Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 2: “Belajar dari Keluarga Ibrahim”

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala ummat (di masa mereka masing-masing).” (QS. Ali Imran : 33)

Nabi Adam dan nabi Nuh disebut Allah sebagai individu, karena kita tahu bahwa pada keluarga nabi Adam ada anak yang melakukan dosa besar, sedangkan pada keluarga nabi Nuh istri dan anaknya adalah kafir. Jika kita membaca surat At-Tahrim : 10, istilah istri untuk nabi Nuh dan nabi Luth adalah ‘Imra-ah’ bukan ‘zaujah’. Padahal dalam kosakata bahasa Arab, kata istri adalah zaujah. Allah menggunakan kata imra’-ah untuk menunjukkan ketidakserasian antara istri-istri yang kafir tersebut dengan suami mereka yang adalah seorang nabi.

Adapun nabi Ibrahim dan ‘Imran disebutkan Allah beserta keluarganya, karena suami, istri, dan anak-anaknya, bahkan cucunya adalah orang shalih. Inilah potret keluarga yang seharusnya menjadi teladan bagi seluruh muslim. Dari kedua keluarga ini sesungguhnya kita bisa mengambil teladan yang saling melengkapi. Keluarga nabi Ibrahim kita tahu adalah contoh rumah tangga poligami dengan model pendidikan bagi anak laki-laki. Sedangkan keluarga ‘Imran adalah rumah tangga monogami dengan contoh pendidikan bagi anak perempuan.

Nama Ibrahim AS disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an sebanyak 69 kali dalam 25 surat. Maka tentu begitu istimewanya Abul Anbiya ini. Kita harus menggali sosok beliau sebagai teladan, terutama bagi para kepala keluarga dan ayah. Beliau memiliki sifat-sifat mulia yang Allah sebut dalam Al-Qur’an, yaitu:

  1. minal muhsinin. Nabi Ibrahim adalah seorang yang muhsin. Muhsin atau orang yang Ihsan adalah derajat paling tinggi setelah muslim dan mukmin. Orang Muslim belum tentu mukmin, orang mukmin belum tentu muhsin, sedangkan muhsin pasti mencakup muslim dan mukmin.
  2. minash sholihin, termasuk orang-orang shalih
  3. Qonitan Lillah, ta’at kepada Allah
  4. Shiddiq, benar
  5. Awwah, selalu mengadu kepada Allah
  6. Haliim, sabar
  7. Haniif, lurus
  8. Khullah, cinta-Nya kepada Allah tidak ada kekurangan sedikitpun. Itulah mengapa Allah menjadikan nabi Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS sebagai Khalil-Nya, kekasih-Nya, karena cinta keduanya tidak ada sedikit pun kekurangan.
  9. Ummah. Nabi Ibrahim hanya seorang diri, namun kualitasnya setara dengan satu ummat. Sedangkan ummat Islam saat ini, satu orang individu pun terkadang kualitasnya tidak ututh satu, kadang cuma setengah bahkan kurang dari itu. Namun nabi Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS Allah setarakan dengan ummat karena kualitasnya.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan kata uswatun hasanah  sebanyak tiga kali, yaitu pada QS.Al-Ahzab: 21 yang merujuk kepada Rasulullah SAW, dan pada QS Al-Mumtahanah: 4 & 6, yang merujuk kepada nabi Ibrahim AS.

Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil dari keluarga Ibrahim ‘alaihissalaam?

  1. At-Thadzhiyah Ash-Shodiqoh, pengorbanan yang benar

Ibnu Abbas berkata,

“Yang pertama kali memakai minthoq (kain yang diikat di badan dan dijulurkan ke tanah) adalah ibunya Ismail. Tujuannya agar kain tersebt menghapus jejaknya dari Sarah.

Kemudian Ibrahim membawanya berikutnya anaknya Ismail pergi. Sambil sang ibu menyusuinya, mereka di bawa hingga sampai al-Bait (Ka’bah) di samping pohon besar di atas Zamzam di atas masjid. Saat itu Makkah tidak ada seorang pun dan tidak ada air. Maka Ibrahim meletakkan keduanya di sana dan membekali keduanya dengan sekantong kurma dan sekantong air.

Selanjutnya Ibrahim pergi meninggalkan mereka. Ibunya Ismail megikatnya dan berkata: “Hai Ibrahim, kamu mau pergi ke mana dan kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada apa pun?”

Berkali-kali ia berkata eperti itu, tapi Ibrahim tidak mau melihatnya sama sekali. Kemudian ibunya Ismail bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?”

Ibrahim menjawab: “Ya”

Ibunya Ismail berkata:”Kalau begitu dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kecintaan nabi Ibrahim kepada Allah jauh lebih besar dibanding cintanya kepada keluarga. Dan tidak berhenti di sini, kelak Allah pun akan menguji kembali dengan perintah menyembelih Ismail. Masya Allah, anak yang diidam-idamkan begitu lama, lalu setelah hadir harus ditinggalkan di negeri yang jauh, bertemu kembali setelah sekian lama malah harus disembelih. Tentu bukan manusia biasa yang bisa menjalani itu semua. Itulah keluarga Ibrahim.

  1. Cepat merespon. Nabi Ibrahim AS dan keluarganya akan segera melakukan setiap yang Allah perintahkan.
  2. Nabi Ibrahim AS banyak mendoakan keluarganya.

