0

Curhat heula…

Mau ngalor ngidul.. Entah sedih, bingung, kesel, campur aduk rasanya jadi satu…
Pemboman kembali terjadi.. Isu terorisme kembali terangkat. Walaupun setiap orang menyerukan bahwa terorisme tidak beragama tapi tiap mata tetap tertuju kepada kaum muslimin…
Media mengatakan bahwa pelaku adalah orang yang rajin berjamaah ke masjid. Lalu saya berfikir apakah nanti orang yang rajin ke masjid akan dicurigai sebagai bibit teroris? Belum lagi muncul meme- meme provokatif yang bilang teroris itu jidatnya hitam, jenggot nya panjang, celana cingkrang, istrinya bercadar… helloowwww..
Pengalaman kurang elok bahkan pernah dialami oleh bapaknya anak-anak yang memang sengaja memangjangkan jenggot. Kalau lagi mudik ke kampung, beberapa “oknum” keluarga akan mengatakan kalau dia udah kayak teroris.. Plis deh.. Inilah yang menjadi persoalan. Orang lebih takut keluarganya berjenggot dan rajin ke masjid. Tapi malah merasa tenang – tenang saja kalau keluarganya keluyuran untuk maksiat… Saya malas bicara teori konspirasi, tapi diakui atau tidak, tindakan-tindakan tidak bertanggung jawab ini memberikan efek buruk. Keluarga- keluarga muslim makin khawatir kalau anak atau famili mereka malah “terlalu shalih”, bahkan muncul kembali kesinisan terhadap sunnah dan syariat..
Lebih jauh lagi, ujung-ujungnya kita akan memangkas syariat dan menghilangkan kosakata-kosakata yang dianggap “ngeri”. Jihad, mati syahid identik dengan ekstrimisme tak perlu lah dibahas, begitu kira-kira. Islam itu rahmatin lil ‘alamin, Islam itu agama pertengahan, betul saya sepakat. Tapi Islam itu kamil (sempurna) dan syumul (menyeluruh). Saya meyakini bahwa semua syariat Allah itu ada hikmahnya, kita tak perlu alergi pada sebagiannya termasuk pada syariat poligami, eh..naha jadi kesini..
Lalu bagaiamana dangan kita (saya. pen)  dan keluarga ?
1. Menuntut ilmu itu ada tahapannya. Tidak langsung ujug-ujug bahas jihad. Yang ada malah muncul salah penafsiran, pemahaman serba instan tapi salah jalan. Maka di sinilah pentingnya memilih majlis ilmu juga guru.
2. Salah satu ilmu yang perlu dipelajari adalah tentang shiroh. Karena ini bagian dari ilmu hikmah, bagian dari sunnahnya Rasulullah SAW selain tentang ilmu hadits. Dari shiroh kita bisa belajar bagaimana Rasulullah bersikap, berstrategi, mengambil keputusan. Sikap beliau untuk satu kasus saja bisa berbeda tergantung orang yang dihadapi dan kondisi-kondisi lainnya.
Islam itu lemah lembut namun juga keras. Apa maksudnya? Dalam kondisi aman, kondisi mengharuskan kita berdakwah, maka kaum muslimin harus menunjukkan kelembutan. Dakwah itu lembut, tidak mempersulit. Jika saat seharusnya kondisi lembut kita malah kasar, itu namanya dzolim. Ada kalanya pula Islam harus keras, yaitu pada kondisi perang. Kalau kondisi perang malah lembut, ini menunjukkan kelemahan. Kebayang dong kalau dulu Pangeran Dipinegoro atau Jenderal Sudirman ga mau perang karena takut dibilang ga rahmatan lil alamin.. hiksss
Paham-paham ekstrim menyimpang dalam Islam itu selalu ada dan hidup dari zaman ke zaman. Biasanya mereka semakin subur saat terjadi perang saudara atau terjadinya ketidakadilan pemimpin di suatu negeri. Salah satu faham ekstrim ini bernama khawarij yang bahkan sudah Rasulullah SAW sebutkan dalam hadits-hadits beliau. Dan kalau kata Ust. Budi,  kelompok ini selalu membuat lelah kaum muslimin, menguras energi kaum muslimin. Sepanjang zamam mereka hidup, dan hanya pernah satu kali mereka “rehat” yaitu pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dari dalam Islam, memang harus diakui ada paham menyimpang ini. Tapi dari luar, framing media harus diakui masih tidak berimbang. Kadang saya heran, apa bedanya pembom di Prancis atau Surabaya kemarin,  dengan penembak puluhan orang di Amerika sana? Apa bedanya penyerang gereja kemarin dengan penyerang masjid berbulan-bulan lalu? Kenapa ada yang dilabeli teroris dan ada yang tidak… Entah…
Akhir kata, saya hanya bisa memohon kepada Allah untuk senantiasa menunjukkan kepada jalan yang lurus. Di masa fitnah ini, di masa yang semuanya terasa abu-abu, campur aduk antara haq dan bathil, semoga Allah tetap melindungi dan nenerangi… Hanya kepada-Nya satu-satunya tempat bersandar…

