Buku Pertama Kami

Lagi, dia lah yang menjadi sayap sesungguhnya..

Percaya ga percaya, saya menulis ini sambil menahan tetesan air mata, duh jadi mellow…

Entah serius atau bercanda, tapi dia sering sekali bertanya, “Apa ya kebaikan mas sama ade?” Yang selalu saya jawab hanya dengan tatapan aneh atau cukup helaan nafas. Ditanya ini, sungguh ngeri-ngeri sedap, khawatir terjerumus menjadi istri yang kufur nikmat. Maka saya memilih diam, sembari merenungi kebaikan-kebaikannya yang sungguh tak ternilai, tak terhingga.

Sebagai mamah muda, dulu saya sering kali dihinggapi rasa galau akan identitas diri, aktualisasi, atau emansipasi. Tapi si dia yang membesarkan hati, akan selalu menjawabnya dengan tindakan nyata yang kadang kala tetap saja saya hujani dengan keluhan bertubi-tubi.

Iseng ingin jadi momprener, maka ia belikan semua yang dibutuhkan, ia keluarkan harta yang dipunya, yang pada akhirnya kini alat-alat itu malah tersembunyi cantik di lemari dapur.hiksss…

Ingin jadi guru yang bermanfaat. Maka, dari mulai masukin lamaran, antar wawancara, jadi tutor pribadi, pengasuh anak, hingga ojek antar jemput selama 2,5 tahun pun rela ia jalani.

Kini, saat tiba-tiba temannya membantu menelurkan sebuah buku atas nama saya, hikss padahal mah si saya ngerasa belum layak untuk itu, maka yang saya ingat adalah si dia. Saya ingat sejarah asal muasal tulisan-tulisan itu hadir.

Diary Alfatih, blog ini, hadir saat saya mabok hamil muda. Jangankan keluar rumah, lihat matahari saja langsung pusing. Maka, untuk mengobati kejenuhan, si dia pun berbaik hati membuatkan saya blog ini.

Saya bukan orang yang pandai bicara di depan khalayak ramai. Istilahnya, orang di balik layar. Kadang saya suka guyon sama teman sesama guru dulu di Tuban, yang karakternya mirip-miriplah sama saya, tapi shalihahnya mah jauh ke mana-mana. “Kita mah hanya debu-debu yang beterbangan ya Us..” Untuk mengibaratkan betapa kecilnya peran kami, tak berarti. Namun sering dijawab kawan lain, “Debu itu mensucikan loh kalau dipakai tayammum.” hehe iya juga..

Saking senangnya sembunyi di balik layar, kadang saya berfikir, apa yang bisa saya lakukan untuk berbagi? Bagaimana pun seorang wanita tetaplah harus punya manfaat bagi ummat dan dakwah. Nggak mungkin saya jadi penceramah seperti Mamah Dedeh. Bukan hanya karena tak pede berbicara, tapi ilmu pun memang tak punya. Maka, salah satu cara yang terpikir adalah dengan menulis. Yang kata suami mah tulisan saya teh no thing to lose. Mungkin beliau menjaga rasa, sebenarnya mau bilang tulisan saya itu tulisan alakadarnya khas emak-emak.hehe..

Maka, saat Mas Rifai (sobat pak suami) menyodorkan foto si calon buku, saya cuma bengong sambil di-backsound-in cie cie nya pak suami. Kepala saya pening, bulu kuduk berdiri. Bukan apa-apa, beberapa hari sebelumnya baru dapat kajian Ust.Budi tentang betapa bahayanya fenomena zaman sekarang yang mudah men-share ini itu dan menuliskan ini itu tanpa ilmu.

Kebayang ngerinya. Apa kabar nasib saya, jika ada satu saja kalimat dalam buku itu yang menjerumuskan orang pada kebodohan dan dosa. Namun setidaknya saya agak tenang, karena banyak dari isinya yang adalah tulisan dari isi kajian para ustadz hafidzahumullah. InsyaAllah ilmunya shahih. Mudah-mudahan saya terciprati pahala menuliskan.

Dulu, kalau tidak salah, saya pernah baca status Mas Rifai tentang setidaknya meninggalkan satu buku selama kita hidup. Gara-gara baca status itu, saya sampai kepikiran buat ngeprint beberapa tulisan yang akan saya jilid sendiri. Cukup print-printan itu sebagai kenangan anak cucu di rumah kelak. Tapi qodarullah, ternyata Allah gariskan lain.

Akhir kata, saya benar-benar memohon perlindungan kepada Allah, memohon ampun kepada Allah, memohon petunjuk kepada Allah. Semoga Dia senantiasa membimbing saya hanya berkata yang shahih, menulis yang shahih. Jika lah terlanjur ada tulisan saya di buku atau blog yang ternyata mengandung kejahilan, semoga Allah lindungi mereka yang membaca dari kejahilan itu. Tapi jika memang ada sedikit kebaikan dari tulisan-tulisan itu, semoga kami sekeluarga, Mas Rifai serta tim, dan tentunya yang “terjebak” membaca, Allah karuniakan pula pahala kebaikan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s