0

Galauniti Vaksinasi

Seminggu terakhir FB saya, iyah saya, isinya rame pembahasan tentang vaksinasi. Sebenarnya pro kontra vaksinasi bukan hal yang baru, tapi berhubung saat ini pemerintah sedang menggalakan program imunisasi MR, maka wajar lah rame lagi.

Sebagai emak-emak, saya juga pernah galau, terutama pada aspek kehalanan vaksin. Bahkan seminggu  lalu saat menimbang-nimbang Kayyis mau divaksin apa nggak, duuh umminya tiap hari menggalau..Hebatnya, nyari ilmunya via FB ama mbah Google..duh..duuh..manusia zaman sekarang, eh si ummi aja ini mah deng. Alhasil,hari ini provaks, besok bisa ganti jadi antivaks..Apa pula ini istilah..

Lalu tiba-tiba dapat inspirasi, akhirnya nyoba-nyoba baca buku-buku zaman kuliah dulu..MasyaaAllah, udah berdebu banget tuh buku-buku..Ditutup diskusi dengan abinya anak-anak, yang diakhiri pertanyaan epik nan makjleb, “Umi serius udah lupa pelajaran kuliah?”😂

Saya ga mau bahas provaks dan antivaks, itu mah udah mainstream..huehue..Saya hanya ingin nulis kenangan minggu lalu saat akhirnya memutuskan memvaksin Kayyis di sekolahnya, saat sebagian besar anak yang lain memilih untuk tidak divaksin di sekolah, tentunya dengan aneka macam alasan dan pertimbangan. Ini lah kerennya Kuttab, hal seperti ini memang seharusnya diserahkan pertimbangannya kepada orang tua, bahkan saat divaksin anak wajib didampingi orang tuanya.

Yang lucu, sehari sebelum divaksin, pulang-pulang si Kayyis bilang gini, “Umi..umi …kata temen aku ga boleh disuntik..ga halal..” Hayoo loh, si ummi cuma bisa nyengir kuda..Akhirnya saya jawab sebisa-bisa, “Iya nak, umminya A dan B baca berita kalau obat yang mau disuntiknya ga halal, jadi belum boleh dulu. Tapi abinya Kayyis sudah baca juga di tempat lain kalau obatnya insyaaAllah halal, jadi gapapa ya beda…”

Malam sebelum vaksin, saya pun sempatkan berdialog iman dengan Kayyis:

U: “Kak, yang ngasih sehat siapa sih?”

K :” Allah..”

U : ” Iya Kak, masyaaAllah Alhamdulillah, Allah baik banget..Tapi kita juga harus ikhtiar Kak. Gimana biar kita sehat Kak?”

K : “Olahragaa..makan makanan yang sehat-sehat..bersih-bersih..”

U : ” Iya Kak, makan buah sayur ya..madu juga..Kalau sakit, terus  ke dokter, ya dikasih obat.. Tapi yang ngasih sembuh siapaaa?”

K : ” Allah…”

Mengapa saya awali pula ikhtiar ini dengan berdialog iman dengan si kakak? Karena saya ingin mengingatkan dia bahwa semua adalah milik Allah termasuk sehat dan sakitnya kita. Libatkan Allah, senantiasa. Kita, hamba-Nya, hanya berikhtiar. Makan sehat, lingkungan sehat, tibunnabawi, pengobatan modern, termasuk vaksin,  hanya lah bentuk usaha.  Tak ada yang Maha Benar selain Allah.

Sepanjang malam saya terus berdoa, “Yaa Allah, kalau vaksin MR ini tidak baik, maka tolonglah hamba..” Beneran dag dig dug seperti sedang milihin jodoh.huehue..Saya takut ada setitik saja barang haram yang mengalir dalam darah anak saya, yang akan menjauhkannya dari ridha Allah..

Dan, akhirnya semua pun berlalu..Bagi kami ini hanya lah bentuk ikhtiar, yang kami awali dengan bertanya dan membaca kepada yang ahli, serta memohon petunjuk Allah. Tawakkal, memasrahkan segala sesuatu setelah usaha sekemampuan diri.