Tulisan ini adalah hasil curhat bolak-balik sama bapaknya anak-anak…

Advertisements
0

N. G. O. P. I

Dialah Sa’ad bin Muadz, sahabat mulia yang wafatnya membuat ‘Arsy Allah berguncang. Masuk Islamnya Sa’ ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah, 2 tokoh Madinah, adalah salah satu titik tolak perkembangan Islam di Madinah. Lalu siapakah yang menjadi jalan Islam bagi keduanya? Tentu adalah hidayah Allah, tapi seruan itu tersampaikan oleh sahabat mulia sang diplomat pertama Islam yaitu Mush’ab bin Umair RA.
Bayangkan, wafatnya Sa’ad bin Muadz saja membuat ‘Arsy Allah berguncang, menunjukkan betapa istimewanya kedudukan beliau di sisi Allah. Lalu bagaimana dengan Mush’ab yang mendapat setiap kopian pahala dari amalnya Sa’ad? Juga bayangkan tentang Abu Bakar AshShiddiq, yang dengan izin Allah melalui beliaulah banyak sahabat mulia masuk Islam, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya. Berapa banyak kopian amal yang diterima oleh Abu Bakar RA.. Dan tentulah puncak dari semuanya adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ..
Hidayah iman, dakwah tauhid ini betapa dahsyatnya.. Bukan hanya pahala shalat, bukan hanya pahala puasa, tapi semua amal terkopi pahalanya kepada sang perantara hidayah…
Ceritanya ini teh tausiah bapake anak-anak sebelum tidur kemarin malam
===
Habis dapet tausiah saya teh berkontemplasi…
Ingat suatu hari seorang teman curhat tentang betapa sulitnya ia ngajak temen-temennya datang pengajian. Padahal dalam hati juga saya garuk-garuk mojok, duh kesindir juga soalnya saya termasuk yg susah diajak.. Padahal saya aja kadang suka baper kalau ngajak anak-anak sekolah ngaji tapi yang datang bisa dihitung sebelah tangan.. Kadang godaan datang, “Udaaah.. capeee.. libur ajaa. ga da yang datang ini..” Setiap godaan datang si cinta suka bilang, “Mi, seorang aja yang datang dan dapat kebaikan, bayangkan pahalanya, kopian amalnya..”
Tentang ajak mengajak ini kadang suka lupa.. Bikin publikasi super menarik, ngebroadcast tiada henti, tapi lupa mengetuk pintu langit, minta sama yang memiliki tiap hati, yang punya hak penuh sama hidayah. Rabbighfirlii…
Kadang suka lupa juga kalau ada ladang kopian amal yang tepat di depan mata,yang pertama dan utama. Buat emak-emak mah siapa lagi yang bisa jadi ladang pahala kalau bukan anak-anaknya di rumah. Mengajarkan AlFatihah saja , yang itu teh akan dipakai seumur hidup anak minimal dalam shalat 5 waktu, masyaaAllah pahalanya. Iya kalau 1 anak shalih, kalau 2, 3, 4, dst.semuanya shalih, dan yang diajarkan bukan hanya Al Fatihah.. MasyaaAllah, makanya suka ngiri sama Ummahaat yang putra putri nya banyak shalih shalihah pula..
Ini di dunia nyata, kalau dunia maya?
Nah, kalau kata  seorang ustadz mah sosmed juga harus menguntungkan.. Kalau ga buat mendulang pahala ya buat mendulang untung alias dagang, sisanya mah sia-sia. Makanya saya suka takjub sama temen yang sering share info kajian, atau ringkasan kajian. Tentang ilmu dan pendapat pribadi sangat berhati-hati menyampaikan, tapi tetap menyebar kebaikan. MasyaaAllah coba aja ada yang dateng kajian atau tergerak melakukan amal shalih gara-gara membaca share-sharean dari FB nya, pahalanya akan mengalir juga..
Udah ah.. Panjang teuing.. Bentar lagi Ramadhan, Allahumma ballighnsa Ramadhan.. Ini bulan mulia momen mendulang pahala sebesar-besarnya, pahala dari ibadah pribadi juga ngopi pahala ibadah orang lain.. Emang bisa? Bisaa…
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Wallaahu a’lam

