0

TA’LIFUL QULUB : Kedekatan Hati dalam Jama’ah Islamiyah

Pelajaran Berjama’ah dari Ashabul Kahfi

Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang memuat tentang berjama’ah adalah QS.Al-Kahfi: 28. Seperti yang diketahui, surat Al-Kahfi memiliki tema besar tentang fitnah/ujian dari Allah SWT, yang meliputi:

  • Fitnah Aqidah (kisah Ashabul Kahfi)
  • Fitnah Harta (kisah pemilik 2 kebun)
  • Fitnah Ilmu (kisah Nabi Musa AS dan Khidir, yang para ulama berbeda pendapat apakah Khidir ini Nabi ataukah hanya orang shalih yang Allah cintai)
  • Fitnah kekuasaan (Kisah Dzulqornain)

Oleh karena itu, kita disunnahkan untuk membaca Al-Kahfi setiap hari Jum’at salah satunya adalah sebagai pengingat bagi kita akan ujian-ujian tersebut. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyampaikan bahwa barangsiapa yang menghafal 10 ayat pertama dan 10 ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, maka akan Allah selamatkan dari fitnah terbesar yaitu fitnah Dajjal.

Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.” (HR.Muslim)

Untuk selamat dari setiap fitnah tersebut, Allah SWT sudah memberikan panduan cara mengatasinya. Salah satunya adalah mengenai fitnah aqidah ini yang  Allah sampaikan melalui kisah Ashabul Kahfi.

  وَاصْبِرْ    نَفْسَكَ    مَعَ    الَّذِينَ    يَدْعُونَ    رَبَّهُم    بِالْغَدَوٰةِ    وَالْعَشِىِّ  يُرِيدُونَ    وَجْهَهُۥ    ۖ    وَلَا    تَعْدُ    عَيْنَاكَ    عَنْهُمْ    تُرِيدُ    زِينَةَ    الْحَيَوٰةِ    الدُّنْيَا    ۖ    وَلَا    تُطِعْ    مَنْ    أَغْفَلْنَا    قَلْبَهُۥ    عَن    ذِكْرِنَا    وَاتَّبَعَ    هَوَٮٰهُ    وَكَانَ    أَمْرُهُۥ    فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas”. (QS.Al-Kahfi : 28)

Salah satu yang menyelamatkan Ashabul Kahfi dari raja dzalim saat itu (fitnah Aqidah) adalah keteguhan mereka dalam berjamaah. Mereka bermusyawarah (syuro’) untuk hijrah dan mereka sangat patuh dalam jamaahnya.

Dalam berjama’ah harus memperhatikan 2 hal :

  1. Bersabar dan membuka hati

Bagaimanapun orang baik bukanlah malaikat. Oleh karenanya, dalam berjama’ah pasti tetap akan kita temui hal-hal yang tidak mengenakkan. Maka perintahnya adalah “Fashbir”, bersabarlah bersama orang-orang baik yang menyeru kepada Allah. Bahkan umat terbaik, yaitu para sahabat pun diperintahkan untuk saling bersabar sesama mereka.

Orang yang bergaul dan bersabar lebih baik dibanding yang hidup sendiri .

“Seorang Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka”. (HR. Bukhari dan At-Tirmidzi)

  1. Jangan berpaling dari jamaah dan malah memilih yang tidak lebih baik

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu  tidak akan diberi pertolongan.”(QS.Hud : 113)

Dalam ayat tersebut, Allah  menyebutkan kata “CENDERUNG” yang identik dengan amalan hati. Cenderung atau keberpihakan hati saja sudah Allah ancam dengan api neraka, apalagi yang lebih dari itu. Terang-terangan mendukung orang dzalim, mengkampanyaken orang dzalim, membela orang dzalim.

Ta’liful Qulub (Menyatukan Hati)

Allafa secara bahasa, dalam kitab Al-Mufradat, artinya berkumpul yang diilhami oleh keserasian. Jadi bukan sekadar berkumpul, namun berkumpul karena serasi.

Dalam Al-Qur’an,kata Allafa (mengumpulkan) disebutkan 4 kali dalam dua tempat, yaitu pada QS.Ali Imran : 103 sebanyak 1 kali, dan pada QS.Al-Anfal:63 sebanyak 3 kali. Dari 4 kali itu, tiga di antaranya kata “Allafa” selalu disandingkan dengan kata “Qalb” (hati), artinya ta’lif di sini adalah mengikat hati.

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً  فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ  فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ  مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ ’

 “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah   dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya  agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imron: 103)

لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِم

“ Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS.Al-Anfal: 63)

Dari dua ayat di atas, ada pelajaran penting yang bisa diambil, yaitu mengenai kunci pokok kemajuan dan kemenangan umat Islam :

  1. Berpegang teguh pada tali Allah (Al-Qur’an dan Sunnah)
  2. Bersatunya ummat Islam

Keutamaan Ukhuwah

 “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS. Az Zukhruf: 67)

Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah  untuk  memperjuangkan hak saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon, “Wahai Rabb kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Lalu dikatakanm, “Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Orang-orang mukmin itupun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.” (HR Ibnu Majah)

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah ta’ala.”

Mereka berkata, Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka? Beliau bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih.” (HR. Abu Daud)

Sarana Mempererat Ikatan Hati

  1. Meningkatkan keimanan

Allah lah yang mengumpulkan hati orang-orang beriman, maka caranya tentu adalah cara Allah. Persaudaraan sesama mukmin adalah karena cinta kepada Allah. Oleh karenanya, bila suatu waktu kita berselisih dengan saudara kita, merasa tersinggung oleh saudara kita padahal sebenarnya tidak ada maksud saudara kita menyakiti, maka cek lah dulu hati kita, ruhiyah kita, jangan-jangan iman kita sedang turun.

  1. Mendoakan

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim)

  1. Mengunjungi saudara
  2. Membahagiakan saudara
  3. Menutup aib
  4. Memberi hadiah
  5. Mudah memaafkan

Balaslah kebaikan dengan balasan yang baik. Adapun terhadap kedzaliman, Allah memberikan dua pilihan. Pertama, membalas kedzaliman itu dengan kedzaliman yang sama persis atau yang kedua, memaafkan kedzaliman itu maka telah menanti pahala di sisi Allah.

Rasulullah SAW adalah sebaik-baik teladan. Beliau tidak pernah menuntut jika itu menyangkut dirinya sendiri. Akan tetapi, beliau akan marah dan menuntut jika itu menyangkut hak Allah, urusan agama, dan hak orang lain.

Bersabar terhadap kedzaliman bukan berarti kita diam karena memang kita lemah tak mampu membalas. Namun bersabar artinya kita sesungguhnya berada dalam kondisi kuat dan mampu untuk membalas, namun kita memilih untuk tidak membalas. Itulah sabar. Dan memaafkan itu artinya benar-benar tidak akan menuntut bahkan menuntut di akhirat kelak.

  1. Menjalankan rukun ukhuwah dengan benar, yaitu ta’aruf (mengenal) dengan benar–>tafahhum (saling memahami)–> takafful (saling menanggung beban saudaranya)

Wallahu ta’ala a’lam

===

Sumber : Kajian Orang Tua Kuttab Al-Fatih Tangsel, yang disampaikan oleh Ust.Akhmad Nizaruddin, MA. (Dewan Syariah Kuttab Al-Fatih Tangsel)

====

Epilog Penulis

Kajian kali ini rasanya sangat istimewa. Beberapa hari ini saya menimbun rasa kecewa terhadap saudara namun seolah diingatkan dengan indah melalui lisan orang-orang shalih; ustadz, suami, dan saudari-saudari seperjuangan.

Tak ada satu takdir pun melainkan sudah menjadi ketetapan Allah. Bahkan takdir buruk sekalipun dalam pandangan kita. Tugas kita hanya bersabar dan introspeksi pada diri.

Barangkali musibah yang datang adalah bentuk kasih sayang Allah mengingatkan diri yang seringkali lalai. Merasa aman dari berbagai gangguan hanya mengandalkan bermacam teori dan ikhtiar lahiriah. Sedang segala yang ada di muka bumi ini ada dalam genggaman-Nya. Ikhtiar takkan pernah sempurna tanpa doa dan tawakkal. Doa adalah senjata orang beriman.

Nyomot perkataan abinya anak-anak, “Jangan sibuk mengurusi kesalahan orang lain, itu adalah tanggung jawabnya kepada Allah. Fokus saja pada diri, aib kita jauh lebih banyak tapi Allah tutupi, amal dan pahala kita ini belum tentu seberapa. Bahkan kita tak tahu akhir hidup seseorang. Barangkali dia yang hari ini terus kita bicarakan kesalahannya, kelak mendahului kita melangkah ke surga .”

Kita diberi dua pilihan, membalas atau memaafkan. Maka belajarlah memaafkan Hai Wulan ! Semoga Allah berikan pahala. Aamiin Allahumma Aamiin.

