Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 5 : “Hati-Hati dengan Pemadam Cahaya Keluarga”

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Mengingat kembali proyek besar yang tengah menanti. Betul, kita sedang berada pada masa akhir zaman, dan generasi kita barangkali akan merasakan gonjang-ganjing masa itu. Namun bukan hanya kengerian, ada sebuah optimisme, kabar bahagia akan sebuah proyek besar yang berabad-abad lalu Rasulullah SAW sampaikan. Penaklukan Roma. Pilihan pun ada pada kita sebagai orang tua, maukah kita menjadi bagian yang terlibat membangun generasi pembebas Roma?

Ini proyek besar dan panjang, yang memulai belum tentu menjadi bagian yang mengakhiri. Jika mengingat penaklukan Konstantinopel, sesungguhnya bukan hanya Muhammad Al-Fatih yang berperan, namun lihatlah bagaimana ayahandanya, Sultan Murad II, yang menyiapkan para prajurit hebat itu. JIka membaca kisah pembebasan Al-Quds jilid II, sesungguhnya bukan hanya Shalahuddin Al-Ayyub yang berperan, tapi tengoklah peran besar Nuruddin Zanky dalam membangun persatuan ummat. Bahkan banyak tokoh-tokoh lain yang barangkali tak tercatat sejarah. Intinya, maukah kita mengambil peran?

Satu minggu terakhir saya mendengar Kayyis berkali-kali berceloteh, “Latuftahannal Kostontiniyyah..” Bahasa Arab saya memang amburadul, tapi ketika mendengar kata Kostontiniyyah, saya baru ngeh kalau itu hadits tentang penaklukan Konstantinopel. Lalu dia menyuruh saya ikut menghafal juga, “Umi udah hafal belum?” Masya Allah, malu saya. Dulu, ibunda Al-Fatih setiap subuh mengajak putranya melihat benteng Konstantinopel lalu membisikkan kalimat motivasi dan doa, “Nak, namamu seperti nama Nabi kita, maka kau lah yang akan mewujudkan perkataannya.” Maka barangkali saya perlu mencoba memperlihatkan peta besar di mana letak Roma, lalu saya katakan, “Nak, pada namamu ada nama Al-Fatih sang pembuka Konstantinopel, maka kau pun kelak insyaAllah akan menjadi bagian hamba-hamba Allah para pembebas Roma.”

Maka, agar semua itu tak hanya menjadi kata manis, atau mimpi yang kadang menggebu kadang meredup, perlu penjagaan luar biasa dalam keluarga. Menjaga cahaya keluarga tetap bersinar. Kunci cahaya dalam keluarga tentu hanyalah Allah, cinta Allah. Lalu bagaimana agar keluarga kita dicintai Allah?

1. “..Fattabi’uunii yuhbib kumullah.. Ikutiah aku niscaya Allah akan mencintaimu”. (QS.Ali Imran :31). Ittiba’ Rasul, menghidupkan sunnah Rasul. Libatkan ALLAH dalam setiap aktivitas kita. Sedari kecil, anak-anak kita biasakan dengan berbagai sunnah walaupun hal-hal kecil. Masuk kamar mandi dengan kaki kiri, makan sambil duduk, membaca basmallah, berdoa untuk setiap aktivitas. Kita talqinkan kepada mereka lafadz-lafadz Allah sejak kecil.

2. Membuat taman syurga di rumah. Barangkali ada orang tua yang memiliki kapasitas ilmu untuk mengisi taklim, mengajar ngaji, membuat halaqoh-halaqoh. Tapi barangkali ada yang tidak, atau karena kesibukan pekerjaan tidak bisa demikian. Namun setidaknya kita bisa menyediakan waktu barang beberapa menit untuk berkumpul dengan keluarga mengaji beberapa ayat Al-Qur’an. Inilah taman surga di rumah, majlis ilmu dan Qur’an.

