Posted in Celotehan

Ada (kah) Musik di Hatiku?

Hari ini saya mau menuliskan tentang musik. Oke, kita garis bawahi dulu ya bahwa menyanyi dan musik adalah dua hal yang berbeda. Menyanyi tidak selalu pakai alat musik. Yang terdapat perbedaan pendapat dalam fiqh adalah tentang musik. Ada ulama yang mengharamkan musik (bisa dicek haditsnya) dan ada yang tidak mengharamkan namun bersyarat. Ingat, bersyarat loh. Tapi, da saya mah apa atuh bukan ustadzah apalagi ahli fiqh, saya mau cerita tentang pengalaman pribadi saja.

Saya dulu senang menyanyi. Namanya juga orang, pasti ada saja pedenya, padahal mah mungkin bagi yang ngedenger, suara saya ini ga bagus-bagus amat. Yah walaupun begitu, gini-gini juga dulu saya juara nasyid tingkat RW..huff, dan mantan personil paduan suara saat perpisahan tsanawiyah..euleuh malah berbangga deuih..

Makin bertambah usia, saya mulai meningalkan aktivitas nyanyi-nyanyian, apalagi nyanyi di kamar mandi. Selain karena makin sibuk (uhuuk) juga karena merasa suara saya makin ga enak didengar. Tapi sebenarnya alasan utama bukan itu. Alasannya adalah saya terlalu cepat ketika menangkap dan menghafal lagu-laguan dibanding menghafal Al-Qur’an. Malunya ga ketulungan. Menghafal Al-Qur’an mah masuknya susah hilangnya gampang. Kalau lagu-laguan, masuknya mudah keluarnya susah pake banget. Begitulah kira-kira.

Apalagi setelah menikah dengan pak suami, beliau ternyata orang yang benar-benar tidak suka nyanyi apalagi musik. Kata beliau yang sebenarnya ngutip perkataan Ibnu Qoyyim, “Musik dan Al-Qur’an menempati tempat yang sama di hati. Jadi jika musik yang masuk maka Al-Qur’an lah yang pergi.” Pernah ga kita mendengar suara tilawah qori yang merdu banget sampai kita menangis? Dan pernah juga ga kita dengerin lagu yang kayaknya memang lagi cocok sama suasana hati sampai menangis juga? Nah, itu lah. Musik dan bacaan Qur’an sama-sama punya irama. Bahayanya, jika musik yang merusak makin enak makin membuat hati nge-fly. Itulah musik yang melalaikan, bahkan ada juga musik yang menjurus kepada maksiat.

Oke, kembali lagi, da ceritanya oge mau ngobrolin kisah diri aja (pede banget). Waktu awal nikah dan tinggal di rumah yang dempet banget sama tetangga, kebetulan saat itu dapat tetangga yang suka sekali kalau pulang malam lanjut nyalain musik dangdut ajep-ajep yang isinya ngawur bahkan seronok. Duh pengen nangis guling-guling si saya apalagi saat itu sedang hamil. Bayi walaupun dalam kandungan indra pendengarannya sudah berfungsi. Alhasil, walaupun keliatannya jadi kayak lomba kenceng-kencengan, saya tutup suara ajep-ajep itu dengan murottal.

Pengalaman lain, karena faktor usia dan faktor banyak dosa barangkali, saat mendengar lagu yang enakan dikit, lagu itu akan terus terngiang-ngiang bahkan kebawa saat tidur. Ini baru bisa hilang saat ada saingannya, yaitu dengan sering memutar murottal. Sungguh, bukan karena si saya sudah sholeh tapi karena jiwa yang masih kotor sehingga saya merasa perlu untuk beberesih.

Salah seorang Qori favorit saya dan keluarga, Syaikh Missairi, dikenal pula sebagai nasyider. Tapi bahkan beliau pun berkata, “Coba cek saja, adakah satu saja dari nasyid saya yang menggunakan alat musik? Tidak ada sama sekali.” Pun salah seorang imam masjidil haram pernah berkata, “Saya tidak mengharamkan musik, tapi saya tidak pernah sekali pun mendengarkan musik.”

Intinya, ini bukan masalah mau memperdebatkan halal dan haramnya hukum musik. Namun, bagi beliau-beliau saja yang ilmu dan keshalihannya luar biasa, sangat bersikap hati-hati dalam hal ini, apatah lagi saya yang ,duh, masih amburadul tea.

Saya punya seorang teman, masyaAllah hafalannya luar biasa. Saya dibandingin beliau mah kayak semut sama gajah, pasti saya lah yang jadi semutnya. Namun beliau masih suka mendengarkan nasyid-nasyid yang ada iringan musiknya. Beberapa kawan lain heran, kok bisa? Berarti ga masalah dong musik sama Al-Qur’an? Namun bagi saya logikanya harus diubah. Masih dengar musik saja hafalannya sudah banyak, apalagi kalau menjauhi musik, barangkali sebulan ke depan hafalannya sudah khatam.

Sebenarnya terkait hafalan Al-Qur’an masih banyak pembahasannya, bukan cuma tentang musuhnya yaitu musik. InsyaAllah disambung kemudian.

Ayo Wulan jangan cuma bisa ngomong dan nulis, tapi praktekkan!!!

Wallahu a’lam.

 

 

2 thoughts on “Ada (kah) Musik di Hatiku?

  1. Ayo nengWul… semangat ngapain Qur’an *getokpalasendiri*

    Baru aja kemarin ngobrolin sama suami… Tentang lagu/nyanyian yang masuk ke alam bawah sadar… Gara gara kalau nelepon ke Muti ada nada sambungnya (duh padahal mah ga pernah dengan sengaja pasang begituan). Alhasil suami sering mendendangkan nada sambungnya Muti… dan kemudian tersadar

    “Bahaya juga ya lagu teh”

    Dan setelah dipikir pikir iya juga, sekalipun itu adalah nasyid. Yang muti rasain, pertama denger oke keren banget bahkan bisa mewek mewek karena lirik yang aduhai dan musik yang syahdu , tapi karena sering diperdengarkan dan dinyanyikan, akhirnya kaya reflek aja nyanyiin itu lagu, yang sayangnya kali ini tanpa makna…. Hiks.

    Jadi akhirnya mah memang harus sadar diri, sampai di titik mana itu bisa melalaikan tanpa makna… Hiks. Ai ngapalin quran meni susah… padahal Allah yang menanamkan hapalan itu di hati, saat Ia menghendaki orang terpilihnya untuk menjadi ‘sang penjaga’. HUAAA… ini ceritanya nebeng curcol dan numpang look in… harus banyak yang dibenahi agar termasuk menjadi orang terpilih😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s