 

0

Ta’dib dalam Pendidikan Islam

Awalnya kajian kali ini berjudul “Hukuman dalam Islam”, tetapi oleh ustadz diganti menjadi “Ta’dib dalam Pendidikan Islam.”  Mengapa? Karena yang akan dibahas adalah pendidikan untuk usia Kuttab yang notabene berusia di bawah 10  tahun. Adapun anak di bawah 10 tahun akalnya belumlah sempurna, sehingga bilapun anak itu melakukan kesalahan, maka tidak bisa dikatakan salah. Oleh karena itu, meluruskan kesalahannya bukan dengan hukuman melainkan dengan ta’dib.

Secara lahiriah, ta’dib dan hukuman seolah-olah sama, tetapi hakikatnya beda. Ta’dib berasal dari kata Adab yang artinya kesantunan atau kebaikan. Dari sini kita bisa memahami bahwa tujuan ta’dib adalah untuk menjadikan anak beradab. Karena tujuan ini lah, maka orang tua ketika menta’dib pun harus dengan adab. Menasihati dengan adab, menjewer dengan adab,  pun kalau  harus memukul maka memukul dengan adab. Semuanya penuh dengan hikmah.

URGENSI TA’DIB

Dari Jabir bin Sumuah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Laki-laki yang menta’dib anaknya, lebih baik baginya daripada bersedekah setiap hari 1 sha”. (HR.Ahmad)

“Dari ‘Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya), “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

Dalam dunia pendidikan saat ini, ada dua kutub yang bersebrangan. Pertama, yang meyakini bahwa tidak diperbolehkan memukul dalam pendidikan. Dalilnya adalah hadits Rasul bahwa beliau tidak pernah memukul istri, anak dan budak beliau. Yang kedua, pihak yang meyakini bahwa pendidikan tidak bisa baik jika tidak ada pelurusan anak  termasuk dengan memukul. Dalilnya adalah hadits Rasul tentang perintah memukul jika usia 10 tahun anak tidak shalat.

Mengapa ada dua hadits yang bertolak belakang begini? Satu sisi Rasulullah SAW memerintahkan memukul, tapi beliau sendiri pun tidak pernah memukul. Jika ada dalil berbeda seperti ini, maka janganlah terburu-buru untuk mentarjih atau menyebut dalil ini lebih kuat dan yang lain lemah, namun sebaiknya dikompromikan terlebih dulu dengan mengambil  jalan tengahnya.

Mengapa Rasulullah SAW tidak pernah memukul?

  1. Karena istri-istri, anak-anak, dan budak beliau adalah orang-orang baik yang tidak pantas dipukul. Tanpa dipukul pun sudah baik.
  2. Ini menunjukkan betapa baiknya pendidikan Nabi. Sehingga tanpa beliau memukul pun, yang dididiknya sudah baik.

Hikmahnya apa? Orang tua yang cerdas adalah yang tidak perlu memukul untuk meluruskan anak. Dan anak yang cerdas adalah anak yang tidak perlu dipukul untuk diluruskan. Adapun memukuladalah langkah dan obat terakhir yang bisa ditempuh, ini pun benar-benar dibatasi.

MELURUSKAN KESALAHAN

Sebelum meluruskan kesalahan, kita perlu mengetahui faktor-faktor anak berbuat salah, karena beda faktor beda pula penanganannya.

1.Berbuat salah karena tidak faham, maka berilah pemahaman yang benar

  • Dalam Musnad Abu Ya’la Al-Mawsili diriwayatkan bahwa ada seorang budak dari sahabat Anshar yang masih menyebut dirinya budak dari Persi, maka Rasulullah SAW meluruskannya dengan mengatakan bahwa harusnya budak itu menisbatkan dirinya pada kaum Anshar.
  • Dari Imam Muslim diriwayatkan bahwa suatu hari Hasan bin Ali mengambil 1 biji kurma dari shodaqoh. Saat Hasan hendak memasukkan ke dalam mulutnya, Rasulullah mengatakan,’Kih.. kih..keluarkan keluarkan..karena keluargaku tidak memakan dari shodaqoh’. Hasan bin Ali lahir pada 3 H,sedang Rasul SAW wafat pada 11 H. Artinya, hadits ini terjadi pada rentang usia Hasan di bawah 8 tahun.
  • Dari Imam Bukhari diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW safar, sedang bersama beliau ada budak bernama Anjasyah. Anjasyah menuntun unta sambil membaca lagu-lagu dengan suaranya yang sangat merdu. Maka Rasulullah SAW mengatakan kepadanya, “ Pelan-pelanlah Ya Anjasyah janganlah kamu memecahkan sesuau yang mudah pecah (wanita)”. Dalam hadits ini Rasulullah SAW mengingatkan bahwa syahwat melalui pendengaran sangat berbahaya terutama bagi wanita.
  • Dari Ibnu Hibban diriwayatkan bahwa suatu hari Ummu Salamah sedang bersama budaknya Thalhah bin Ubaidillah. Kemudian budak ini melaksanakan shalat. Saat dia hendak sujud, budak tersebut melihat tempat sujud berdebu, maka ia bangun kembali dan membersihkannya dulu. Melihat itu, Ummu Salama berkata, “Jangan lakukan itu, benamkan wajahmu ke tanah”.
  • Dari Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Abu Rafi bercerita. Saat masih kecil ia pernah mencuri kurma dengan melempari pohon kurma, padahal saat itu Abu Rafi tidak dalam keadaan lapar. Saat Rasulullah SAW melihatnya, beliau berkata, “Jangan melempari kurma tapi ambil saja kurma jatuh yang matang”. Kemudian Rasulullah SAW mendoakan Abu Rafi, “Ya Allah kenyangkanlah perutnya.” MasyaAllah, begitu luar biasanya Sang Baginda memberi contoh kepada kita, padahal kesalahan Abu Rafi kecil ini termasuk perbuatan tercela yaitu mencuri, tapi lihatlah bagaimana cara Rasulullah SAW meluruskan bahkan mendoakan.
  • Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA. Suatu hari Anas bin Malik menyampaikan suatu hadits sedang saat itu ada putri beliau bersamanya. Anas bin Malik menceritakan bahwa suatu hari datang seorang wanita menawarkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah SAW. Putri Anas bin Malik kemudian berkata, “Alangkah sedikit malunya wanita itu.” Anas menjawab, “Wanita itu lebih baik dari dirimu, karena dia mencintai Nabi dan menawarkan dirinya kepada Nabi.” Anas bin Malik langsung meluruskan putrinya yang mencela wanita tsb,sedang wanita itu termasuk sahabiyah. Karena Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa mencintai  sahabat Nabi, tidak mencela sahabat Nabi adalah bagian dari keimanan.
  • Dari Ibnu Abbas RA diriwayatkan bahwa suatu saat Rasulullah SAW memboceng keponakannya Al-Fadhl bin Abbas di belakangnya. Kemudian datanglah seorang wanita menghadap Rasulullah dan Al-Fadhl melihatnya. Maka Rasulullah SAW memalingkan wajahnya agar tak melihat wanita tersebut.
  1. Berbuat salah karena tidak bisa, maka ajarilah dengan benar.

Misalkan, seorang anak sudah faham bahwa membantu orang tua adalah suatu kewajiban. Kemudian anak ingin membantu menyetrika tapi ternyata berbuat salah. Dia berbuat salah karena memang belum bisa menyetrika dengan benar, maka solusinya adalah ajari menyetrika.

Dari sahih Ibnu Hibban diriwayatkan bahwa sutu hari Rasulullah SAW meliat seorang anak sedang menguliti kambing namun salah cara mengulitinya. Maka Rasulullah pun mengajari anak itu menguliti yang benar.

Dari Imam Ahmad diriwayatkan bahwa sahabat Nabi, Abu Malik Al-Asy’ari, mengumpulkan kaumnya khusus untuk mengajari mereka cara wudlu dan salat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

  1. Berbuat salah karena kebiasaan buruk, maka MUJAHADAH untuk menghilangkan kebiasaan itu

Kebiasaan adalah cetakan kedua setelah tabi’at. Tabi’at sendiri adalah sifat bawaan lahir. Allah memberi seseorang tabi’at seperti Allah memberi rizki kepada semua manusia. Hanya saja jatahya yang berbeda-beda. Ada yang rizkinya banyak, ada yang sedikit. Pun dengan tabia’at, semua orang diberi rasa marah, malu, lembut, dst, tapi kadarnya yang beda. Ada anak yang jatah marahnya besar sehingga mudah tantrum, ada anak yang jatah marahnya sedikit, sehingga ia kalem. Hanya  satu yang bukan merupakan tabi’at bawaan lahir, yaitu BOHONG.