 

 

 

 

0

C. E. M. B. U. R. U

Saya cemburu pada mereka, wanita-wanita yang hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan menuntut ilmu. Kajian demi kajian bagaikan taman surga yang menjadi magnet luar biasa.Asalkan masih bisa ditempuh dengan kendaraan,  walaupun lintas kota, bagi mereka itu tetaplah dekat. Demi tholabul ‘ilm..
Saya cemburu pada mereka, wanita yang mimpinya akan generasi amatlah besar. Bukan hanya pada ucapan, tapi hari-harinya dipenuhi dengan ikhtiar-ikhtiar nyata. Saat mendapat ilmu, mereka akan mengamalkan ilmu itu sekuat tenaga walaupun tidak populis.. Iman.. iman.. apa yang datang dari Allah pastilah benar.
Saya cemburu pada wanita yang terkadang saya pun heran pada mereka. Tiba-tiba bertanya, “Mba bagi tips ngatur jadwalnya gimana?” Padahal mereka bukan hanya mendidik satu dua anak seperti saya, tapi 11 anak, 4 anak, dst. Kadang rasa-rasanya saya pengen “nyungsep” . Apa coba yang mau dibagi-bagi saat harusnya saya yang menengadahkan tangan dan mereka yang memberi. Allah hiasi akhlak mereka dengan tawadhu yang luar biasa.

Saya cemburu padanya, wanita yang Allah berikan kepadanya dan keluarga anugerah kelapangan rizki, lalu tak hentinya mewakafkan apa yang dimiliki. Sebuah rumah dipakai puluhan anak calon penerus generasi, tiap hari nama Allah dan Kalamullah disebut di dalamnya. Tak berhenti, rumah lain tempat ia dan keluarga tinggal,  rela sesekali dijadikan tempat mengaji puluhan ibu lain yang ingin memperbaiki diri dan generasi. MasyaaAllah.. Saya cemburu membayangkan berapa banyak tabungan pahala yang akan ia tuai..
Saya cemburu padanya, wanita yang ghirohnya luar biasa. Saat ustadz membahas pahala besar laki-laki yang shalat berjama’ah di masjid, maka serta merta ia bertanya, “Ustadz,  apakah perempuan juga bisa begitu, padahal shalatnya di rumah?” MasyaaAllah, untuk urusan akhirat memang tak mau kalah.

