0

Curhat heula…

Mau ngalor ngidul.. Entah sedih, bingung, kesel, campur aduk rasanya jadi satu…
Pemboman kembali terjadi.. Isu terorisme kembali terangkat. Walaupun setiap orang menyerukan bahwa terorisme tidak beragama tapi tiap mata tetap tertuju kepada kaum muslimin…
Media mengatakan bahwa pelaku adalah orang yang rajin berjamaah ke masjid. Lalu saya berfikir apakah nanti orang yang rajin ke masjid akan dicurigai sebagai bibit teroris? Belum lagi muncul meme- meme provokatif yang bilang teroris itu jidatnya hitam, jenggot nya panjang, celana cingkrang, istrinya bercadar… helloowwww..
Pengalaman kurang elok bahkan pernah dialami oleh bapaknya anak-anak yang memang sengaja memangjangkan jenggot. Kalau lagi mudik ke kampung, beberapa “oknum” keluarga akan mengatakan kalau dia udah kayak teroris.. Plis deh.. Inilah yang menjadi persoalan. Orang lebih takut keluarganya berjenggot dan rajin ke masjid. Tapi malah merasa tenang – tenang saja kalau keluarganya keluyuran untuk maksiat… Saya malas bicara teori konspirasi, tapi diakui atau tidak, tindakan-tindakan tidak bertanggung jawab ini memberikan efek buruk. Keluarga- keluarga muslim makin khawatir kalau anak atau famili mereka malah “terlalu shalih”, bahkan muncul kembali kesinisan terhadap sunnah dan syariat..
Lebih jauh lagi, ujung-ujungnya kita akan memangkas syariat dan menghilangkan kosakata-kosakata yang dianggap “ngeri”. Jihad, mati syahid identik dengan ekstrimisme tak perlu lah dibahas, begitu kira-kira. Islam itu rahmatin lil ‘alamin, Islam itu agama pertengahan, betul saya sepakat. Tapi Islam itu kamil (sempurna) dan syumul (menyeluruh). Saya meyakini bahwa semua syariat Allah itu ada hikmahnya, kita tak perlu alergi pada sebagiannya termasuk pada syariat poligami, eh..naha jadi kesini..
Lalu bagaiamana dangan kita (saya. pen)  dan keluarga ?
1. Menuntut ilmu itu ada tahapannya. Tidak langsung ujug-ujug bahas jihad. Yang ada malah muncul salah penafsiran, pemahaman serba instan tapi salah jalan. Maka di sinilah pentingnya memilih majlis ilmu juga guru.
2. Salah satu ilmu yang perlu dipelajari adalah tentang shiroh. Karena ini bagian dari ilmu hikmah, bagian dari sunnahnya Rasulullah SAW selain tentang ilmu hadits. Dari shiroh kita bisa belajar bagaimana Rasulullah bersikap, berstrategi, mengambil keputusan. Sikap beliau untuk satu kasus saja bisa berbeda tergantung orang yang dihadapi dan kondisi-kondisi lainnya.
Islam itu lemah lembut namun juga keras. Apa maksudnya? Dalam kondisi aman, kondisi mengharuskan kita berdakwah, maka kaum muslimin harus menunjukkan kelembutan. Dakwah itu lembut, tidak mempersulit. Jika saat seharusnya kondisi lembut kita malah kasar, itu namanya dzolim. Ada kalanya pula Islam harus keras, yaitu pada kondisi perang. Kalau kondisi perang malah lembut, ini menunjukkan kelemahan. Kebayang dong kalau dulu Pangeran Dipinegoro atau Jenderal Sudirman ga mau perang karena takut dibilang ga rahmatan lil alamin.. hiksss
Paham-paham ekstrim menyimpang dalam Islam itu selalu ada dan hidup dari zaman ke zaman. Biasanya mereka semakin subur saat terjadi perang saudara atau terjadinya ketidakadilan pemimpin di suatu negeri. Salah satu faham ekstrim ini bernama khawarij yang bahkan sudah Rasulullah SAW sebutkan dalam hadits-hadits beliau. Dan kalau kata Ust. Budi,  kelompok ini selalu membuat lelah kaum muslimin, menguras energi kaum muslimin. Sepanjang zamam mereka hidup, dan hanya pernah satu kali mereka “rehat” yaitu pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dari dalam Islam, memang harus diakui ada paham menyimpang ini. Tapi dari luar, framing media harus diakui masih tidak berimbang. Kadang saya heran, apa bedanya pembom di Prancis atau Surabaya kemarin,  dengan penembak puluhan orang di Amerika sana? Apa bedanya penyerang gereja kemarin dengan penyerang masjid berbulan-bulan lalu? Kenapa ada yang dilabeli teroris dan ada yang tidak… Entah…
Akhir kata, saya hanya bisa memohon kepada Allah untuk senantiasa menunjukkan kepada jalan yang lurus. Di masa fitnah ini, di masa yang semuanya terasa abu-abu, campur aduk antara haq dan bathil, semoga Allah tetap melindungi dan nenerangi… Hanya kepada-Nya satu-satunya tempat bersandar…