Adapun bila anak melakukan kesalahan karena terlanjur memiliki kebiasaan buruk, maka tak ada cara lain selain bermujaadah/ bersungguh-sungguh mengubah kebiasaan tersebut. Ustadz memberikan contoh melalui hadits berikut:

“Ketika kalian tidur, syetan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas.” (HR. Bukhari)

Bayangkan, bila ada orang yang tidak mengamalkan tiga perkara tersebut setiap hari, maka sudah ada tiga ikatan syaitan yang membuat jiwanya kotor dan malas. Itu kalau satu hari, bagaimana kalau satu minggu, satu bulan, bertahun-tahun, coba kalikan saja, sudah berapa ratus ikatan syaitan yang mengotori jiwa. Maka, memang akan sulit mengubah kebiasaan buruk, tapi tetap harus diubah dengan kesungguhan.

SEBELUM MENTA’DIB ANAK

Dalam menta’dib diperlukan kreativitas dan kesabaran. Jangan berharap segala sesuatu yang instan. Bila kita melihat hadits tentang perintah shalat kepada anak, maka ada jeda hampir tiga tahun dari mulai memerintahkannya di usia 7 tahun hingga mendisiplinkan di usia 10 tahun. Maka, jika kita misalnya ingin mengajari anak tentang adab terhadap tamu, itu pula jarak waktu bagi kita untuk mamahamkan dan mengajari, 3 tahun. Harus terus  menasihati dengan sabar. Memberi nasihat  harus sering, berulang-ulang, dan juga tak kalah penting haruslah bervariasi. Bila nasihat bunyinya hanya begitu-begitu saja, itu sama saja seperti menasihati cuma satu kali.

Berikut adalah bentuk-bentuk teguran yang bisa dilakukan sebelum langkah terakhir.

  • Memberi nasihat
  • Berpaling
  • Ekspresi wajah (Ta’bis)
  • Menghardik
  • Menghentikan kesalahan
  • Mendiamkan
  • Menyebutkan keburukan

Akan tetapi, teguran-teguran ini memiliki kaidah, yaitu:

  1. Tidak boleh dilakukan di depan teman anak yang sedang bersaing dengan anak kita
  2. Tidak boleh dilakukan di depan orang yang dikagumi anak kita

TAHAPAN TA’DIB

  • Perlihatkan cambuk

“Gantungkanlah cambuk di tempat yang mudah dilihat anggota keluarga, karena demikian ini merupakan pendidikan bagi mereka.” (HR. Ath-Thabarani)

  • Menjewer telinga

Dari ‘Abdullah bin Busr Ash-Shahabi RA, ia berkata: “Ibu saya pernah mengutus saya ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan setandan buah anggur. Akan tetapi, sebelum saya sampai kepada beliau saya makan (buah itu) sebagian. Ketika saya tiba di rumah Rasulullah, beliau menjewer telinga saya seraya bersabda: ‘Wahai anak yang tidak amanah’” (HR. Bukhari )

Dalam menjewer, yang diperbolehkan hanya menyakiti bagian kulit saja,jangan sampai menyakiti hingga daging telinga. Selain itu, dalam menjewer bukan hanya jewerannya saja yang dilakukan, yang juga penting adalah menyampaikan nasihat dan maksud dari jeweran tersebut, seperti contoh Rasulullah dalam hadits di atas, “Wahai anak yang tidak amanah.”

Menjewer telinga ini tidak bisa dijadikan pembenaran atau dikiaskan dengan tindakan lain seperti mencubit lengan, memukul pantat,mencubit paha, dst.

  • Memukul

Ini adalah langkah paling akhir dalam menta’dib. Ada kaidah-kaidah dalam memukul:

  1. Memukul hanya berlaku untuk anak diatas usia 10 tahun, sedang untuk anak di bawah 10 tahun hukumnya haram. Untuk anak di bawah 10 tahun, tidak ada cara dengan memukul. Cukup bersabar dan semakin mempertebal kesabaran.
  2. Pukulan dalam ta’dib maksimal 3x , itu pun untuk kesalahan yang besar
  3. Perhatikan alat memukul. Tidak boleh memukul dengan cambuk, karena akan menyakiti hingga ke daging, sedang memukul hanya boleh menyakiti kulit. Maka dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah memerintahkan sahabat untuk menggunakan alat pukul dari pelepah kurma, bukan pelepah yang besar dan keras, bukan pula yang terlalu lembek, namun di antara keduanya (sedang).
  4. Bagian yang tidak boleh dipukul: wajah, tengkuk, kepala, kemaluan. Dan tidak boleh memukul hanya pada satu tempat.
  5. Tidak boleh memukul saat sedang marah
  6. Hentikan pukulan jika anak berlindung kepada Allah SWT.

======

Sumber: Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel 8 oleh Ust. Herfi G. Faizi (Pembina Kuttab Al-Fatih)

 

3

Satu Semester Kayyisah Alfatih dan Kuttab Al-Fatih

Beberapa orang bertanya bagaimana perkembangan Kayyis selama di Kuttab.

Jawabannya  adalah….

===

Bismillahirrahmanirrahim

Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Manusia hanya berikhtiar sedemikian rupa, setiap anugerah semata-mata adalah kemurahan dari sang Pencipta, Allah Jalla Jalaluh.

Iman sebelum Quran. Adab sebelum ilmu. Ilmu sebelum amal.

Iman

Ini lah yang paling berharga. Terlebih bagi kami orang tua yang minim ilmu syar’i, serba bingung dan meraba-raba.

Hadits-hadits pertama yang diajarkan dan dihafal anak-anak adalah tentang tauhid. Hadits-hadits tersebut terus diulang-ulang , sampai tanpa sadar saat Kayyis bermain pun  ia menggumamkan hafalan-hafalan haditsnya. “Ihfadizillaha yahfadzuka ..” “Ittaqillaaha haitsu maa kunta….”. “Waidzasta’anta fasta’in billah..”, dst.

Kayyis sendiri lebih banyak saya tekankan tentang masalah penjagaan Allah, Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat, juga Allah lah pencipta segala sesuatu. Terkadang Kayyis enggan ditinggal sendirian, maka selalu saya tekankan, “Ada Allah. Allah yang Maha Menjaga. ”Eh,dia ngeyel, “Mana? Ga ada tuh..” “Yiis, Kayyis tidak bisa melihat Allah, tapi Allah selalu melihat dan menjaga Kayyis”. Sampai suatu hari dia bicara pada adiknya yang masih banyi, “Ga usah takut ya Deek, kan ada Allah.” Hehe..

Kalau lihat hujan, lihat hewan, liat pohon  maka ia akan katakan, “Ciptaan Allah ya Umi.” Sampai kalau lagi baca iqra pun dia  komentar, ”Ini yang nulis Allah juga ya?” “Bukaan,yang nulis orang, orangnya ciptaan Allah.”

Nah, salah satu hal lain yang sudah dia fahami sekarang adalah bahwa adek itu dikasihnya sama Allah. Maka, mulailah dia berdoa, “Yaa Allah, berikanlah aku adek Muhammad”. Hmmm…Umminya kerut-kerut kening..

Selain terus menerus menanamkan tentang Allah, juga yang paling sering disampaikan adalah tentang adanya surga dan neraka. Menjelaskan keduanya  adalah penting, tidak bisa hanya surga saja atau neraka saja. Terkadang saya terkagum-kagum jika sudah  mendengar ungkapan-ungkapan spontan Kayyis.  Pernah suatu saat saya mengajaknya ngobrol, “Kak, kenapa sih kita shalat?”..Dia jawab,”Hmmm..biar disayang Allah kan ummi…hmmm..sama biar dapat air susu di sungai yang banyaaaak  di surga.”

Lain hari tiba- tiba dia merengek, “Ummi..Kayyis ga mau jadi tulaaang.” Si umminya ga ngerti, akhirnya ngadu lah sama abinya sambil nangis ngahinghing, “Abiii..Kayyis ga mau jadi tulaang..”  Ternyata eh ternyata, salah satu jarinya ada yang luka dan kulitnya mengelupas. “Ga Yis, itu besok sembuh kok, ga akan jadi tulang.” Dia lanjut lagi, “Oh, ga ya Bi, Kayyis takut jadi tulang kayak di neraka itu.” Dan, kami pun terdiam…

Selanjutnya yang tentu diperkenalkan adalah tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikit-dikit, “Kayak Rasulullah ya Ummi.” ”Mau istana kayak Rasulullah ya Ummi.” Dst. Juga mengenalkan para sahabatnya, terutama 10 sahabat mulia yang dijamin masuk surga.

Quran

Seperti yang selalu ditekankan, bahwa Kuttab bukanlah lembaga tahfidzul Quran, melainkan lembaga Iman dan Quran. Bukan berarti Al-Quran ditinggalkan, tetapi penanaman iman menjadi sesuatu yang lebih diprioritaskan.

