Posted in Parenting

GURU, untuk Digugu Bukan Ditinju

Saya ingat saat tes Kayyis masuk Kuttab, ada satu pertanyaan yang kurang lebih isinya, “Bila orang tua menemukan bahwa ada penjelasan ustadz/h yang menurut orang tua salah, bagaimana orang tua menyampaikan kepada anak?” Dulu kami menjawab panjang lebar, yang kalau dipikir lagi, kalimat sepanjang itu kalau disampaikan pada Kayyis belum tentu dia mengerti.

Pagi ini, saya mendapat kiriman yang cukup menohok. “Jika Izzah (kemuliaan) seorang guru sudah jatuh di hadapan muridnya lantaran lisan orang tua yang menjatuhkan izzah guru di hadapan anaknya, maka jangan pernah berharap anak itu menikmati manisnya ilmu. Karena manisnya ilmu salah satunya diperoleh dari kemuliaan seorang guru di hadapan santrinya.” Ini baru tentang lisan. Apalagi jika sudah bentuk penghinaan dan menyakiti secara fisik seperti yang sedang ramai di berita hari ini.

Saya yang pernah menjadi guru dan sekarang menjadi orang tua murid, jika mendengar berita-berita seperti ini, yang membuat saya paling sedih adalah memikirkan sang anak. Membuat saya menyadari bahwa apa yang saya perbuat, kebiasaan-kebiasaan yang saya tunjukkan di hadapan anak, doa saya, bahkan makanan yang saya berikan kepada mereka, akan sangat mempengaruhi seperti apa mereka kelak. Menjadi orang tua ternyata memang tak mudah.

Dulu, sekolah tempat saya mengajar pernah beberapa kali terlibat konflik dengan orang tua murid. Ada yang mengancam bawa pengacara, menyebar berita buruk di luaran, hingga mengoblok-goblokan guru di hadapan muka. Saya ingat betul jawaban kepala sekolah saya saat itu, “Pak, jika Bapak tidak menghargai para guru seperti ini, maka jangan harap apa yang sudah anak bapak pelajari akan barakah.” Barakah, bukan tentang seberapa pintar anak kita, bukan tentang sesukses dan sekaya apa dia kelak. Tapi barakah, tentang seberapa besar ilmu itu mengantarkannya menjadi hamba yang ta’at dan bermanfa’at. Menjadi hamba yang mencintai Allah sekaligus takut kepada-Nya.

Betul, guru pun bukan malaikat, kadang berbuat salah dan khilaf. Tapi, lagi, saat ini kita sedang mengajarkan anak-anak tentang adab.

Dulu, anak-anak seorang Khalifah mulia, Harun Ar-Rasyid, berebut mengambilkan sandal gurunya. Harun Ar-Rasyid, sang ayah, malah mengancam akan memecat bila sang guru malah menghentikan kebiasaan anak-anak itu. Dulu, seorang pemimpin mulia, Nuruddin Zanky, marah kepada stafnya yang mengusulkan memotong gaji para ahli ilmu,”Mereka adalah panah-panahku di malam hari, saat kalian tidur.”

Suatu hari Kayyis bercerita, “Ummi, tadi Hafsah bantu ustadz cuci piring.” “Oh ya, Kayyis bantu juga?” Lalu dia jawab sambil cengengesan, “Hmmm..Kayyis yang dibantu ustadz..” Gubraaakkk…Tak apa-apa Nak, bila Al-Makmun dan Al-Amin dulu berebut sandal sang guru, mungkin beberapa hari lagi, biarlah kamu dan Hafshah yang berebut piring ustadz kalian. InsyaAllah.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s