Posted in Celotehan

Jama’ah Syar’iyah, Gamisiyah wa Modisiyah..Ada Apa?

Baju..oh..baju..Entah kenapa ini menjadi ujian tersendiri untuk si saya. Saya senang beli baju, sedangkan pak suami masa bodoh urusan baju..hehe..kebalikan. Akhirnya kami saling menyesuaikan, beliau me-rem saya (me-rem anggaran.red) agar tak berlebihan, dan saya membantu beliau untuk tak terlalu cuek dengan penampilan…Namun, kian ke mari saya jadi galau karena membaca tulisan-tulisan yang sedang ngehits tentang jama’ah gamisiyah wal modisiyah (apa lagi tuh?)..Akhirnya saya jadi ngubek-ngubek lagi beberapa buku dan pastinya nodong pak suami untuk minta wejangan..heu..

Apa pasal? Katanya ga boleh beli baju mahal. Beneran deh saya mah ga pernah beli gamis jut-jutan secara ga ada uangnya oge..hehe..Tapi ternyata ada loh gamis harganya jut-jutan. Dan kalau si saya survey harga di instagram, gamis dengan bahan yang sama dan model mirip tapi beda brand, harga nya bisa beraneka ragam..Nah, balik lagi, sebenarnya boleh ga sih pakai baju mahal? Atau boleh ga sih jualan baju mahal kayak OSD sampai ada yang menghujat beliau?

Imam Abu Hanifah adalah seorang tabi’in yang terkenal sebagai saudagar kaya. Bahkan dalam satu kisah, beliau pernah menjual satu baju harganya 20 dinar, kalau dikonversi zaman sekarang setara Rp 40 juta-an. Mahal kan? Bingiits. Beliau pun suka memakai pakaian yang bagus dan memperbagus penampilannya, karena itu salah satu cara menampakkan bekas-bekas nikmat yang telah Allah anugerahkan berupa kelapangan harta. Eitts tapi jangan ditanya betapa dermawannya beliau. Setiap kali beliau memakai baju baru, beliau pun membelikan pakaian untuk orang miskin sebesar harga bajunya. Lalu saya semangat banget tanya sama kangmas, “Berarti boleh dong beli baju mahal?”..Beliau cuma jawab, “Boleh, tapi akan jadi haram kalau niatnya untuk pamer.” “Iya kah?”..”Iyaaa, karena ujub, sombong adalah dosa..” Saya masih ngotot, “Apa bedanya pamer dengan niat menunjukkan nikmat Allah seperti Abu Hanifah?”…Kangmas jawab lagi, “Innamal a’malu binniyaat…”..Eh istrinya masih ngeyel, “Tapi kan hati kita bergerak-gerak, susah ..”…”Ya udah, kalau tidak yakin, lebih baik memakai yang sewajarnya saja. Berpakaian sederhana. InsyaAllah itu lebih selamat.” Akhirnya si saya diam…krik…

Tapi beneran deh, urusan baju saja ujiannya tetap ada. Perasaan ingin pamer, ingin dipuji, sikap sombong, dsb. Bukan hanya tentang baju bagus atau mahal. Bahkan merupakan salah satu talbis iblis (jebakan iblis) terhadap orang yang memakai pakaian yang serba bertambal-tambal tapi niatnya karena ingin dipuji, ingin disebut sebagai orang zuhud, dll…Astaghfirullah…

Nah, masalah lainnya muncul kala pakai gamis syar’i tapi malah jadi modis, makin kece, dll..Bukan saya sih yang kece, da saya mah apa atuh, dipuji cantik sama suami seorang saja udah bersyukur, hehe..Hal ini membuat saya pengen ngereview lagi kitab shahih fiqh sunnah, jangan-jangan selama ini saya pun masih salah-salah..

Oke, mari kita review. Apa saja sih syarat pakaian muslimah?

  1. Menutupi seluruh tubuh (QS. An-Nur : 31, Al-Ahzab : 59)

Adapun terdapat perbedaan pendapat adalah tentang menutup wajah dan kedua telapak tangan. Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, dan dua-duanya memiliki dasar dalil. Namun, ulama yang tidak mewajibkan menutup wajah tetap beranggapan bahwa menutup wajah di zaman fitnah ini jauh lebih baik. Duuh yang ini mah nyepet si saya banget..

  1. Tebal, tidak tipis atau nerawang
  2. Longgar, tidak ketat sehingga tidak membentuk lekuk tubuh
  3. Tidak membubuhi parfum atau minyak wangi
  4. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
  5. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
  6. Pakaian itu bukan perhiasan dengan sendirinya

Tabarruj ialah wanita menampakkan perhiasannya, keindahannya dan apa saja yang ditutupi yang dapat memancing syahwat lelaki. Tujuan berjilbab adalah menutupi perhiasan, sehingga tidak masuk akal jika jilbab itu sendiri malah jadi perhiasan.

