0

L.I.Q.O

Lagi rame bahas liqo, jadi pengen nostalgia..😁

Saya mengenal mentoring atau liqo di awal tahun 2004. Itu momen tak terlupakan. Saat awal-awal mentoring, saya dan teman-teman termasuk yang sering bolos bahkan main petak umpet sama teteh mentor..Tapi melihat beliau yang sedang hamil besar begitu gigih “mengejar” kami, akhirnya membuat kami luluh..Dan, jika mengingat itu saya merasa sangat berterima kasih. Semoga Allah senantiasa menjaganya, melimpahkan pahala untuknya..

Semua teteh mentor saya, murabbiyah saya, amat istimewa. Salah satu yang paling saya ingat adalah murobbiyah yang harus direpoti oleh saya karena ada ikhwan yang bolak-balik mengajukan proposal nikah. Berkali-kali ditolak, ujung-ujungnya balik lagi, alhamdulillah selesai, da akhirnya beneran jadi suami 😂😂..Semoga pahala terlimpah padanya. Juga untuk seluruh murobbiyah saya hingga detik ini..

Apakah selama perjalanan ini mulus-mulus saja? Tidak. Berkali-kali saya galau, saya lanjut apa nggak ya? Sempat awal kuliah saya bertemu harakah lain, yang mengatakan tarbiyah adalah gerakan konspirasi buatan manaaa gitu, lupa 😀..Beuh anak bawang kayak saya waktu itu galau tak terkira. Tapi saya diingatkan seorang teteh, “Coba tanyakan pada hati, bukankah tarbiyah telah menorehkan banyak kebaikan untuk hidup kita?”

Mungkin tarbiyah tidak membuat saya menjadi seorang ‘alim, tapi dari tarbiyah setidaknya saya tahu kalau kaki itu aurat, makanya saya belajar memakai kaos kaki. Saya tau bahwa memakai khimar harus menutup dada dan pakaian tidak boleh membentuk tubuh. Dan dari tarbiyah saya semakin mencintai kedua orang tua saya, bahkan belajar mencium tangan mereka, aktivitas yang tidak pernah saya lakukan sebagai anak kecuali saat lebaran saja.😥Sepele? Mungkin iya bagi sebagian orang. Tapi bagi saya yang bodoh, hal-hal kecil itu akhirnya membuka jalan kepada kebaikan yang lebih besar. InsyaaAllah.

Namun begitu, hati saya pun merasa sedih ketika muncul keriuhan yang malah semakin memperuncing perpecahan antar kaum muslimin. Potongan video 1 menit yang beredar membuat saya penasaran, maka saya cari video kajian utuhnya. Saya ikhtiarkan menyimak baik-baik pernyataan utuh beliau saat menjawab pertanyaan seorang akhawat tentang liqo. “Liqo tidak dicontohkan oleh Rasul.” Terkait ini  asaatidz sudah banyak yang membahasnya. Tapi jika video 1 menit itu dilanjutkan, maka akan ada pernyataan beliau tentang menuntut ilmu tidak harus di liqo saja. Ikutilah kajian di mana pun untuk menuntut ilmu. Husnudzon saya mungkin ustadz mengira bahwa liqo adalah satu-satunya tempat menuntut ilmu bagi para liqoers. Padahal nggak kan ya? kan kan? 😀Apalagi sekarang mah kajian banyak , dari mulai di  dunia nyata hingga dunia maya. Tinggal kitanya yang mau apa nggak…

Dari dauroh mentor yang baru saya ikuti kemarin, terkait pemenuhan ilmu ini harus diakui memang menjadi PR kita semua. Bagaimana pun dalam proses tarbiyah, ilmu adalah salah satu output yang seharusnya didapatkan. Sering saya menemukan komentar sebagian liqoers yang haus akan ilmu karena merasa di liqonya kurang pembahasan ilmu. Maka, menurut salah seorang ustadz, hal ini memang harus sama-sama menjadi perhatian, bagaimana agar para murobbi memilik kafa’ah syar’iyyah yang lebih dibanding binaannya dan bagaimana agar mutarobbi memang mendapatkan ilmu dalam liqonya.

