TA’LIFUL QULUB : Kedekatan Hati dalam Jama’ah Islamiyah

Pelajaran Berjama’ah dari Ashabul Kahfi

Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang memuat tentang berjama’ah adalah QS.Al-Kahfi: 28. Seperti yang diketahui, surat Al-Kahfi memiliki tema besar tentang fitnah/ujian dari Allah SWT, yang meliputi:

  • Fitnah Aqidah (kisah Ashabul Kahfi)
  • Fitnah Harta (kisah pemilik 2 kebun)
  • Fitnah Ilmu (kisah Nabi Musa AS dan Khidir, yang para ulama berbeda pendapat apakah Khidir ini Nabi ataukah hanya orang shalih yang Allah cintai)
  • Fitnah kekuasaan (Kisah Dzulqornain)

Oleh karena itu, kita disunnahkan untuk membaca Al-Kahfi setiap hari Jum’at salah satunya adalah sebagai pengingat bagi kita akan ujian-ujian tersebut. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyampaikan bahwa barangsiapa yang menghafal 10 ayat pertama dan 10 ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, maka akan Allah selamatkan dari fitnah terbesar yaitu fitnah Dajjal.

Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.” (HR.Muslim)

Untuk selamat dari setiap fitnah tersebut, Allah SWT sudah memberikan panduan cara mengatasinya. Salah satunya adalah mengenai fitnah aqidah ini yang  Allah sampaikan melalui kisah Ashabul Kahfi.

  وَاصْبِرْ    نَفْسَكَ    مَعَ    الَّذِينَ    يَدْعُونَ    رَبَّهُم    بِالْغَدَوٰةِ    وَالْعَشِىِّ  يُرِيدُونَ    وَجْهَهُۥ    ۖ    وَلَا    تَعْدُ    عَيْنَاكَ    عَنْهُمْ    تُرِيدُ    زِينَةَ    الْحَيَوٰةِ    الدُّنْيَا    ۖ    وَلَا    تُطِعْ    مَنْ    أَغْفَلْنَا    قَلْبَهُۥ    عَن    ذِكْرِنَا    وَاتَّبَعَ    هَوَٮٰهُ    وَكَانَ    أَمْرُهُۥ    فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas”. (QS.Al-Kahfi : 28)

Salah satu yang menyelamatkan Ashabul Kahfi dari raja dzalim saat itu (fitnah Aqidah) adalah keteguhan mereka dalam berjamaah. Mereka bermusyawarah (syuro’) untuk hijrah dan mereka sangat patuh dalam jamaahnya.

Dalam berjama’ah harus memperhatikan 2 hal :

  1. Bersabar dan membuka hati

Bagaimanapun orang baik bukanlah malaikat. Oleh karenanya, dalam berjama’ah pasti tetap akan kita temui hal-hal yang tidak mengenakkan. Maka perintahnya adalah “Fashbir”, bersabarlah bersama orang-orang baik yang menyeru kepada Allah. Bahkan umat terbaik, yaitu para sahabat pun diperintahkan untuk saling bersabar sesama mereka.

Orang yang bergaul dan bersabar lebih baik dibanding yang hidup sendiri .

“Seorang Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka”. (HR. Bukhari dan At-Tirmidzi)

  1. Jangan berpaling dari jamaah dan malah memilih yang tidak lebih baik

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu  tidak akan diberi pertolongan.”(QS.Hud : 113)

Dalam ayat tersebut, Allah  menyebutkan kata “CENDERUNG” yang identik dengan amalan hati. Cenderung atau keberpihakan hati saja sudah Allah ancam dengan api neraka, apalagi yang lebih dari itu. Terang-terangan mendukung orang dzalim, mengkampanyaken orang dzalim, membela orang dzalim.

Ta’liful Qulub (Menyatukan Hati)

Allafa secara bahasa, dalam kitab Al-Mufradat, artinya berkumpul yang diilhami oleh keserasian. Jadi bukan sekadar berkumpul, namun berkumpul karena serasi.

Dalam Al-Qur’an,kata Allafa (mengumpulkan) disebutkan 4 kali dalam dua tempat, yaitu pada QS.Ali Imran : 103 sebanyak 1 kali, dan pada QS.Al-Anfal:63 sebanyak 3 kali. Dari 4 kali itu, tiga di antaranya kata “Allafa” selalu disandingkan dengan kata “Qalb” (hati), artinya ta’lif di sini adalah mengikat hati.

