Posted in Aghniya

Bidadari Kedua Kami: AGHNIYA MARYAM ZANKY

Sejak mengandung hingga melahirkannya, rasanya belum satu pun tulisan yang saya buat untuk si dia…

Bidadari kami yang kedua..Bersama dengan kehadirannya dalam rahim saya, maka dengan itu pula Allah mulai menunjukkan kejutan-Nya yang lain satu per satu..’Alaa kulli haal Alhamdulillah..

Kisah kelahiran

Jarak 4,5 tahun dengan kakaknya membuat saya serba lupa bagaimana teori-teori kehamilan apalagi persalinan. Tapi cerita kehamilan yang kedua ini tidak jauh beda dengan kakaknya. Menjalani trimester pertama yang luar biasa dan harus jauh dari suami di bulan terakhir kehamilan.

Sebenarnya perkiraan due date tanggal 22 Januari , tapi efek abinya yang kayak bang Toyyib nggak pulang-pulang , akhirnya diam-diam saya berharap kepada Allah bisa melahirkan lebih cepat. Antara ingin dengan malu sebenarnya sama Allah, akhirnya berdoa pun jadi malu-malu..

Jum’at, 15 Januari

Sejak subuh ternyata si bloody show sudah muncul. Dulu saat persalinan Kayyis, jarak dari bloody show muncul hingga melahirkan hanya 14 jam. Dag dig dug tidak menyangka majunya secepat ini, apalagi kalau langsung melahirkan hari itu dipastikan tidak akan ditemani abinya. Akhirnya saya ajak ngobrol si adek bolak-balik, “De, kalau abi datang ade lahir ya.” Ternyata masyaAllah ditunggu-tunggu kontraksi tak kunjung muncul hari itu. Saya jadi bingung sendiri, akhirnya saya bolak-balik baca mbah Google, tanya teh Muthi juga Lala. Intinya jawabannya sama, tenaaang insyaAllah sebentar lagi..

Sabtu, 16 Januari

Karena kontraksi palsu sudah sangat sering terasa, akhirnya saya lupa bagaimana sebenarnya rasa kontraksi yang sesungguhnya. Ditunggu-tunggu sampai sore, mules yang katanya luar biasa itu tak kunjung pula datang, sama dengan si abi yang belum juga kunjung datang,,hehe..teteep curcol..

Ba’da maghrib, mulai nih ada mules-mules yang agak beda dari biasanya. Saya masih tetap meraba-raba rasanya. Ba’da isya mulai semakin nikmat, tapi saya masih kuat dan sempat nyatat rentang dan lama tiap mules itu datang.

Jam 10 malam akhirnya saya putuskan untuk memberi tahu keluarga kalau saya sudah mulai merasakan mules, walaupun ketika ditanya ,”Mulesnya gimana Teh?” “Udah berapa menit sekali Teh?” Saya cuma bisa nyengir ,”Ga tau atuh,ini bukan ya mules mau ngelahirin teh”heu…

Nyampe ke tempat bu bidan ternyata baru pembukan satu itu pun masih sempit. Duuh persis kejadian Kayyis dulu, apalagi bu bidannya sama pula. Saya pun disuruh pulang isirahat di rumah. Tapi ada yang saya ingat dari kata-katanya bu bidan saat itu yang mungkin bisa dijadikan pegangan kalau lupa rasa mules saat hamil lagi nanti (insyaAllah aamiin), “Kalau masih bisa senyum kayak gini nih, berarti belum mantap mulesnya”..hehe..

Jam 11 malam Alhamdulillah abinya akhirnya datang, dan dengan itu pula si mulas yang mulai mendahsyat ikutan datang..Duh beneran nungguin bapake nih anak..Dipaksa-paksa tidur tetep ga mau tidur. Tiap mulas datang saya pegangin tangan abinya yang lagi tidur kenceng-kenceng..

Ahad, 17 Januari

Menjelang subuh rasanya saya sudah mulai mengenali si mules yang mantap ini. Akhirnya ba’da subuh saya kembali ke tempat bidan, eh Kayyis ikutan pula. Tapi subhanallah, saya kira ini udah mules yang paling mantap, tapi ternyata baru pembukaan dua. Ini nih yang bikin saya berkerut-kerut, karena kan katanya  anak kedua dst biasanya lebih cepet dari yang pertama, tapi pada akhirnya Allah lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu..

Setelah cek pembukaan saya masih kuat jalan bolak-balik, walau tiap si mules datang saya terpaksa duduk dulu. Kesalahan saya saat itu adalah saya menuruti tidak seleranya saya untuk makan pagi itu, padahal malam harinya saya pun tak tidur sama sekali..Efeknya lemes luar biasa..

Jam 6 pagi tingkatan mulesnya makin luar biasa. Alhamdulillah merasakan juga ditemani suami saat-saat seperti itu, walau sebenarnya kasian lihat si dia yang sehari sebelumnya habis lari 4 keliling lapangan bola dan kurang istirahat pula.Tiap mules datang saya minta dia untuk pijit punggung dan pinggang. Begitu terus bolak-balik. Alhamdulillah juga ada keluarga yang luar biasa mensupport, menjaga dan merawat, ada bi Ati , ibu Nunung..Jazaakumullah khair..Ini salah satu bedanya kelahiran Kayyis dan adeknya. Saat melahirkan Kayyis saya hanya sendiri di ruang bersalin RSUD yang dingin ditemani erangan ibu-ibu lain yang juga akan melahirkan.

Periksa lagi jam 6.30 ternyata baru pembukaan 4. MasyaAllah saya baru merasakan waktu begitu lama berjalan, sama lamanya ketika saya harus menunggu ketemu abinya anak-anak..hehe..Tapi setelah pemeriksaan terakhir itu, rasa mulas sudah makin nggak karuan. Yang ini nih saya beneran ingat. Ga salah lagi, inilah mulas mau melahirkan itu.