Saya cemburu pada mereka, yang mungkin saya tak sempat mengetahui kisahnya. Mereka tersembunyi dari pandangan mata manusia tapi Allah selalu memandangnya. Namanya jarang disebut-sebut manusia, tapi penduduk langit mengenal dan menyebut-nyebutnya.

Mereka adalah Ummahaat shaalihaat yang saya jumpai…
Jangankan membayangkan bersaing dengan para shahabiyah yang mulia, bersaing dengan mereka saja rasanya seperti menjadi debu… Semoga.. semoga bisa mencontoh sedikit demi sedikit semangat mereka, keteguhan mereka, kesungguhan mereka dalam beramal, dalam menuntut ilmu, dan dalam berbakti kepada suami serta mendidik generasi..
Baarakallahu fiihinna 😘😘

0

Mendidik Keluarga dengan Berkisah

Alhamdulillahi bi ni’matihi  tatimmush shoolihaat

Beberapa kali dapat tugas dari sekolahnya Kayyis untuk melakukan halaqoh keluarga. Sebenarnya sih itu cuma pemicu,  yang harusnya setelah tugas usai kegiatan ini dijadikan kegiatan rutin di rumah. Apa daya, waktu efektif untuk kumpul semua, duduk tertib melingkar emak, bapak plus bocah-bocah adalah bada shubuh, sedang saat itu adalah waktu emak jumpalitan dengan cucian, sarapan, dan kumbahan 😁.. Maka saat halaqoh biasanya si emak izin dulu melipir matiin kompor lah, matiin keran lah dan iklan- iklan lainnya… Hiks

Tapi ada satu agenda penting keluarga yang nampaknya kurang serius tapi dampaknya MasyaaAllah mudah-mudahan serius berkahnya. Judulnya adalah Cerita Abi. Sebenarnya ini kegiatan rutin sejak saya hamil Kayyis. Dulu mah judulnya Dongeng Abi, tapi cenah dongeng mah terkesan cerita boongan..

Di tengah rutinitas hariannya berangkat pagi pulang malam, plus jadi pejuang roker yang saya aja ga berani bayanginnya 😀, bapake masih mau meluangkan waktu untuk kami. Semoga Allah menjaganya..

Jadi menjelang tidur, sudah siap tiga ‘pasien’ yang menunggu antrian cerita Abi.. Dimulai dari si kakak, si teteh, dan terakhir emaknya..

Si Kakak akan diceritakan kisah para Nabi dan shiroh Rasulullah SAW. Si teteh akan diceritakan kisah para nabi dan orang  shalih yang pokoknya  ada hubungannya dengan bayi. Entah, kenapa pula temanya itu padahal si teteh udah bukan bayi lagi😎.. Dan terakhir si emak dapat kisah para Nabi, Rasulullah SAW namun cenah dari pendalaman yang berbeda, duh padahal yang dangkal aja belum tentu tau dan mengamalkan 😓

Majlis ilmu, majlis Al Quran adalah cahaya bagi tiap rumah. Barangkali ada para ayah atau bunda yang punya majlis ta’lim di rumahnya, mengisi halaqoh-halaqoh di rumahnya, mengajari ngaji anak-anak sekitar di rumahnya, MasyaaAllah betapa cahaya menerangi rumah mereka.. Tapi bagi kami yang terbatas ilmunya, mudah-mudahan kegiatan kecil seperti ini Allah ridhai menjadi cahaya juga di rumah kami..

0

“Abi Mau Poligami?”

Orang tua ingin anaknya shalih, tapi ketika mereka shalih di luar ekspektasinya, maka yang muncul adalah kepanikan, “Apakah anak saya ikut aliran sesat, dst”.  Itu karena sebagai orang tua,  kita tidak menyiapkan diri menjadi orang tua yang akan memiliki anak shalih. Kurang lebih begitu kata Ustdaz. Budi Ashari.

