Posted in Celotehan

2.190 Hari

Alhamdulillah, segala puji dan syukur ke hadirat Allah atas segala nikmat-Nya yang takkan pernah bisa dihitung..

Enam tahun bukan waktu yang singkat namun juga bukan waktu yang cukup untuk mengatakan diri sebagai pasangan  senior. Kami masih junior, masih belum cukup memakan asam garam berumah tangga. Kami masih anak ingusan yang harus terus belajar tentang kehidupan.

Ini adalah lima tahun kedua pernikahan kami. Ada kepercayaan yang berkembang bahwa ujian pernikahan akan silih berganti sesuai usia lima tahunan pernikahan. Entahlah. Bagi kami ujian itu tentu akan selalu ada bahkan dalam bentuk yang terlihat sebagai sebuah kesenangan.

Banyak dari kawan kami yang dalam usia ini sudah punya segala hal yang bisa dianggap mapan, apakah itu rumah yang nyaman ataupun kendaraan. Tapi Alhamdulillah di usia pernikahan kami yang sekarang hal-hal semacam itu belum menjadi bagian dari kehidupan kami. Rumah? Alhamdulillah masih diberi rizki untuk mengontrak rumah yang layak di lingkungan yang aman. Kendaraan? Alhamdulillah Allah beri rizki sebuah motor yang kata teman-teman saya di Tuban motor itu penuh kenangan. Bagaimana tidak, hampir dua tahun setengah motor itulah yang menjadi saksi sejarah betapa besar pengorbanan suami saya harus antar jemput saya ke sekolah setiap hari.

Dulu sekali, saya kadang baper ketika dinasihati keluarga untuk cepat beli rumah, tanah, dsb. Bukan tak mau, tapi uangnya belum ada, hehe. Sekarang? Ya tetap lah, siapa yang tidak ingin punya rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman, bukankah itu salah satu nikmat Allah. Tapi satu yang selalu terngiang dari pesan suami saya,” Mi, mulai sekarang harus menguatkan mental. Kita tidak akan pernah mundur ke belakang.” Iya, itu pilihan kami untuk tidak mundur ke belakang, berurusan dengan riba. Lalu kapan bisa beli itu semua kalau harus nunggu tunai? Allah yang Maha Tahu dan Maha Kaya.

Suatu hari abinya keceplosan bilang sama si sulung bahwa rumah yang kami tempati bukan rumahnya. Dia menangis, lalu bertanya, “Terus rumah Kayyis yang mana?” Lalu saya katakan padanya,” Minta dong sama Allah, Kayyis mau rumah apa?” Dengan polosnya dia menjawab, “Rumah warna merah.” Sambil senyum saya katakan, “Iya Nak, apa sih yang nggak Allah kasih. Tapi yang penting minta istana sama Allah di Surga, yang besaaaaar dan cantik.” Hidup di dunia ini sesungguhnya pun ngontrak, maka saya katakan pada suami, “Bi, ummi mah yang penting bisa punya rumah di Surga, ga kan nolak kok Ya Allah, beneran.” Ya iya laaah..hehe..

Mari tinggalkan urusan rumah dan kendaraan, karena sesungguhnya Allah telah menganugerahkan sesuatu yang lebih berharga di tahun ini, yaitu hadirnya bidadari kedua kami. Aghniya, yang wajahnya lebih banyak ngikutin abi. Alisnya panjaaaang suka kerut-kerut kayak lagi ikut mikirin tax amnesty. Oh jangan Dek, kamu masih bayi..

Omong-omong soal wajah anak, kata salah seorang psikolog, kedekatan ayah dengan anak, terutama anak perempuan, akan meminimalisir potensi perselingkungan. Katanya ya, saat ayah lihat wajah anaknya, dia akan teringat istrinya. Alhamdulillah, dua putri kami mah kayak berbagi wajah. Si kakak kata orang mah kopian umminya banget, lah si adek ngejiplak abinya ga pake banget. Artinya,abi lihat kakak ingat ummi, ummi lihat adek ingat abi. Adil kan? Tos dulu bi..(ini ngomong apa sih)..

Kembali tentang perselingkuhan. Saya sering banget bilang sama abinya, “Bi, ummi mah insyaAllah bisa dibawa hidup susah tapi ga bisa kalau abi nyakitin hati ummi.” Selama saya hidup, kisah-kisah suami berpaling mulai dari cara yang halal hingga yang haram sudah sering saya dengar, dan itu sukses membuat saya baper. Bahkan kisah nikahnya lagi seorang pejabat berinisial MS tempo hari yang dibumbui kisah menceraikan istri tua, sukses membuat saya galau berhari-hari. Bukan itu sih esensinya. Saya tak pernah tahu esok hari, tapi kalau suami saya bilang, “Abi kan bukan tipe yang suka aneh-aneh.” Maka saya akan menjawab, “Jangan sombong jangan lengah, syaitan tahu di mana celah kita.” Saya sudah pernah hidup puluhan tahun dengan seorang lelaki yang jauh lebih cool dari abinya. Jangankan senyum apalagi pecicilan, ibu-ibu rekan kerjanya saja mana ada yang berani ngajak ngobrol, semua bilang sungkan. Tapi ternyata ujian itu tetap datang dari orang jahat. Walaupun Allah jaga dan selamatkan hingga tutup usia, tapi semua itu sudah terlanjur membekas di ingatan saya. Maka, hanya kepada Allah lah kami memohon perlindungan.

