Posted in Tausyiah dan hikmah

Saat Cinta Diuji

Saat seorang suami jatuh cinta kepada istrinya, maka semua hal yang diminta akan diusahakan untuk dipenuhi sedemikian rupa, tak ada bintang pun tetap diada-adakan, “Ukh, liat deh di atas ada bintang”. Saat sang istri jatuh cinta pada suaminya, maka walau awalnya tak bisa masak akan berikhtiar belajar masak demi menyenangkan suaminya, yah walaupun akhirnya tetap saja masakan pertamanya gosong (eh..jadi curcol).

Begitulah sifat cinta seorang makhluk, berikhtiar sekuat tenaga memenuhi apa yang menyenangkan hati yang dicinta. Namun, jangan sekali-kali kita menyamakan cinta makhluk dan cinta sang Khaliq, karena itu jelas berbeda.Jika kita menyamakan keduanya, maka kita akan terjebak dalam aggapan bahwa saat Allah beri kemudahan maka Allah sedang cinta, dan saat kita diberi ujian maka Allah sedang tak cinta. Itu anggapan salah. Karena sifat cinta Allah bukanlah demikian.

Lalu bagaimana?

Rasulullah SAW menyampaikan dalam sebuah riwayat, bahwa saat Allah mencintai hamba-Nya maka Allah akan mengujinya. JIka hamba itu ridha terhadap ujian Allah, maka Allah pun akan ridha padanya. Tapi jika hamba itu murka, maka Allah lebih murka lagi.

Begitulah hakikat cinta Allah, akan menguji hamba yang dicintai-Nya. Lihatlah contohnya. Siapakah yang paling berat ujiannya di dunia ini? Yaitu para nabi dan rasul yang notabene adalah hamba-hamba pilihan yang Allah cintai..

Lalu mengapa Allah memberikan ujian pada orang beriman? Di sini lah kita harus memahami surat cinta Allah pada hamba-Nya, agar kita tidak bersu’udzon dalam sempitnya hati, namun berbinar kala ujian itu datang..

Dalam kitab Imam Ibnu Qoyyim, Syifa’ al-Alilfi Masail al-Qadha’ wa aI-Qadr, dijelaskan bahwa ada 4 hikmah ujian dari Allah yang harus dipahami:

  1. Allah ingin menghapus dosa-dosa dan maksiat kita kala bodoh dan tergelincir, sehingga kelak Allah ringankan hisab kita

Bersabar adalah suatu amalan yang pahalanya tidak Allah jelaskan berapa jumlah dan besarnya, karena saking besarnya pahala bersabar (QS. Az-Zumar : 10). Tapi jika kita tak pernah diuji, jika semuanya selalu mudah, lalu dari mana pintu kita untuk mendapat pahala kesabaran?

Mari belajar dari kisah nyata yang disampaikan oleh Ust.Oemar Mita tentang keluarga beliau. Beliau menceritakan bahwa dua orang kakaknya adalah penderita Down Syndrome. Yang satu berusia 49 tahun dan yang kedua berusia 42 tahun. Dan selama itu pula kedua kakak Ust.Oemar dirawat oleh kedua orang tuanya. Bayangkan, bila kita yang memiliki anak normal barangkali hanya sampai usia 6 tahun “ meladeni” anak-anak kita, sedangkan kedua orang tua Ust.Oemar harus memandikan, menceboki, memberi makan, menjaga setiap saat kedua anaknya tsb hampir 49 tahun. Saat ibunya ditanya apa tipsnya bisa sesabar itu? Maka ibundanya menjawab, “Kita ini sering taubat tapi belum tentu nasuha, sering beristighfar tapi belum tentu hati kita khusyuk, maka dengan Allah beri ujian, itulah ladang kita bersabar agar dosa kita berguguran. Jika semuanya Allah mudahkan dalam hidup, maka dari pintu mana kita akan meraih pahala bersabar?”

  1. Allah menguji hamba-Nya karena ingin memberi 3 hal istimewa

Kelak saat di padang Mahsyar akan ada dua golongan, yaitu ahlul ‘aafiyah (yang selalu diberi kemudahan) dan ahlul musibah (yang selalu diberi kesulitan). Allah akan memerintahkan malaikat untuk menghisab terlebih dahulu para ahlul musibah. Saat ditimbang maka timbangan ahlul musibah sangat ringan dosanya dikarenakan banyaknya ujian yang menimpa mereka saat di dunia dan kesabaran mereka atas ujian itu. Allah memerintahkan untuk memberikan 3 hal kepada mereka. Satu, ‘aafiyah (kekuatan) untuk mengganti setiap kepayahan dan air mata mereka saat di dunia. Dua, khairan (kebaikan) dan tak ada sesuatu yang lebih baik dari surga. Tiga, manzilah yaitu kedudukan yang tinggi, sehingga para malaikat membangunkan tempat yang sangat tinggi untuk mereka di Surga.

