Posted in Kayyisah

KAYYISAH (Menuju 5 Tahun…)

Si kakak..yeaayy akhirnya dia mau juga ganti panggilan…Bulan Sya’ban besok usianya akan genap 5 tahun..Di usianya yang ke-5 dia sudah menjadi kakak dan bersiap masuk Kuttab..

Dengan usianya yang semakin besar, tingkahnya pun makin beragam, keinginannya pun makin macam-macam..Tapi saya selalu diingatkan abinya, “Lihat Kayyis itu kakak yang sangat baik”. Saya pun tidak memungkirinya, dia memang sangat baik. Alhamdulillah..Dan yang cukup sukses mengisi ulang cinta saya pada Kayyis adalah ketika membuka kumpulan foto dan videonya dari masa ke masa..Saya bahkan baru sadar betapa lucunya dia saat kecil..Saya baru sadar kenapa teman dan murid saya dulu sangat menyukai Kayyis..Gajah di pelupuk mata memang tidak kentara..ehh..maksudnya nikmat yang besar memang tidak terasa jika kita tak pandai bersyukur..

Saya ingat saat pertama kali Kayyis masuk Play Group di usia 3 tahun, jangankan bercerita, menyusun kalimat pun susah. Jangankan menyusun kalimat, menyebut kata per kata pun belum jelas..Dia memanggil ustadzah dengan sutahah. Menyebut bunga dengan buap..

Sekarang? Bahkan setiap harinya saya tidak tahu apakah dia bisa berhenti berbicara kecuali saat tidur.. Dia terus saja berbicara sampai kadang saya katakan padanya,”Yis coba diam ya Nak.” Iya sih diam tapi bibirnya tetap bergerak..Ada saatnya nanti kami pelan-pelan mengajarinya adab termasuk adab untuk tidak terlalu banyak bicara..Tapi bagaimana pun dia adalah anak-anak..

Lalu bagaimana dengan aktifitas fisiknya? Tak beda jauh dengan ngomongnya. Tak ada capenya. Yang lucu adalah saat dia jadwal muroja’ah dan ziyadah hafalan. Saya yang harus pelan-pelan mengenalkan adab pada AlQuran kadang merasa serba salah. Sering kali saat muroja’ah dia sambil lari-lari, salto bahkan kayang. Tangannya? Jangan ditanya.Apa saja yang bisa ia raih dan mainkan ia mainkan. Sempat suatu hari saya jengkel akhirnya semua mainan yang ia pegang saya ambil. Tapi dengan tangan kosong nampaknya dia tak tahan, akhirnya seprei pun ia tarik-tarik. Hmm..Bagaimana pun ia adalah anak-anak…

Hari ini saya tiba-tiba menggalau. Saya tiba-tiba gelisah tatkala melihat share para ayah bunda sesama wali santri. MasyaAllah putra-putri beliau- beliau ini luar biasa. Hafalan Qur’annya sudah banyak yang melenggang jauh sekali. Tetiba saya jadi berfikir, kemana dan ngapain saja saya selama ini… Tapi tiba-tiba saya pun khawatir semangat fastabiqul khairat saya berubah halauan..Tak ubahnya dengan orang tua yang memforsir anaknya dalam berbagai kompetisi yang belum tepat waktunya. Saya khawatir semangat fastabiqul khairat saya berubah menjadi ajang saya berburu kebanggaan di hadapan manusia..Astaghfirullah..Namun abinya Kayyis akhirnya memberi wejangan,”Mi yang penting itu istiqomah karena itu yang mahal. Pelan-pelan saja.” Kalimat singkat tapi cukup menghilangkan kegalauan saya..

Satu hal yang sangat kami sadari, Kayyis sangat bergantung pada pembiasaan. Ini yang membuat kami harus sangat hati-hati, sekali kebiasaan buruk dimulai ia akan mengingatnya. Begitu pun saat mulai meninggalkan kebiasaan baik, awal mula ia protes tapi lama-lama ia pun lupa..

Allahummaj’al waladatii waladatan shaalihatan…

Yaa Allah bimbinglah kami..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s