Ta’dib dalam Pendidikan Islam

Awalnya kajian kali ini berjudul “Hukuman dalam Islam”, tetapi oleh ustadz diganti menjadi “Ta’dib dalam Pendidikan Islam.”  Mengapa? Karena yang akan dibahas adalah pendidikan untuk usia Kuttab yang notabene berusia di bawah 10  tahun. Adapun anak di bawah 10 tahun akalnya belumlah sempurna, sehingga bilapun anak itu melakukan kesalahan, maka tidak bisa dikatakan salah. Oleh karena itu, meluruskan kesalahannya bukan dengan hukuman melainkan dengan ta’dib.

Secara lahiriah, ta’dib dan hukuman seolah-olah sama, tetapi hakikatnya beda. Ta’dib berasal dari kata Adab yang artinya kesantunan atau kebaikan. Dari sini kita bisa memahami bahwa tujuan ta’dib adalah untuk menjadikan anak beradab. Karena tujuan ini lah, maka orang tua ketika menta’dib pun harus dengan adab. Menasihati dengan adab, menjewer dengan adab,  pun kalau  harus memukul maka memukul dengan adab. Semuanya penuh dengan hikmah.

URGENSI TA’DIB

Dari Jabir bin Sumuah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Laki-laki yang menta’dib anaknya, lebih baik baginya daripada bersedekah setiap hari 1 sha”. (HR.Ahmad)

“Dari ‘Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya), “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

Dalam dunia pendidikan saat ini, ada dua kutub yang bersebrangan. Pertama, yang meyakini bahwa tidak diperbolehkan memukul dalam pendidikan. Dalilnya adalah hadits Rasul bahwa beliau tidak pernah memukul istri, anak dan budak beliau. Yang kedua, pihak yang meyakini bahwa pendidikan tidak bisa baik jika tidak ada pelurusan anak  termasuk dengan memukul. Dalilnya adalah hadits Rasul tentang perintah memukul jika usia 10 tahun anak tidak shalat.

Mengapa ada dua hadits yang bertolak belakang begini? Satu sisi Rasulullah SAW memerintahkan memukul, tapi beliau sendiri pun tidak pernah memukul. Jika ada dalil berbeda seperti ini, maka janganlah terburu-buru untuk mentarjih atau menyebut dalil ini lebih kuat dan yang lain lemah, namun sebaiknya dikompromikan terlebih dulu dengan mengambil  jalan tengahnya.

Mengapa Rasulullah SAW tidak pernah memukul?

  1. Karena istri-istri, anak-anak, dan budak beliau adalah orang-orang baik yang tidak pantas dipukul. Tanpa dipukul pun sudah baik.
  2. Ini menunjukkan betapa baiknya pendidikan Nabi. Sehingga tanpa beliau memukul pun, yang dididiknya sudah baik.

Hikmahnya apa? Orang tua yang cerdas adalah yang tidak perlu memukul untuk meluruskan anak. Dan anak yang cerdas adalah anak yang tidak perlu dipukul untuk diluruskan. Adapun memukuladalah langkah dan obat terakhir yang bisa ditempuh, ini pun benar-benar dibatasi.

MELURUSKAN KESALAHAN

Sebelum meluruskan kesalahan, kita perlu mengetahui faktor-faktor anak berbuat salah, karena beda faktor beda pula penanganannya.