Ini sebenarnya seperti menampar diri saya sendiri. Dulu saya pegang kelompok mentoring, dan sekarang sebagai anak bawang,  saya senang jadi mentor badal. 😂 Tapi saya akui khusus untuk diri saya sendiri memang masih jauh dari sebutan ahli ilmu, disebut thullab juga belum tentu pantas 😔.. Maka PR saya adalah agar “teko”  ini bisa mengeluarkan isi, saya harus rajin mengilmui diri. Mengikuti kajian, membaca buku, tidak malas saat diminta hadir tasqif, dst. Dan sebagai mutarobbi pun tidak bisa hanya mengandalkan liqo pekanan, lalu mengeluh tidak mendapat ilmu apa-apa dari liqo. Karena liqo hanya salah satu sarana tarbiyah, terlebih durasinya yang terbatas. Maka lagi-lagi kembali, rajinlah mengilmui diri, bagaimanapun ada namanya tarbiyah fardhiyah…Duuh enak banget ya ngomong gini, melaksanakan mah sulit 😢😢

Akhir kata, yuk ah kembali pada ladang amal nyata yang banyaaak di sekitar kita..MasyaaAllah ada asaatidz yang concern memberikan ilmu bagi masyarakat di majlis-majlis ilmu, masjid-masjid, forum-forum..Tapi mungkin ada pribadi-pribadi yang belum layak menyandang predikat ustadz/ustadzah tapi tetap bergerak membina adik-adik, anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan kaum marjinal yang belum tersentuh majlis- majlis ilmu. Yang harus didatangi secara aktif, harus pelan-pelan dibina dan disentuh. Kadang terberit dalam pikiran saya sendiri, “Walau bahasa Arabmu belum lulus, setidaknya ajari mereka huruf hijaiyah Wulan!”. Ladang amal nyata itu luas teramat, alangkah indah semuanya bergerak berkolaborasi..Duuh lagi-lagi enak banget nih ngetik cuma tinggal pakai jari, ngamalinnya yang susaaah 😔

Akhir kata (lagi?). Berhati-hatilah terhadap adu domba. Terhadap potongan-potongan video, terhadap artikel-artikel yang harus dicek dan ricek. Dengan ributnya kaum muslimin, ada yang sedang mancing di air keruh. Naooon cenah 😀😀

Advertisements
0

2.492 Hari

Kalau tentang milad, milad siapapun yang di rumah, kami hare-hare aja, paling-paling hanya saling becanda..”Waah udah tuaa..” Tapi ketika anniversary kami suka iseng bikin momen spesial walau sekadar makan sekeluarga di emperan..hehe..Seneng aja ngobrol mengingat-ngingat momen pertama kali senggol-senggolan tangan di pelaminan, jalan berdua, apalagi momen jatuh cinta pertama kalinya..😁

Di momen anniversary yang ke-7 kemarin, bapake berbaik hati mau ngajak jalan-jalan, yang sebenarnya buat nyenengin emaknya tapi ujung-ujungnya tetap saja kebahagiaan anak-anak yang utama bagi emak..Yang spesial lagi, bapake sengaja ambil cuti. “Pak, Kimia ITB ulang tahun ke-70, saya juga mau cuti ulang tahun pernikahan yang ke-7”..Huehue..itu dialog imajiner bapake saat mau menghadap atasan..😂😂

Bagi saya dia tetaplah sang sayap. Cukup saat melihat dia tempo hari menerjang hujan petir hanya untuk mengantar jemput saya mengaji atau berbagi ilmu, mengingatkan lagi bahwa dia tetap memiliki banyak andil dalam setiap langkah saya. Semoga Allah limpahkan padanya pahala. Cukup tiap malam dia membagi isi kajian yang dia dengar, sampai kadang saya tinggal ketiduran, mengingatkan bahwa bagaimana pun dia sedang berikhtiar mendidik saya yang keras kepala tapi kurang ilmu ini. “Bengkok” dan PMS selalu menjadi senjata andalan. Wanita oh wanita…hiks..

Tapi pesbuk setidaknya mengingatkan memori 4 tahun lalu..Tentang pesannya di suatu pagi, “Mi, suami dan istri adalah satu kesatuan dalam sebuah keluarga, maka ketika menilai tentang kebermanfaatan, jangan lagi mendikotomikan keduanya, karena pada dasarnya mereka satu keluarga, kebermanfaatannya pun adalah manfaat dari sebuah keluarga utuh..Apapun peran sosial maupun domestik masing-masing, satu dan lainnya saling mempengaruhi..Maka jadilah istri yang bisa membantu suaminya bermanfaat, pun jadilah suami yang bisa membantu istrinya bermanfaat.” Itu adalah pesan jitu saat bisik-bisik mulai menghampiri telinga saya, “Ga bosen di rumah saja?”..”Sayang loh potensinya.” Dst..Semoga kami sedang berbagi peran yang keduanya tetap mendulang pahala..

