Posted in Tausyiah dan hikmah

Ada Apa dengan Usia 40?

Saat ditanya tentang usia 40 tahun , apa kira-kira yang kebanyakan orang pikirkan? Saya tebak, jawabannya adalah PUBER KEDUA. Eitsss tapi saya ga minat bahas itu, nanti belum-belum saya udah baper..huikkkss..

Usia 40 tahun adalah satu-satunya usia yang Allah sebutkan secara eksplisit di dalam AlQur’an yaitu dalam surat AlAhqaaf : 15..Tentu bila Allah menempatkannya begitu spesial, pasti memang ada yang spesial dengan usia tersebut. Namun tentu saja usia 40 tahun yang dimaksud adalah dalam hitungan hijriyah, yang bila dikonversi setara dengan 38 tahun usia masehi.

Usia 40 tahun adalah usia kematangan manusia, bahkan Rasulullah pun diangkat menjadi Rasul pada usia tersebut. Jika dalam masyarakat kita saat ini, biasanya pada usia inilah puncak karir seseorang, puncak nikmat harta walaupun tak selalu demikian. Namun terlepas dari anggapan itu, sebenarnya usia 40 tahun adalah sebuah terminal untuk kita berhenti sejenak, memuhasabah perjalanan hidup sekian tahun yang terlalui. Sudahkan diisi dengan ibadah kepada-Nya atau malah maksiat yang menggunung?

Bila seorang hamba Allah beri kesempatan sampai di usia ini, maka seharusnya ia segera bertaubat, semakin bersyukur, dan memperbanyak amal shalih. Dalam surat AlAhqaaf : 15 Allah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang kurang lebih artinya,” Ya Tuhanku berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebaikan yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau dam sungguh aku termasuk orang muslim.”

Apa hikmahnya?
1. Syukur. Seharusnya di usia tersebut yang katanya adalah puncak kematangan dan puncak nikmat, seorang hamba memuhasabah dirinya apakah ia sudah pandai bersyukur atau malah masih tetap berkeluh kesah.

2. Orang tua dan keturunan. Di usia ini pada umumnya orang sedang dalam puncak karir dan puncak kesibukan hingga ia lupa berbakti kepada orangtua nya yang semakin lanjut usia. Pun ia lupa pada anak-anak yang kalau dihitung rata-rata usia menikah zaman sekarang, anak-anaknya berada di usia menjelang atau baru baligh. Tentu mendidik anak usia ini jauh lebih berat tapi kebanyakan malah sering abai.

3. Beramal shalih dan bertaubat. Inilah sesungguhnya hikmah yang paling besar. Usia 40 adalah pengingat,” Hei maut sebentar lagi”. Maka teramat keliru bila usia ini menjadi pembenaran untuk tebar pesona sana-sini, bergenit-genit seperti lirik sebuah lagu, “tua-tua keladi makin tua makin jadi”. Usia ini harusnya menjadi puncak spiritualitas kita untuk semakin mendekat kepada Rabb pencipta alam semesta.

Apakah ini hasil pemikiran saya? Tentu bukan. Ini hanya rangkuman sebagai pengingat diri utamanya, hasil lihat kajian Ust.Syafiq Riza Basalamah dan Ust.Budi Ashari dengan tema yang sama namun acara berbeda.

Wallahu Ta’ala A’lam

Yaa Allah bimbinglah kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s