Posted in Celotehan

Selamat Datang, Hamas..

Allah akan menjawab setiap doa hamba-Nya. Tapi bentuk jawaban itu tak berarti selalu memberi apa yang diminta. Ada tiga jenis jawaban Allah untuk doa. Pertama, mengabulkan atau memberi apa yang diminta. Kedua, menangguhkan dan memberinya kelak dengan kebaikan di akhirat. Terakhir, mengganti dengan memberikan kemaslahatan yang lain, apakah kesehatan, terhindar dari musibah, dsb.

===

Saya mengenal beliau tiga tahun lalu dalam majlis ilmu. Awalnya biasa saja seperti terhadap kenalan baru. Semua mulai berubah setelah saya satu tempat mengajar dengan beliau yang memang lebih senior. Mulai saya rasakan, beliau orang yang sangat hangat. Senang bercerita dan juga mendengar cerita.

Sampai suatu hari beliau diantar suaminya datang ke rumah saat saya sedang sakit, hanya untuk memberi saya madu. Saya yang baru pindah ke lingkungan baru tentu merasa terharu sekaligus kaget, “Kok ada orang baik gini padahal baru kenal?” Seiring berjalan waktu, beberapa kali beliau datang ke rumah hanya untuk mengantarkan isi kulkasnya. Walau itu hanya sebutir apel dan sebutir pir, tetap yang dikatakannya, “Gapapa untuk Kayyis.” Suami beliau malah sempat ia minta mengantarkan berkilo-kilo mangga kiriman dari orangtuanya kepada kami. Yang paling bikin saya kaget adalah sempat suatu pagi beliau datang ngetuk pintu untuk mengantarkan hasil belanjaan lauk-pauk dari pasar, hanya karena sehari sebelumnya saya cerita kalau abinya sedang ke luar kota dan saya tak ada yang antar belanja. Sudah tak terhitung kebaikan beliau kepada keluarga kami. Saya sangat merasa malu, karena sampai kami pindah belum sedikit pun saya bisa membalas kebaikan beliau, walau sekadar berkunjung ke rumahnya.

Apakah kebaikan ini hanya untuk kami saja? Tidak. Beliau dan suami senang sekali berbagi ke tetangga. Dapat banyak ikan habis pulang dari rumah orang tua, maka kebanyakan ikan itu akan pindah ke rumah tetangga-tetangganya. Membuat bubur kacang ijo, maka tetangganya akan diikhtiarkan bisa mencicipi walau hanya sedikit. Di sekolah pun pasangan ini disukai anak-anak. Walau mereka terkadang dibilang terlalu pengatur lah, galak lah, cerewet lah, tapi tetap saja dikangeni.

Beliau sesekali senang bercerita tentang keluarganya, bagaimana dulu beliau sekolah, bagaimana bisa bertemu dengan suaminya yang notabene orang Indonesia timur. Beliau dan suaminya sudah menikah hampir 6 tahun, tapi qodarullah mereka belum juga dikaruniai momongan. Walau begitu, pasangan ini terlihat sekali senang dengan anak-anak. Kayyis salah satunya. Saya sering melihat beliau sangat senang saat bertemu dan bermain dengan Kayyis. Bukan keluarga, bukan saudara, tapi sayangnya terasa sekali. Beberapa hari tak bertemu Kayyis, pasti ditanyakan, dikangeni. Foto Kayyis entah sudah berapa banyak nyangkut di hape beliau. Bahkan dua lebaran sudah, Kayyis dapat baju lebaran dari kholahnya ini. Kini, sudah berjauhan sekalipun yang ditanya tetap Kayyis, mana foto terbaru Kayyis, Kayyis ngaji sudah sampai mana. Sampai-sampai beberapa kawan suka bilang beliau seperti ibu angkat Kayyis.

Selain rasa sayang kepada anak-anak, pasangan ini sepertinya ga ada matinya jika menyangkut urusan dakwah. Kalau ada yang bilang istri dai harus rela dimadu dengan ummat, maka teman saya inilah contohnya. Suami beliau sibuk dengan urusan pondok dan santri sepanjang hari, bahkan di hari libur. Hampir setiap hari pulang malam, belum dengan mad’u-mad’unya yang lain. Ceramah ke beberapa tempat, ngajar majlis taklim, ngajar ke panti, dll. Istrinya pun tak jauh beda. Setelah seharian ngajar di sekolah dari pagi hingga ashar, pulang-pulang sudah ditunggu anak TPA, setelah maghrib terkadang sudah ditunggu ibu-ibu yang juga minta ngaji atau pergi ngajar anak-anak di panti hingga malam.

Sempat saya tanya beliau, bagaimana rasanya ditinggal-tinggal terus begitu? Apa gak kesepian? Beliau menjawab, “Dulu juga saya kadang merasa kurang diperhatikan, tapi  suami saya mengatakan, ‘mungkin dengan cara mengabdikan diri untuk ummat, siapa tahu menjadi wasilah untuk mendapatkan keturunan’. Sekarang saya ingin belajar dari siti Hajar, suami saya keluar untuk ibadah, jadi saya yakin Allah akan menjaga saya di dalam rumah dan menjaga suami saya di luar rumah.” Duh makjleb banget buat saya yang masih suka menye-menye..