Ini adalah pelajaran penting bagi setiap orang tua untuk tidak lalai dalam mendoakan anak keturunan. Karena salah satu doa yang mustajab adalah doa orang tua untuk anaknya.

Saat nabi Ibrahim AS meninggalkan Ismail dan ibunya, beliau berdoa kepada Allah sambil mengangkat kedua tangannya, “Ya Rabb, aku meletakkan keturunanku di lembah yang tidak ada satu pun pohon, di samping rumah-Mu yang mulia…” Doa tersebut Allah abadikan dalam QS.Ibrahim: 35-41. Jika kita mentadabburi ayat-ayat tersebut, maka urutan doa nabi Ibrahim adalah :

  • Baladan Aaminan, negeri yang aman. Ini memberi kita pelajaran untuk memilihkan lingkungan yang baik untuk anak kita, baik itu lingkungan tempat tinggal, tempat menuntut ilmu, tempat bermain, dsb.
  • Jauhkan dari menyembah berhala. Nabi Ibrahim mengajarkan kita tentang pentingnya penanaman akidah kepada anak, menjauhkan anak dari kemusyrikan.
  • Ummatnya banyak yang menyembah berhala, maka nabi Ibrahim mendoakan ummatnya yang tersesat (QS.Ibrahim :36)

Dalam ayat tersebut, bagaimana nabi Ibrahim mendoakan ummatnya menunjukkan betapa lemah lembutnya ia, “ Maka barang siapa yang mengikutiku maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Coba kita bandingkan dengan doa nabi Nuh, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26). Sebuah permintaan yang tegas dari seorang nabi yang sudah menyeru siang malam selama 950 tahun namun tetap saja diingkari.

Nabi Ibrahim yang lembut dan nabi Nuh yang tegas. Rasulullah menjadikan kedua nabi mulia ini sebagai perumpamaan untuk kedua sahabatnya, Abu Bakar seperti nabi Ibrahim dan Umar bin Khattab seperti nabi Nuh.

  • Menempatkan Ismail dan Hajar di Baitul Harom. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati)…” (QS. Ibrahim:37)

Hal ini mengajarkan kita untuk memilihkan tempat bagi keluarga yang dekat dengan tempat ibadah, agar keluarga kita menjadi bagian orang-orang yang senantiasa menegakkan sholat

  • memiliki kemuliaan akhlak, sehingga orang-orang menyukainya. Pengakuan sosial dengan akhlak mulai adalah konsep pendidikan yang luar biasa.
  • meminta rizki berupa buah-buahan agar bersyukur. Inilah doa terakhir yang diucapkan nabi Ibrahim dalam rangkaian doanya tsb. Bahkan saat memohon rizki pun nabi Ibrahim menyertakan kata syukur. Hal ini mengajari kita bahwa apa yang diberikan kepada keluaga sudah seharusnya semakin menambah rasa syukur, bukan sebaliknya.

Uniknya, nabi Ibrahim berdoa di padang pasir yang tandus tak ada tanaman. Namun ia tetap meminta Allah tumbuhkan bauah-buahan. Artinya, nabi Ibrahim tidak membatasi Allah SWT dengan logika berfikir, karena Allah Maha Kuasa, apa pun bisa Dia hadirkan walaupun awalnya tak ada.

Selain dalam QS.Ibrahim :35-41, doa lain nabi Ibrahim Allah abadikan pula pada QS.Al-Baqarah: 124. “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “SEsungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi selurug manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan juga dari anak cucuku?” Allah berfirman,” Benar, tetapi janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang dzalim.”

Ketika Allah memberi nabi Ibrahim reward (menjadikan pemimpin) , Ibrahim memohon kepada Allah agar reward itu pun diberikan kepada keturunannya. Begitu istimewanya nabi Ibrahim, karena dalam setiap doanya ia selalu menyertakan anak dan keturunannya.

  1. Tidak putus asa dan senantiasa tawakkal. Ini bisa kita ambil dari kisah ibunda Hajar yang berlari-lari mencari air untuk bayi Ismail
  2. Pola komunikasi yang baik. Kita bisa meneladani kisah nabi Ibrahim saat berkomunikasi dengan nabi Ismail mengenai perintah sembelih. Salah satunya adalah penggunaan panggilan sayang untuk anak. Nabi Ibrahim di sini mencontohkan memanggil Ismail dengan panggilan “Yaa Bunayya..” bukan “Yaa Ibnii..”
  3. Menjadi teladan bagi anak

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS.Ibrahim:40). Nabi Ibrahim memulainya dengan kata Aku, yaitu diri beliau sendiri. Inilah teladan, semua bermula dari diri.

Inilah pelajaran-pelajaran dari nabi Ibrahim dan keluarganya yang mulia. Maka, setiap kita menemukan kata Ibrahim saat membaca Al-Quran, berhentilah sejenak untuk mengambil pelajaran darinya. Inilah sosok teladan sepanjang masa, hingga setiap sholat kita pun bershalawat untuknya dan keluarganya.

“TAK ADA YANG MUSTAHIL DENGAN DOA AYAH DAN TAWAKKAL BUNDA”

===

Sumber:

  1. Kajian orang tua Kuttab AL-Fatih Tangsel yang disampaikan Ust.Akhmad Nizaruddin,Lc.MA.
  2. Buku “Inspirasi dari Rumah Cahaya” karangan Ust.Budi Ashari,Lc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s