Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 4 : “Mendidik Anak dengan Hikmah seperti Luqman”

Dalam Al-Quran terdapat sebuah surat bernama Luqman. Para ulama salaf berbeda pendapat tentang siapa Luqman. Ada yang mengatakan bahwa ia nabi namun pendapat yang kuat adalah ia hamba Allah yang shalih namun bukanlah seorang nabi.

Tentu ada yang istimewa dari sosok mulia ini, hingga Allah menajdikannya nama salah satu surat Al-Qur’an. Mengapa ia begitu istimewa? Karena Allah menganugerahinya hikmah. Hikmah yang Allah SWT berikan kepadanya ini antara lain berupa ilmu, agama, benar dalam ucapan, dan kata-kata yang bijak. Ia selalu bersikap dan bertutur dengan adil dan tepat, seperti nasihat kepada anaknya yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an.

Ibu ‘Athiyah menyebutkan bahwa Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Luqman itu bukan Nabi, namun ia seorang hamba yang:

  • BANYAK BERFIKIR
  • BAGUS KEYAKINANNYA
  • MENCINTAI ALLAH

Dan Allah pun mencintainya, lalu memberikannya HIKMAH.”

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS.Luqman : 12)

Sebagai orang tua, tentu kita pun berharap Allah anugerahi hikmah sebagaimana Luqman, yang dalam tiap nasihatnya selalu benar dan tepat dalam menyampaikan. Dari Luqman kita belajar bahwa agar hikmah itu datang kita harus memiliki keimanan dan kecintaan yang kokoh kepada Allah. Selain itu, kita harus rajin berfikir. Tentang apa? Bertafakkur tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah, bertafakkur tentang segala nikmat. Dengan peka terhadap tiap nikmat maka kita bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur. SYUKUR adalah batu bata pertama bangunan HIKMAH.

Nasihat Luqman kepada anaknya tercantum dalam QS.Luqman ayat 13-19. Namun kita perlu memperhatikan ayat-ayat sebelumnya yang merupakan prolog kisah Luqman.

QS. Luqman :1-5 berisi tentang sumber hikmah, yang lain dan tak bukan adalah Al-Qur’an Kariim.

QS. Luqman : 6-7 berisi tentang pemadam cahaya hikmah. Inilah yang patut kita waspadai. Apakah itu? Cerita kosong yang menyesatkan, perkataan yang sia-sia.

QS. Luqman : 8-9 adalah tentang visi keluarga, yaitu surga yang penuh kenikmatan

QS. Luqman : 10-11 tentang ma’rifatullah.

HIKMAH LUQMAN DALAM MEMBERI NASIHAT

Dari Tamim Ad-Dari, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, dan untuk pemimpin ummat Islam serta masyarakat umumnya.” (HR.Muslim)

Jumhur ulama mengatakan bahwa Luqman adalah seorang da’i di masyarakatnya, namun ia tetap menyempatkan waktu duduk berdua dengan anaknya. Adapun isi nasihat Luqman dalam ayat 13-19 adalah :

(Ayat 13) Jangan menyekutukan Allah

(Ayat 14) Berbuat baik kepada orang tua. Bersyukur kepada Allah dan orang tua

(Ayat 15) Tidak mena’ati keburukan tapi tetap berbuat baik kepada orang tua, ikutilah jalan orang yang kembali kepada Allah.

(Ayat 16) Perbuatan baik walau seberat biji merica tetap akan Allah balas.

(Ayat 17) Laksanakan shalat, amar ma’ruf nahyi munkar, bersabarlah

(Ayat 18) Jangan memalingkan wajah (sombong), jangan berjalan dengan angkuh

(Ayat 19) Sederhanakanlah langkah, lirihkanlah suara.

Jika kita mengamati pola nasihat yang disampaikan Luqman kepada anaknya, maka ada tiga bentuk cara Luqman menyampaikan nasihatnya. 1. LARANGAN dengan penggunaan kata jangan, 2. PERINTAH, 3. ANALOGI /ILUSTRASI.

Tentang LARANGAN, ada 4 hal yang disampaikan, sedangkan untuk PERINTAH ada 9 hal. Adapun nasihat berupa ILUSTASI terdapat dalam satu ayat penuh yaitu pada ayat ke-16. Nasihat Luqman pun berisi tentang pokok-pokok agama Islam yang mencakup aqidah, ibadah dan akhlak.

Saat ini muncul teori parenting tentang larangan penggunaan kata “JANGAN” kepada anak-anak. Padahal, bila kita melihat contoh nasihat yang disampaikan Luqman, kata JANGAN tetaplah digunakan dalam penyampaian nasihat. Ada 4 hal yang menggunakan kata jangan, yaitu jangan menyekutukan Allah, jangan mena’atai dalam keburukan, jangan sombong, dan jangan berjalan dengan angkuh. Keempat hal tersebut adalah dosa- dosa yang amat Allah benci. Maka, sebenarnya tak apa kita menggunakan kata jangan kepada anak-anak, tapi jangan pula terlalu sering atau boros menggunakannya. Misal, sedikit-sedikit kita katakan, “Jangan lari, jangan pegang itu, jangan manjat, dst..”. Kebanyakan menggunakannya membuat JANGAN-nya kita menjadi tak bertenaga, sehingga ketika kata JANGAN itu disandingkan dengan hal besar, anak kita menjadi kurang perhatian.