Oleh karenanya, menjadi hal yang menarik bagi saya saat tempo hari ada sebuah diskusi ibu-ibu tentang bagaimana menyenangkan hati dan pandangan suami agar si dia tak berpaling. Menyenangkan pandangan adalah salah satu sifat istri shalihah, maka perlu diperhatikan. Ada yang berikhtiar melakukan perwatan, rajin olahraga, hingga memakai baju-baju lucu atau seksi di depan suami. Saya yang cupu urusan begitu akhirnya penasaran juga. Mulailah saya searching baju-baju yang dibilangin para senior. “Bi, ummi perlu pakai baju-baju ala-ala korea gitu ga?” “Ga usah.” Jawabnya datar. “Bi, lihat deh, boleh ga ummi pakai ini?” Saat saya tunjukkan baju daster anti emak yang girly gimana gitu, tapi jawabnya, “Ah ga ah..” Akhirnya saya tanya aja, padahal mah malu nanya ginian, “Jadi, abi teh sukanya ummi pakai apaaaa?” Jawabnya, “Abi suka waktu ummi pakai mukena, soalnya ngingetin shalat jama’ah pertama kali kita habis nikah.” Gubraaak..Sebenarnya sih saya sudah bisa menebak jawabannya, karena jawaban ini tak pernah berganti hingga enam tahun pernikahan. Alhamdulillah seleranya ga berubah.

Nomong-ngomong, beberapa hari ini mulai ramai lagi bahasan tentang baby blues dan istri butuh piknik, gegara kasus mutilasi oleh seorang ibu tempo hari. Saya berdoa semoga keluarga ini dikuatkan. Ibu atau istri, memang betul perlu diperhatikan. Ini bukan hanya psikolog yang berkata, tapi sudah langsung dicontohkan oleh manusia mulia Rasulullah SAW. Saya suka terkagum-kagum jika membaca shirah Rasulullah SAW. Maha Suci Allah yang sudah menciptakan manusia sesempurna itu, fisiknya, akhlaknya, semuanya. Seorang suami yang begitu lembut dan cinta pada istrinya. Yang tak malu turut bejibaku dalam urusan rumah tangga. Yang menyediakan waktu khusus mendengar istrinya. Yang kakinya rela dijadikan pijakan istrinya untuk menaiki unta. Yang..yang..terlalu banyak untuk dikatakan. Maka jika para suami begitu bersemangat menjalankan sunnah Rasul –ta’addud- yang kadang hanya jadi bahan candaan tak semestinya, alangkah lebih baik memperhatikan dahulu sunnahnya yang lain tentang bagaimana memperlakukan istri dengan akhlak terbaik.

Urusan istri butuh piknik, saya termasuk yang tiap akhir pekan minta libur dan minta piknik. Kadang kasian juga kalau abinya udah mulai merengek, “Ummi minta libur weekend, terus abi kapan liburnyaaa?” Sebenarnya yang paling saya senangi bukan piknik tapi ngobrol. Bahkan sekadar ngobrol yang ga penting, “Benar sama betul kan sama, kok kebetulan dan kebenaran ga sama?” Krik..obrolan macam opo iki. Kadang juga ngobrol yang penting, semisal kopi sianidanya Jessica, atau ngobrol tentang keruntuhan Andalusia. Alasan saya suka ngobrol salah satunya karena ngobrol adalah obat manjur untuk saya kalau sedang insomnia. hehe..Tapi sebenarnya alasan utamanya bukan itu. Sudah menjadi sunnatullah bahwa perempuan adalah makhluk yang perlu didengar. Kemampuannya untuk mengeluarkan kata-kata berkali lipat dari laki-laki. Maka para suami harus mau menyediakan waktu dan telinga mendengar semua keluh kesahnya, curhatannya, ceritanya yang mungkin tak penting atau berulang-ulang. Tak rela kan kalau istri malah nyari tempat curhat ke orang lain. Na’udzubillah..

Akhir kata, hatur nuhun Kangmas karena masih sangat bersabar menghadapi istrimu yang kolokan. Pagi ngirim whatsapp cinta, sore hari bisa berubah manyun karena telat pulang kerja. Semoga Allah hadiahkan bagimu bidadari-bidadari surga, tapi saya tetap berharap saya lah ratunya kelak. Ga bosen kan?kan?

 

Yaa Allah bimbinglah kami…

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s