====

Di Surga, seorang suami akan terpana melihat istrinya selama 40 tahun”, katanya sambil ngisengin menatap si saya lama. Latihan heula cenah..he… Mudah-mudahan Allah kabulkan kelak bisa masuk Surga, dan bisa saling menatap berlama-lama. Lalu saya tanya, “Kalau kita Surga nya ga setingkat gimana? Emang abi mau ngangkat umi?” Eh, malah dia jawab, “Kalau abi yang di bawah, ummi mau ngangkat abi?” Pertanyaan yang tak perlu jawaban, hanya doa dan ikhtiar yang harus semakin kencang.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Kami masih tertatih dan masih harus banyak mengilmui diri. Agar visi rumah tangga, bersama hingga ke Surga, bukan cuma slogan semata. Perjalanan panjang dan sulit. Menjaga agar bahtera tak melenceng dari jalan-Nya. Mendidik anak-anak agar seperti yang dicita-cita, menjadi pemimpin orang-orang bertaqwa.

091010-091017

0

Galauniti Vaksinasi

Seminggu terakhir FB saya, iyah saya, isinya rame pembahasan tentang vaksinasi. Sebenarnya pro kontra vaksinasi bukan hal yang baru, tapi berhubung saat ini pemerintah sedang menggalakan program imunisasi MR, maka wajar lah rame lagi.

Sebagai emak-emak, saya juga pernah galau, terutama pada aspek kehalanan vaksin. Bahkan seminggu  lalu saat menimbang-nimbang Kayyis mau divaksin apa nggak, duuh umminya tiap hari menggalau..Hebatnya, nyari ilmunya via FB ama mbah Google..duh..duuh..manusia zaman sekarang, eh si ummi aja ini mah deng. Alhasil,hari ini provaks, besok bisa ganti jadi antivaks..Apa pula ini istilah..

Lalu tiba-tiba dapat inspirasi, akhirnya nyoba-nyoba baca buku-buku zaman kuliah dulu..MasyaaAllah, udah berdebu banget tuh buku-buku..Ditutup diskusi dengan abinya anak-anak, yang diakhiri pertanyaan epik nan makjleb, “Umi serius udah lupa pelajaran kuliah?”😂

Saya ga mau bahas provaks dan antivaks, itu mah udah mainstream..huehue..Saya hanya ingin nulis kenangan minggu lalu saat akhirnya memutuskan memvaksin Kayyis di sekolahnya, saat sebagian besar anak yang lain memilih untuk tidak divaksin di sekolah, tentunya dengan aneka macam alasan dan pertimbangan. Ini lah kerennya Kuttab, hal seperti ini memang seharusnya diserahkan pertimbangannya kepada orang tua, bahkan saat divaksin anak wajib didampingi orang tuanya.

Yang lucu, sehari sebelum divaksin, pulang-pulang si Kayyis bilang gini, “Umi..umi …kata temen aku ga boleh disuntik..ga halal..” Hayoo loh, si ummi cuma bisa nyengir kuda..Akhirnya saya jawab sebisa-bisa, “Iya nak, umminya A dan B baca berita kalau obat yang mau disuntiknya ga halal, jadi belum boleh dulu. Tapi abinya Kayyis sudah baca juga di tempat lain kalau obatnya insyaaAllah halal, jadi gapapa ya beda…”

Malam sebelum vaksin, saya pun sempatkan berdialog iman dengan Kayyis:

U: “Kak, yang ngasih sehat siapa sih?”

K :” Allah..”

U : ” Iya Kak, masyaaAllah Alhamdulillah, Allah baik banget..Tapi kita juga harus ikhtiar Kak. Gimana biar kita sehat Kak?”

K : “Olahragaa..makan makanan yang sehat-sehat..bersih-bersih..”

U : ” Iya Kak, makan buah sayur ya..madu juga..Kalau sakit, terus  ke dokter, ya dikasih obat.. Tapi yang ngasih sembuh siapaaa?”