Tulisan ini adalah hasil curhat bolak-balik sama bapaknya anak-anak…

Advertisements
0

N. G. O. P. I

Dialah Sa’ad bin Muadz, sahabat mulia yang wafatnya membuat ‘Arsy Allah berguncang. Masuk Islamnya Sa’ ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah, 2 tokoh Madinah, adalah salah satu titik tolak perkembangan Islam di Madinah. Lalu siapakah yang menjadi jalan Islam bagi keduanya? Tentu adalah hidayah Allah, tapi seruan itu tersampaikan oleh sahabat mulia sang diplomat pertama Islam yaitu Mush’ab bin Umair RA.
Bayangkan, wafatnya Sa’ad bin Muadz saja membuat ‘Arsy Allah berguncang, menunjukkan betapa istimewanya kedudukan beliau di sisi Allah. Lalu bagaimana dengan Mush’ab yang mendapat setiap kopian pahala dari amalnya Sa’ad? Juga bayangkan tentang Abu Bakar AshShiddiq, yang dengan izin Allah melalui beliaulah banyak sahabat mulia masuk Islam, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya. Berapa banyak kopian amal yang diterima oleh Abu Bakar RA.. Dan tentulah puncak dari semuanya adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ..
Hidayah iman, dakwah tauhid ini betapa dahsyatnya.. Bukan hanya pahala shalat, bukan hanya pahala puasa, tapi semua amal terkopi pahalanya kepada sang perantara hidayah…
Ceritanya ini teh tausiah bapake anak-anak sebelum tidur kemarin malam
===
Habis dapet tausiah saya teh berkontemplasi…
Ingat suatu hari seorang teman curhat tentang betapa sulitnya ia ngajak temen-temennya datang pengajian. Padahal dalam hati juga saya garuk-garuk mojok, duh kesindir juga soalnya saya termasuk yg susah diajak.. Padahal saya aja kadang suka baper kalau ngajak anak-anak sekolah ngaji tapi yang datang bisa dihitung sebelah tangan.. Kadang godaan datang, “Udaaah.. capeee.. libur ajaa. ga da yang datang ini..” Setiap godaan datang si cinta suka bilang, “Mi, seorang aja yang datang dan dapat kebaikan, bayangkan pahalanya, kopian amalnya..”
Tentang ajak mengajak ini kadang suka lupa.. Bikin publikasi super menarik, ngebroadcast tiada henti, tapi lupa mengetuk pintu langit, minta sama yang memiliki tiap hati, yang punya hak penuh sama hidayah. Rabbighfirlii…
Kadang suka lupa juga kalau ada ladang kopian amal yang tepat di depan mata,yang pertama dan utama. Buat emak-emak mah siapa lagi yang bisa jadi ladang pahala kalau bukan anak-anaknya di rumah. Mengajarkan AlFatihah saja , yang itu teh akan dipakai seumur hidup anak minimal dalam shalat 5 waktu, masyaaAllah pahalanya. Iya kalau 1 anak shalih, kalau 2, 3, 4, dst.semuanya shalih, dan yang diajarkan bukan hanya Al Fatihah.. MasyaaAllah, makanya suka ngiri sama Ummahaat yang putra putri nya banyak shalih shalihah pula..
Ini di dunia nyata, kalau dunia maya?
Nah, kalau kata  seorang ustadz mah sosmed juga harus menguntungkan.. Kalau ga buat mendulang pahala ya buat mendulang untung alias dagang, sisanya mah sia-sia. Makanya saya suka takjub sama temen yang sering share info kajian, atau ringkasan kajian. Tentang ilmu dan pendapat pribadi sangat berhati-hati menyampaikan, tapi tetap menyebar kebaikan. MasyaaAllah coba aja ada yang dateng kajian atau tergerak melakukan amal shalih gara-gara membaca share-sharean dari FB nya, pahalanya akan mengalir juga..
Udah ah.. Panjang teuing.. Bentar lagi Ramadhan, Allahumma ballighnsa Ramadhan.. Ini bulan mulia momen mendulang pahala sebesar-besarnya, pahala dari ibadah pribadi juga ngopi pahala ibadah orang lain.. Emang bisa? Bisaa…
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Wallaahu a’lam