1.Berbuat salah karena tidak faham, maka berilah pemahaman yang benar

  • Dalam Musnad Abu Ya’la Al-Mawsili diriwayatkan bahwa ada seorang budak dari sahabat Anshar yang masih menyebut dirinya budak dari Persi, maka Rasulullah SAW meluruskannya dengan mengatakan bahwa harusnya budak itu menisbatkan dirinya pada kaum Anshar.
  • Dari Imam Muslim diriwayatkan bahwa suatu hari Hasan bin Ali mengambil 1 biji kurma dari shodaqoh. Saat Hasan hendak memasukkan ke dalam mulutnya, Rasulullah mengatakan,’Kih.. kih..keluarkan keluarkan..karena keluargaku tidak memakan dari shodaqoh’. Hasan bin Ali lahir pada 3 H,sedang Rasul SAW wafat pada 11 H. Artinya, hadits ini terjadi pada rentang usia Hasan di bawah 8 tahun.
  • Dari Imam Bukhari diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW safar, sedang bersama beliau ada budak bernama Anjasyah. Anjasyah menuntun unta sambil membaca lagu-lagu dengan suaranya yang sangat merdu. Maka Rasulullah SAW mengatakan kepadanya, “ Pelan-pelanlah Ya Anjasyah janganlah kamu memecahkan sesuau yang mudah pecah (wanita)”. Dalam hadits ini Rasulullah SAW mengingatkan bahwa syahwat melalui pendengaran sangat berbahaya terutama bagi wanita.
  • Dari Ibnu Hibban diriwayatkan bahwa suatu hari Ummu Salamah sedang bersama budaknya Thalhah bin Ubaidillah. Kemudian budak ini melaksanakan shalat. Saat dia hendak sujud, budak tersebut melihat tempat sujud berdebu, maka ia bangun kembali dan membersihkannya dulu. Melihat itu, Ummu Salama berkata, “Jangan lakukan itu, benamkan wajahmu ke tanah”.
  • Dari Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Abu Rafi bercerita. Saat masih kecil ia pernah mencuri kurma dengan melempari pohon kurma, padahal saat itu Abu Rafi tidak dalam keadaan lapar. Saat Rasulullah SAW melihatnya, beliau berkata, “Jangan melempari kurma tapi ambil saja kurma jatuh yang matang”. Kemudian Rasulullah SAW mendoakan Abu Rafi, “Ya Allah kenyangkanlah perutnya.” MasyaAllah, begitu luar biasanya Sang Baginda memberi contoh kepada kita, padahal kesalahan Abu Rafi kecil ini termasuk perbuatan tercela yaitu mencuri, tapi lihatlah bagaimana cara Rasulullah SAW meluruskan bahkan mendoakan.
  • Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA. Suatu hari Anas bin Malik menyampaikan suatu hadits sedang saat itu ada putri beliau bersamanya. Anas bin Malik menceritakan bahwa suatu hari datang seorang wanita menawarkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah SAW. Putri Anas bin Malik kemudian berkata, “Alangkah sedikit malunya wanita itu.” Anas menjawab, “Wanita itu lebih baik dari dirimu, karena dia mencintai Nabi dan menawarkan dirinya kepada Nabi.” Anas bin Malik langsung meluruskan putrinya yang mencela wanita tsb,sedang wanita itu termasuk sahabiyah. Karena Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa mencintai  sahabat Nabi, tidak mencela sahabat Nabi adalah bagian dari keimanan.
  • Dari Ibnu Abbas RA diriwayatkan bahwa suatu saat Rasulullah SAW memboceng keponakannya Al-Fadhl bin Abbas di belakangnya. Kemudian datanglah seorang wanita menghadap Rasulullah dan Al-Fadhl melihatnya. Maka Rasulullah SAW memalingkan wajahnya agar tak melihat wanita tersebut.
  1. Berbuat salah karena tidak bisa, maka ajarilah dengan benar.

Misalkan, seorang anak sudah faham bahwa membantu orang tua adalah suatu kewajiban. Kemudian anak ingin membantu menyetrika tapi ternyata berbuat salah. Dia berbuat salah karena memang belum bisa menyetrika dengan benar, maka solusinya adalah ajari menyetrika.

Dari sahih Ibnu Hibban diriwayatkan bahwa sutu hari Rasulullah SAW meliat seorang anak sedang menguliti kambing namun salah cara mengulitinya. Maka Rasulullah pun mengajari anak itu menguliti yang benar.

Dari Imam Ahmad diriwayatkan bahwa sahabat Nabi, Abu Malik Al-Asy’ari, mengumpulkan kaumnya khusus untuk mengajari mereka cara wudlu dan salat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

  1. Berbuat salah karena kebiasaan buruk, maka MUJAHADAH untuk menghilangkan kebiasaan itu

Kebiasaan adalah cetakan kedua setelah tabi’at. Tabi’at sendiri adalah sifat bawaan lahir. Allah memberi seseorang tabi’at seperti Allah memberi rizki kepada semua manusia. Hanya saja jatahya yang berbeda-beda. Ada yang rizkinya banyak, ada yang sedikit. Pun dengan tabia’at, semua orang diberi rasa marah, malu, lembut, dst, tapi kadarnya yang beda. Ada anak yang jatah marahnya besar sehingga mudah tantrum, ada anak yang jatah marahnya sedikit, sehingga ia kalem. Hanya  satu yang bukan merupakan tabi’at bawaan lahir, yaitu BOHONG.