Untuk kelas Kuttab Awal 1, Kayyis belajar membaca Quran menggunakan metode Baghdadiyah. Alhamdulillah, cukup bisa mengikuti karena sebelum di Kuttab sudah lebih dahulu memulai dengan metode Iqra. Sedangkan untuk hafalan Quran alhmdulillah cukup lancar, walau kadang ada beberapa surat yang harus setor ulang 2-3 kali. Parameter kelulusan pun cukup ketat, bukan hanya kelancaran tapi yang utama tentang makhraj dan tajwid.

Suatu hari Kayyis minta main sekolah-sekolahan. Dan, jadi lah ummi abinya sebagai murid. Ternyata dia ingin ngajarin makhorijul huruf. “Gini loh Ummi kata ustadz,’Abb’ bibirnya ditahan dulu baru dibuka..” dst, dia ajarin hampir semua huruf. Kami disuruh mengulang ucapan dia,  habis itu diminta takbir,”Allahu Akbar !!!”

Seperti yang pernah disampaikan saat Stadium General, di Kuttab musik sangat diminimalisir. Bukan mau masuk ranah fiqh haram atau tidak haramnya musik, tapi Kuttab memilih berhati-hati dan mengambil ibroh dari sejarah tentang keruntuhan daulah-daulah Islam. Efeknya, saat mendengar musik Kayyis langsung menghindar. Boro-boro musik, umminya keceplosan berdendang aja lansung disemprit, “Ummiii..istighfar ummi istighfaar.”

 Adab

Sebelum belajar ilmu dari guru, sesungguhnya yang ditiru adalah adab terlebih dulu. Dimulai dari hal-hal kecil dan rutin, seperti adab menuntut ilmu, adab makan,adab ke kamar mandi, adab tidur, adab bertamu, hingga adab dengan lawan jenis. Anak TK diajarin adab lawan jenis? Ya, contohnya adalah diajarkan cara salaman dengan ustadz tanpa boleh bersentuhan tangan.

Selain tentang sentuhan dengan bukan mahram, Kayyis mulai ngeh tentang aurat. Keluar kamar mandi belum sempat tutup aurat, dia akan ngacir kalau ada abinya, “Maluuu, ada ikhwaaan.” Kalau abinya ga sengaja lepas baju atas, dia komplain, “Abiii maluuu.” Tapi sekarang mah udah nggak protes, “Ooh gapapa ya, aurat ikhwan kan dari perut sampai lutut ya.” Hmm..aya-aya wae.

Tentang adab, yang cukup nempel adalah tentang berdoa . Masuk rumah baca doa, keluar rumah otomatis baca doa, semua seolah sudah otomatis baca doa. Tapi, kadang-kadang juga perlu diingatkan, walau  ummi abinya sih yang lebih sering kena semprit sama dia  kalau lupa baca doa.

Cerita lainnya, suatu hari saat abinya pulang, abinya kena omel Kayyis. “Abiii, kata ustadz,kalau habis salam mukanya ngadap sana dulu, jangan liat pintu.” Hehe..langsung praktek dah.  Kalau bersin, dia mengucap “Alhamdulillah”, dan yang lain tidak ngeh, maka dia segera protes,”Kok ga ada yang jawaaab?” Maksudnya kenapa ga ada yang jawab ’Yarhamukallah’..Protes atau rengekan lainnya adalah kalau ia membantu umminya lalu si ummi lupa berterima kasih, ia akan bilang, “Ummi kok ga bilang ‘baarakallahu fiik’?” Hmmm…

Yang kadang ketar-ketir adalah kalau ni bocah belum bisa mencerna dengan utuh apa yang disampaikan ustadz. Misal, suatu hari ustadznya ngasih tau kalau jatuh itu lebih baik mengatakan “Innalillah…” bukannya “Aduh..” Lagi-lagi langsung praktek lah dia ke temannya di komplek rumah atau di masjid. Dengar temannya bilang ‘Aduh’, langsung dia ingatkan, “Kata ustadz ga boleh bilang aduh, dosa loh.” Haduuh..

Adab yang juga menjadi perhatian di  Kuttab adalah tentang berbakti kepada orang tua. Maka, beberapa kali kami mendapat tugas mendampingi Kayyis untuk belajar mencuci bekas makan sendiri, mencuci kaki ummi dan abi, memijiti, menyuapi, membuatkan minum, dll. Tugas itu padahal hanya berlangsung dua atau tiga kali, tapi alhamdulillah kebiasaanya masih berlanjut sampai sekarang. Dia lah yang sekarang menyuguhi abinya air saat abinya pulang kerja. Terkadang dia pula yang membuatkan umminya teh di subuh hari.

Ilmu

Ini yang cukup menarik bagi saya. Salah satu tematik yang dipelajari Kayyis adalah tentang tadabbur Juz 30. Semester ini  bahasannya tentang alam yang mencakup  waktu, unsur, dan energi. Pembelajaran tematik ini sesungguhnya bagian dari pembelajaran iman, modulnya pun khusus disusun oleh tim Kuttab. Saya waktu awal membacanya, puyeng, gimana anaknya.hehe.. Tapi ternyata lambat laun kami menjadi terbiasa.

Misalnya tentang waktu, ada sub bab mengenal waktu malam. “Proses terjadinya malam ada di surat Al-Insyiqoq ayat  16-17, dst”. Anak-anak selalu diminta menghafal ayat dan terjemahnya. Dari situ muncullah dialog-dialog iman, “Oh, Allah yang menciptakan malam..Tanda malam mulai datang adalah dengan muncul syafaq.” Dst dst.. Lanjut lagi, nyambung ke pembahasan ilmu-ilmu murofaqotnya, yaitu IPA, IPS, matematika, dan B.Indonesia.

Yang lucu adalah waktu kemarin menyiapkan Kayyis untuk UAS. Nih bocah 5 tahun UAS IPA,IPS nya kayak apa coba. Sempat ditanya abinya, “Yis, fungsi tanah apa aja?” Dia jawab, “Itu tuh buat nanam,kayak Kayyis waktu itu nanam jahe..” hehe padahal mah dia nanam kunyit. ”Trus apa lagi Yis fungsi tanah?” Dia jawab lagi, “Hmmm..buat yang meninggal.” Betul,,betul..  Lain hari ditanya lagi sama abinya, “Yis, kalau api buat apa?” Dengan polosnya dia jawab, “Buat masak, sama buat neraka..hii sereem..”hihi

Lain soal waktu belajar IPS, kebetulan waktu itu diminta belajar jenis-jenis profesi. “Yis,ayo sebutkan jenis-jenis pekerjaan!” Kayyis jawab, “Membaca, menulis,memasak.” Gubraaak, abinya cuma nyengir. “Bukan yang itu Yis,dokter, guru, ituuu..” “Yis, kalau abi kerjanya apa?” “ Hmm..abi guru kan..kalau Kayyis apa Ummi?” Saya jawab, “Kayyis kan santri Kuttab..Trus trus kalau ummi apa Yis?” Eh, dia jawab, ”Ummi ngaji laaah..” MasyaAllah, si ummi langsung terharu..

Tapi ada yang sedikit membuat saya sedih. UAS kemarin Kayyis harus remedial Matematika. Umminya langsung  galau, kok saya ga bisa ngajarin anak, hikssss..Padahal sehari sebelum UAS, Kayyis senang betul belajar berhitung, penjumlahan dan pengurangan. “Abi,ummi galau..Ummi ngerasa gagal. Padahal ummi kan dulu guru Matematika ya..hiks..hiks..” Abinya cuma jawab, “Mi, kenapa sih harus gitu. Anak kita bahkan sudah lulus Al-Quran,lulus iman,adab, lagian Kayyis aja baru tahu cara berhitung kemarin..” Pas dipikir-dipikir, iya juga. Beberapa bulan lalu, bahkan angka 6 saja sering kelewat,nulis angka kebalik-balik. Dua bulan lalu, Kayyis masih belum bisa membaca, hari ini, saat malam hari dia lah yang membacakan buku Hallo Balita untuk adiknya. Barangkali  ini lah salah satu perkembangan yang harusnya disyukuri. Bukan dengan membandingkan kepada temannya tapi dibandingkan dengan Kayyis sebelumnya. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzdzibaan..

Ilmu yang juga dipelajari Kayyis di Kuttab adalah tentang keterampilan hidup. Saat class meeting kemarin dia belajar nyapu, nyabutin rumput, masak, lipat baju, dan jahit. Semangat banget dia nunggu kancing baju ummi copot, “Ummi, kancingnya ga ada yang copot ya? Kalau copot, Kayyis yang jahit ya”.