 

 

 

 

0

C. E. M. B. U. R. U

Saya cemburu pada mereka, wanita-wanita yang hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan menuntut ilmu. Kajian demi kajian bagaikan taman surga yang menjadi magnet luar biasa.Asalkan masih bisa ditempuh dengan kendaraan,  walaupun lintas kota, bagi mereka itu tetaplah dekat. Demi tholabul ‘ilm..
Saya cemburu pada mereka, wanita yang mimpinya akan generasi amatlah besar. Bukan hanya pada ucapan, tapi hari-harinya dipenuhi dengan ikhtiar-ikhtiar nyata. Saat mendapat ilmu, mereka akan mengamalkan ilmu itu sekuat tenaga walaupun tidak populis.. Iman.. iman.. apa yang datang dari Allah pastilah benar.
Saya cemburu pada wanita yang terkadang saya pun heran pada mereka. Tiba-tiba bertanya, “Mba bagi tips ngatur jadwalnya gimana?” Padahal mereka bukan hanya mendidik satu dua anak seperti saya, tapi 11 anak, 4 anak, dst. Kadang rasa-rasanya saya pengen “nyungsep” . Apa coba yang mau dibagi-bagi saat harusnya saya yang menengadahkan tangan dan mereka yang memberi. Allah hiasi akhlak mereka dengan tawadhu yang luar biasa.

Saya cemburu padanya, wanita yang Allah berikan kepadanya dan keluarga anugerah kelapangan rizki, lalu tak hentinya mewakafkan apa yang dimiliki. Sebuah rumah dipakai puluhan anak calon penerus generasi, tiap hari nama Allah dan Kalamullah disebut di dalamnya. Tak berhenti, rumah lain tempat ia dan keluarga tinggal,  rela sesekali dijadikan tempat mengaji puluhan ibu lain yang ingin memperbaiki diri dan generasi. MasyaaAllah.. Saya cemburu membayangkan berapa banyak tabungan pahala yang akan ia tuai..
Saya cemburu padanya, wanita yang ghirohnya luar biasa. Saat ustadz membahas pahala besar laki-laki yang shalat berjama’ah di masjid, maka serta merta ia bertanya, “Ustadz,  apakah perempuan juga bisa begitu, padahal shalatnya di rumah?” MasyaaAllah, untuk urusan akhirat memang tak mau kalah.