Adapun bila anak melakukan kesalahan karena terlanjur memiliki kebiasaan buruk, maka tak ada cara lain selain bermujaadah/ bersungguh-sungguh mengubah kebiasaan tersebut. Ustadz memberikan contoh melalui hadits berikut:

“Ketika kalian tidur, syetan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas.” (HR. Bukhari)

Bayangkan, bila ada orang yang tidak mengamalkan tiga perkara tersebut setiap hari, maka sudah ada tiga ikatan syaitan yang membuat jiwanya kotor dan malas. Itu kalau satu hari, bagaimana kalau satu minggu, satu bulan, bertahun-tahun, coba kalikan saja, sudah berapa ratus ikatan syaitan yang mengotori jiwa. Maka, memang akan sulit mengubah kebiasaan buruk, tapi tetap harus diubah dengan kesungguhan.

SEBELUM MENTA’DIB ANAK

Dalam menta’dib diperlukan kreativitas dan kesabaran. Jangan berharap segala sesuatu yang instan. Bila kita melihat hadits tentang perintah shalat kepada anak, maka ada jeda hampir tiga tahun dari mulai memerintahkannya di usia 7 tahun hingga mendisiplinkan di usia 10 tahun. Maka, jika kita misalnya ingin mengajari anak tentang adab terhadap tamu, itu pula jarak waktu bagi kita untuk mamahamkan dan mengajari, 3 tahun. Harus terus  menasihati dengan sabar. Memberi nasihat  harus sering, berulang-ulang, dan juga tak kalah penting haruslah bervariasi. Bila nasihat bunyinya hanya begitu-begitu saja, itu sama saja seperti menasihati cuma satu kali.

Berikut adalah bentuk-bentuk teguran yang bisa dilakukan sebelum langkah terakhir.

  • Memberi nasihat
  • Berpaling
  • Ekspresi wajah (Ta’bis)
  • Menghardik
  • Menghentikan kesalahan
  • Mendiamkan
  • Menyebutkan keburukan

Akan tetapi, teguran-teguran ini memiliki kaidah, yaitu:

  1. Tidak boleh dilakukan di depan teman anak yang sedang bersaing dengan anak kita
  2. Tidak boleh dilakukan di depan orang yang dikagumi anak kita

TAHAPAN TA’DIB

  • Perlihatkan cambuk

“Gantungkanlah cambuk di tempat yang mudah dilihat anggota keluarga, karena demikian ini merupakan pendidikan bagi mereka.” (HR. Ath-Thabarani)

  • Menjewer telinga

Dari ‘Abdullah bin Busr Ash-Shahabi RA, ia berkata: “Ibu saya pernah mengutus saya ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan setandan buah anggur. Akan tetapi, sebelum saya sampai kepada beliau saya makan (buah itu) sebagian. Ketika saya tiba di rumah Rasulullah, beliau menjewer telinga saya seraya bersabda: ‘Wahai anak yang tidak amanah’” (HR. Bukhari )

Dalam menjewer, yang diperbolehkan hanya menyakiti bagian kulit saja,jangan sampai menyakiti hingga daging telinga. Selain itu, dalam menjewer bukan hanya jewerannya saja yang dilakukan, yang juga penting adalah menyampaikan nasihat dan maksud dari jeweran tersebut, seperti contoh Rasulullah dalam hadits di atas, “Wahai anak yang tidak amanah.”

Menjewer telinga ini tidak bisa dijadikan pembenaran atau dikiaskan dengan tindakan lain seperti mencubit lengan, memukul pantat,mencubit paha, dst.

  • Memukul

Ini adalah langkah paling akhir dalam menta’dib. Ada kaidah-kaidah dalam memukul:

  1. Memukul hanya berlaku untuk anak diatas usia 10 tahun, sedang untuk anak di bawah 10 tahun hukumnya haram. Untuk anak di bawah 10 tahun, tidak ada cara dengan memukul. Cukup bersabar dan semakin mempertebal kesabaran.
  2. Pukulan dalam ta’dib maksimal 3x , itu pun untuk kesalahan yang besar
  3. Perhatikan alat memukul. Tidak boleh memukul dengan cambuk, karena akan menyakiti hingga ke daging, sedang memukul hanya boleh menyakiti kulit. Maka dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah memerintahkan sahabat untuk menggunakan alat pukul dari pelepah kurma, bukan pelepah yang besar dan keras, bukan pula yang terlalu lembek, namun di antara keduanya (sedang).
  4. Bagian yang tidak boleh dipukul: wajah, tengkuk, kepala, kemaluan. Dan tidak boleh memukul hanya pada satu tempat.
  5. Tidak boleh memukul saat sedang marah
  6. Hentikan pukulan jika anak berlindung kepada Allah SWT.

======

Sumber: Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel 8 oleh Ust. Herfi G. Faizi (Pembina Kuttab Al-Fatih)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s