Lalu, apa rahasia di balik dahsyatnya nasihat Luqman? Rahasianya terletak pada isi nasihat yang runut dipadukan dengan variasi kata yang tepat, sehingga menghasilkan nasihat yang dahsyat. Dalam menyampaikan nasihatnya, Luqman tahu prioritas yang diutamakan. Ia sampaikan dulu tentang aqidah, lalu ibadah, terakhir tentang akhlak. Dalam variasi kata yang digunakan, Luqman memiliki sentuhan-sentuhan yang istimewa, yaitu sentuhan sapa, sentuhan penguatan, sentuhan ilustrasi, dan sentuhan penutup.

Dalam sentuhan sapa, kita akan menemukan kata “Yaa Bunayya” (wahai anakku) sebanyak tiga kali yaitu dalam penyampaian lararangan syirik, pengenalan ilmu Allah, dan penegakkan shalat. Yaa Bunayya adalah sapaan sayang orang tua terhadap anak. Bahkan sapaan ini pun digunakan oleh para Nabi kepada anaknya, yaitu Nabi Nuh (dalam Hud:42), Nabi Ya’qub (dalam Yusuf: 5), dan Nabi Ibrahim (dalam Ash-Shaffat: 102).

Dalam sentuhan penguatan, Luqman tahu kapan perlunya penegasan. Adapun untuk sentuhan ilustrasi, inilah yang perlu kita perhatikan betul, terutama saat menjelaskan kepada anak tentang Allah. Tentu kita tidak akan bisa menjelaskan tentang dzat Allah kepada anak, sehingga untuk itu kita memerlukan kemampuan membuat ilustrasi sebagaimana Luqman ketika menjelaskan kepada anaknya tentang ilmu Allah. Mengenalkan Allah tidak harus dengan mengenalkan dzatnya karena tentu itu tidak bisa, seperti apa Allah, matanya bagaimana, padahal tekadang mucul pertanyaan-pertanyaan tersebut dari anak-anak. Maka kenalkan lah Allah melalui kemahabesaran-Nya, keluasan-Nya, ketinggian-Nya, kasih sayang-Nya, dan cipataan-ciptaan-Nya.

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (perbuatan) seberat biji merica, yang berada di dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendayangkannya (untuk diberikan balasannya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS.Luqman:16)

Dalam ayat tersebut Luqman menggunakan berbagai analogi. 1. seberat biji merica: isyarat sangat kecilnya perbuatan, 2.yang berada di dalam batu : isyarat tersembunyinya perbuatan, 3. atau di langit : isyarat jauhnya tempat dilakukannya, 4. atau di dalam bumi: isyarat gelapnya tempat dilakukannya perbuatan. 5. niscaya Allah akan mendatangkannya (untuk diberikan balasannya): maknanya lebih dalam daripada “niscaya akan diketahui Allah”.

Sentuhan penutup terdapat pada kalimat Luqman, “Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Ayat ini memantapkan keyakinan bahwa Allah akan membalas amal perbuatan yang sangat kecil, dilakukan di tempat tersembunyi, jauh dan gelap. Ada orang yang tahu sesuatu tapi dia tidak bisa mengambilnya karena kecilnya sesuatu itu dan letaknya yang sempit atau jauh. Namun bagi Allah semua itu mudah. Allah Maha Halus, dan menghadapi sesuatu yang semakin halus, kita harus lebih waspada dan hati-hati.

Ketika Luqman menutup nasihatnya pada ayat 15 dengan ungkapan, “Maka Aku akan mengabarkan kepada kalian apa-apa yang kalian lakukan, “ barangkali anaknya akan berpikir bahwa jika ia melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi maka tidak akan dihisab Allah. Oleh karena itu, Luqman menghapus sampai bersih semua persepsi salah itu dari keyakinan anaknya dengan untaian nasihat pada ayat ke-16 ini. Sekecil apapun, tersembunyi bagaimanapun tetap akan Allah hisab. Luqman ingin membuktikan kepada anaknya bahwa ilmu Allah itu mutlak kedalamannya, kelembutannya, ketinggiannya, dan keluasannya.

Dari awal nasihat hingga ayat 15, Luqman belum masuk pada perintah dan larangan tentang syari’at, seperti shalat dsb. Sampai ayat 16, Luqman tetap fokus mengingatkan dan menyiapkan jiwa anaknya sehingga nanti siap menerima perintah dan larangan Allah.

“Nak, kamu telah beriman kepada Allah, maka sekarang kamu harus menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Namun sebelum itu, ketahuilah bahwa kamu sedang berhadapan dengan Dzat yang berdiri sendiri, yang tidak pernah mengantuk dan tidur, yang tidak tersembunyi sesuatu pun dari tatapan-Nya. Maka lakukanlah perintah Allah dan tinggalkanlah larangannya dengan terus memegang keyakinanmu ini. Nak, ketika kamu tidak melihat Allah bukan berarti Allah tidak melihatmu. Ketahuilah amalmu akan dihisab atasmu, walau itu kecil.” Itulah perkataan Luqman kepada anaknya.

===

Sumber: Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel oleh Ust. Herfi G. Faizi (Pembina Kuttab Al-Fatih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s