Allah yang menciptakan bumi dan seisinya. Allah pula yang mengaruniakan akal, dan juga ilmu kepada manusia. Terlebih Allah berikan petunjuk agung yaitu Al-Quran. Kemampuan dan ilmu kita terbatas, barangkali yang hari ini kita yakini, esok hari bisa saja berganti setelah kita lebih jauh mengilmui diri..

Berilmu itu memang sulit, tapi yang lebih sulit adalah memiliki adab…😊

Advertisements
0

Hanya Butiran Debu

Dunia maya kadang menyesakkan…

Dunia maya kadang melenakan…

Sejak perhelatan pilpres 2014 dan perdebatannya yang tak kunjung usai, berlanjut pigub DKI yang kata orang panasnya ngalah-ngalahin pilpres, cukup membuat saya beralasan “beberesih” isi sosmed yang dalam hal ini adalah Facebook..Maka, jadilah beranda FB saya begitu tentram, aman, dan damai, berisi share-share-an para emak keren tentang ilmu parenting, share-share-an para akhawat shalihah dan asaatidz yang saya follow tentang ilmu syariat, atau mba-mba kece yang share pola jahitan, resep masakan, dan barang dagangan…hehe…

Tapi, itu hanya sejenak. Karena setelah itu ternyata dunia sosmed saya kembali riuh dengan aneka jenis perdebatan, hanya saja dalam versi yang lebih “shalih”. Kini perdebatan itu tentang apakah ini sesuai sunnah atau bid’ah. Ini manhaj nya jelas apa tidak. Ustadz A, B, C nyunnah apa nggak…Hiksss,,disitulah saya mulai baper..

Dan, kajian Adabul Mufrad dengan Ust.Budi Ashari tempo hari menambah kebaperan saya..Beliau berkata, “Dalam ilmu hadits, perawi yang dikatakan dzaif belum berarti tidak shalih. Cacat ilmu iya, tapi cacat agama belum tentu.”  Lanjut beliau, “Seorang ahli ibadah tidak serta merta menjadi layak untuk jadi rujukan ilmu..” Dan, masih perkataan Ust.Budi kala itu, “Murid itu harusnya banyak mendengar, bukan banyak bicara. Yang banyak dibuka itu telinga dan hatinya” Di situlah saya ingin nangis.. Saya ahli ibadah bukan, ahli ilmu apalagi, jauh panggang dari api..Bahkan disebut thalib pun kayaknya ga pantas, lah majlis ilmu mana yang rutin saya hadiri, kitab dan buku apa yang sedang saya kaji?

Qodarullah hari ini tetiba tergerak menggantikan seorang ummahat untuk isi mentoring anak-anak remaja..Bertemu mereka seolah menjadi pengingat dari Allah, betapa banyaknya saudara, adik, anak-anak yang harus disentuh dengan dakwah, dengan cahaya Islam. Saat sosmed saya isinya perdebatan tentang “ilmu” yang bahkan saya pun tidak faham, perdebatan menjurus pergunjingan tentang “para ahli ilmu” yang saya yakin diri saya lebih hina, namun ketika memandang adik-adik ini yang belum sempurna menutup auratnya, membaca Quran pun masih terbata, di situ lah rasanya seperti ditampar.  Sesungguhnya di dunia nyata beban dakwah itu teramat berat, kerja-kerja dakwah menunggu untuk ditunaikan.  Energi-energi kebaikan itu alangkah bermanfaatnya disalurkan dalam amal-amal nyata dibanding perdebatan yang tak berujung..Ah..Bahkan sekalipun bahasa arabmu belum lulus, setidaknya ajarilah mereka membaca huruf hijaiyah, begitu lah saya bisikkan dalam hati..

Seperti murobbi saya bilang, kami punya hutang. Saya punya hutang pada mereka yang telah mengenalkan saya pada Islam. Kepada mereka yang mengajak saya semakin mengenal Allah, mencintai-Nya, mencintai Rasul, mencintai Al-Quran, mengenalkan kepada dakwah walau saya bukanlah ustadzah..Saatnya membayar, saatnya menunjukkan rasa syukur kepada Allah dengan pula menanam benih-benih kebaikan semampunya..Tentu keluarga kita yang pertama, lingkungan, dan siapapun yang dijumpa..