Melihat semua yang diperoleh oleh ahlul musibah, maka para ahlul ‘aafiyah pun berkata, “Ya Allah jika kami tahu bahwa ujianmu di dunia hanya sebentar saja tapi Engkau balas dengan begitu banyak kenikmatan, maka kami memohon kepada Mu hidupkanlah kami lagi dan biarlah cincang-cincang daging kami hingga kecil-kecil, sehingga kami pun mendapatkan nikmat seperti mereka.”

Mari belajar dari seorang ulama besar bernama Abu Qilabah Rahimahullah. Abu Qilabah selalu mengucapkan dzikir, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan aku dengan banyak keistimewaan dari seluruh orang-orang yang lainnya”. Barangkali bila kita mendengar ini kita akan mengira bahwa Abu Qilabah adalah orang yang kaya, tampan, atau kuat. Tetapi tidak. Sesungguhnya Abu Qilabah adalah orang yang miskin lagi sakit-sakitan. Ia buta lagi buntung tangannya. Ia tinggal di sebuah kemah tua dan ditinggalkan oleh keluarganya, dan hanya ditemani seorang anak kecil yang membantunya ketika akan wudlu. Walaupun begitu, dalam dzikirnya ia tetap mengucap syukur, “Alhamdulillah—segala puji bagi Allah.” Mengapa? Karena ia mengerti bahwa ujian bertubi-tubi yang menimpanya adalah untuk meringankan hisabnya di hari akhir. Bahwa dibalik ujian akan datang kenikmatan di Surga.

  1. Allah menguji kita agar kita kembali ingat kepada-Nya

Jika seorang penggali sumur dilempari uang dari atas maka ia akan sibuk memunguti uang tersebut. Tapi saat ia dilempar kerikil dan mengenai kepalanya, maka ia pasti mendongak ke atas, “Siapa sih nih yang seng?” Begitulah kira-kira analoginya.

Terkadang saat Allah beri nikmat, beri kemudahan, kita malah sibuk dengan urusan dunia dan lalai dari mengingat Allah. Namun kala kesulitan datang maka kita seringkali merasakan khusyuk dan nikmat merintih memohon kepada-Nya. Allah Maha Pencemburu kala kita sibuk dengan kenikmatan dan melupakan-Nya.

Aku hanya mengeluhkan keluh kesahku dan rasa letihku kepada Allah”. Itulah ucapan dari Nabiyullah Ya’qub Alaihissalam. Karena saat ujian, itulah saat paling nikmat berduaan dan merintih pada-Nya.

  1. Allah ingin meletihkan kita agar nikmat nanti di akhirat terasa maksimal

Saat kita menahan lapar dan haus kala shaum, maka kita akan merasakan nikmat luar biasa saat berbuka walau hanya dengan segelas air. Saat kita menahan pandangan dan kemaluan, menahan cinta dari yang haram, maka betapa bahagianya kita kala bertemu pasangan jiwa dalam ikatan yang halal.

Mari kita pun belajar dari Ibunda Khadijah Radhiyallahu ‘anhaa. Allah menjanjikan bagi beliau rumah di surga yang terbuat dari batu-batu perhiasan yang indah tak ternilai, juga rumah yang hening. Kenapa Allah menambahkan sifat hening? Untuk menggantikan keramaian rumah beliau saat di dunia karena rumahnya selalu terbuka untuk para sahabat belajar kepada Rasulullah. Maka hikmahnya adalah apapun kesulitan di dunia akan Allah ganti dengan kebaikan yang jauh lebih baik saat di Surga.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah?”(Al-Baqoroh: 214)

Itulah konsekuensi para pemburu Surga. Jalannya sulit  penuh onak dan duri. Maka berhusnudzonlah senantiasa kepada Allah, karena Allah tidak mungkin mendzolimi hamba-Nya.

Bersabarlah..bersabarlah..bersyukurlah..bersyukurlah…

Pengingat untuk diri

 

Tangsel, 24 Ramadhan 1437 H/ 29 Juni 2016

 

 

2 thoughts on “Saat Cinta Diuji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s