Saya cemburu pada mereka, yang mungkin saya tak sempat mengetahui kisahnya. Mereka tersembunyi dari pandangan mata manusia tapi Allah selalu memandangnya. Namanya jarang disebut-sebut manusia, tapi penduduk langit mengenal dan menyebut-nyebutnya.

Mereka adalah Ummahaat shaalihaat yang saya jumpai…
Jangankan membayangkan bersaing dengan para shahabiyah yang mulia, bersaing dengan mereka saja rasanya seperti menjadi debu… Semoga.. semoga bisa mencontoh sedikit demi sedikit semangat mereka, keteguhan mereka, kesungguhan mereka dalam beramal, dalam menuntut ilmu, dan dalam berbakti kepada suami serta mendidik generasi..
Baarakallahu fiihinna 😘😘

0

Tiga Semester Kayyisah Alfatih dan Kuttab Al-Fatih

Sudah lama tidak update kisah Kayyis dan Kuttab…

Kuttab dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bagi kami adalah sebuah rizki dari Allah yang Maha Pemurah. Tentu seperti yang pernah disampaikan Waalid Ilham dulu sekali saat Kajian pertama wali santri, Kuttab hadir bukan karena merasa paling baik. Kami pernah lalai bertawakkal, hingga suatu saat Allah menegur, lalu kami berikhtiar memperbaharui lagi niat atas keberadaan kami di Kuttab. Kuttab adalah bentuk ikhtiar manusia, sedang tawakkal, segala ketergantungan tetaplah hanya kepada Allah..

Sesekali melihat anak tetangga yang sekolah di bilingual school mulai belajar bicara bahasa Inggris, membuat saya tergoda. Apa saya mulai ajari Kayyis juga ya? Lain hari melihat obrolan di sebuah grup tentang matematika Cambridge, membuat saya pun membisiki suami, “Ayo bi, bisa lah kita juga..” dst.. Saya lupa terhadap tahapan dan kesabaran yang harusnya saya perbaharui dari waktu waktu. Kesabaran atas keputusan yang tidak populis yang telah kami ambil..Kesabaran untuk meniti tangga ilmu satu per satu dulu, yang tentu saja dimulai dari iman, adab, dan Al Quran.

“Ummi, kata ustadz pernah ada kisah begini ya..” Hampir setiap hari kisah-kisah kebaikan dia bawa dari Kuttab. Bagi kami ini adalah perkembangan luar biasa. Tahun lalu saat masih kelas 1, ketika ditanya, “Tadi di sekolah, ustadz berkisah apa?” Maka hampir selalu dijawabnya dengan menaikkan bahu.. Kini, tanpa diminta pun ia akan bercerita panjang lebar…

Lambat laun, saya pun bahkan sering merasa malu kepada Kayyis. Suatu hari dia bertanya, “Mi, kok umi ga pakai cadar, kan sudah besar?” Umminya cuma mesam- mesem. Lain hari, saat tanduk ummimya sedang keluar tiba-tiba dia berkata kepada saya setengah malu-malu, “Ummi.. Sebenarnya aku mau ingetin umi tapi aku malu.. Umi kalau marah nanti Allah ga suka..” Seketika itu pula hati saya luluh.. Yang paling  terbaru, saat umminya marah dan melipir dulu ke kamar sebelah, tiba-tiba muncul secarik kertas di bawah pintu.. “Umi kalau marahnya sampai kecatat malaikat umi gamau seperti Rasulullah dia tidak pernah marah umi nanti kalau teteh bikin sebel umi marahnya senyum”. Walau tanpa titik dan koma, plus  susunan katanya tak beraturan, tapi satu paragraf ini sukses menjadi pengingat seketika. 

