Curhat heula…

Mau ngalor ngidul.. Entah sedih, bingung, kesel, campur aduk rasanya jadi satu…
Pemboman kembali terjadi.. Isu terorisme kembali terangkat. Walaupun setiap orang menyerukan bahwa terorisme tidak beragama tapi tiap mata tetap tertuju kepada kaum muslimin…
Media mengatakan bahwa pelaku adalah orang yang rajin berjamaah ke masjid. Lalu saya berfikir apakah nanti orang yang rajin ke masjid akan dicurigai sebagai bibit teroris? Belum lagi muncul meme- meme provokatif yang bilang teroris itu jidatnya hitam, jenggot nya panjang, celana cingkrang, istrinya bercadar… helloowwww..
Pengalaman kurang elok bahkan pernah dialami oleh bapaknya anak-anak yang memang sengaja memangjangkan jenggot. Kalau lagi mudik ke kampung, beberapa “oknum” keluarga akan mengatakan kalau dia udah kayak teroris.. Plis deh.. Inilah yang menjadi persoalan. Orang lebih takut keluarganya berjenggot dan rajin ke masjid. Tapi malah merasa tenang – tenang saja kalau keluarganya keluyuran untuk maksiat… Saya malas bicara teori konspirasi, tapi diakui atau tidak, tindakan-tindakan tidak bertanggung jawab ini memberikan efek buruk. Keluarga- keluarga muslim makin khawatir kalau anak atau famili mereka malah “terlalu shalih”, bahkan muncul kembali kesinisan terhadap sunnah dan syariat..
Lebih jauh lagi, ujung-ujungnya kita akan memangkas syariat dan menghilangkan kosakata-kosakata yang dianggap “ngeri”. Jihad, mati syahid identik dengan ekstrimisme tak perlu lah dibahas, begitu kira-kira. Islam itu rahmatin lil ‘alamin, Islam itu agama pertengahan, betul saya sepakat. Tapi Islam itu kamil (sempurna) dan syumul (menyeluruh). Saya meyakini bahwa semua syariat Allah itu ada hikmahnya, kita tak perlu alergi pada sebagiannya termasuk pada syariat poligami, eh..naha jadi kesini..
Lalu bagaiamana dangan kita (saya. pen)  dan keluarga ?
1. Menuntut ilmu itu ada tahapannya. Tidak langsung ujug-ujug bahas jihad. Yang ada malah muncul salah penafsiran, pemahaman serba instan tapi salah jalan. Maka di sinilah pentingnya memilih majlis ilmu juga guru.
2. Salah satu ilmu yang perlu dipelajari adalah tentang shiroh. Karena ini bagian dari ilmu hikmah, bagian dari sunnahnya Rasulullah SAW selain tentang ilmu hadits. Dari shiroh kita bisa belajar bagaimana Rasulullah bersikap, berstrategi, mengambil keputusan. Sikap beliau untuk satu kasus saja bisa berbeda tergantung orang yang dihadapi dan kondisi-kondisi lainnya.
Islam itu lemah lembut namun juga keras. Apa maksudnya? Dalam kondisi aman, kondisi mengharuskan kita berdakwah, maka kaum muslimin harus menunjukkan kelembutan. Dakwah itu lembut, tidak mempersulit. Jika saat seharusnya kondisi lembut kita malah kasar, itu namanya dzolim. Ada kalanya pula Islam harus keras, yaitu pada kondisi perang. Kalau kondisi perang malah lembut, ini menunjukkan kelemahan. Kebayang dong kalau dulu Pangeran Dipinegoro atau Jenderal Sudirman ga mau perang karena takut dibilang ga rahmatan lil alamin.. hiksss
Paham-paham ekstrim menyimpang dalam Islam itu selalu ada dan hidup dari zaman ke zaman. Biasanya mereka semakin subur saat terjadi perang saudara atau terjadinya ketidakadilan pemimpin di suatu negeri. Salah satu faham ekstrim ini bernama khawarij yang bahkan sudah Rasulullah SAW sebutkan dalam hadits-hadits beliau. Dan kalau kata Ust. Budi,  kelompok ini selalu membuat lelah kaum muslimin, menguras energi kaum muslimin. Sepanjang zamam mereka hidup, dan hanya pernah satu kali mereka “rehat” yaitu pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dari dalam Islam, memang harus diakui ada paham menyimpang ini. Tapi dari luar, framing media harus diakui masih tidak berimbang. Kadang saya heran, apa bedanya pembom di Prancis atau Surabaya kemarin,  dengan penembak puluhan orang di Amerika sana? Apa bedanya penyerang gereja kemarin dengan penyerang masjid berbulan-bulan lalu? Kenapa ada yang dilabeli teroris dan ada yang tidak… Entah…
Akhir kata, saya hanya bisa memohon kepada Allah untuk senantiasa menunjukkan kepada jalan yang lurus. Di masa fitnah ini, di masa yang semuanya terasa abu-abu, campur aduk antara haq dan bathil, semoga Allah tetap melindungi dan nenerangi… Hanya kepada-Nya satu-satunya tempat bersandar…

Tulisan ini adalah hasil curhat bolak-balik sama bapaknya anak-anak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s