====

Beberapa hari lalu,ustadz menunjukkan salah satu video tentang muslimin di Aleppo.Saya baru tahu setelah saya tunjukkan video yang sama lalu Kayyis komentar,”Oh,itu yang diliatin ustadz tadi Ummi..” Lalu saya ajak dia ngobrol pelan-pelan, saya ajak dia untuk mendoakan. Salah satu efek setelah diingatkan tentang saudara-saudaranya di Aleppo adalah dia jadi  irit jajan. Celengan yang biasanya dia orek-orek karena ingin nambah jatah jajah, kali ini berhenti ia orek-orek..”Untuk infaq kan Ummi..buat teman-teman Kayyis yang jauh itu kan,yang kebakaran, yang berdarah..”

====

Ummi : ” Abi, kenapa sayang ummi?”

Abi : ” Karena ummi istri abi yang shalihah. Trus, kenapa ummi sayang abi?”

Ummi : ” Karena abi suami ummi yang shalih.”

Abi: ” Kayyis sayang abi ga?”

Kayyis : “Sayaang..”

Abi : ” Kenpa sayang abi?”

Kayyis : “Karena Allah..”

====

Perjalanan ini masih sangat panjang. Perjalanan membersamai Kayyisah baru akan berakhir  ketika kelak sebelah kaki kami sudah sama-sama melangkah ke Surga. Aamiin Allahumma Aamiin.

Jazaakumullah khairan katsiiran asaatidz wa ustadzaat 🙂

Rabbii Hablii minashshalihiin

Yaa Allah bimbinglah kami…

0

Hati-Hati dengan Pemadam Cahaya Keluarga

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Mengingat kembali proyek besar yang tengah menanti. Betul, kita sedang berada pada masa akhir zaman, dan generasi kita barangkali akan merasakan gonjang-ganjing masa itu. Namun bukan hanya kengerian, ada sebuah optimisme, kabar bahagia akan sebuah proyek besar yang berabad-abad lalu Rasulullah SAW sampaikan. Penaklukan Roma. Pilihan pun ada pada kita sebagai orang tua, maukah kita menjadi bagian yang terlibat membangun generasi pembebas Roma?

Ini proyek besar dan panjang, yang memulai belum tentu menjadi bagian yang mengakhiri. Jika mengingat penaklukan Konstantinopel, sesungguhnya bukan hanya Muhammad Al-Fatih yang berperan, namun lihatlah bagaimana ayahandanya, Sultan Murad II, yang menyiapkan para prajurit hebat itu. JIka membaca kisah pembebasan Al-Quds jilid II, sesungguhnya bukan hanya Shalahuddin Al-Ayyub yang berperan, tapi tengoklah peran besar Nuruddin Zanky dalam membangun persatuan ummat. Bahkan banyak tokoh-tokoh lain yang barangkali tak tercatat sejarah. Intinya, maukah kita mengambil peran?

Satu minggu terakhir saya mendengar Kayyis berkali-kali berceloteh, “Latuftahannal Kostontiniyyah..” Bahasa Arab saya memang amburadul, tapi ketika mendengar kata Kostontiniyyah, saya baru ngeh kalau itu hadits tentang penaklukan Konstantinopel. Lalu dia menyuruh saya ikut menghafal juga, “Umi udah hafal belum?” Masya Allah, malu saya. Dulu, ibunda Al-Fatih setiap subuh mengajak putranya melihat benteng Konstantinopel lalu membisikkan kalimat motivasi dan doa, “Nak, namamu seperti nama Nabi kita, maka kau lah yang akan mewujudkan perkataannya.” Maka barangkali saya perlu mencoba memperlihatkan peta besar di mana letak Roma, lalu saya katakan, “Nak, pada namamu ada nama Al-Fatih sang pembuka Konstantinopel, maka kau pun kelak insyaAllah akan menjadi bagian hamba-hamba Allah para pembebas Roma.”

Maka, agar semua itu tak hanya menjadi kata manis, atau mimpi yang kadang menggebu kadang meredup, perlu penjagaan luar biasa dalam keluarga. Menjaga cahaya keluarga tetap bersinar. Kunci cahaya dalam keluarga tentu hanyalah Allah, cinta Allah. Lalu bagaimana agar keluarga kita dicintai Allah?

1. “..Fattabi’uunii yuhbib kumullah.. Ikutiah aku niscaya Allah akan mencintaimu”. (QS.Ali Imran :31). Ittiba’ Rasul, menghidupkan sunnah Rasul. Libatkan ALLAH dalam setiap aktivitas kita. Sedari kecil, anak-anak kita biasakan dengan berbagai sunnah walaupun hal-hal kecil. Masuk kamar mandi dengan kaki kiri, makan sambil duduk, membaca basmallah, berdoa untuk setiap aktivitas. Kita talqinkan kepada mereka lafadz-lafadz Allah sejak kecil.

2. Membuat taman syurga di rumah. Barangkali ada orang tua yang memiliki kapasitas ilmu untuk mengisi taklim, mengajar ngaji, membuat halaqoh-halaqoh. Tapi barangkali ada yang tidak, atau karena kesibukan pekerjaan tidak bisa demikian. Namun setidaknya kita bisa menyediakan waktu barang beberapa menit untuk berkumpul dengan keluarga mengaji beberapa ayat Al-Qur’an. Inilah taman surga di rumah, majlis ilmu dan Qur’an.

Selain menjaga cahaya rumah, kita pun harus berhati-hati terhadap apa-apa yang bisa memadamkan cahaya itu. Apakah itu? Jawabannya ada pada QS. An-Nur :35-37.

35. Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

36. Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Bertasbih kepada Allah pada waktu pagi dan waktu petang,

37. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).
(QS.An-Nur : 35-37)

Allah lah pemberi cahaya itu. Cahaya Allah yang begitu kuat, laksana pelita besar yang diletakkan dalam misykat. Pelita itu dinyalakan dari minyak zaitun, minyak yang diberkahi. Cahaya itu muncul di atas cahaya, menembuas setiap ruang kehidupan manusia dan semesta.

Lalu di mana kah sumber cahaya itu? Maka perhatikan lanjutannya pada ayat 36. Sumber cahaya itu adalah MASJID Tempat berkumpulnya orang-orang beriman untuk bertasbih dan memuji Allah SWT di waktu pagi maupun petang. Jika keluarga jauh dari masjid, tentu akan jauh pula dari sumber cahaya. Terlebih bagi para ayah. Jika ia tidak atau jarang ke masjid, padahal shalat bagi laki-laki adalah di masjid, maka bagaimana dia mau menerangi keluarganya?

Dalam ayat 37, Allah semakin menjelaskan bahwa ada yang dapat menghalangi kita dari mendapatkan cahaya Allah yang mulia. Yaitu perniagaan dan jual beli, atau secara umum adalah pekerjaan atau mata pencaharian kita. Terkadang kita terlalu disibukkan dengan pekerjaan hingga lupa bahwa ada waktu-waktu yang telah disyari’atkan. Dunia yang melenakan membuat kita lupa mengingat Allah, lupa kepada masjid dan akhirat. Karena kesibukkan kita, kita lalai dalam shalat tepat waktu dan berjama’ah.

Ada sebuah kisah dari ustadz. Saat itu beliau naik angkot di sekitar Depok. Lalu saat adzan dzuhur berkumandang, tiba-tiba sang sopir memutar mobil memasuki halaman masjid, padahal saat itu angkot sedang penuh penumpang. Lalu pak sopir berkata, “Bapak, ibu saya mau sholat dulu, kalau ada yang mau sholat juga silakan, tapi kalau ada yang mau ganti angkot juga tidka apa-apa tidak usah bayar.”  MasyaAllah, begitulah ikhtiarnya mendahulukan kewajiban kepada Allah, tidak takut kehilangan rizki. Karena sesungguhnya shalat lah yang akan membawa keberkahan rizki.

Nah, apabila shalat sudah tersingkir dari aktivitas kehidupan, mulailah kita pun menghitung harta dengan sangat detail. Kita akan mulai merasa bahwa mengeluarkan zakat hanya akan mengurangi harta, zakat hanya investasi yang sia-sia.

Jika sudah meninggalkan mengingat Allah, lalai terhadap shalat, enggan mengeluarkan zakat, maka cahaya Allah akan meredup, hati menjadi keras hingga sulit melihat kebenaran. Puncaknya adalah melupakan akhirat di mana saat itu semua akan dipertanggungjawabkan.

Pada ayat ke 37 ini Allah memulainya dengan kata Rijaaal (para laki-laki). Ayat ini langsung tertuju kepada para kepala keluarga. Artinya tanpa disadari laki-laki telah menjadi pemadam cahaya bagi keluarganya. Pekerjaan atau bisnis suami di luar rumah bersentuhan langsung efeknya dengan cahaya bagi keluarga.Lalu bagaimana dengan para istri? Bila hanya seorang suami saja yang terus disibukkan urusan dunia sudah cukup menghancurkan cahaya keluarga, apalagi bila istri pun sama saja. Pantaslah banyak keluarga tanpa cahaya.

Wallahu a’lam bishshawaab.