Bukan tanpa cela. Terkadang Kayyis pun masih terlewat tentang adab, misal lupa membaca doa. Lalu panjang lebar umminya menasihati, walau entah apa bedanya dengan omelan. Maka saat kajian kemarin,  rasanya saya seperti tertampar bolak-balik ketika ustadz mengisahkan teladan Rasulullah dan para nabi.  Manusia paling mulia saja, Rasulullah SAW,  saat mengingatkan para sahabatnya yang mulia, tidak dengan mengomel, Rasulullah selalu mengingatkan dengan hikmah.. Nabi Ya’qub saja yang tahu tentang kedzaliman saudara-saudara Yusuf tetap bersabar. Karena itulah hakikat mendidik, shobrun jamiil.. Kesabaran yang indah.. Ini pula yang seringkali saya lihat dari asaatidzah. Sempat suatu hari saya melihat Kayyis ditegur oleh seorang ustadzah karena mengunyah makanan sambil jalan, ustadzah pun mengingatkannya dengan berjongkok mensejajari, berbicara sambil menatap Kayyis dengan lembut.. MasyaaAllah.. Allahu yubaarik fiihaa..

Suatu hari ada cacatan istimewa tentang adab Kayyis dalam majlis. Saking semangatnya bercerita, Kayyis seringkali malah memotong pembicaan asaatidz, dan ini pun terjadi di rumah bersama kami. Bolak-balik kami ingatkan, tapi tetap saja begitu. Sampai suatu hari saat saya sedang membacakan kisah kepadanya tiba-tiba dia mengangkat tangan dan berkata, “Afwan, kata ustadz kita harus seperti pohon kurma…” Sesaat sata tertegun kaget. MasyaaAllah walaupun masih keliru tapi saya takjub dengan caranya mengangkat tangan dan mengatakan afwan. Lagi-lagi kebaikan yang ia peroleh dari asatidznya..

Tentang Al Quran,  ada saatnya dia begitu cepat dalam menghafal, walau terkadang saya khawatir tidak dibarengi dengan imannya. Saat menghafal, Kayyis senang bertanya, “Ummi ini artinya apa?” Saya pun membacakan artinya dan menjelaskan sebisa-bisa. MasyaaAllah berasa sekali bodohnya, menyesal kenapa saya tidak menuntut ilmu dengan benar dari dulu. Jika sampai pada ayat-ayat surga, dia akan girang bukan main, “Ooh.. Nanti buahnya metiknya gampang ya..”

Tapi ada saatnya sulit sekali dia menghafal walau hanya satu ayat, maka saya ajak dia untuk beristighfar. Walau hakikatnya dia belum berdosa, tapi umminya lah yang bertumpuk dosa. Kadang pula saya tiru kata-kata seorang ummahat shalihah saat putranya kesulitan menghafal, “Barangkali ayatnya sedang kangen sama kamu Nak, makanya ingin terus diulang-ulang”.. MasyaaAllah…

Suatu hari dalam kajian diceritakan, bahwa asaatidz Kuttab bahkan punya waktu khusus untuk mendoakan satu per satu santri yang diajarnya. MasyaaAllah saya merasa sangat malu, beliau-beliau adalah guru Kayyis, sedang saya ini ibunya yang harusnya lebih kencang bermunajat..Baarakallahu fiikum asaatidzah..

Seperti yang selalu diingatkan.. Ini bukan akhir perjalanan, ini masih awal perjuangan, masih jauh dari hakikat sukses.. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberikan pertolongan. .
Iman sebelum Quran, adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal..
0

Mendidik Keluarga dengan Berkisah

Alhamdulillahi bi ni’matihi  tatimmush shoolihaat

Beberapa kali dapat tugas dari sekolahnya Kayyis untuk melakukan halaqoh keluarga. Sebenarnya sih itu cuma pemicu,  yang harusnya setelah tugas usai kegiatan ini dijadikan kegiatan rutin di rumah. Apa daya, waktu efektif untuk kumpul semua, duduk tertib melingkar emak, bapak plus bocah-bocah adalah bada shubuh, sedang saat itu adalah waktu emak jumpalitan dengan cucian, sarapan, dan kumbahan 😁.. Maka saat halaqoh biasanya si emak izin dulu melipir matiin kompor lah, matiin keran lah dan iklan- iklan lainnya… Hiks