Pun seorang istri, tentu berharap memiliki suami yang shalih, yang akan bisa menjadi imam dan qowwam. Lantas ketika suaminya begitu rajin mengilmui diri, hadir dalam kajian-kajian ilmu, dan setapak demi setapak menjalankan sunnah, hingga tibalah pada sunnah yang besar, “Abi, mau poligami.” Maka kira-kira bagaimana reaksi istri jika mendengar itu?

Ini lah keluarga. Siapapun pasti ingin menjadi keluarga hingga ke Surga, maka semua langkah menuju ke sana harus dijalankan oleh semua elemen dalam keluarga itu. Hingga tidak ada kekagetan-kekagetan, apalagi muncul ketidaksekufuan.

Pagi ini saya iseng tanya suami, “Abi mau poligami?” Maka tak seperti jawabannya yang dulu-dulu, yang mungkin masih malu-malu, ia sekarang langsung  to the point mengiyakan. Sesaat dada saya berdegub kencang, rasa-rasanya jantung saya jadi menciut, mata saya pun mulai memerah, mulai kan lebaynya.. Huehue.. . Walau suami mengatakan kalimat lanjutan, ” Tapi buat abi, standar poligami itu tinggi.” Tetap saja semua kalimat itu seolah diterpa hembusan angin begitu saja, yang ada di telinga saya hanya bisikan-bisikan, “Hayoo loh suami kamu ternyata cinta nya berkurang ga seperti dulu”.. Dst.. Dst…Mulai berasa ala sinetron-sinetron 😂😂

Yaa Rabb.. Betapa Maha Besarnya Engkau yang menciptakan wanita dengan hatinya yang lembut, perasaan yang mendominasi. Maka seringkali ketika sedang mellow atau PMS, saya sekuat tenaga menarik hati agar bisa nyambung kepada akal, termasuk seperti pagi tadi..

Lalu saya mulai berkontemplasi..

Yaa Rabb..
Hamba hanya seorang anak manusia, yang tengah hidup di dunia yang fana dan sekejap ini
Hamba hanya seorang anak manusia yang berharap Kau beri akhir yang khusnul khatimah
Hamba hanya seorang anak manusia yang mengemis kasih sayang dari Mu agar selamat melewati shiraat
Hamba hanya seorang anak manusia yang berharap ridha dan ampunanMu
Hamba hanya seorang anak manusia yang berharap bisa memasuki Surga Firdaus-Mu, walau rasanya hamba jauh dari layak

Lalu ngapain tetiba saya membahas poligami? Karena ujug-ujug di FB saya rame bahasan tentang sebuah dauroh yang bertajuk “Cara cepat beristri 4” . Woow banget yak…Pembahasan dan komentar-komentarnya sudah melebar kemana-mana.. 

Mencari laki-laki yang ingin berpoligami, terlepas dia siap atau tidak, sepertinya tidak sulit. Mencari calon istri ke-2 dst, mungkin juga masih lebih mudah dibanding mencari istri petama yang siap untuk dipoligami. Makanya saya kira panitia harusnya menyelenggarakan daurohnya bukan hanya untuk bapak-bapak, tapi juga pasangannya.. 😁

Jika melihat kehidupan para shahabat dan shahabiyah, masyaaAllah rasa-rasanya poligami dijalankan begitu saja seperti halnya ibadah lainnya. Para sahabat terbiasa berlomba menjadi “pelindung” bagi istri dan anak-anak yang ditinggal syahid oleh sahabat lainnya. Lalu mengapa di kehidupan kita kini mendengar katanya saja, para istri dan termasuk saya rasanya sudah ciut hati? Mungkin jawabannya ada pada iman dan ilmu. Dan tak menutup mata contoh-contoh poligami yang terekspos  di sekitar kita  lebih banyak contoh yang “gagal” nya dibanding yang ‘berhasil”.