 

Saya  hanya lah butiran debu, tapi semoga Allah mudahkan jalan untuk menjadi debu yang bermanfaat..

 

0

Buku Pertama Kami

Lagi, dia lah yang menjadi sayap sesungguhnya..

Percaya ga percaya, saya menulis ini sambil menahan tetesan air mata, duh jadi mellow…

Entah serius atau bercanda, tapi dia sering sekali bertanya, “Apa ya kebaikan mas sama ade?” Yang selalu saya jawab hanya dengan tatapan aneh atau cukup helaan nafas. Ditanya ini, sungguh ngeri-ngeri sedap, khawatir terjerumus menjadi istri yang kufur nikmat. Maka saya memilih diam, sembari merenungi kebaikan-kebaikannya yang sungguh tak ternilai, tak terhingga.

Sebagai mamah muda, dulu saya sering kali dihinggapi rasa galau akan identitas diri, aktualisasi, atau emansipasi. Tapi si dia yang membesarkan hati, akan selalu menjawabnya dengan tindakan nyata yang kadang kala tetap saja saya hujani dengan keluhan bertubi-tubi.

Iseng ingin jadi momprener, maka ia belikan semua yang dibutuhkan, ia keluarkan harta yang dipunya, yang pada akhirnya kini alat-alat itu malah tersembunyi cantik di lemari dapur.hiksss…

Ingin jadi guru yang bermanfaat. Maka, dari mulai masukin lamaran, antar wawancara, jadi tutor pribadi, pengasuh anak, hingga ojek antar jemput selama 2,5 tahun pun rela ia jalani.

Kini, saat tiba-tiba temannya membantu menelurkan sebuah buku atas nama saya, hikss padahal mah si saya ngerasa belum layak untuk itu, maka yang saya ingat adalah si dia. Saya ingat sejarah asal muasal tulisan-tulisan itu hadir.

Diary Alfatih, blog ini, hadir saat saya mabok hamil muda. Jangankan keluar rumah, lihat matahari saja langsung pusing. Maka, untuk mengobati kejenuhan, si dia pun berbaik hati membuatkan saya blog ini.

Saya bukan orang yang pandai bicara di depan khalayak ramai. Istilahnya, orang di balik layar. Kadang saya suka guyon sama teman sesama guru dulu di Tuban, yang karakternya mirip-miriplah sama saya, tapi shalihahnya mah jauh ke mana-mana. “Kita mah hanya debu-debu yang beterbangan ya Us..” Untuk mengibaratkan betapa kecilnya peran kami, tak berarti. Namun sering dijawab kawan lain, “Debu itu mensucikan loh kalau dipakai tayammum.” hehe iya juga..

Saking senangnya sembunyi di balik layar, kadang saya berfikir, apa yang bisa saya lakukan untuk berbagi? Bagaimana pun seorang wanita tetaplah harus punya manfaat bagi ummat dan dakwah. Nggak mungkin saya jadi penceramah seperti Mamah Dedeh. Bukan hanya karena tak pede berbicara, tapi ilmu pun memang tak punya. Maka, salah satu cara yang terpikir adalah dengan menulis. Yang kata suami mah tulisan saya teh no thing to lose. Mungkin beliau menjaga rasa, sebenarnya mau bilang tulisan saya itu tulisan alakadarnya khas emak-emak.hehe..

Maka, saat Mas Rifai (sobat pak suami) menyodorkan foto si calon buku, saya cuma bengong sambil di-backsound-in cie cie nya pak suami. Kepala saya pening, bulu kuduk berdiri. Bukan apa-apa, beberapa hari sebelumnya baru dapat kajian Ust.Budi tentang betapa bahayanya fenomena zaman sekarang yang mudah men-share ini itu dan menuliskan ini itu tanpa ilmu.