=====

Sumber : Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel bersama Ust. Elvin Sasmita

tambahan : buku Inspirasi dari Rumah Cahaya

0

Mendidik Anak dengan Hikmah seperti Luqman

Dalam Al-Quran terdapat sebuah surat bernama Luqman. Para ulama salaf berbeda pendapat tentang siapa Luqman. Ada yang mengatakan bahwa ia nabi namun pendapat yang kuat adalah ia hamba Allah yang shalih namun bukanlah seorang nabi.

Tentu ada yang istimewa dari sosok mulia ini, hingga Allah menajdikannya nama salah satu surat Al-Qur’an. Mengapa ia begitu istimewa? Karena Allah menganugerahinya hikmah. Hikmah yang Allah SWT berikan kepadanya ini antara lain berupa ilmu, agama, benar dalam ucapan, dan kata-kata yang bijak. Ia selalu bersikap dan bertutur dengan adil dan tepat, seperti nasihat kepada anaknya yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an.

Ibu ‘Athiyah menyebutkan bahwa Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Luqman itu bukan Nabi, namun ia seorang hamba yang:

  • BANYAK BERFIKIR
  • BAGUS KEYAKINANNYA
  • MENCINTAI ALLAH

Dan Allah pun mencintainya, lalu memberikannya HIKMAH.”

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS.Luqman : 12)

Sebagai orang tua, tentu kita pun berharap Allah anugerahi hikmah sebagaimana Luqman, yang dalam tiap nasihatnya selalu benar dan tepat dalam menyampaikan. Dari Luqman kita belajar bahwa agar hikmah itu datang kita harus memiliki keimanan dan kecintaan yang kokoh kepada Allah. Selain itu, kita harus rajin berfikir. Tentang apa? Bertafakkur tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah, bertafakkur tentang segala nikmat. Dengan peka terhadap tiap nikmat maka kita bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur. SYUKUR adalah batu bata pertama bangunan HIKMAH.

Nasihat Luqman kepada anaknya tercantum dalam QS.Luqman ayat 13-19. Namun kita perlu memperhatikan ayat-ayat sebelumnya yang merupakan prolog kisah Luqman.

QS. Luqman :1-5 berisi tentang sumber hikmah, yang lain dan tak bukan adalah Al-Qur’an Kariim.

QS. Luqman : 6-7 berisi tentang pemadam cahaya hikmah. Inilah yang patut kita waspadai. Apakah itu? Cerita kosong yang menyesatkan, perkataan yang sia-sia.

QS. Luqman : 8-9 adalah tentang visi keluarga, yaitu surga yang penuh kenikmatan

QS. Luqman : 10-11 tentang ma’rifatullah.

HIKMAH LUQMAN DALAM MEMBERI NASIHAT

Dari Tamim Ad-Dari, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, dan untuk pemimpin ummat Islam serta masyarakat umumnya.” (HR.Muslim)

Jumhur ulama mengatakan bahwa Luqman adalah seorang da’i di masyarakatnya, namun ia tetap menyempatkan waktu duduk berdua dengan anaknya. Adapun isi nasihat Luqman dalam ayat 13-19 adalah :

(Ayat 13) Jangan menyekutukan Allah

(Ayat 14) Berbuat baik kepada orang tua. Bersyukur kepada Allah dan orang tua

(Ayat 15) Tidak mena’ati keburukan tapi tetap berbuat baik kepada orang tua, ikutilah jalan orang yang kembali kepada Allah.

(Ayat 16) Perbuatan baik walau seberat biji merica tetap akan Allah balas.

(Ayat 17) Laksanakan shalat, amar ma’ruf nahyi munkar, bersabarlah

(Ayat 18) Jangan memalingkan wajah (sombong), jangan berjalan dengan angkuh

(Ayat 19) Sederhanakanlah langkah, lirihkanlah suara.

Jika kita mengamati pola nasihat yang disampaikan Luqman kepada anaknya, maka ada tiga bentuk cara Luqman menyampaikan nasihatnya. 1. LARANGAN dengan penggunaan kata jangan, 2. PERINTAH, 3. ANALOGI /ILUSTRASI.

Tentang LARANGAN, ada 4 hal yang disampaikan, sedangkan untuk PERINTAH ada 9 hal. Adapun nasihat berupa ILUSTASI terdapat dalam satu ayat penuh yaitu pada ayat ke-16. Nasihat Luqman pun berisi tentang pokok-pokok agama Islam yang mencakup aqidah, ibadah dan akhlak.

Saat ini muncul teori parenting tentang larangan penggunaan kata “JANGAN” kepada anak-anak. Padahal, bila kita melihat contoh nasihat yang disampaikan Luqman, kata JANGAN tetaplah digunakan dalam penyampaian nasihat. Ada 4 hal yang menggunakan kata jangan, yaitu jangan menyekutukan Allah, jangan mena’atai dalam keburukan, jangan sombong, dan jangan berjalan dengan angkuh. Keempat hal tersebut adalah dosa- dosa yang amat Allah benci. Maka, sebenarnya tak apa kita menggunakan kata jangan kepada anak-anak, tapi jangan pula terlalu sering atau boros menggunakannya. Misal, sedikit-sedikit kita katakan, “Jangan lari, jangan pegang itu, jangan manjat, dst..”. Kebanyakan menggunakannya membuat JANGAN-nya kita menjadi tak bertenaga, sehingga ketika kata JANGAN itu disandingkan dengan hal besar, anak kita menjadi kurang perhatian.

Lalu, apa rahasia di balik dahsyatnya nasihat Luqman? Rahasianya terletak pada isi nasihat yang runut dipadukan dengan variasi kata yang tepat, sehingga menghasilkan nasihat yang dahsyat. Dalam menyampaikan nasihatnya, Luqman tahu prioritas yang diutamakan. Ia sampaikan dulu tentang aqidah, lalu ibadah, terakhir tentang akhlak. Dalam variasi kata yang digunakan, Luqman memiliki sentuhan-sentuhan yang istimewa, yaitu sentuhan sapa, sentuhan penguatan, sentuhan ilustrasi, dan sentuhan penutup.

Dalam sentuhan sapa, kita akan menemukan kata “Yaa Bunayya” (wahai anakku) sebanyak tiga kali yaitu dalam penyampaian lararangan syirik, pengenalan ilmu Allah, dan penegakkan shalat. Yaa Bunayya adalah sapaan sayang orang tua terhadap anak. Bahkan sapaan ini pun digunakan oleh para Nabi kepada anaknya, yaitu Nabi Nuh (dalam Hud:42), Nabi Ya’qub (dalam Yusuf: 5), dan Nabi Ibrahim (dalam Ash-Shaffat: 102).

Dalam sentuhan penguatan, Luqman tahu kapan perlunya penegasan. Adapun untuk sentuhan ilustrasi, inilah yang perlu kita perhatikan betul, terutama saat menjelaskan kepada anak tentang Allah. Tentu kita tidak akan bisa menjelaskan tentang dzat Allah kepada anak, sehingga untuk itu kita memerlukan kemampuan membuat ilustrasi sebagaimana Luqman ketika menjelaskan kepada anaknya tentang ilmu Allah. Mengenalkan Allah tidak harus dengan mengenalkan dzatnya karena tentu itu tidak bisa, seperti apa Allah, matanya bagaimana, padahal tekadang mucul pertanyaan-pertanyaan tersebut dari anak-anak. Maka kenalkan lah Allah melalui kemahabesaran-Nya, keluasan-Nya, ketinggian-Nya, kasih sayang-Nya, dan cipataan-ciptaan-Nya.

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (perbuatan) seberat biji merica, yang berada di dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendayangkannya (untuk diberikan balasannya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS.Luqman:16)

Dalam ayat tersebut Luqman menggunakan berbagai analogi. 1. seberat biji merica: isyarat sangat kecilnya perbuatan, 2.yang berada di dalam batu : isyarat tersembunyinya perbuatan, 3. atau di langit : isyarat jauhnya tempat dilakukannya, 4. atau di dalam bumi: isyarat gelapnya tempat dilakukannya perbuatan. 5. niscaya Allah akan mendatangkannya (untuk diberikan balasannya): maknanya lebih dalam daripada “niscaya akan diketahui Allah”.

Sentuhan penutup terdapat pada kalimat Luqman, “Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Ayat ini memantapkan keyakinan bahwa Allah akan membalas amal perbuatan yang sangat kecil, dilakukan di tempat tersembunyi, jauh dan gelap. Ada orang yang tahu sesuatu tapi dia tidak bisa mengambilnya karena kecilnya sesuatu itu dan letaknya yang sempit atau jauh. Namun bagi Allah semua itu mudah. Allah Maha Halus, dan menghadapi sesuatu yang semakin halus, kita harus lebih waspada dan hati-hati.