Ini dari tadi ngalor-ngidul gomongin apa yak… 😁😁

Seperti kata para istri tangguh yang ditinggal jihad oleh suami mereka, “Mereka itu adalah tukang makan. Jika mereka pergi, maka sesungguhnya Sang Pemberi Makan  tidak lah pergi”. Suami kita hanya lah makhluk, maka cintai sewajarnya saja. Menikah adalah wasilah untuk beribadah yang muaranya tetaplah Allah. Jadi istri atau suami adalah peran tambahan, sedang peran utama kita di bumi adalah hamba-Nya. Ga usah risau, ga usah galau.  Tujuan kita mah tetap Allah.. Allah… Ini ceritanya  kata hati saya kalau lagi muncul bapernya 😁..

Mulai  saja dengan mencicil sunnah yang kecil-kecil, manjangin jenggot dulu, mendekkin celana dulu, kan ga ngeluarin modal. Karena kita tidak tahu yang Allah takdirkan. Jangan sampai kalau Allah takdirkan berpoligami, kita malah menjadi orang yang makin memperburuk citra syariat poligami… Nah kalau yang ini kata-kata pak suami.. Huehue.. 

Kesimpulan :
Udah ahhh.. Fokuus ibadah yang ada di hadapan mata… Mengais sedikit demi sedikit pahala, menabung sereceh demi sereceh untuk bekal di akhirat. Apapun skenario kehidupan yang Allah berikan, apapun peran yang Allah percayakan, dunia ini sebentaaaar saja, akhirat lah yang kekal selamanya 😉😊

0

L.I.Q.O

Lagi rame bahas liqo, jadi pengen nostalgia..😁

Saya mengenal mentoring atau liqo di awal tahun 2004. Itu momen tak terlupakan. Saat awal-awal mentoring, saya dan teman-teman termasuk yang sering bolos bahkan main petak umpet sama teteh mentor..Tapi melihat beliau yang sedang hamil besar begitu gigih “mengejar” kami, akhirnya membuat kami luluh..Dan, jika mengingat itu saya merasa sangat berterima kasih. Semoga Allah senantiasa menjaganya, melimpahkan pahala untuknya..

Semua teteh mentor saya, murabbiyah saya, amat istimewa. Salah satu yang paling saya ingat adalah murobbiyah yang harus direpoti oleh saya karena ada ikhwan yang bolak-balik mengajukan proposal nikah. Berkali-kali ditolak, ujung-ujungnya balik lagi, alhamdulillah selesai, da akhirnya beneran jadi suami 😂😂..Semoga pahala terlimpah padanya. Juga untuk seluruh murobbiyah saya hingga detik ini..

Apakah selama perjalanan ini mulus-mulus saja? Tidak. Berkali-kali saya galau, saya lanjut apa nggak ya? Sempat awal kuliah saya bertemu harakah lain, yang mengatakan tarbiyah adalah gerakan konspirasi buatan manaaa gitu, lupa 😀..Beuh anak bawang kayak saya waktu itu galau tak terkira. Tapi saya diingatkan seorang teteh, “Coba tanyakan pada hati, bukankah tarbiyah telah menorehkan banyak kebaikan untuk hidup kita?”

Mungkin tarbiyah tidak membuat saya menjadi seorang ‘alim, tapi dari tarbiyah setidaknya saya tahu kalau kaki itu aurat, makanya saya belajar memakai kaos kaki. Saya tau bahwa memakai khimar harus menutup dada dan pakaian tidak boleh membentuk tubuh. Dan dari tarbiyah saya semakin mencintai kedua orang tua saya, bahkan belajar mencium tangan mereka, aktivitas yang tidak pernah saya lakukan sebagai anak kecuali saat lebaran saja.😥Sepele? Mungkin iya bagi sebagian orang. Tapi bagi saya yang bodoh, hal-hal kecil itu akhirnya membuka jalan kepada kebaikan yang lebih besar. InsyaaAllah.