Kebayang ngerinya. Apa kabar nasib saya, jika ada satu saja kalimat dalam buku itu yang menjerumuskan orang pada kebodohan dan dosa. Namun setidaknya saya agak tenang, karena banyak dari isinya yang adalah tulisan dari isi kajian para ustadz hafidzahumullah. InsyaAllah ilmunya shahih. Mudah-mudahan saya terciprati pahala menuliskan.

Dulu, kalau tidak salah, saya pernah baca status Mas Rifai tentang setidaknya meninggalkan satu buku selama kita hidup. Gara-gara baca status itu, saya sampai kepikiran buat ngeprint beberapa tulisan yang akan saya jilid sendiri. Cukup print-printan itu sebagai kenangan anak cucu di rumah kelak. Tapi qodarullah, ternyata Allah gariskan lain.

Akhir kata, saya benar-benar memohon perlindungan kepada Allah, memohon ampun kepada Allah, memohon petunjuk kepada Allah. Semoga Dia senantiasa membimbing saya hanya berkata yang shahih, menulis yang shahih. Jika lah terlanjur ada tulisan saya di buku atau blog yang ternyata mengandung kejahilan, semoga Allah lindungi mereka yang membaca dari kejahilan itu. Tapi jika memang ada sedikit kebaikan dari tulisan-tulisan itu, semoga kami sekeluarga, Mas Rifai serta tim, dan tentunya yang “terjebak” membaca, Allah karuniakan pula pahala kebaikan

0

Allah Lebih Mencintaimu, Bapak…

“Bi, apa yang abi rasakan kalau suatu saat bapak mempoligami ibuk? Padahal kebaikan dan khidmat ibuk ke bapak luar biasa?“ Itu sebenarnya hanya pertanyaan emosional saya jika sudah dihadapkan dengan isu poligami, agar abinya anak-anak bisa ikut membaca rasa. Lalu dia jawab, “Ya nggak mau lah..” Tapi kemudian abinya berkata lagi, “Tapi Mi, pengorbanan bapak ga kalah besarnya. “ Lalu ia pun mulai berkaca-kaca..

Dari bapak saya mengenal suami lebih banyak. Saya ingat kenangan pertama ngobrol agak panjang dengan bapak, yaitu saat saya, beliau dan Kayyis bayi harus puas hanya menunggu di luar gedung Sabuga saat wisuda S2 kangmas. Beliau menceritakan panjang lebar  masa kecil suami, dan saya bisa menangkap betul betapa beliau sanggat bangga pada putranya itu..

Tahun-tahun yang panjang perjuangan beliau melawan kanker, tapi masyaallah secara fisik beliau terlihat bugar dan sehat. Bahkan di tengah-tengah masa pengobatan, sempat-sempatnya bapak merelakan ibuk untuk menemani saya dan Kayyis yang saat itu harus jauh dari kangmas selama sebulan. Yang kemudian ditutup adegan beliau bela-belain naik motor Surabaya-Lamongan hanya untuk mengantar cucu dan mantunya yang hamil besar pergi ke stasiun.

Barangkali kenangan terakhir saya dengan Bapak adalah saat beliau berbicara dengan saya ditelpon dua bulan lalu. Hanya sedikit, beliau meminta maaf, dan tenggorokan saya rasanya sudah tercekat, menahan agar tidak sampai menangis. Mana pantas seorang anak dimintakan maaf, padahal kesalahan kami lah yang menggunung-gunung.

“Laah, Kayyis ga bisa maen sama kakek lagi.” Itu lah ungkapan spontan bocah saat abinya beri tahu kakeknya sudah meninggal. “Kayyis doakan kakeknya biar nanti bisa main lagi di Surga.” Maka hanya dengan kalimat itu dia langsung riang, “Yeaaay, bisa main lagi sama kakek di Surga…”. “ Iya Kak, makanya yuk doain kakek biar disayang Allah..” “Oh, biar kuburannya luas ya kayak istana. Kalau orang jahat kuburannya sempiit..Aku juga mau kuburan yang luas”

Kami masih belum bisa jadi anak yang shalih, tapi kami yakin Allah Maha Tahu bahwa bapak adalah orang yang shalih, dan kami menjadi saksi. Panjang dan beratnya masa sakit yang beliau rasakan semoga menjadi pembersih semua dosa-dosanya dan pemberat timbangan amalnya kelak di Yaumil Hisab.

“ Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku. “ (QS.Al-Fajr : 27-30)

 

0

Our Love Story

Hehe..beberapa hari ini, yang ginian lagi booming di kalangan emak-emak..Mau ikutan juga, tapi malu kalau di pesbuk mah, jadi weh ngageje di blog…Saya ajak kangmas jawab bareng-bareng..Si saya cekikikan dia mah datar aja, naon cenah aneh..heu..Baiklah..mulakan..

Our Love Story ❤️

  1. Anniversary?
    9 Oktober 2010
  1. First date?

Kangmas bilang jalan bareng beli obat sakit perut ke Alfam*rt habis resepsi teh sebagai first date, meni sedih hikss..Kalau kata saya first date kami waktu 10 Oktober 2010, bertepatan dengan Pasar Seni ITB. Apa daya saat itu ITB penuh puoool, akhirnya kami malah nyusurin jalan Dago lanjut Nyalman..Pulangnya,tiba-tiba ada ikhwan SMS dia, “Akhi, saya kok liat antum tadi jalan bareng akhwat???” 😀

  1. How did you first met?

Si  dia mah ga inget kapan ketemu saya pertama kali..Saya mah inget banget sampai sekarang, lebih tepatnya pertama kali tau yang namanya Khabib Khumaini..Kalau ga salah akhir semester 4 saat ada dauroh Mata’..Ada game bikin menara dari sedotan trus diuji kekuatannya sama panitia..Jreng jreng muncul lah seorang ikhwan bawa tiker kayaknya mau “ngagebrigkeun’ tuh tiker buat bikin angin..Apa daya, semua menara sedotan malah luluh lantah kesenggol tikernya dia..hihii

  1. What is “your song” together?
    Ga ada..Kangmas ga suka lagu dan musik
  1. Do you remember the first movie?
    Alangkah Lucunya Negeri ini ATAU Upin Ipin The Movie, lupa…hehe..Itupun nontonnya di laptop
  1. First road trip together?
    Ke Garut pas Idul Adha pertama habis nikah..Yang gini trip bukan?
  1. Do you have kids?
    Alamdullillah, duo Maryam yang sangat nemplok sama bapake
  1. Which of you is Older?
    Diriku, beda 170 hari
  1. Who was interested first?
    Si dia atuh
  1. More sensitive?
    Angkat tangan tinggi-tinggi
  1. Worst temper?
    Tutup muka
  1. Who is the funniest?
    Ga ada yang lucu,,dua-duanya garing tapi ngangenin,,hehe
  1. More social?
    Bingung..dua-duannya pemalu, pendiam, tapi baik hati dan tidak sombong
  1. More stubborn?
    Kata dia saya, kata saya mah dia da
  1. Wakes up first?
    Si dia lah…
  2. Has the bigger family?
    Kalau keluarga saya hampir deketan semua, jadi sekalinya ngumpul tumpah ruah..Kalau dia, keluarganya jauh-jauhan..Jadi, entahlah..
  1. Eat the most?
    Saya, kan saya busui (pembenaran)
  1. Who said I love you first?
    Ya kangmas laaaah…
  1. Holds the remote?
    Saya doong
  1. Better cook?
    Saya sering masak, tapi sekalinya kangmas yang masak, kesalip semua masakan saya..hehe  😀
  1. More romantic?
    Ga ada yang romantis 😀
  1. Lebih lama di toilet?
    Nya dia atuuh..sekalian ngegosok kamar mandi, kayaknya itu pekerjaan bapak-bapak sedunia

 

Udah begitu aja..Yang penting mah love love nya membawa berkah dari Allah..Aamiin

0

2.190 Hari

Alhamdulillah, segala puji dan syukur ke hadirat Allah atas segala nikmat-Nya yang takkan pernah bisa dihitung..