  1. Bukan pakaian syuhrah (menarik perhatian)

Ini yang kadang bikin saya bingung. Saya sering melihat selebgram muslimah dengan pakaian syar’i namun malah terlihat makin cantik. Kadang saya pikir, gimana lagi udah cantik dari sananya. hehe..Makanya dulu saat ngobrol sama suami saya, dia hanya akan komentar, “Ya sudah, bercadarlah” Atau, “Makanya perintah itu bukan hanya menutup aurat tapi juga menundukkan pandangan. Laki-laki harus menundukkan pandangan, tapi wanita selain menutup aurat juga bantulah para lelaki untuk menundukkan pandangan mereka dengan tidak upload-upload foto di medsos.” Saya pun ngotot, “Tapi kan di kehidupan sehari-hari juga ada, bahkan pakaiannya sudah gelap tapi tetep weh cantik”. Maka si dia pun menyerah,” Yah mau gimana lagi..”kkkkkk….

Lain lagi urusan warna pakaian. Sejak menikah dengan kangmas maka terlarang bagi saya memakai baju atau kerudung pink ke luar rumah. Awalnya saya tak terima. Kenapa? Tapi dia bilang saya terlalu cantik kalau pakai warna itu, huehue..akhirnya nurut karena hidungnya udah terbang duluan.

Tapi sebenarnya boleh ga sih pakai baju warna-warni?

Parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tersembunyi baunya”. (HR Tirmidzi dan Abu Daud, hadits Hasan). Jika merujuk pada hadits ini dan beberapa hadits lain, maka sebenarnya boleh memakai pakaian berwarna selain warna hitam juga pakaian yang bermotif. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pakaian berwarna hitam atau gelap adalah lebih baik dan lebih menutup aurat, sebagaimana pakaiannya para ummul mukminin.

Lalu yang seperti apakah pakaian yang menjadi perhiasan? Dalam buku ini dicontohkan dengan pakaian yang mencolok atau yang memiliki bordiran atau hiasan yang dapat memalingkan mata padanya. Kalau zaman sekarang lebih banyak lagi contohnya. Jadi sebenarnya ini bisa dilihat dan ditimbang-timbang sendiri oleh pemakainya. Apakah pakaian yang ia kenakan termasuk perhiasan atau tidak? Menarik mata untuk memandang atau tidak? Makin bikin orang terpukau atau tidak?

Nah, poin lain yang terkadang dilupakan muslimah terutama yang sudah menikah, termasuk si saya, adalah lupa untuk senantiasa berhias di hadapan suaminya. Ada anekdot lucu. “Kalau pergi ke luar rumah bagai biduan, tapi di dalam rumah depan suami seperti biduran”. Di rumah senantiasa dasteran kadang juga bau dapur, tapi keluar rumah memilih pakaian terbaik. Sebagai ibu rumah tangga, saya mengalaminya setiap hari, memang sulit, namanya juga ibadah pasti sulit, lah wong pahalanya besar. Tapi ini bukan hal yang mustahil. Saya belajar mempraktekkannya sedikit-sedikit. Dimulai dari selalu meminta pendapat suami kala membeli pakaian, “Mau warna apa? Yang begini bagus tidak? Boleh dipakai ke luar rumah atau tidak?” Kadang-kadang kalau ada uang lebih, saya akan membedakan pakaian untuk di dalam rumah dan luar rumah. Jika di luar rumah tidak pakai pink, maka di dalam rumah berpink-pink…kkkkk…

Sebagai penutup…

Zaman dahulu kala, pertama saya mengenal khimar lebar, gamis longgar, tatkala saya mulai aktif di rohis SMA awal tahun 2000-an. Itu pun karena ikut-ikutan senior. Ih si teteh anggun ya pakai kerudung lebar, lalu mulailah saya meniru mereka. Sejarah pakai kaos kaki? Wah, lebih absurb lagi. Saat itu saya melihat teteh-teteh rohis kalau selesai wudlu (kebetulan hijab tempat wudlu akhwat menuju ke dalam mushola belum selesai dibuat) heboh ngumpetin kaki mereka, kemudian jongkok di pojokan untuk pakai kaos kaki dulu, lalu itu pun akhirnya saya tiru. Benar-benar peniru. Kemudian pelan-pelan saya diajak ngaji, belajar lagi, dan begitu seterusnya.

Maksud saya, setiap orang mengalami prosesnya masing-masing dalam menuju kebaikan dan perbaikan diri. Taruhlah sekarang ada yang mengatakan bahwa sebagian muslimah mengenakan hijab syar’i hanya sebagai fashion, menurut saya yang fakir ilmu, itu masih jauh lebih baik dibanding berpakaian terbuka. Namun, yang namanya proses harus tetap berjalan. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW, bahwa orang yang rugi adalah orang yang hari ini sama dengan kemarin, bahkan celaka jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Inilah tugas para juru dakwah, mengajak para muslimah untuk terus melakukan perbaikan, menuntut ilmu, dst.

Semoga saya dan muslimah yang telah Allah beri karunia untuk bisa menutup aurat tidak puas berhenti sampai di situ, tidak tergoda untuk lebih tertarik mengoleksi pakaiannya saja, tapi menjadi semangat memperbaiki ibadah, memperbanyak amalan sunnah, memperbanyak sedekah, dan semakin semangat untuk tholabul ‘ilmi. Dan semoga muslimah yang belum menutup aurat bisa menutup aurat mereka dengan lebih baik.Aamiin.

PR kita banyak ya Sist..🙂

Wallahu a’lam bishshowaaab…

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s