Namun begitu, hati saya pun merasa sedih ketika muncul keriuhan yang malah semakin memperuncing perpecahan antar kaum muslimin. Potongan video 1 menit yang beredar membuat saya penasaran, maka saya cari video kajian utuhnya. Saya ikhtiarkan menyimak baik-baik pernyataan utuh beliau saat menjawab pertanyaan seorang akhawat tentang liqo. “Liqo tidak dicontohkan oleh Rasul.” Terkait ini  asaatidz sudah banyak yang membahasnya. Tapi jika video 1 menit itu dilanjutkan, maka akan ada pernyataan beliau tentang menuntut ilmu tidak harus di liqo saja. Ikutilah kajian di mana pun untuk menuntut ilmu. Husnudzon saya mungkin ustadz mengira bahwa liqo adalah satu-satunya tempat menuntut ilmu bagi para liqoers. Padahal nggak kan ya? kan kan? 😀Apalagi sekarang mah kajian banyak , dari mulai di  dunia nyata hingga dunia maya. Tinggal kitanya yang mau apa nggak…

Dari dauroh mentor yang baru saya ikuti kemarin, terkait pemenuhan ilmu ini harus diakui memang menjadi PR kita semua. Bagaimana pun dalam proses tarbiyah, ilmu adalah salah satu output yang seharusnya didapatkan. Sering saya menemukan komentar sebagian liqoers yang haus akan ilmu karena merasa di liqonya kurang pembahasan ilmu. Maka, menurut salah seorang ustadz, hal ini memang harus sama-sama menjadi perhatian, bagaimana agar para murobbi memilik kafa’ah syar’iyyah yang lebih dibanding binaannya dan bagaimana agar mutarobbi memang mendapatkan ilmu dalam liqonya.

Ini sebenarnya seperti menampar diri saya sendiri. Dulu saya pegang kelompok mentoring, dan sekarang sebagai anak bawang,  saya senang jadi mentor badal. 😂 Tapi saya akui khusus untuk diri saya sendiri memang masih jauh dari sebutan ahli ilmu, disebut thullab juga belum tentu pantas 😔.. Maka PR saya adalah agar “teko”  ini bisa mengeluarkan isi, saya harus rajin mengilmui diri. Mengikuti kajian, membaca buku, tidak malas saat diminta hadir tasqif, dst. Dan sebagai mutarobbi pun tidak bisa hanya mengandalkan liqo pekanan, lalu mengeluh tidak mendapat ilmu apa-apa dari liqo. Karena liqo hanya salah satu sarana tarbiyah, terlebih durasinya yang terbatas. Maka lagi-lagi kembali, rajinlah mengilmui diri, bagaimanapun ada namanya tarbiyah fardhiyah…Duuh enak banget ya ngomong gini, melaksanakan mah sulit 😢😢

Akhir kata, yuk ah kembali pada ladang amal nyata yang banyaaak di sekitar kita..MasyaaAllah ada asaatidz yang concern memberikan ilmu bagi masyarakat di majlis-majlis ilmu, masjid-masjid, forum-forum..Tapi mungkin ada pribadi-pribadi yang belum layak menyandang predikat ustadz/ustadzah tapi tetap bergerak membina adik-adik, anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan kaum marjinal yang belum tersentuh majlis- majlis ilmu. Yang harus didatangi secara aktif, harus pelan-pelan dibina dan disentuh. Kadang terberit dalam pikiran saya sendiri, “Walau bahasa Arabmu belum lulus, setidaknya ajari mereka huruf hijaiyah Wulan!”. Ladang amal nyata itu luas teramat, alangkah indah semuanya bergerak berkolaborasi..Duuh lagi-lagi enak banget nih ngetik cuma tinggal pakai jari, ngamalinnya yang susaaah 😔