Enam tahun bukan waktu yang singkat namun juga bukan waktu yang cukup untuk mengatakan diri sebagai pasangan  senior. Kami masih junior, masih belum cukup memakan asam garam berumah tangga. Kami masih anak ingusan yang harus terus belajar tentang kehidupan.

Ini adalah lima tahun kedua pernikahan kami. Ada kepercayaan yang berkembang bahwa ujian pernikahan akan silih berganti sesuai usia lima tahunan pernikahan. Entahlah. Bagi kami ujian itu tentu akan selalu ada bahkan dalam bentuk yang terlihat sebagai sebuah kesenangan.

Banyak dari kawan kami yang dalam usia ini sudah punya segala hal yang bisa dianggap mapan, apakah itu rumah yang nyaman ataupun kendaraan. Tapi Alhamdulillah di usia pernikahan kami yang sekarang hal-hal semacam itu belum menjadi bagian dari kehidupan kami. Rumah? Alhamdulillah masih diberi rizki untuk mengontrak rumah yang layak di lingkungan yang aman. Kendaraan? Alhamdulillah Allah beri rizki sebuah motor yang kata teman-teman saya di Tuban motor itu penuh kenangan. Bagaimana tidak, hampir dua tahun setengah motor itulah yang menjadi saksi sejarah betapa besar pengorbanan suami saya harus antar jemput saya ke sekolah setiap hari.

Dulu sekali, saya kadang baper ketika dinasihati keluarga untuk cepat beli rumah, tanah, dsb. Bukan tak mau, tapi uangnya belum ada, hehe. Sekarang? Ya tetap lah, siapa yang tidak ingin punya rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman, bukankah itu salah satu nikmat Allah. Tapi satu yang selalu terngiang dari pesan suami saya,” Mi, mulai sekarang harus menguatkan mental. Kita tidak akan pernah mundur ke belakang.” Iya, itu pilihan kami untuk tidak mundur ke belakang, berurusan dengan riba. Lalu kapan bisa beli itu semua kalau harus nunggu tunai? Allah yang Maha Tahu dan Maha Kaya.

Suatu hari abinya keceplosan bilang sama si sulung bahwa rumah yang kami tempati bukan rumahnya. Dia menangis, lalu bertanya, “Terus rumah Kayyis yang mana?” Lalu saya katakan padanya,” Minta dong sama Allah, Kayyis mau rumah apa?” Dengan polosnya dia menjawab, “Rumah warna merah.” Sambil senyum saya katakan, “Iya Nak, apa sih yang nggak Allah kasih. Tapi yang penting minta istana sama Allah di Surga, yang besaaaaar dan cantik.” Hidup di dunia ini sesungguhnya pun ngontrak, maka saya katakan pada suami, “Bi, ummi mah yang penting bisa punya rumah di Surga, ga kan nolak kok Ya Allah, beneran.” Ya iya laaah..hehe..

Mari tinggalkan urusan rumah dan kendaraan, karena sesungguhnya Allah telah menganugerahkan sesuatu yang lebih berharga di tahun ini, yaitu hadirnya bidadari kedua kami. Aghniya, yang wajahnya lebih banyak ngikutin abi. Alisnya panjaaaang suka kerut-kerut kayak lagi ikut mikirin tax amnesty. Oh jangan Dek, kamu masih bayi..

Omong-omong soal wajah anak, kata salah seorang psikolog, kedekatan ayah dengan anak, terutama anak perempuan, akan meminimalisir potensi perselingkungan. Katanya ya, saat ayah lihat wajah anaknya, dia akan teringat istrinya. Alhamdulillah, dua putri kami mah kayak berbagi wajah. Si kakak kata orang mah kopian umminya banget, lah si adek ngejiplak abinya ga pake banget. Artinya,abi lihat kakak ingat ummi, ummi lihat adek ingat abi. Adil kan? Tos dulu bi..(ini ngomong apa sih)..

