Hanya Butiran Debu

Dunia maya kadang menyesakkan…

Dunia maya kadang melenakan…

Sejak perhelatan pilpres 2014 dan perdebatannya yang tak kunjung usai, berlanjut pigub DKI yang kata orang panasnya ngalah-ngalahin pilpres, cukup membuat saya beralasan “beberesih” isi sosmed yang dalam hal ini adalah Facebook..Maka, jadilah beranda FB saya begitu tentram, aman, dan damai, berisi share-share-an para emak keren tentang ilmu parenting, share-share-an para akhawat shalihah dan asaatidz yang saya follow tentang ilmu syariat, atau mba-mba kece yang share pola jahitan, resep masakan, dan barang dagangan…hehe…

Tapi, itu hanya sejenak. Karena setelah itu ternyata dunia sosmed saya kembali riuh dengan aneka jenis perdebatan, hanya saja dalam versi yang lebih “shalih”. Kini perdebatan itu tentang apakah ini sesuai sunnah atau bid’ah. Ini manhaj nya jelas apa tidak. Ustadz A, B, C nyunnah apa nggak…Hiksss,,disitulah saya mulai baper..

Dan, kajian Adabul Mufrad dengan Ust.Budi Ashari tempo hari menambah kebaperan saya..Beliau berkata, “Dalam ilmu hadits, perawi yang dikatakan dzaif belum berarti tidak shalih. Cacat ilmu iya, tapi cacat agama belum tentu.”  Lanjut beliau, “Seorang ahli ibadah tidak serta merta menjadi layak untuk jadi rujukan ilmu..” Dan, masih perkataan Ust.Budi kala itu, “Murid itu harusnya banyak mendengar, bukan banyak bicara. Yang banyak dibuka itu telinga dan hatinya” Di situlah saya ingin nangis.. Saya ahli ibadah bukan, ahli ilmu apalagi, jauh panggang dari api..Bahkan disebut thalib pun kayaknya ga pantas, lah majlis ilmu mana yang rutin saya hadiri, kitab dan buku apa yang sedang saya kaji?

Qodarullah hari ini tetiba tergerak menggantikan seorang ummahat untuk isi mentoring anak-anak remaja..Bertemu mereka seolah menjadi pengingat dari Allah, betapa banyaknya saudara, adik, anak-anak yang harus disentuh dengan dakwah, dengan cahaya Islam. Saat sosmed saya isinya perdebatan tentang “ilmu” yang bahkan saya pun tidak faham, perdebatan menjurus pergunjingan tentang “para ahli ilmu” yang saya yakin diri saya lebih hina, namun ketika memandang adik-adik ini yang belum sempurna menutup auratnya, membaca Quran pun masih terbata, di situ lah rasanya seperti ditampar.  Sesungguhnya di dunia nyata beban dakwah itu teramat berat, kerja-kerja dakwah menunggu untuk ditunaikan.  Energi-energi kebaikan itu alangkah bermanfaatnya disalurkan dalam amal-amal nyata dibanding perdebatan yang tak berujung..Ah..Bahkan sekalipun bahasa arabmu belum lulus, setidaknya ajarilah mereka membaca huruf hijaiyah, begitu lah saya bisikkan dalam hati..

Seperti murobbi saya bilang, kami punya hutang. Saya punya hutang pada mereka yang telah mengenalkan saya pada Islam. Kepada mereka yang mengajak saya semakin mengenal Allah, mencintai-Nya, mencintai Rasul, mencintai Al-Quran, mengenalkan kepada dakwah walau saya bukanlah ustadzah..Saatnya membayar, saatnya menunjukkan rasa syukur kepada Allah dengan pula menanam benih-benih kebaikan semampunya..Tentu keluarga kita yang pertama, lingkungan, dan siapapun yang dijumpa..

 

Saya  hanya lah butiran debu, tapi semoga Allah mudahkan jalan untuk menjadi debu yang bermanfaat..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s