K : ” Allah…”

Mengapa saya awali pula ikhtiar ini dengan berdialog iman dengan si kakak? Karena saya ingin mengingatkan dia bahwa semua adalah milik Allah termasuk sehat dan sakitnya kita. Libatkan Allah, senantiasa. Kita, hamba-Nya, hanya berikhtiar. Makan sehat, lingkungan sehat, tibunnabawi, pengobatan modern, termasuk vaksin,  hanya lah bentuk usaha.  Tak ada yang Maha Benar selain Allah.

Sepanjang malam saya terus berdoa, “Yaa Allah, kalau vaksin MR ini tidak baik, maka tolonglah hamba..” Beneran dag dig dug seperti sedang milihin jodoh.huehue..Saya takut ada setitik saja barang haram yang mengalir dalam darah anak saya, yang akan menjauhkannya dari ridha Allah..

Dan, akhirnya semua pun berlalu..Bagi kami ini hanya lah bentuk ikhtiar, yang kami awali dengan bertanya dan membaca kepada yang ahli, serta memohon petunjuk Allah. Tawakkal, memasrahkan segala sesuatu setelah usaha sekemampuan diri.

Allah yang menciptakan bumi dan seisinya. Allah pula yang mengaruniakan akal, dan juga ilmu kepada manusia. Terlebih Allah berikan petunjuk agung yaitu Al-Quran. Kemampuan dan ilmu kita terbatas, barangkali yang hari ini kita yakini, esok hari bisa saja berganti setelah kita lebih jauh mengilmui diri..

Berilmu itu memang sulit, tapi yang lebih sulit adalah memiliki adab…😊

0

Hanya Butiran Debu

Dunia maya kadang menyesakkan…

Dunia maya kadang melenakan…

Sejak perhelatan pilpres 2014 dan perdebatannya yang tak kunjung usai, berlanjut pigub DKI yang kata orang panasnya ngalah-ngalahin pilpres, cukup membuat saya beralasan “beberesih” isi sosmed yang dalam hal ini adalah Facebook..Maka, jadilah beranda FB saya begitu tentram, aman, dan damai, berisi share-share-an para emak keren tentang ilmu parenting, share-share-an para akhawat shalihah dan asaatidz yang saya follow tentang ilmu syariat, atau mba-mba kece yang share pola jahitan, resep masakan, dan barang dagangan…hehe…

Tapi, itu hanya sejenak. Karena setelah itu ternyata dunia sosmed saya kembali riuh dengan aneka jenis perdebatan, hanya saja dalam versi yang lebih “shalih”. Kini perdebatan itu tentang apakah ini sesuai sunnah atau bid’ah. Ini manhaj nya jelas apa tidak. Ustadz A, B, C nyunnah apa nggak…Hiksss,,disitulah saya mulai baper..

Dan, kajian Adabul Mufrad dengan Ust.Budi Ashari tempo hari menambah kebaperan saya..Beliau berkata, “Dalam ilmu hadits, perawi yang dikatakan dzaif belum berarti tidak shalih. Cacat ilmu iya, tapi cacat agama belum tentu.”  Lanjut beliau, “Seorang ahli ibadah tidak serta merta menjadi layak untuk jadi rujukan ilmu..” Dan, masih perkataan Ust.Budi kala itu, “Murid itu harusnya banyak mendengar, bukan banyak bicara. Yang banyak dibuka itu telinga dan hatinya” Di situlah saya ingin nangis.. Saya ahli ibadah bukan, ahli ilmu apalagi, jauh panggang dari api..Bahkan disebut thalib pun kayaknya ga pantas, lah majlis ilmu mana yang rutin saya hadiri, kitab dan buku apa yang sedang saya kaji?