Kisah rumah tangga mereka pun terkadang bikin saya malu. Beliau dipinang oleh calon suaminya dulu dalam kondisi sang calon suami harus menanggung banyak adiknya yang sedang sekolah di Jawa. Tak ada perasaan khawatir tak dapat dinafkahi. Beliau yang seorang putri bungsu kesayangan keluarga, yang biasa tercukupi materi apalagi kasih sayang dari orang tua dan kakak-kakak, tetap rela diajak tinggal hanya di sebuah rumah kecil di samping mushola, karena suaminya mendapat amanah untuk memakmurkan mushola itu. Saat ayahandanya menawarkan membelikan rumah, ia tetap tak menerima karena suaminya sudah mewanti-wanti ingin suatu saat rumah mereka hadir dari jerih payahnya.

Suatu hari teman saya ini bercerita kalau kasur mereka di rumah sudah rusak. Ia membujuk sang suami untuk membeli kasur baru, kalau perlu springbed sekalian biar awet. Tapi suami beliau yang memang terkenal menjunjung kesederhanaan memilih mengisi bagian kasur yang sudah kempes dengan kapuk. Alhasil karena yang penyok sudah banyak, kapuk yang dibeli pun habis satu karung, dan harganya bisa buat beli kasur baru. Yang lebih lucu, setelah kasur mereka diperbaiki, mereka akhirnya milih tidur di lantai karena ternyata kasurnya jadi terlalu keras.hehehe…

Dari semua kebaikan pasangan ini yang saya lihat, ternyata Allah berkehendak memberikan mereka ujian. Teman saya harus menderita sakit setiap bulan. Tamu bulanan yang datang pada setiap wanita, baginya adalah waktu datangnya pula penggugur dosa. Karena setiap tamu bulanan itu datang, maka sehari hingga tiga hari pertama beliau harus merasakan sakit luar biasa hingga tak mampu melakukan aktivitas, bahkan saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana rasa sakit itu sampai harus membuatnya muntah-muntah tak berdaya. Itu dilaluinya bertahun-tahun, bukan sebulan dua bulan. Setiap ia datang berobat dari dokter satu ke dokter yang lain, selalu dikatakan bahwa ia akan sulit mendapat keturunan. Baginya yang juga wanita biasa, mendengar hal seperti itu tentu menyakitkan.

Terkadang ketika beliau meminta saran saya bagaimana agar bisa hamil, saya bingung sendiri, karena jawaban yang bisa saya sampaikan dan saya pendam dalam hati hanyalah tentang berdoa. Bagaimana saya bisa menyarankan itu pada beliau, padahal untuk yang satu ini saya yakin beliau dan suaminya jauh lebih banyak melakukannya dibanding saya, lebih khusyuk, dan lebih didengar Allah. Barangkali Allah senang mendengar doa itu terus diulang-ulang, nama-Nya terus menerus disebut oleh hamba-hamba-Nya yang shalih ini, sehingga menangguhkan memberikan apa yang mereka harap.

Sampai suatu hari ia dengan wajah sumringah bercerita kepada saya baru saja pulang periksa dari sebuah rumah sakit di kota besar. Saat harus menjalani USG, ia berdzikir begitu banyak, ia berdoa dalam harap, “Ya Allah, setidaknya beri saya kabar gembira walau hanya saat di ruang periksa saja.” MasyaAllah, saat diperiksa, penyakit yang biasanya terlihat di layar USG tiba-tiba dokter katakan bersih. Ia sehat, dan punya kesempatan punya anak. Saya masih ingat wajah bahagianya, sampai-sampai ia bilang, “Baru dibilang gitu aja, saya bahagianya udah kayak dibilang hamil.”

Segala puji bagi Allah, selang sebulan atau dua bulan dari obrolan itu, saya mendapat kabar bahagia beliau benar-benar hamil. Jika saya hanya harus merasakan mual muntah, maka kepayahan beliau saat mengandung jauh-jauh berkali lipat dari yang saya rasakan. Harus selalu bedrest, merasakan sakit, bahkan beberapa kali mengalami flek.

Kini, doa-doa panjang itu Allah jawab dengan kehadiran seorang calon mujahid dalam kehidupan mereka. Saat saya mendengar kabar beliau sudah melahirkan, rasanya perasaan bahagia yang saya rasakan persis seperti saya sendiri yang habis melahirkan. Lega, bahagia.

Ahlan wa sahlan Abdullah Hafizh El Hams. Maafkan kholah, kakak Kayyis dan Aghniya yang belum bisa melihatmu langsung. Semoga engkau mewarisi kebaikan-kebaikan ayah dan ibumu, bahkan lebih baik dari mereka.

Untuk saudariku yang tengah berbahagia..

Semoga Allah menjadikannya anak yang diberkahi untukmu dan untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s