Posted in Tausyiah dan hikmah

Kisah Sebuah Terong

Dulu pada masa tabi’in, dikisahkan ada seorang pemuda di Damaskus, ibukota Syam, yang miskin namun ingin sekali menuntut ilmu. Maka datanglah ia ke sebuah masjid bernama At-Taubah, di mana di masjid tersebut ada seorang syaikh yang shalih dan alim. Karena pemuda ini sangat miskin maka ia meminta izin kepada syaikh tersebut untuk menumpang tinggal di masjid tersebut, bantu-bantu di masjid dan hidup bersama syaikhnya. Artinya, ia ikut makan dan minum bersama syaikhnya.

Singkat cerita pemuda ini pun menuntut ilmu dan tinggal di masjid bersama gurunya. Gurunya adalah orang yang sangat zuhud. Ada makanan, ya dimakan, tidak ada makanan maka puasa. Hingga suatu ketika, sudah hampir tiga hari mereka tidak punya makanan sehingga mereka berpuasa. Sahur dengan air dan sebutir kurma, berbuka pun demikian. Menjelang hari ketiga, pemuda ini sudah semakin kepayahan hingga ia harus menekuk badannya untuk menahan perutnya yang lapar.

Dalam kondisi sangat lapar itulah muncul bisikan-bisikan dari syaitan yang menyuruhnya untuk mencuri makanan sekadar untuk mengobati lapar yang teramat. Bergeraklah ia memanjat sebuah rumah yang persis di samping masjid, namun ketika itu ia melihat di dalam rumah tersebut ada tiga orang wanita yang tidak menutup auratnya sedang memintal bulu domba, maka ia pun memalingkan pandangan. Akhirnya ia berpindah ke rumah kedua, dan dari atas ia sudah mencium bau masakan, maka ia pun turun masuk ke rumah tersebut.

Ditemukan olehnya panci berisi dua buah terong yang baru saja dimasak. Maka ia ambil satu lalu ia makan. Saat ia hampir menelan terong itu, tiba-tiba muncullah rasa takut dan ta’atnya kepada Allah.”Subhanallah, syaitan sudah berhasil menjerumuskanku dalam tiga dosa sekaligus.” Iya, tiga dosa, yaitu masuk ke rumah orang tanpa izin, mencuri, dan memakan makanan yang haram. Lalu ia pun membuang terong yang ada di mulutnya, “ Tidak mungkin Allah membiarkan aku mati kelaparan karena Rasulullah SAW sudah bersabda bahwa barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebi baik”. Pemuda itu pun akhirnya pulang ke masjid.

Di masjid sedang ada kajian ilmu bersama syaikhnya, namun ia sangat sulit menangkap apa yang dismpaikan sang guru karena lapar yang teramat. Saat majlis itu selesai, datanglah seorang laki-laki dan seorang wanita bercadar berbincang dengan gurunya, sedang gurunya menundukkan pandangan dari wanita tersebut. Namun kemudian sang syaikh memandang pemuda ini lalu memanggilnya. Syaikh bertanya pada muridnya ini, “Kamu sudah menikah?” Yang dijawabnya,”Belum.” “Kamu mau menikah?”lanjut sang guru. Ditanya demikian pemuda ini tidak menjawab hingga gurunya bertanya sebanyak tiga kali namun tetap saja pemuda ini diam. Akhirnya pemuda ini berkata, “Ya Syaikh, Anda tahu bahwa selama ini saya ikut tinggal bersama Anda, bahkan sudah tiga hari ini kita tidak mempunyai makanan, lalu bagaimana nanti saya memberi makan istri saya?” Syaikhnya pun menjawab, “Wanita di sampingku ini baru saja menyelasaikan masa iddah karena suaminya meninggal. Ia ditinggali harta yang cukup dan ia takut fitnah. Apa kamu mau menikah dengannya?” Pemuda itu pun mengiyakan, begitu pula dengan sang wanita. Akhirnya dalam hitungan menit mereka pun menikah.

Syaikh pun berkata, “Pulang lah ke rumah istrimu karena kau sudah tidak pantas tinggal di masjid. Datanglah ke masjid untuk shalat dan untuk kajian ilmu.” Maka pemuda itu pun pulang bersama istrinya. Saat berjalan, pemuda itu melewati rumah pertama yang hampir dia masuki untuk mencuri namun tidak jadi, dan mereka melewatinya begitu saja. Tapi saat sampai di rumah yang kedua, istrinya berhenti dan berkata, “Masuklah suamiku inilah rumah kita.” Pemuda itu kaget, dalam hatinya dia berkata, “Bukankah ini rumah yang kumasuki tadi untuk mencuri?” Lalu istri nya pun berkata, “Tadi aku dengar kau sudah tidak makan selama tiga hari. Aku akan menghidangkan makanan untukmu.” Istrinya kemudian masuk ke dapur dan kaget karena melihat panci yang sudah terbuka, juga terong yang bekas digigit. Spontan ia berteriak, “Siapa yang sudah memakan makanan saya ini?” Pemuda ini pun akhirnya menceritakan apa yang dilakukannya tadi kepada istrinya, “Demi Allah wahai istriku tadi aku begini dan begini tapi demi Allah karena rasa takutku kepada Allah, aku belum sempat memakan terong ini dan aku membuangnya”. Istrinya yang mendengar hal ini tidak lantas marah, namun ia berkata yang perkataannya ini menunjukkan kualitas keimanannya, “Wahai suamiku, engkau tinggalkan segumpal makanan yang haram, maka Allah jadikan makanan itu, pancinya, rumahnya, pemilik rumahnya menjadi milikmu sekarang”.

Bukan hanya laparnya yang Allah hilangkan, bahkan Allah memberikan panci, rumah, bahkan pemilik rumahnya untuk pemuda itu. Orang yang bertakwa kepada Allah akan senantiasa Allah beri jalan keluar. Maka bertakwalah kepada Allah di mana pun kita berada.

Wallahu a’lam bishshawaab

2 thoughts on “Kisah Sebuah Terong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s