Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 1 : “Visi Rasulullah untuk Generasi Abad 21”

Coba kita bayangkan, sedang tidak punya uang, anak sakit semua, jauh dari suami, lalu tiba-tiba disuruh membuat mimpi besar, kira-kira bagaimana reaksi kita? Wah muluk-muluk banget sih. Begitulah mungkin kira-kira.

Tapi tidak dengan apa yang Rasulullah contohkan. Saat sedang memukul batu besar, perut diganjal beberapa batu karena lapar, sulit untuk ke kamar kecil, dan dalam ancaman serangan musuh yang jumlahnya sepuluh ribu, Rasulullah malah berkata di hadapan para sahabatnya, “Allahu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Syam. Demi Allah, sekarang saya melihat istana yang merah. Allahu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Persia. Demi Allah ! Saya melihat istananya yang putih. Allahu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Yaman. Demi Allah aku melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini.” (HR. Ahmad). Maka tak heran kala itu orang-orang munafiq mencibir beliau, “ Ngomong opoo iki..”, kalau bahasa jawanya gitu kali.

===

Ini adalah kajian orang tua pertama sejak kami berabung dengan Kuttab Al-Fatih Tangsel. Alhamdulillah, betapa beruntungnya, setelah di Stadium General bertemu dengan dua tokoh penting di balik berdirinya Kuttab, yaitu Ust.Budi Ashari dan Ust.Muhaimin Iqbal, hari ini bisa dipertemukan dengan tokoh ketiga yang juga menjadi saksi dan pelaku dalam pendirian Kuttab, yaitu Ust.Ilham Sembodo yang saat ini memegang amanah sebagai Direktur Kuttab Al-Fatih. Tapi di balik siapapun pematerinya, syukur kepada Allah SWT karena telah memberi kesempatan untuk bisa datang ke majlis ilmu yang seyogyanya adalah taman surga.

Sebelum masuk ke materi, Ust.Ilham Sembodo bercerita tentang kisah berdirinya Kuttab Al-Fatih, salah satunya dengan menceritakan tentang Ust.Muhaimin Iqbal, semoga Allah menjaga beliau. Ust.Iqbal adalah sosok yang sangat bersemangat menggali ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hafalan beliau memang tidaklah banyak, tapi setiap ayat yang beliau hafal akan diikhtiarkan sedemikian rupa agar terimplementasi dalah kehidupan dan menjadi solusi bagi ummat.

Contoh yang Ust.Iqbal lakukan adalah, beliau memiliki kebun yang sengaja ditanami tanaman-tanaman Quran. Ada kurma, delima, zaitun, dll. Awal mula orang-orang menyangsikan, “Emang kurma bisa tumbuh di Indonesia?” Tapi Ust.Iqbal yakin, bila kurma Allah sebutkan dalam Al-Qur’an sedang Al-Qur’an adalah untuk seluruh ummat di semua Negara, maka kurma pasti juga bisa tumbuh di semua tempat, termasuk Indonesia. Hasilnya, kini kita bisa melihat kurma tumbuh di kebun beliau. Pun saat beliau mendirikan gerai dinar, orang-orang menyangsikanya, tapi kini banyak pengusaha muslim yang mulai menggunakan dinar. Bahkan Ramadhan kemarin beliau harus merelakan hari terakhir i’tikafnya untuk pergi ke Prancis. Untuk apa? Untuk mengambil ilmu tentang sumber peradaban ke-4, bahan baku penciptaan bidadari, yaitu minyak wangi.

Tentang pendidikan di Kuttab Al-Fatih, sekolah dan guru hanya mengambil peran sebanyak 20%, sedang sisanya adalah 20% lingkungan dan 60% orang tua. Dulu di Kuttab Depok ada orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya 2-3 tahun lalu tiba-tiba berkata, “Ustadz, saya cabut anak saya ya, biar saya lanjutkan sendiri di rumah.” Barangkali kalau saya yang berkomentar spontan, “Euleuh, udah ‘nyuri ilmunya’ pergi aja gituh.” Tapi tidak bagi para pengelola Kuttab, mereka bahagia karena memang itulah sebenarnya mimpi besarnya. Para orang tua kembali berilmu dan bisa mendidik anaknya sendiri. Maka sering kali Ust.Ilham beujar kepada asaatidz, “Suatu saat barangkali kita harus rela menganggur dari mengajar.”

Kuttab bukan tempat penitipan, karena pemegang utama tanggung jawab pendidikan tetaplah orang tua. Jangan sampai untuk mengajarkan Al-Fatihah saja diambil alih oleh para ustadz, sedang Al-Fatihah adalah rukun shalat yang akan dibaca anak minimal 17 kali sehari seumur hidupnya. Bayangkan berapa banyak pahalanya. Barangkali nanti ketika anak kita hafidz, ketika ditanya, “Dari siapa kamu hafal Qur’an.” Mereka menjawab, “Dari Ustadz/ah.” Tentu ada rasa sedih yang menyelinap di hati. Tapi jika pun hari ini kita terlambat, semoga nanti cucu kita, putra-putri dari anak kita akan memiliki jawaban berbeda. “Dari mana kamu hafal Qur’an?” “Dari ayah, dari bunda.” Cucu-cucu kita menjadi hafidz/ah dari anak kita sekarang yang kita ikhtiarkan hari ini dibentuk menjadi manusia-manusia bertaqwa.