Qodarullah hari ini tetiba tergerak menggantikan seorang ummahat untuk isi mentoring anak-anak remaja..Bertemu mereka seolah menjadi pengingat dari Allah, betapa banyaknya saudara, adik, anak-anak yang harus disentuh dengan dakwah, dengan cahaya Islam. Saat sosmed saya isinya perdebatan tentang “ilmu” yang bahkan saya pun tidak faham, perdebatan menjurus pergunjingan tentang “para ahli ilmu” yang saya yakin diri saya lebih hina, namun ketika memandang adik-adik ini yang belum sempurna menutup auratnya, membaca Quran pun masih terbata, di situ lah rasanya seperti ditampar.  Sesungguhnya di dunia nyata beban dakwah itu teramat berat, kerja-kerja dakwah menunggu untuk ditunaikan.  Energi-energi kebaikan itu alangkah bermanfaatnya disalurkan dalam amal-amal nyata dibanding perdebatan yang tak berujung..Ah..Bahkan sekalipun bahasa arabmu belum lulus, setidaknya ajarilah mereka membaca huruf hijaiyah, begitu lah saya bisikkan dalam hati..

Seperti murobbi saya bilang, kami punya hutang. Saya punya hutang pada mereka yang telah mengenalkan saya pada Islam. Kepada mereka yang mengajak saya semakin mengenal Allah, mencintai-Nya, mencintai Rasul, mencintai Al-Quran, mengenalkan kepada dakwah walau saya bukanlah ustadzah..Saatnya membayar, saatnya menunjukkan rasa syukur kepada Allah dengan pula menanam benih-benih kebaikan semampunya..Tentu keluarga kita yang pertama, lingkungan, dan siapapun yang dijumpa..

 

Saya  hanya lah butiran debu, tapi semoga Allah mudahkan jalan untuk menjadi debu yang bermanfaat..

 

0

Buku Pertama Kami

Lagi, dia lah yang menjadi sayap sesungguhnya..

Percaya ga percaya, saya menulis ini sambil menahan tetesan air mata, duh jadi mellow…

Entah serius atau bercanda, tapi dia sering sekali bertanya, “Apa ya kebaikan mas sama ade?” Yang selalu saya jawab hanya dengan tatapan aneh atau cukup helaan nafas. Ditanya ini, sungguh ngeri-ngeri sedap, khawatir terjerumus menjadi istri yang kufur nikmat. Maka saya memilih diam, sembari merenungi kebaikan-kebaikannya yang sungguh tak ternilai, tak terhingga.

Sebagai mamah muda, dulu saya sering kali dihinggapi rasa galau akan identitas diri, aktualisasi, atau emansipasi. Tapi si dia yang membesarkan hati, akan selalu menjawabnya dengan tindakan nyata yang kadang kala tetap saja saya hujani dengan keluhan bertubi-tubi.

Iseng ingin jadi momprener, maka ia belikan semua yang dibutuhkan, ia keluarkan harta yang dipunya, yang pada akhirnya kini alat-alat itu malah tersembunyi cantik di lemari dapur.hiksss…

Ingin jadi guru yang bermanfaat. Maka, dari mulai masukin lamaran, antar wawancara, jadi tutor pribadi, pengasuh anak, hingga ojek antar jemput selama 2,5 tahun pun rela ia jalani.

Kini, saat tiba-tiba temannya membantu menelurkan sebuah buku atas nama saya, hikss padahal mah si saya ngerasa belum layak untuk itu, maka yang saya ingat adalah si dia. Saya ingat sejarah asal muasal tulisan-tulisan itu hadir.

Diary Alfatih, blog ini, hadir saat saya mabok hamil muda. Jangankan keluar rumah, lihat matahari saja langsung pusing. Maka, untuk mengobati kejenuhan, si dia pun berbaik hati membuatkan saya blog ini.

Saya bukan orang yang pandai bicara di depan khalayak ramai. Istilahnya, orang di balik layar. Kadang saya suka guyon sama teman sesama guru dulu di Tuban, yang karakternya mirip-miriplah sama saya, tapi shalihahnya mah jauh ke mana-mana. “Kita mah hanya debu-debu yang beterbangan ya Us..” Untuk mengibaratkan betapa kecilnya peran kami, tak berarti. Namun sering dijawab kawan lain, “Debu itu mensucikan loh kalau dipakai tayammum.” hehe iya juga..

Saking senangnya sembunyi di balik layar, kadang saya berfikir, apa yang bisa saya lakukan untuk berbagi? Bagaimana pun seorang wanita tetaplah harus punya manfaat bagi ummat dan dakwah. Nggak mungkin saya jadi penceramah seperti Mamah Dedeh. Bukan hanya karena tak pede berbicara, tapi ilmu pun memang tak punya. Maka, salah satu cara yang terpikir adalah dengan menulis. Yang kata suami mah tulisan saya teh no thing to lose. Mungkin beliau menjaga rasa, sebenarnya mau bilang tulisan saya itu tulisan alakadarnya khas emak-emak.hehe..