Jam 8 akhirnya saya pindah ke ruang bersalin. Ini pula saat paling tak diduga oleh saya.Tidak seperti saat melahirkan Kayyis yang sangat teratur mengikuti instruksi. Yang ini, semua teori persalinan tiba-tiba hilang dari ingatan. Bagaimana harusnya memposisikan tubuh, bagaimana harusnya mengatur nafas, paling parah adalah saya lupa bagaimana cara mengejan yang benar. Kata keluarga yang nunggu di luar, kenapa katanya si saya jadi kayak orang ngelahirin di sinetron..

Saat proses ini ada kejadian yang tak akan saya lupa, di mana saya harus mengalami masa yang membahayakan untuk si kecil, karena si tengah ikhtiar saya mengejan, tenaga saya benar-benar habis saat badan si kecil baru keluar sampai pundak. Sambil mengejan saya harus minum teh manis bolak-balik, Subhanallah…Bahkan tak seperti kakaknya yang dilahirkan hanya dengan dua kali mengejan, langsung lompat dan langsung nangis jerit-jerit, adiknya harus dibantu keluar pelan-pelan oleh bidan dan tidak langsung nangis saat keluar, sampai bu bidan panik sendiri..

Jam 8.30 tanggal 7 Rabiul Tsani 1437 H/ 17 Januari 2016 si kecil pun Alhamdulillah selamat lahir ke dunia ini dengan berat badan 3,4 kg dan panjang badan 50 cm. Setelah semua terlewati, rasanya entah seperti apa. Kaget , takut, lega, bahagia, campur aduk jadi satu. Saat ia diberikan kepada saya, saya ucapkan maaf padanya berkali-kali. Tanpa pertolongan dan kekuasaan Allah entah seperti apa jadinya..Alhamdulillah..Alhamdulillah..

Teori lainnya yang juga gagal saya lakukan saat persalinan adalah, “Saat persalinan biarkan suami melihat bagaimana perjuangan seorang istri melahirkan, agar dia tahu bagaimana caranya mencintai dan setia pada istrinya”haha lebay ya..Entah kenapa saat kemarin bu bidan nawarin saya ditemani abinya saya malah ga mau, saya lebih memilih ditemani tante saya, bi Ati. Udah gitu katanya saat saya sedang proses melahirkan abinya memang sempet masuk ke dalam tapi keluar lagi karena lihat darah..hadeeeh..

Yang tak kalah menakjubkan adalah kehadiran Kayyis. Sebelumnya saya tidak merencanakan bahkan membayangkan pun tidak akan ditemani Kayyis saat persalinan. Dia sangat excited saat adeknya lahir. Dengar dari luar ada tangisan bayi dia langsung girang, “Itu adeknya Kayyis udah keluar yah.” Saat saya IMD pun tak henti-hentinya dia takjub melihat adeknya, dia tatapi, dia toel-toel adeknya..

Tentang Nama

Ini juga nih teganya kami sama si adek. Entah kenapa nyari nama si adek teh susahnya luar biasa, padahal sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari saya nyari, tetep weh ga dapet-dapet. Bolak-balik buka kamus bahasa Arab akibat kemampuan bahasa Arab yang pas-pasan. Saking cintanya sama nama KAYYISAH dan gagal move on, saya sampai mau cari nama dari turunan kata yang sama dengan Kayyisah..

Setelah persalinan, ketika ditanya nama nih anak dan belum bisa jawab, haduuh habis saya diomeli para sesepuh keluarga. Iya juga sih, walaupun sebenarnya ada hadits shahih yang menyunnahkan pemberian nama di hari ke-7 saat aqiqohnya, tapi tetep aja keliatannya keterlaluan banget belum nyiapin nama..

Eitts, sebenarnya nama belakang sih sudah siap dari jauh hari saat dokter memprediksi bayi ini perempuan lagi..MARYAM ZANKY..Yup, kami gagal move on dari nama MARYAM, wanita terbaik sepanjang zaman yang namanya diabadikan Allah dalam Al-Qur’an. Salah satu dari empat wanita terbaik di dunia dan di surga. Wanita yang berkhidmat kepada Allah lagi menjaga kesuciannya. Kami berharap ketika putri kami mengingat namanya, maka dia ingat harus seperti apa dia menjalani hidupnya di tengah akhir zaman ini.

ZANKY..Nama ini kami ambil dari seorang tokoh muslim luar biasa yang mungkin kurang populer bagi sebagian orang, Nuruddin Mahmud Zanky. Sosok inspiratif sekaligus guru bagi sang pembebas Al-Aqsha, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi. Seorang pemimpin adil yang bahkan sebagian ahli sejarah menyematkan julukan khalifah rasyidah ke-6 karena keadilan dan ketaqwaannya.

Daan akhirnya nama depan si adek pun didapat setelah teman kantor abinya yang juga adalah sahabat saya mengingatkan, “Kenapa ga agniya aja Bib? Itu kan nama YM nya Wulan waktu kuliah”..Akhirnya si abi pun ngecek kamusnya..Ditemukanlah kata itu yang sebenarnya bentuk jamak dari kata “GHANIYYUN” artinya yang kaya..Dengan nama ini,  tersemat doa dari kami agar Allah mencukupkan baginya amal, ilmu, dan harta yang berlimpah lagi barokah..

Bidadari kami yang kedua…

AGHNIYA MARYAM ZANKY

Semoga Allah memberi kekuatan dan kemampuan kepada ummi dan abi untuk menjaga, merawat, terlebih mendidikmu..

Memberi kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk meneladani Rasulullah, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran..Aamiin

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s