Kembali tentang perselingkuhan. Saya sering banget bilang sama abinya, “Bi, ummi mah insyaAllah bisa dibawa hidup susah tapi ga bisa kalau abi nyakitin hati ummi.” Selama saya hidup, kisah-kisah suami berpaling mulai dari cara yang halal hingga yang haram sudah sering saya dengar, dan itu sukses membuat saya baper. Bahkan kisah nikahnya lagi seorang pejabat berinisial MS tempo hari yang dibumbui kisah menceraikan istri tua, sukses membuat saya galau berhari-hari. Bukan itu sih esensinya. Saya tak pernah tahu esok hari, tapi kalau suami saya bilang, “Abi kan bukan tipe yang suka aneh-aneh.” Maka saya akan menjawab, “Jangan sombong jangan lengah, syaitan tahu di mana celah kita.” Saya sudah pernah hidup puluhan tahun dengan seorang lelaki yang jauh lebih cool dari abinya. Jangankan senyum apalagi pecicilan, ibu-ibu rekan kerjanya saja mana ada yang berani ngajak ngobrol, semua bilang sungkan. Tapi ternyata ujian itu tetap datang dari orang jahat. Walaupun Allah jaga dan selamatkan hingga tutup usia, tapi semua itu sudah terlanjur membekas di ingatan saya. Maka, hanya kepada Allah lah kami memohon perlindungan.

Oleh karenanya, menjadi hal yang menarik bagi saya saat tempo hari ada sebuah diskusi ibu-ibu tentang bagaimana menyenangkan hati dan pandangan suami agar si dia tak berpaling. Menyenangkan pandangan adalah salah satu sifat istri shalihah, maka perlu diperhatikan. Ada yang berikhtiar melakukan perwatan, rajin olahraga, hingga memakai baju-baju lucu atau seksi di depan suami. Saya yang cupu urusan begitu akhirnya penasaran juga. Mulailah saya searching baju-baju yang dibilangin para senior. “Bi, ummi perlu pakai baju-baju ala-ala korea gitu ga?” “Ga usah.” Jawabnya datar. “Bi, lihat deh, boleh ga ummi pakai ini?” Saat saya tunjukkan baju daster anti emak yang girly gimana gitu, tapi jawabnya, “Ah ga ah..” Akhirnya saya tanya aja, padahal mah malu nanya ginian, “Jadi, abi teh sukanya ummi pakai apaaaa?” Jawabnya, “Abi suka waktu ummi pakai mukena, soalnya ngingetin shalat jama’ah pertama kali kita habis nikah.” Gubraaak..Sebenarnya sih saya sudah bisa menebak jawabannya, karena jawaban ini tak pernah berganti hingga enam tahun pernikahan. Alhamdulillah seleranya ga berubah.

Nomong-ngomong, beberapa hari ini mulai ramai lagi bahasan tentang baby blues dan istri butuh piknik, gegara kasus mutilasi oleh seorang ibu tempo hari. Saya berdoa semoga keluarga ini dikuatkan. Ibu atau istri, memang betul perlu diperhatikan. Ini bukan hanya psikolog yang berkata, tapi sudah langsung dicontohkan oleh manusia mulia Rasulullah SAW. Saya suka terkagum-kagum jika membaca shirah Rasulullah SAW. Maha Suci Allah yang sudah menciptakan manusia sesempurna itu, fisiknya, akhlaknya, semuanya. Seorang suami yang begitu lembut dan cinta pada istrinya. Yang tak malu turut bejibaku dalam urusan rumah tangga. Yang menyediakan waktu khusus mendengar istrinya. Yang kakinya rela dijadikan pijakan istrinya untuk menaiki unta. Yang..yang..terlalu banyak untuk dikatakan. Maka jika para suami begitu bersemangat menjalankan sunnah Rasul –ta’addud- yang kadang hanya jadi bahan candaan tak semestinya, alangkah lebih baik memperhatikan dahulu sunnahnya yang lain tentang bagaimana memperlakukan istri dengan akhlak terbaik.