Tapi ada satu agenda penting keluarga yang nampaknya kurang serius tapi dampaknya MasyaaAllah mudah-mudahan serius berkahnya. Judulnya adalah Cerita Abi. Sebenarnya ini kegiatan rutin sejak saya hamil Kayyis. Dulu mah judulnya Dongeng Abi, tapi cenah dongeng mah terkesan cerita boongan..

Di tengah rutinitas hariannya berangkat pagi pulang malam, plus jadi pejuang roker yang saya aja ga berani bayanginnya 😀, bapake masih mau meluangkan waktu untuk kami. Semoga Allah menjaganya..

Jadi menjelang tidur, sudah siap tiga ‘pasien’ yang menunggu antrian cerita Abi.. Dimulai dari si kakak, si teteh, dan terakhir emaknya..

Si Kakak akan diceritakan kisah para Nabi dan shiroh Rasulullah SAW. Si teteh akan diceritakan kisah para nabi dan orang  shalih yang pokoknya  ada hubungannya dengan bayi. Entah, kenapa pula temanya itu padahal si teteh udah bukan bayi lagi😎.. Dan terakhir si emak dapat kisah para Nabi, Rasulullah SAW namun cenah dari pendalaman yang berbeda, duh padahal yang dangkal aja belum tentu tau dan mengamalkan 😓

Majlis ilmu, majlis Al Quran adalah cahaya bagi tiap rumah. Barangkali ada para ayah atau bunda yang punya majlis ta’lim di rumahnya, mengisi halaqoh-halaqoh di rumahnya, mengajari ngaji anak-anak sekitar di rumahnya, MasyaaAllah betapa cahaya menerangi rumah mereka.. Tapi bagi kami yang terbatas ilmunya, mudah-mudahan kegiatan kecil seperti ini Allah ridhai menjadi cahaya juga di rumah kami..

0

Air Kencing Unta

Dari Anas bin Malik berkata, “Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya. Maka mereka pun berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa unta-untanya. Kemudian berita itu pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang siang. Maka beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka. Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, maka tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beberapa pekan lalu, masalah air kencing unta ini sempat ramai di media sosial. Terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum meminumnya. Kata si abi, bukan itu yang mau dibahas, tapi tentang hikmah apa yang bisa kita ambil dari hadits di atas.

1. Sebagai muslim, saat kita mendengar apapun yang datang dari Rasulullah SAW maka kita harus percaya, walaupun belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Saat Rasul menyuruh orang-orang itu meminum air kencing unta sebagai obat, maka kita percaya tentang itu.

2. Selanjutnya masih tentang meminum air kencing unta. Ini harusnya menjadi ladang bagi kaum muslimin, terutama yang bergerak di bidang medis, untuk menelitinya. Saat Rasul menggunakan air kencing unta, apa sebenarnya penyakit dan gejala yang diderita orang-orang itu. Apa zat-zat yang terkandung di dalamnya, dst. Sehingga penggunaannya semakin efektif dan efisien. Karena belum tentu semua penyakit diobati dengan meminum air kencing unta.

3. Saat mendengar cerita bagaimana Rasulullah SAW menghukum para pengkhianat itu, saya begidik ngeri. Kata abinya itu adalah hukuman yang tidak pernah Rasul berikan sebelum dan sesudah kejadian itu. Hanya itu sekali-kalinya. Lalu kenapa segitunya?

Orang-orang itu melakukan perampokan (rampok loh ya bukan nyuri), pembunuhan, murtad, dan berkhianat. Dosa – dosa besar dilakukan sekaligus. Kaki dan tangan mereka dipotong sebagai hukuman merampok, mata mereka dicongkel dan dibuang di gurun panas hingga mati, karena mereka pun melakukan itu kepada sang penggembala. 