Ketika Luqman menutup nasihatnya pada ayat 15 dengan ungkapan, “Maka Aku akan mengabarkan kepada kalian apa-apa yang kalian lakukan, “ barangkali anaknya akan berpikir bahwa jika ia melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi maka tidak akan dihisab Allah. Oleh karena itu, Luqman menghapus sampai bersih semua persepsi salah itu dari keyakinan anaknya dengan untaian nasihat pada ayat ke-16 ini. Sekecil apapun, tersembunyi bagaimanapun tetap akan Allah hisab. Luqman ingin membuktikan kepada anaknya bahwa ilmu Allah itu mutlak kedalamannya, kelembutannya, ketinggiannya, dan keluasannya.

Dari awal nasihat hingga ayat 15, Luqman belum masuk pada perintah dan larangan tentang syari’at, seperti shalat dsb. Sampai ayat 16, Luqman tetap fokus mengingatkan dan menyiapkan jiwa anaknya sehingga nanti siap menerima perintah dan larangan Allah.

“Nak, kamu telah beriman kepada Allah, maka sekarang kamu harus menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Namun sebelum itu, ketahuilah bahwa kamu sedang berhadapan dengan Dzat yang berdiri sendiri, yang tidak pernah mengantuk dan tidur, yang tidak tersembunyi sesuatu pun dari tatapan-Nya. Maka lakukanlah perintah Allah dan tinggalkanlah larangannya dengan terus memegang keyakinanmu ini. Nak, ketika kamu tidak melihat Allah bukan berarti Allah tidak melihatmu. Ketahuilah amalmu akan dihisab atasmu, walau itu kecil.” Itulah perkataan Luqman kepada anaknya.

===

Sumber: Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel oleh Ust. Herfi G. Faizi (Pembina Kuttab Al-Fatih)

0

Keselarasan antara Rumah dan Sekolah

Menurut Dr.Khalid Ahmad Asy-Syantut, salah seorang pakar pendidikan Islam, rumah adalah lembaga pendidikan pertama bagi anak. Peran rumah bagi anak mencapai 60%, sedangkan sekolah dan lingkungan masing-masing hanya 20%. Oleh karennya, penting sekali menyelaraskan gerak antara sekolah dan rumah, karena sering terjadi apa yang dibangun oleh sekolah rubuh oleh orang tua di rumah, ataupun sebaliknya.

Pentingnya rumah dalam pendidikan dikarenakan :

  • Anak hadir pertama kali di dunia adalah di rumah
  • Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu paling banyak adalah di rumah
  • Orang tua adalah yang bertanggung jawab terhadap anak
  • Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang tua
  • Allah menjadikan rasa cinta orang tua terhadap anak-anaknya
  • Keluarga adalah jamaah yang setiap orang akan berafiliasi seumur hidup kepadanya

Hal yang paling utama tentang pendidikan rumah tentu adalah peran orang tua. Dan peran terbesar pendidikan adalah pada sosok ayah. Ayah harus bisa menjadi qowwamah dalam keluarga. Kenyataannya saat ini peran qowwamah ini mulai menghilang. Qowwamah bukan sekadar mencari nafkah, tapi peran kepemimpinan yang harus ditegakkan. Seringkali terjadi pada banyak keluarga ayah tak mau tahu menahu urusan pendidikan anak, semuanya diserahkan pada ibu, yang penting ayah bisa mencari uang. Ini yang keliru.

Ayah adalah pemimpin keluarga dan akan dimintai pertanggungjawaban. Ibu memelihara rumah dan anak-anak dan akan pula dimintai pertanggungjwaban. Inilah yang Rasulullah SAW sampaikan.

Lalu apa yang harus dilakukan qowwamah? Yang pertama adalah menjadi teladan. Contoh praktisnya, bila adzan berkumandang, maka ayah segera bergegas shalat ke masjid. Ini sudah menjadi salah satu bentuk penanaman iman kepada anak. Sebagai teladan, ayah harus menjadi sosok yang dikagumi anak-anak. Untuk hal ini, istri bisa membantu menceritakan kelebihan dan kebaikan ayah di depan anak-anak, jangan sekali-kali menjatuhkan ayah di depan mereka. Atau ketika berkunjung ke kakek-nenek, anak-anak bisa meminta diceritakan tentang ayahnya.

Selain itu, sebagai qowwamah, kepemimpinan ayah harus dirasakan di dalam rumah terutama dalam mengambil keputusan-keputusan bahkan untuk hal kecil sekalipun. Contoh, “Bu, aku boleh ga main ke rumah teman?” Maka jangan langsung katakan boleh, tapi katakan, “Coba kita tanya ayah dulu ya.” Walaupun mungkin ibu hanya bersandiwara, tapi ini untuk menunjukkan peran ayah sebagai pengambil keputusan.

Lalu bagiamanakah sinergi antara rumah dan sekolah?

Sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah orang tua wajib untuk tidak menyebutkan keburukan sekolah dan gurunya di depan anak, terutama yang masih kecil. Hal ini bisa menjatuhkan izzah guru di hadapan anak, sehingga anak akan sulit merasakan manisnya ilmu. Pun sebaliknya, guru sebaiknya membantu anak agar mereka semakin mengagumi orang tuanya. “Nak, ayahmu itu hebat loh, bertanggung jawab.” “Nak, ibu mu itu jago bikin kue.” dst.

Kuttab tidak berupa asrama atau boarding school, karena pada usia ini (5-12 tahun) interaksi anak dengan orang tua masih sangat besar diperlukan. Oleh karena itu, Dr. Asy-syantut memberikan contoh pembagian waktu harian bagi anak yang masih dalam usia Kuttab. Dimulai dari ba’da Isya, anak-anak dibiasakan untuk menyiapkan perlengkapan untuk sekolah esok hari lalu bersegara untuk tidur. Lalu kapan anak bangun tidur? Sebaiknya anak mulai bangun maksimal saat adzan pertama, yaitu kira-kira setengah jam sebelum subuh, dilanjutkan aktivitas pagi higga sekolah sampai siang hari. Siang hari atau sekitar ba’da dzuhur adalah waktunya anak untuk beristirahat, tidur siang (alangkah baiknya bila anak dibiasakan), lalu bermain. Main sangat penting untuk anak. Imam Ghazali mengatakan, biarkanlah anak-anak bermain, karena bila anak-anak dilarang bermain bisa mengakibatkan hati mereka menjadi keras. Lalu ba’da ashar adalah waktu mereka untuk belajar dan juga bermain. Sedangkan ba’da maghrib adalah waktu Al-Qur’an, yaitu untuk muroja’ah dan ziyadah.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah, jangan pelit untuk mengapresiasi anak dan membisikkan nasihat kasih sayang kepada mereka. Baik itu oleh guru di sekolah, terlebih oleh orang tua di rumah. “Nak, kamu adalah anak yang hebat.” “Nak, abi sayang kamu.”, dst. Juga, jangan malu untuk menyampaikan maaf kepada anak bila orang tua memang salah.

Wallahu a’lam

==

Sumber : Kajian KAF Tangsel yang disampaikan oleh Ust.Galan Sandy (General Manager Kuttab Al-Fatih)

 

 

0

Belajar dari Keluarga Ibrahim

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala ummat (di masa mereka masing-masing).” (QS. Ali Imran : 33)

Nabi Adam dan nabi Nuh disebut Allah sebagai individu, karena kita tahu bahwa pada keluarga nabi Adam ada anak yang melakukan dosa besar, sedangkan pada keluarga nabi Nuh istri dan anaknya adalah kafir. Jika kita membaca surat At-Tahrim : 10, istilah istri untuk nabi Nuh dan nabi Luth adalah ‘Imra-ah’ bukan ‘zaujah’. Padahal dalam kosakata bahasa Arab, kata istri adalah zaujah. Allah menggunakan kata imra’-ah untuk menunjukkan ketidakserasian antara istri-istri yang kafir tersebut dengan suami mereka yang adalah seorang nabi.

Adapun nabi Ibrahim dan ‘Imran disebutkan Allah beserta keluarganya, karena suami, istri, dan anak-anaknya, bahkan cucunya adalah orang shalih. Inilah potret keluarga yang seharusnya menjadi teladan bagi seluruh muslim. Dari kedua keluarga ini sesungguhnya kita bisa mengambil teladan yang saling melengkapi. Keluarga nabi Ibrahim kita tahu adalah contoh rumah tangga poligami dengan model pendidikan bagi anak laki-laki. Sedangkan keluarga ‘Imran adalah rumah tangga monogami dengan contoh pendidikan bagi anak perempuan.