Urusan istri butuh piknik, saya termasuk yang tiap akhir pekan minta libur dan minta piknik. Kadang kasian juga kalau abinya udah mulai merengek, “Ummi minta libur weekend, terus abi kapan liburnyaaa?” Sebenarnya yang paling saya senangi bukan piknik tapi ngobrol. Bahkan sekadar ngobrol yang ga penting, “Benar sama betul kan sama, kok kebetulan dan kebenaran ga sama?” Krik..obrolan macam opo iki. Kadang juga ngobrol yang penting, semisal kopi sianidanya Jessica, atau ngobrol tentang keruntuhan Andalusia. Alasan saya suka ngobrol salah satunya karena ngobrol adalah obat manjur untuk saya kalau sedang insomnia. hehe..Tapi sebenarnya alasan utamanya bukan itu. Sudah menjadi sunnatullah bahwa perempuan adalah makhluk yang perlu didengar. Kemampuannya untuk mengeluarkan kata-kata berkali lipat dari laki-laki. Maka para suami harus mau menyediakan waktu dan telinga mendengar semua keluh kesahnya, curhatannya, ceritanya yang mungkin tak penting atau berulang-ulang. Tak rela kan kalau istri malah nyari tempat curhat ke orang lain. Na’udzubillah..

Akhir kata, hatur nuhun Kangmas karena masih sangat bersabar menghadapi istrimu yang kolokan. Pagi ngirim whatsapp cinta, sore hari bisa berubah manyun karena telat pulang kerja. Semoga Allah hadiahkan bagimu bidadari-bidadari surga, tapi saya tetap berharap saya lah ratunya kelak. Ga bosen kan?kan?

 

Yaa Allah bimbinglah kami…

 

 

 

 

 

0

Yang Terganteng

“Kayyis mau nikah sama abi.” Saya yakin si sulung ga ngerti apa itu nikah, tapi saban hari itu yang diucapkan pada abinya. Siapa coba yang ga geer, cieee..Kayaknya kalau yang kecil udah bisa ngomong, ia pun akan ikut memperebutkan abinya..Oh, begitu berharganya kah abi kalian nih?

Kadang saya dirundung cemburu tak berkesudahan. Kata artikel yang beredar, bagusnya ada interaksi bantal antara suami dan istri sebelum tidur, ngobrol sebelum tidur lah sederhananya. Tapi apa boleh dikata, saat kami mau tidur, muka abinya harus ngadep dan ngelonin si kakak, tangan kanannya megangin si ade, akhirnya mau tak mau saya dapat tangan kirinya.

Udah jelas kalau baru pulang kantor mah, denger suara motornya saja, anak-anak udah ‘cingkleung’, nyadar bapaknya pulang. Belum sempat abinya menyandarkan badan barang sebentar, yang kecil udah gapai-gapai minta gedong. Sambil gendong yang kecil, kakaknya udah mulai gelendotan di kaki, dan si saya cuma bisa manyun..Mau mulai ngobrol, tiba-tiba pesaing ikutan ngomong, seolah ingin beradu nyaring, ingin menjadi pertama yang didengar lelaki paling ganteng di rumah ini..hiuuufff..

Inilah rutinitas kangmas bersama kami setiap hari..Kami tahu dia lelah, seharian di kantor, berangkat dan pulang harus jadi roker. Tapi rasa rindu kami padanya tak pernah berkurang setiap harinya. Jika syafaq mulai muncul, maka itu tandanya sesaat lagi adzan maghrib dan kangmas pulang ke rumah. Telat sedikit saja, maka galau lah seisi rumah..hmmm

====

Setiap hari kau keluar rumah untuk mencari nafkah, untuk beribadah, maka kami titipkan engkau pada Dzat Yang Maha Melindungi..Allah yang akan menjaga..

Cinta kami, istri dan anak-anak adalah cinta makhluk, yang kadang membuncah kadang meredup. Tapi cinta Allah tak pernah surut, cinta Allah berbeda dengan cinta makhluk. Maka kami berdoa agar Allah senantiasa mencintaimu, hingga ia akan menjagamu dalam segala keta’atan yang Dia ridhai..

Baarakallahu fiik..tak hanya untuk umurik tapi juga untuk semuanya..Yassarallahu umuuraka..

We Love You, Abi..