Selain menjaga cahaya rumah, kita pun harus berhati-hati terhadap apa-apa yang bisa memadamkan cahaya itu. Apakah itu? Jawabannya ada pada QS. An-Nur :35-37.

35. Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

36. Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Bertasbih kepada Allah pada waktu pagi dan waktu petang,

37. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).
(QS.An-Nur : 35-37)

Allah lah pemberi cahaya itu. Cahaya Allah yang begitu kuat, laksana pelita besar yang diletakkan dalam misykat. Pelita itu dinyalakan dari minyak zaitun, minyak yang diberkahi. Cahaya itu muncul di atas cahaya, menembuas setiap ruang kehidupan manusia dan semesta.

Lalu di mana kah sumber cahaya itu? Maka perhatikan lanjutannya pada ayat 36. Sumber cahaya itu adalah MASJID Tempat berkumpulnya orang-orang beriman untuk bertasbih dan memuji Allah SWT di waktu pagi maupun petang. Jika keluarga jauh dari masjid, tentu akan jauh pula dari sumber cahaya. Terlebih bagi para ayah. Jika ia tidak atau jarang ke masjid, padahal shalat bagi laki-laki adalah di masjid, maka bagaimana dia mau menerangi keluarganya?

Dalam ayat 37, Allah semakin menjelaskan bahwa ada yang dapat menghalangi kita dari mendapatkan cahaya Allah yang mulia. Yaitu perniagaan dan jual beli, atau secara umum adalah pekerjaan atau mata pencaharian kita. Terkadang kita terlalu disibukkan dengan pekerjaan hingga lupa bahwa ada waktu-waktu yang telah disyari’atkan. Dunia yang melenakan membuat kita lupa mengingat Allah, lupa kepada masjid dan akhirat. Karena kesibukkan kita, kita lalai dalam shalat tepat waktu dan berjama’ah.

Ada sebuah kisah dari ustadz. Saat itu beliau naik angkot di sekitar Depok. Lalu saat adzan dzuhur berkumandang, tiba-tiba sang sopir memutar mobil memasuki halaman masjid, padahal saat itu angkot sedang penuh penumpang. Lalu pak sopir berkata, “Bapak, ibu saya mau sholat dulu, kalau ada yang mau sholat juga silakan, tapi kalau ada yang mau ganti angkot juga tidka apa-apa tidak usah bayar.”  MasyaAllah, begitulah ikhtiarnya mendahulukan kewajiban kepada Allah, tidak takut kehilangan rizki. Karena sesungguhnya shalat lah yang akan membawa keberkahan rizki.

Nah, apabila shalat sudah tersingkir dari aktivitas kehidupan, mulailah kita pun menghitung harta dengan sangat detail. Kita akan mulai merasa bahwa mengeluarkan zakat hanya akan mengurangi harta, zakat hanya investasi yang sia-sia.

Jika sudah meninggalkan mengingat Allah, lalai terhadap shalat, enggan mengeluarkan zakat, maka cahaya Allah akan meredup, hati menjadi keras hingga sulit melihat kebenaran. Puncaknya adalah melupakan akhirat di mana saat itu semua akan dipertanggungjawabkan.

Pada ayat ke 37 ini Allah memulainya dengan kata Rijaaal (para laki-laki). Ayat ini langsung tertuju kepada para kepala keluarga. Artinya tanpa disadari laki-laki telah menjadi pemadam cahaya bagi keluarganya. Pekerjaan atau bisnis suami di luar rumah bersentuhan langsung efeknya dengan cahaya bagi keluarga.Lalu bagaimana dengan para istri? Bila hanya seorang suami saja yang terus disibukkan urusan dunia sudah cukup menghancurkan cahaya keluarga, apalagi bila istri pun sama saja. Pantaslah banyak keluarga tanpa cahaya.

Wallahu a’lam bishshawaab.

=====

Sumber : Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel bersama Ust. Elvin Sasmita

tambahan : buku Inspirasi dari Rumah Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s