Nama Ibrahim AS disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an sebanyak 69 kali dalam 25 surat. Maka tentu begitu istimewanya Abul Anbiya ini. Kita harus menggali sosok beliau sebagai teladan, terutama bagi para kepala keluarga dan ayah. Beliau memiliki sifat-sifat mulia yang Allah sebut dalam Al-Qur’an, yaitu:

  1. minal muhsinin. Nabi Ibrahim adalah seorang yang muhsin. Muhsin atau orang yang Ihsan adalah derajat paling tinggi setelah muslim dan mukmin. Orang Muslim belum tentu mukmin, orang mukmin belum tentu muhsin, sedangkan muhsin pasti mencakup muslim dan mukmin.
  2. minash sholihin, termasuk orang-orang shalih
  3. Qonitan Lillah, ta’at kepada Allah
  4. Shiddiq, benar
  5. Awwah, selalu mengadu kepada Allah
  6. Haliim, sabar
  7. Haniif, lurus
  8. Khullah, cinta-Nya kepada Allah tidak ada kekurangan sedikitpun. Itulah mengapa Allah menjadikan nabi Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS sebagai Khalil-Nya, kekasih-Nya, karena cinta keduanya tidak ada sedikit pun kekurangan.
  9. Ummah. Nabi Ibrahim hanya seorang diri, namun kualitasnya setara dengan satu ummat. Sedangkan ummat Islam saat ini, satu orang individu pun terkadang kualitasnya tidak ututh satu, kadang cuma setengah bahkan kurang dari itu. Namun nabi Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS Allah setarakan dengan ummat karena kualitasnya.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan kata uswatun hasanah  sebanyak tiga kali, yaitu pada QS.Al-Ahzab: 21 yang merujuk kepada Rasulullah SAW, dan pada QS Al-Mumtahanah: 4 & 6, yang merujuk kepada nabi Ibrahim AS.

Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil dari keluarga Ibrahim ‘alaihissalaam?

  1. At-Thadzhiyah Ash-Shodiqoh, pengorbanan yang benar

Ibnu Abbas berkata,

“Yang pertama kali memakai minthoq (kain yang diikat di badan dan dijulurkan ke tanah) adalah ibunya Ismail. Tujuannya agar kain tersebt menghapus jejaknya dari Sarah.

Kemudian Ibrahim membawanya berikutnya anaknya Ismail pergi. Sambil sang ibu menyusuinya, mereka di bawa hingga sampai al-Bait (Ka’bah) di samping pohon besar di atas Zamzam di atas masjid. Saat itu Makkah tidak ada seorang pun dan tidak ada air. Maka Ibrahim meletakkan keduanya di sana dan membekali keduanya dengan sekantong kurma dan sekantong air.

Selanjutnya Ibrahim pergi meninggalkan mereka. Ibunya Ismail megikatnya dan berkata: “Hai Ibrahim, kamu mau pergi ke mana dan kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada apa pun?”

Berkali-kali ia berkata eperti itu, tapi Ibrahim tidak mau melihatnya sama sekali. Kemudian ibunya Ismail bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?”

Ibrahim menjawab: “Ya”

Ibunya Ismail berkata:”Kalau begitu dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kecintaan nabi Ibrahim kepada Allah jauh lebih besar dibanding cintanya kepada keluarga. Dan tidak berhenti di sini, kelak Allah pun akan menguji kembali dengan perintah menyembelih Ismail. Masya Allah, anak yang diidam-idamkan begitu lama, lalu setelah hadir harus ditinggalkan di negeri yang jauh, bertemu kembali setelah sekian lama malah harus disembelih. Tentu bukan manusia biasa yang bisa menjalani itu semua. Itulah keluarga Ibrahim.

  1. Cepat merespon. Nabi Ibrahim AS dan keluarganya akan segera melakukan setiap yang Allah perintahkan.
  2. Nabi Ibrahim AS banyak mendoakan keluarganya.

Ini adalah pelajaran penting bagi setiap orang tua untuk tidak lalai dalam mendoakan anak keturunan. Karena salah satu doa yang mustajab adalah doa orang tua untuk anaknya.

Saat nabi Ibrahim AS meninggalkan Ismail dan ibunya, beliau berdoa kepada Allah sambil mengangkat kedua tangannya, “Ya Rabb, aku meletakkan keturunanku di lembah yang tidak ada satu pun pohon, di samping rumah-Mu yang mulia…” Doa tersebut Allah abadikan dalam QS.Ibrahim: 35-41. Jika kita mentadabburi ayat-ayat tersebut, maka urutan doa nabi Ibrahim adalah :

  • Baladan Aaminan, negeri yang aman. Ini memberi kita pelajaran untuk memilihkan lingkungan yang baik untuk anak kita, baik itu lingkungan tempat tinggal, tempat menuntut ilmu, tempat bermain, dsb.
  • Jauhkan dari menyembah berhala. Nabi Ibrahim mengajarkan kita tentang pentingnya penanaman akidah kepada anak, menjauhkan anak dari kemusyrikan.
  • Ummatnya banyak yang menyembah berhala, maka nabi Ibrahim mendoakan ummatnya yang tersesat (QS.Ibrahim :36)

Dalam ayat tersebut, bagaimana nabi Ibrahim mendoakan ummatnya menunjukkan betapa lemah lembutnya ia, “ Maka barang siapa yang mengikutiku maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Coba kita bandingkan dengan doa nabi Nuh, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26). Sebuah permintaan yang tegas dari seorang nabi yang sudah menyeru siang malam selama 950 tahun namun tetap saja diingkari.

Nabi Ibrahim yang lembut dan nabi Nuh yang tegas. Rasulullah menjadikan kedua nabi mulia ini sebagai perumpamaan untuk kedua sahabatnya, Abu Bakar seperti nabi Ibrahim dan Umar bin Khattab seperti nabi Nuh.

  • Menempatkan Ismail dan Hajar di Baitul Harom. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati)…” (QS. Ibrahim:37)

Hal ini mengajarkan kita untuk memilihkan tempat bagi keluarga yang dekat dengan tempat ibadah, agar keluarga kita menjadi bagian orang-orang yang senantiasa menegakkan sholat

  • memiliki kemuliaan akhlak, sehingga orang-orang menyukainya. Pengakuan sosial dengan akhlak mulai adalah konsep pendidikan yang luar biasa.
  • meminta rizki berupa buah-buahan agar bersyukur. Inilah doa terakhir yang diucapkan nabi Ibrahim dalam rangkaian doanya tsb. Bahkan saat memohon rizki pun nabi Ibrahim menyertakan kata syukur. Hal ini mengajari kita bahwa apa yang diberikan kepada keluaga sudah seharusnya semakin menambah rasa syukur, bukan sebaliknya.

Uniknya, nabi Ibrahim berdoa di padang pasir yang tandus tak ada tanaman. Namun ia tetap meminta Allah tumbuhkan bauah-buahan. Artinya, nabi Ibrahim tidak membatasi Allah SWT dengan logika berfikir, karena Allah Maha Kuasa, apa pun bisa Dia hadirkan walaupun awalnya tak ada.

Selain dalam QS.Ibrahim :35-41, doa lain nabi Ibrahim Allah abadikan pula pada QS.Al-Baqarah: 124. “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “SEsungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi selurug manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan juga dari anak cucuku?” Allah berfirman,” Benar, tetapi janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang dzalim.”

Ketika Allah memberi nabi Ibrahim reward (menjadikan pemimpin) , Ibrahim memohon kepada Allah agar reward itu pun diberikan kepada keturunannya. Begitu istimewanya nabi Ibrahim, karena dalam setiap doanya ia selalu menyertakan anak dan keturunannya.

  1. Tidak putus asa dan senantiasa tawakkal. Ini bisa kita ambil dari kisah ibunda Hajar yang berlari-lari mencari air untuk bayi Ismail
  2. Pola komunikasi yang baik. Kita bisa meneladani kisah nabi Ibrahim saat berkomunikasi dengan nabi Ismail mengenai perintah sembelih. Salah satunya adalah penggunaan panggilan sayang untuk anak. Nabi Ibrahim di sini mencontohkan memanggil Ismail dengan panggilan “Yaa Bunayya..” bukan “Yaa Ibnii..”
  3. Menjadi teladan bagi anak

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS.Ibrahim:40). Nabi Ibrahim memulainya dengan kata Aku, yaitu diri beliau sendiri. Inilah teladan, semua bermula dari diri.

Inilah pelajaran-pelajaran dari nabi Ibrahim dan keluarganya yang mulia. Maka, setiap kita menemukan kata Ibrahim saat membaca Al-Quran, berhentilah sejenak untuk mengambil pelajaran darinya. Inilah sosok teladan sepanjang masa, hingga setiap sholat kita pun bershalawat untuknya dan keluarganya.

“TAK ADA YANG MUSTAHIL DENGAN DOA AYAH DAN TAWAKKAL BUNDA”

===

Sumber:

  1. Kajian orang tua Kuttab AL-Fatih Tangsel yang disampaikan Ust.Akhmad Nizaruddin,Lc.MA.
  2. Buku “Inspirasi dari Rumah Cahaya” karangan Ust.Budi Ashari,Lc.