmu-ilmu murofaqotnya, yaitu IPA, IPS, matematika, dan B.Indonesia.

Yang lucu adalah waktu kemarin menyiapkan Kayyis untuk UAS. Nih bocah 5 tahun UAS IPA,IPS nya kayak apa coba. Sempat ditanya abinya, “Yis, fungsi tanah apa aja?” Dia jawab, “Itu tuh buat nanam,kayak Kayyis waktu itu nanam jahe..” hehe padahal mah dia nanam kunyit. ”Trus apa lagi Yis fungsi tanah?” Dia jawab lagi, “Hmmm..buat yang meninggal.” Betul,,betul..  Lain hari ditanya lagi sama abinya, “Yis, kalau api buat apa?” Dengan polosnya dia jawab, “Buat masak, sama buat neraka..hii sereem..”hihi

Lain soal waktu belajar IPS, kebetulan waktu itu diminta belajar jenis-jenis profesi. “Yis,ayo sebutkan jenis-jenis pekerjaan!” Kayyis jawab, “Membaca, menulis,memasak.” Gubraaak, abinya cuma nyengir. “Bukan yang itu Yis,dokter, guru, ituuu..” “Yis, kalau abi kerjanya apa?” “ Hmm..abi guru kan..kalau Kayyis apa Ummi?” Saya jawab, “Kayyis kan santri Kuttab..Trus trus kalau ummi apa Yis?” Eh, dia jawab, ”Ummi ngaji laaah..” MasyaAllah, si ummi langsung terharu..

Tapi ada yang sedikit membuat saya sedih. UAS kemarin Kayyis harus remedial Matematika. Umminya langsung  galau, kok saya ga bisa ngajarin anak, hikssss..Padahal sehari sebelum UAS, Kayyis senang betul belajar berhitung, penjumlahan dan pengurangan. “Abi,ummi galau..Ummi ngerasa gagal. Padahal ummi kan dulu guru Matematika ya..hiks..hiks..” Abinya cuma jawab, “Mi, kenapa sih harus gitu. Anak kita bahkan sudah lulus Al-Quran,lulus iman,adab, lagian Kayyis aja baru tahu cara berhitung kemarin..” Pas dipikir-dipikir, iya juga. Beberapa bulan lalu, bahkan angka 6 saja sering kelewat,nulis angka kebalik-balik. Dua bulan lalu, Kayyis masih belum bisa membaca, hari ini, saat malam hari dia lah yang membacakan buku Hallo Balita untuk adiknya. Barangkali  ini lah salah satu perkembangan yang harusnya disyukuri. Bukan dengan membandingkan kepada temannya tapi dibandingkan dengan Kayyis sebelumnya. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzdzibaan..

Ilmu yang juga dipelajari Kayyis di Kuttab adalah tentang keterampilan hidup. Saat class meeting kemarin dia belajar nyapu, nyabutin rumput, masak, lipat baju, dan jahit. Semangat banget dia nunggu kancing baju ummi copot, “Ummi, kancingnya ga ada yang copot ya? Kalau copot, Kayyis yang jahit ya”.

====

Beberapa hari lalu,ustadz menunjukkan salah satu video tentang muslimin di Aleppo.Saya baru tahu setelah saya tunjukkan video yang sama lalu Kayyis komentar,”Oh,itu yang diliatin ustadz tadi Ummi..” Lalu saya ajak dia ngobrol pelan-pelan, saya ajak dia untuk mendoakan. Salah satu efek setelah diingatkan tentang saudara-saudaranya di Aleppo adalah dia jadi  irit jajan. Celengan yang biasanya dia orek-orek karena ingin nambah jatah jajah, kali ini berhenti ia orek-orek..”Untuk infaq kan Ummi..buat teman-teman Kayyis yang jauh itu kan,yang kebakaran, yang berdarah..”

====

Ummi : ” Abi, kenapa sayang ummi?”

Abi : ” Karena ummi istri abi yang shalihah. Trus, kenapa ummi sayang abi?”

Ummi : ” Karena abi suami ummi yang shalih.”

Abi: ” Kayyis sayang abi ga?”

Kayyis : “Sayaang..”

Abi : ” Kenpa sayang abi?”

Kayyis : “Karena Allah..”

====

Perjalanan ini masih sangat panjang. Perjalanan membersamai Kayyisah baru akan berakhir  ketika kelak sebelah kaki kami sudah sama-sama melangkah ke Surga. Aamiin Allahumma Aamiin.

Jazaakumullah khairan katsiiran asaatidz wa ustadzaat 🙂

Rabbii Hablii minashshalihiin

Yaa Allah bimbinglah kami…