Maka, saat Mas Rifai (sobat pak suami) menyodorkan foto si calon buku, saya cuma bengong sambil di-backsound-in cie cie nya pak suami. Kepala saya pening, bulu kuduk berdiri. Bukan apa-apa, beberapa hari sebelumnya baru dapat kajian Ust.Budi tentang betapa bahayanya fenomena zaman sekarang yang mudah men-share ini itu dan menuliskan ini itu tanpa ilmu.

Kebayang ngerinya. Apa kabar nasib saya, jika ada satu saja kalimat dalam buku itu yang menjerumuskan orang pada kebodohan dan dosa. Namun setidaknya saya agak tenang, karena banyak dari isinya yang adalah tulisan dari isi kajian para ustadz hafidzahumullah. InsyaAllah ilmunya shahih. Mudah-mudahan saya terciprati pahala menuliskan.

Dulu, kalau tidak salah, saya pernah baca status Mas Rifai tentang setidaknya meninggalkan satu buku selama kita hidup. Gara-gara baca status itu, saya sampai kepikiran buat ngeprint beberapa tulisan yang akan saya jilid sendiri. Cukup print-printan itu sebagai kenangan anak cucu di rumah kelak. Tapi qodarullah, ternyata Allah gariskan lain.

Akhir kata, saya benar-benar memohon perlindungan kepada Allah, memohon ampun kepada Allah, memohon petunjuk kepada Allah. Semoga Dia senantiasa membimbing saya hanya berkata yang shahih, menulis yang shahih. Jika lah terlanjur ada tulisan saya di buku atau blog yang ternyata mengandung kejahilan, semoga Allah lindungi mereka yang membaca dari kejahilan itu. Tapi jika memang ada sedikit kebaikan dari tulisan-tulisan itu, semoga kami sekeluarga, Mas Rifai serta tim, dan tentunya yang “terjebak” membaca, Allah karuniakan pula pahala kebaikan

0

Allah Lebih Mencintaimu, Bapak…

“Bi, apa yang abi rasakan kalau suatu saat bapak mempoligami ibuk? Padahal kebaikan dan khidmat ibuk ke bapak luar biasa?“ Itu sebenarnya hanya pertanyaan emosional saya jika sudah dihadapkan dengan isu poligami, agar abinya anak-anak bisa ikut membaca rasa. Lalu dia jawab, “Ya nggak mau lah..” Tapi kemudian abinya berkata lagi, “Tapi Mi, pengorbanan bapak ga kalah besarnya. “ Lalu ia pun mulai berkaca-kaca..

Dari bapak saya mengenal suami lebih banyak. Saya ingat kenangan pertama ngobrol agak panjang dengan bapak, yaitu saat saya, beliau dan Kayyis bayi harus puas hanya menunggu di luar gedung Sabuga saat wisuda S2 kangmas. Beliau menceritakan panjang lebar  masa kecil suami, dan saya bisa menangkap betul betapa beliau sanggat bangga pada putranya itu..

Tahun-tahun yang panjang perjuangan beliau melawan kanker, tapi masyaallah secara fisik beliau terlihat bugar dan sehat. Bahkan di tengah-tengah masa pengobatan, sempat-sempatnya bapak merelakan ibuk untuk menemani saya dan Kayyis yang saat itu harus jauh dari kangmas selama sebulan. Yang kemudian ditutup adegan beliau bela-belain naik motor Surabaya-Lamongan hanya untuk mengantar cucu dan mantunya yang hamil besar pergi ke stasiun.

Barangkali kenangan terakhir saya dengan Bapak adalah saat beliau berbicara dengan saya ditelpon dua bulan lalu. Hanya sedikit, beliau meminta maaf, dan tenggorokan saya rasanya sudah tercekat, menahan agar tidak sampai menangis. Mana pantas seorang anak dimintakan maaf, padahal kesalahan kami lah yang menggunung-gunung.