Tentang menghafal Al-Qur’an, masyaAllah rasanya sekarang sangat banyak orang tua dan keluarga muslim yang menginginkan anaknya menjadi penghafal Qur’an. Bahkan banyak sekolah-sekolah yang menjadikan Al-Qur’an bagian dari pembelajaran atau minimal masuk ke dalam ekstrakulikuler. Ini sudah menjadi tren, alhamdulillah. Namun, di balik kebaikannya yang banyak, syari’ah yang menjadi tren kadang menyimpan kekhawatiran-kekhawatiran. Seperti halnya tren hijab syar’i saat ini. Jika hanya tren, maka yang muncul adalah hijaber, nasyider, bahkan mungkin nanti ada hafidzer atau jenggoter. Inilah mengapa Kuttab seringkali menekankan bahwa lembaga ini bukan lembaga tahfidzul Qur’an, tapi lembaga Iman dan Qur’an. Bukan hanya mampu menghafal 30 juz Al-Quran, namun bagaimana Al-Qur’an menjadi solusi dalam kehidupan.

Kisah Rasulullah di perang Khandaq sedianya mengajarkan kita agar memiliki visi besar, termasuk visi untuk anak kita. Tidak usah ragu, buatlah visi yang besar. Jika menghitung tahun, barangkali anak-anak kita atau mungkin keturunannya akan berada atau menuju pada fase kelima kehidupan ummat ini, yaitu kembalinya khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah. Maka visi bagi mereka adalah, pertama: menjadi generasi pendiri Khilafah. Kedua: menjadi generasi pembuka Roma.

Imam Malik Rahimahullah berkata,“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang membuat baik generasi awalnya.” Maka, untuk menjadi generasi seperti itu, tidak ada cara lain selain kembali kepada bagaimana Rasulullah SAW mendidik para sahabatnya. Oleh karenanya, Kuttab hari ini bukanlah metode baru penemuannya Ust.Budi dan timnya. Beliau-beliau hanya berusaha menggali kembali yang sudah lama terkubur, bagaimana pendidikan pada masa generasi-gerasi umat terdahulu yang jelas-jelas telah melahirkan orang-orang besar bahkan di usia mereka yang masih belia. Oleh karena itu kuttab ini pun diberi nama Al-Fatih, merujuk kepada Muhammad Al-Fatih, yang kita sudah sama-sama tahu bahwa beliau lah yang berhasil membuktikan sabda Rasulullah SAW tentang penaklukan Konstantinopel.

Hal menarik dari kisah hidup Muhammad Al-Fatih adalah tiga tokoh di balik kebesaran beliau. Yaitu, Sultan Murad II, ayahandanya. Ahmad bin Ismail Al-Kurani, guru masa kecilnya, dan Aq Syamsuddin, guru masa dewasanya. Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa peran orang tua itu penting, di samping gurunya. Pun tentang bagaimana kisah Aq Syamsuddin yang senantiasa berdoa di tendanya saat masa-masa penaklukan Konstantinopel, menunjukkan betapa pentingnya doa orang-orang shalih di balik kesuksesan orang besar.

Ilmu sebelum amal. Adab sebelum ilmu. Iman sebelum Quran.

Salah satu hal yang menjadi iklim pembelajaran di Kuttab adalah bagaimana membentuk adab dalam menuntut ilmu. Kita mungkin akan menemui, terutama di kelas Kuttab Awal (Usia 5-7 tahun), bagaimana Ustadz/ah bicara terus sedang anak sudah goyang-goyang bosan, nguap, atau mungkin mukanya sudah membelakangi ustadz. Ini biasa di Kuttab, dan memang untuk permulaan dibiarkan saja. Seperti pengalaman saya kemarin. Sehari dua hari pertama Kayyis di Kuttab, tiap pulang yang dia katakan adalah,”Bosan.” Tapi saya biarkan saja, dimotivasi terus, akhirnya hari ketiga dia mulai senang. Inilah iklim belajar yang ditanamkan di Kuttab, karena terkadang rasa bosan memang akan menghampiri kala belajar, tapi biarlah bosan itu lama-lama bosan menghampiri.

Hal lainnya adalah bagaimana asaatidz menjadi teladan bagi santri, karena hakikatnya sebelum mengambil ilmu, adab lah terlebih dahulu yang akan ditiru. Ada sebuah cerita dari Ust.Ilham. Saat masa awal Kuttab Al-Fatih Depok, ada beberapa ustadz yang belum lulus kuliah dari LIPIA, sesekali ustadz membaca kitab untuk bahan ujian di dalam kelas. Maka para santri merasa heran dan ingin meniru. Akhirnya mereka membuka Al-Quran padahal belum bisa membacanya, bahkan ada yang masih terbalik membukanya, lalu mereka membaca saja surat yang dihafal saking inginnya meniru ustadz.

Akhir kata, Kuttab hadir bukan karena merasa paling atau lebih benar. Tapi Kuttab hadir karena ingin turut menyukseskan pendidikan di negeri ini. Dan seperti motto Kuttab,”Gemilang di Usia Belia”, semoga ini adalah ikhtiar untuk melahirkan anak-anak bertaqwa yang akan gemilang di usia belia seperti para sahabat Rasul, Muhammad Al-Fatih, dan orang-orang besar terdahulu. Bila orang tuanya merasa sudah terlambat, tenaaang, jangan berputus asa, kita pun punya motto, “Gemilang di Sisa Usia.”

WP_20160723_003

Foto pemateri dari jauh, pake kamera hape alakadarnya pula🙂

IMG-20160723-WA0005

Serah terima cambuk dari wali santri kepada kepala Kuttab Al-Fatih Tangsel, Ust.Arpin Abu Khansa . Cambuk itu kemudian akan digantung di dinding Kuttab untuk mengikuti apa yang Rasulullah sampaikan. “Gantungkanlah cambuk di tempat yang mudah dilihat anggota keluarga, karena demikian ini merupakan pendidikan bagi mereka.“(HR. Ath-Thabarani)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s