Inilah qishos. Wah kalau jaman sekarang mungkin akan dianggap melanggar HAM. Tapi prinsip Islam adalah mencegah kerusakan yang lebih besar. Dan ini menjadi pelajaran bagi masyarakat saat itu untuk tidak ada lagi yang melakukan hal keji demikian. Kita hari ini?

0

AGHNIYA (2 Tahun…)

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah bi ni’matihi tatimmush shaalihaat

Aghniya, usiamu kini 2 tahun..

Menghadapi perkembanganmu, barangkali ummi tidak lagi sepanik saat kakakmu dulu..

Kau sukses disapih tanpa perlu pahit-pahitan atau iseng-iseng jeruk nipis ala kakakmu dulu, Alhamdulillah..Menyapih adalah bagian dari dialog iman,  begitu kata guru-guru ummi. Maka ummi belajar sedikit demi sedikit menyapihmu dengan cinta karena Allah. “Deek, kata Allah kalau sudah dua tahun, minum uminya sudah sempurna yaa, ga minum ummi lagi.” Maka saat sounding, kalau ditanya, “Sudah berapa tahun?” Jika tak lapar dengan lantang kau jawab, “Dua !!!” Tapi saat lapar, jangankan menjawab, kau akan langsung berlari pada umi sambil berkata, “Minuuuum…minuuum..” Hehe..Qodarullah semua terlewati ya Dek..Semoga tiap tetes ASI yang Allah rizkikan melalui perantara ummi, menjadi darah, daging, dan tulang yang Allah berkahi pada tubuhmu..Aamiin

Soal berbicara, ummi akui merasa de javu..Seperti kakakmu dulu, bila mau main banding-bandingan dengan isi teori di buku atau dengan teman sebayamu, kau masih tertinggal..Tapi ingat kisah  dengan kakakmu dulu, ummi tak mau ambil pusing, selagi ummi masih terus berikhtiar menstimulus mu dengan rajin. Akan ada saatnya, insyaaAllah. Dan, lagi-lagi ummi berdoa, tak apa kau tak bisa bernyanyi balonku atau pelangi, karena ummi dan abi akan berikhtiar mengisi hati dan akalmu dengan kalimat thoyyibah, dengan kalam-kalam Allah..Semoga itu lah yang kelak terucap dari lisanmu selalu..

Sampai sekarang, kau belum memanggil ummi, masih emak, yaah ga papa lah kekikinian, hehe..Abi masih pula kau bilang papah, gayaaa..heu..Tapi ummi bahagia saat kau bisa lebih fasih berkata Allahu Akbar, baarakallahu fiik shalihah..Karena Allah lah yang cinta-Nya melebihi cinta ummi dan abimu, Allah lebih pantas kau panggil asma nya lebih dulu…Ummi bersyukur kau sudah lebih dulu mengenal Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, melalui buku-buku yang biasa kau baca dengan kakakmu..Semoga Allah menjaga kakakmu selalu..

Allah Maha Pencipta, Maha Sempurna..Dirimu, Allah ciptakan dalam fisik yang serupa abimu, hampir tiap orang bilang begitu..Kau dan kakak, saudara kandung beda rupa, masyaaAllah..Kalau ummi bilang, casingmu seperti abi, tapi watakmu seperti ummi..Ah, semoga yang dicontoh hanya yang baik..Sedang kakakmu, katanya casing ummi tapi watak abi…hehe

Bagaimanapun, seperti Ibrahim AS dan Musa AS, Abu Bakar RA dan Umar RA, maka Kayyisah dan Aghniya semoga dua-duanya menjadi hamba Allah yang sama-sama mulia.

Love U, Aghniya Maryam Zanki… 🙂 🙂