“Laah, Kayyis ga bisa maen sama kakek lagi.” Itu lah ungkapan spontan bocah saat abinya beri tahu kakeknya sudah meninggal. “Kayyis doakan kakeknya biar nanti bisa main lagi di Surga.” Maka hanya dengan kalimat itu dia langsung riang, “Yeaaay, bisa main lagi sama kakek di Surga…”. “ Iya Kak, makanya yuk doain kakek biar disayang Allah..” “Oh, biar kuburannya luas ya kayak istana. Kalau orang jahat kuburannya sempiit..Aku juga mau kuburan yang luas”

Kami masih belum bisa jadi anak yang shalih, tapi kami yakin Allah Maha Tahu bahwa bapak adalah orang yang shalih, dan kami menjadi saksi. Panjang dan beratnya masa sakit yang beliau rasakan semoga menjadi pembersih semua dosa-dosanya dan pemberat timbangan amalnya kelak di Yaumil Hisab.

“ Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku. “ (QS.Al-Fajr : 27-30)

 

0

Our Love Story

Hehe..beberapa hari ini, yang ginian lagi booming di kalangan emak-emak..Mau ikutan juga, tapi malu kalau di pesbuk mah, jadi weh ngageje di blog…Saya ajak kangmas jawab bareng-bareng..Si saya cekikikan dia mah datar aja, naon cenah aneh..heu..Baiklah..mulakan..

Our Love Story ❤️

  1. Anniversary?
    9 Oktober 2010
  1. First date?

Kangmas bilang jalan bareng beli obat sakit perut ke Alfam*rt habis resepsi teh sebagai first date, meni sedih hikss..Kalau kata saya first date kami waktu 10 Oktober 2010, bertepatan dengan Pasar Seni ITB. Apa daya saat itu ITB penuh puoool, akhirnya kami malah nyusurin jalan Dago lanjut Nyalman..Pulangnya,tiba-tiba ada ikhwan SMS dia, “Akhi, saya kok liat antum tadi jalan bareng akhwat???” 😀

  1. How did you first met?

Si  dia mah ga inget kapan ketemu saya pertama kali..Saya mah inget banget sampai sekarang, lebih tepatnya pertama kali tau yang namanya Khabib Khumaini..Kalau ga salah akhir semester 4 saat ada dauroh Mata’..Ada game bikin menara dari sedotan trus diuji kekuatannya sama panitia..Jreng jreng muncul lah seorang ikhwan bawa tiker kayaknya mau “ngagebrigkeun’ tuh tiker buat bikin angin..Apa daya, semua menara sedotan malah luluh lantah kesenggol tikernya dia..hihii

  1. What is “your song” together?
    Ga ada..Kangmas ga suka lagu dan musik
  1. Do you remember the first movie?
    Alangkah Lucunya Negeri ini ATAU Upin Ipin The Movie, lupa…hehe..Itupun nontonnya di laptop
  1. First road trip together?
    Ke Garut pas Idul Adha pertama habis nikah..Yang gini trip bukan?
  1. Do you have kids?
    Alamdullillah, duo Maryam yang sangat nemplok sama bapake
  1. Which of you is Older?
    Diriku, beda 170 hari
  1. Who was interested first?
    Si dia atuh
  1. More sensitive?
    Angkat tangan tinggi-tinggi
  1. Worst temper?
    Tutup muka
  1. Who is the funniest?
    Ga ada yang lucu,,dua-duanya garing tapi ngangenin,,hehe
  1. More social?
    Bingung..dua-duannya pemalu, pendiam, tapi baik hati dan tidak sombong
  1. More stubborn?
    Kata dia saya, kata saya mah dia da
  1. Wakes up first?
    Si dia lah…
  2. Has the bigger family?
    Kalau keluarga saya hampir deketan semua, jadi sekalinya ngumpul tumpah ruah..Kalau dia, keluarganya jauh-jauhan..Jadi, entahlah..
  1. Eat the most?
    Saya, kan saya busui (pembenaran)
  1. Who said I love you first?
    Ya kangmas laaaah…
  1. Holds the remote?
    Saya doong
  1. Better cook?
    Saya sering masak, tapi sekalinya kangmas yang masak, kesalip semua masakan saya..hehe  😀
  1. More romantic?
    Ga ada yang romantis 😀
  1. Lebih lama di toilet?
    Nya dia atuuh..sekalian ngegosok kamar mandi, kayaknya itu pekerjaan bapak-bapak sedunia

 

Udah begitu aja..Yang penting mah love love nya membawa berkah dari Allah..Aamiin