Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 3: “Keselarasan antara Rumah dan Sekolah”

Menurut Dr.Khalid Ahmad Asy-Syantut, salah seorang pakar pendidikan Islam, rumah adalah lembaga pendidikan pertama bagi anak. Peran rumah bagi anak mencapai 60%, sedangkan sekolah dan lingkungan masing-masing hanya 20%. Oleh karennya, penting sekali menyelaraskan gerak antara sekolah dan rumah, karena sering terjadi apa yang dibangun oleh sekolah rubuh oleh orang tua di rumah, ataupun sebaliknya.

Pentingnya rumah dalam pendidikan dikarenakan :

  • Anak hadir pertama kali di dunia adalah di rumah
  • Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu paling banyak adalah di rumah
  • Orang tua adalah yang bertanggung jawab terhadap anak
  • Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang tua
  • Allah menjadikan rasa cinta orang tua terhadap anak-anaknya
  • Keluarga adalah jamaah yang setiap orang akan berafiliasi seumur hidup kepadanya

Hal yang paling utama tentang pendidikan rumah tentu adalah peran orang tua. Dan peran terbesar pendidikan adalah pada sosok ayah. Ayah harus bisa menjadi qowwamah dalam keluarga. Kenyataannya saat ini peran qowwamah ini mulai menghilang. Qowwamah bukan sekadar mencari nafkah, tapi peran kepemimpinan yang harus ditegakkan. Seringkali terjadi pada banyak keluarga ayah tak mau tahu menahu urusan pendidikan anak, semuanya diserahkan pada ibu, yang penting ayah bisa mencari uang. Ini yang keliru.

Ayah adalah pemimpin keluarga dan akan dimintai pertanggungjawaban. Ibu memelihara rumah dan anak-anak dan akan pula dimintai pertanggungjwaban. Inilah yang Rasulullah SAW sampaikan.

Lalu apa yang harus dilakukan qowwamah? Yang pertama adalah menjadi teladan. Contoh praktisnya, bila adzan berkumandang, maka ayah segera bergegas shalat ke masjid. Ini sudah menjadi salah satu bentuk penanaman iman kepada anak. Sebagai teladan, ayah harus menjadi sosok yang dikagumi anak-anak. Untuk hal ini, istri bisa membantu menceritakan kelebihan dan kebaikan ayah di depan anak-anak, jangan sekali-kali menjatuhkan ayah di depan mereka. Atau ketika berkunjung ke kakek-nenek, anak-anak bisa meminta diceritakan tentang ayahnya.

Selain itu, sebagai qowwamah, kepemimpinan ayah harus dirasakan di dalam rumah terutama dalam mengambil keputusan-keputusan bahkan untuk hal kecil sekalipun. Contoh, “Bu, aku boleh ga main ke rumah teman?” Maka jangan langsung katakan boleh, tapi katakan, “Coba kita tanya ayah dulu ya.” Walaupun mungkin ibu hanya bersandiwara, tapi ini untuk menunjukkan peran ayah sebagai pengambil keputusan.

Lalu bagiamanakah sinergi antara rumah dan sekolah?

Sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah orang tua wajib untuk tidak menyebutkan keburukan sekolah dan gurunya di depan anak, terutama yang masih kecil. Hal ini bisa menjatuhkan izzah guru di hadapan anak, sehingga anak akan sulit merasakan manisnya ilmu. Pun sebaliknya, guru sebaiknya membantu anak agar mereka semakin mengagumi orang tuanya. “Nak, ayahmu itu hebat loh, bertanggung jawab.” “Nak, ibu mu itu jago bikin kue.” dst.

Kuttab tidak berupa asrama atau boarding school, karena pada usia ini (5-12 tahun) interaksi anak dengan orang tua masih sangat besar diperlukan. Oleh karena itu, Dr. Asy-syantut memberikan contoh pembagian waktu harian bagi anak yang masih dalam usia Kuttab. Dimulai dari ba’da Isya, anak-anak dibiasakan untuk menyiapkan perlengkapan untuk sekolah esok hari lalu bersegara untuk tidur. Lalu kapan anak bangun tidur? Sebaiknya anak mulai bangun maksimal saat adzan pertama, yaitu kira-kira setengah jam sebelum subuh, dilanjutkan aktivitas pagi higga sekolah sampai siang hari. Siang hari atau sekitar ba’da dzuhur adalah waktunya anak untuk beristirahat, tidur siang (alangkah baiknya bila anak dibiasakan), lalu bermain. Main sangat penting untuk anak. Imam Ghazali mengatakan, biarkanlah anak-anak bermain, karena bila anak-anak dilarang bermain bisa mengakibatkan hati mereka menjadi keras. Lalu ba’da ashar adalah waktu mereka untuk belajar dan juga bermain. Sedangkan ba’da maghrib adalah waktu Al-Qur’an, yaitu untuk muroja’ah dan ziyadah.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah, jangan pelit untuk mengapresiasi anak dan membisikkan nasihat kasih sayang kepada mereka. Baik itu oleh guru di sekolah, terlebih oleh orang tua di rumah. “Nak, kamu adalah anak yang hebat.” “Nak, abi sayang kamu.”, dst. Juga, jangan malu untuk menyampaikan maaf kepada anak bila orang tua memang salah.

Wallahu a’lam

==

Sumber : Kajian KAF Tangsel yang disampaikan oleh Ust.Galan Sandy (General Manager Kuttab Al-Fatih)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s