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً  فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ  فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ  مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ ’

 “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah   dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya  agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imron: 103)

لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِم

“ Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS.Al-Anfal: 63)

Dari dua ayat di atas, ada pelajaran penting yang bisa diambil, yaitu mengenai kunci pokok kemajuan dan kemenangan umat Islam :

  1. Berpegang teguh pada tali Allah (Al-Qur’an dan Sunnah)
  2. Bersatunya ummat Islam

Keutamaan Ukhuwah

 “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS. Az Zukhruf: 67)

Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah  untuk  memperjuangkan hak saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon, “Wahai Rabb kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Lalu dikatakanm, “Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Orang-orang mukmin itupun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.” (HR Ibnu Majah)

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah ta’ala.”

Mereka berkata, Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka? Beliau bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih.” (HR. Abu Daud)

Sarana Mempererat Ikatan Hati

  1. Meningkatkan keimanan

Allah lah yang mengumpulkan hati orang-orang beriman, maka caranya tentu adalah cara Allah. Persaudaraan sesama mukmin adalah karena cinta kepada Allah. Oleh karenanya, bila suatu waktu kita berselisih dengan saudara kita, merasa tersinggung oleh saudara kita padahal sebenarnya tidak ada maksud saudara kita menyakiti, maka cek lah dulu hati kita, ruhiyah kita, jangan-jangan iman kita sedang turun.

  1. Mendoakan

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim)

  1. Mengunjungi saudara
  2. Membahagiakan saudara
  3. Menutup aib
  4. Memberi hadiah
  5. Mudah memaafkan

Balaslah kebaikan dengan balasan yang baik. Adapun terhadap kedzaliman, Allah memberikan dua pilihan. Pertama, membalas kedzaliman itu dengan kedzaliman yang sama persis atau yang kedua, memaafkan kedzaliman itu maka telah menanti pahala di sisi Allah.

Rasulullah SAW adalah sebaik-baik teladan. Beliau tidak pernah menuntut jika itu menyangkut dirinya sendiri. Akan tetapi, beliau akan marah dan menuntut jika itu menyangkut hak Allah, urusan agama, dan hak orang lain.

Bersabar terhadap kedzaliman bukan berarti kita diam karena memang kita lemah tak mampu membalas. Namun bersabar artinya kita sesungguhnya berada dalam kondisi kuat dan mampu untuk membalas, namun kita memilih untuk tidak membalas. Itulah sabar. Dan memaafkan itu artinya benar-benar tidak akan menuntut bahkan menuntut di akhirat kelak.

  1. Menjalankan rukun ukhuwah dengan benar, yaitu ta’aruf (mengenal) dengan benar–>tafahhum (saling memahami)–> takafful (saling menanggung beban saudaranya)

Wallahu ta’ala a’lam

===

Sumber : Kajian Orang Tua Kuttab Al-Fatih Tangsel, yang disampaikan oleh Ust.Akhmad Nizaruddin, MA. (Dewan Syariah Kuttab Al-Fatih Tangsel)

====

Epilog Penulis

Kajian kali ini rasanya sangat istimewa. Beberapa hari ini saya menimbun rasa kecewa terhadap saudara namun seolah diingatkan dengan indah melalui lisan orang-orang shalih; ustadz, suami, dan saudari-saudari seperjuangan.

Tak ada satu takdir pun melainkan sudah menjadi ketetapan Allah. Bahkan takdir buruk sekalipun dalam pandangan kita. Tugas kita hanya bersabar dan introspeksi pada diri.

Barangkali musibah yang datang adalah bentuk kasih sayang Allah mengingatkan diri yang seringkali lalai. Merasa aman dari berbagai gangguan hanya mengandalkan bermacam teori dan ikhtiar lahiriah. Sedang segala yang ada di muka bumi ini ada dalam genggaman-Nya. Ikhtiar takkan pernah sempurna tanpa doa dan tawakkal. Doa adalah senjata orang beriman.

Nyomot perkataan abinya anak-anak, “Jangan sibuk mengurusi kesalahan orang lain, itu adalah tanggung jawabnya kepada Allah. Fokus saja pada diri, aib kita jauh lebih banyak tapi Allah tutupi, amal dan pahala kita ini belum tentu seberapa. Bahkan kita tak tahu akhir hidup seseorang. Barangkali dia yang hari ini terus kita bicarakan kesalahannya, kelak mendahului kita melangkah ke surga .”

Kita diberi dua pilihan, membalas atau memaafkan. Maka belajarlah memaafkan Hai Wulan ! Semoga Allah berikan pahala. Aamiin Allahumma Aamiin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s