Tiga Semester Kayyisah Alfatih dan Kuttab Al-Fatih

Sudah lama tidak update kisah Kayyis dan Kuttab…

Kuttab dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bagi kami adalah sebuah rizki dari Allah yang Maha Pemurah. Tentu seperti yang pernah disampaikan Waalid Ilham dulu sekali saat Kajian pertama wali santri, Kuttab hadir bukan karena merasa paling baik. Kami pernah lalai bertawakkal, hingga suatu saat Allah menegur, lalu kami berikhtiar memperbaharui lagi niat atas keberadaan kami di Kuttab. Kuttab adalah bentuk ikhtiar manusia, sedang tawakkal, segala ketergantungan tetaplah hanya kepada Allah..

Sesekali melihat anak tetangga yang sekolah di bilingual school mulai belajar bicara bahasa Inggris, membuat saya tergoda. Apa saya mulai ajari Kayyis juga ya? Lain hari melihat obrolan di sebuah grup tentang matematika Cambridge, membuat saya pun membisiki suami, “Ayo bi, bisa lah kita juga..” dst.. Saya lupa terhadap tahapan dan kesabaran yang harusnya saya perbaharui dari waktu waktu. Kesabaran atas keputusan yang tidak populis yang telah kami ambil..Kesabaran untuk meniti tangga ilmu satu per satu dulu, yang tentu saja dimulai dari iman, adab, dan Al Quran.

“Ummi, kata ustadz pernah ada kisah begini ya..” Hampir setiap hari kisah-kisah kebaikan dia bawa dari Kuttab. Bagi kami ini adalah perkembangan luar biasa. Tahun lalu saat masih kelas 1, ketika ditanya, “Tadi di sekolah, ustadz berkisah apa?” Maka hampir selalu dijawabnya dengan menaikkan bahu.. Kini, tanpa diminta pun ia akan bercerita panjang lebar…

Lambat laun, saya pun bahkan sering merasa malu kepada Kayyis. Suatu hari dia bertanya, “Mi, kok umi ga pakai cadar, kan sudah besar?” Umminya cuma mesam- mesem. Lain hari, saat tanduk ummimya sedang keluar tiba-tiba dia berkata kepada saya setengah malu-malu, “Ummi.. Sebenarnya aku mau ingetin umi tapi aku malu.. Umi kalau marah nanti Allah ga suka..” Seketika itu pula hati saya luluh.. Yang paling  terbaru, saat umminya marah dan melipir dulu ke kamar sebelah, tiba-tiba muncul secarik kertas di bawah pintu.. “Umi kalau marahnya sampai kecatat malaikat umi gamau seperti Rasulullah dia tidak pernah marah umi nanti kalau teteh bikin sebel umi marahnya senyum”. Walau tanpa titik dan koma, plus  susunan katanya tak beraturan, tapi satu paragraf ini sukses menjadi pengingat seketika. 

Bukan tanpa cela. Terkadang Kayyis pun masih terlewat tentang adab, misal lupa membaca doa. Lalu panjang lebar umminya menasihati, walau entah apa bedanya dengan omelan. Maka saat kajian kemarin,  rasanya saya seperti tertampar bolak-balik ketika ustadz mengisahkan teladan Rasulullah dan para nabi.  Manusia paling mulia saja, Rasulullah SAW,  saat mengingatkan para sahabatnya yang mulia, tidak dengan mengomel, Rasulullah selalu mengingatkan dengan hikmah.. Nabi Ya’qub saja yang tahu tentang kedzaliman saudara-saudara Yusuf tetap bersabar. Karena itulah hakikat mendidik, shobrun jamiil.. Kesabaran yang indah.. Ini pula yang seringkali saya lihat dari asaatidzah. Sempat suatu hari saya melihat Kayyis ditegur oleh seorang ustadzah karena mengunyah makanan sambil jalan, ustadzah pun mengingatkannya dengan berjongkok mensejajari, berbicara sambil menatap Kayyis dengan lembut.. MasyaaAllah.. Allahu yubaarik fiihaa..

Suatu hari ada cacatan istimewa tentang adab Kayyis dalam majlis. Saking semangatnya bercerita, Kayyis seringkali malah memotong pembicaan asaatidz, dan ini pun terjadi di rumah bersama kami. Bolak-balik kami ingatkan, tapi tetap saja begitu. Sampai suatu hari saat saya sedang membacakan kisah kepadanya tiba-tiba dia mengangkat tangan dan berkata, “Afwan, kata ustadz kita harus seperti pohon kurma…” Sesaat sata tertegun kaget. MasyaaAllah walaupun masih keliru tapi saya takjub dengan caranya mengangkat tangan dan mengatakan afwan. Lagi-lagi kebaikan yang ia peroleh dari asatidznya..

Tentang Al Quran,  ada saatnya dia begitu cepat dalam menghafal, walau terkadang saya khawatir tidak dibarengi dengan imannya. Saat menghafal, Kayyis senang bertanya, “Ummi ini artinya apa?” Saya pun membacakan artinya dan menjelaskan sebisa-bisa. MasyaaAllah berasa sekali bodohnya, menyesal kenapa saya tidak menuntut ilmu dengan benar dari dulu. Jika sampai pada ayat-ayat surga, dia akan girang bukan main, “Ooh.. Nanti buahnya metiknya gampang ya..”

Tapi ada saatnya sulit sekali dia menghafal walau hanya satu ayat, maka saya ajak dia untuk beristighfar. Walau hakikatnya dia belum berdosa, tapi umminya lah yang bertumpuk dosa. Kadang pula saya tiru kata-kata seorang ummahat shalihah saat putranya kesulitan menghafal, “Barangkali ayatnya sedang kangen sama kamu Nak, makanya ingin terus diulang-ulang”.. MasyaaAllah…

Suatu hari dalam kajian diceritakan, bahwa asaatidz Kuttab bahkan punya waktu khusus untuk mendoakan satu per satu santri yang diajarnya. MasyaaAllah saya merasa sangat malu, beliau-beliau adalah guru Kayyis, sedang saya ini ibunya yang harusnya lebih kencang bermunajat..Baarakallahu fiikum asaatidzah..

Seperti yang selalu diingatkan.. Ini bukan akhir perjalanan, ini masih awal perjuangan, masih jauh dari hakikat sukses.. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberikan pertolongan. .
Iman sebelum Quran, adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal..
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s