Akhir kata (lagi?). Berhati-hatilah terhadap adu domba. Terhadap potongan-potongan video, terhadap artikel-artikel yang harus dicek dan ricek. Dengan ributnya kaum muslimin, ada yang sedang mancing di air keruh. Naooon cenah 😀😀

0

2.492 Hari

Kalau tentang milad, milad siapapun yang di rumah, kami hare-hare aja, paling-paling hanya saling becanda..”Waah udah tuaa..” Tapi ketika anniversary kami suka iseng bikin momen spesial walau sekadar makan sekeluarga di emperan..hehe..Seneng aja ngobrol mengingat-ngingat momen pertama kali senggol-senggolan tangan di pelaminan, jalan berdua, apalagi momen jatuh cinta pertama kalinya..😁

Di momen anniversary yang ke-7 kemarin, bapake berbaik hati mau ngajak jalan-jalan, yang sebenarnya buat nyenengin emaknya tapi ujung-ujungnya tetap saja kebahagiaan anak-anak yang utama bagi emak..Yang spesial lagi, bapake sengaja ambil cuti. “Pak, Kimia ITB ulang tahun ke-70, saya juga mau cuti ulang tahun pernikahan yang ke-7”..Huehue..itu dialog imajiner bapake saat mau menghadap atasan..😂😂

Bagi saya dia tetaplah sang sayap. Cukup saat melihat dia tempo hari menerjang hujan petir hanya untuk mengantar jemput saya mengaji atau berbagi ilmu, mengingatkan lagi bahwa dia tetap memiliki banyak andil dalam setiap langkah saya. Semoga Allah limpahkan padanya pahala. Cukup tiap malam dia membagi isi kajian yang dia dengar, sampai kadang saya tinggal ketiduran, mengingatkan bahwa bagaimana pun dia sedang berikhtiar mendidik saya yang keras kepala tapi kurang ilmu ini. “Bengkok” dan PMS selalu menjadi senjata andalan. Wanita oh wanita…hiks..

Tapi pesbuk setidaknya mengingatkan memori 4 tahun lalu..Tentang pesannya di suatu pagi, “Mi, suami dan istri adalah satu kesatuan dalam sebuah keluarga, maka ketika menilai tentang kebermanfaatan, jangan lagi mendikotomikan keduanya, karena pada dasarnya mereka satu keluarga, kebermanfaatannya pun adalah manfaat dari sebuah keluarga utuh..Apapun peran sosial maupun domestik masing-masing, satu dan lainnya saling mempengaruhi..Maka jadilah istri yang bisa membantu suaminya bermanfaat, pun jadilah suami yang bisa membantu istrinya bermanfaat.” Itu adalah pesan jitu saat bisik-bisik mulai menghampiri telinga saya, “Ga bosen di rumah saja?”..”Sayang loh potensinya.” Dst..Semoga kami sedang berbagi peran yang keduanya tetap mendulang pahala..

====

Di Surga, seorang suami akan terpana melihat istrinya selama 40 tahun”, katanya sambil ngisengin menatap si saya lama. Latihan heula cenah..he… Mudah-mudahan Allah kabulkan kelak bisa masuk Surga, dan bisa saling menatap berlama-lama. Lalu saya tanya, “Kalau kita Surga nya ga setingkat gimana? Emang abi mau ngangkat umi?” Eh, malah dia jawab, “Kalau abi yang di bawah, ummi mau ngangkat abi?” Pertanyaan yang tak perlu jawaban, hanya doa dan ikhtiar yang harus semakin kencang.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Kami masih tertatih dan masih harus banyak mengilmui diri. Agar visi rumah tangga, bersama hingga ke Surga, bukan cuma slogan semata. Perjalanan panjang dan sulit. Menjaga agar bahtera tak melenceng dari jalan-Nya. Mendidik anak-anak agar seperti yang dicita-cita, menjadi pemimpin orang-orang bertaqwa.

091010-091017