Posted in Episode Mengajar

“Mengapa Nasihat Kami seperti Tak Berbekas..?”

Anak-anak tuh yah punya masalah kita tangisin, sakit kita kelonin, tapi kenapa setelah nggak di sini kayaknya nasihat kita ga ada yang nempel sedikit pun”, kira-kira begitulah curahan hati kawan saya sesama guru..

==========

Setelah lebih dari dua tahun bergelut di dunia pendidikan, saya sangat menyadari bahwa menjadi seorang pendidik ternyata tak semudah yang saya bayangkan dulu..Nikmat? Alhamdulillah, tapi ilmu yang dibutuhkan luar biasa..Bukan hanya ilmu tentang strategi pembelajaran, tapi terlebih adalah ilmu “menyentuh hati” dan ilmu ikhlas…

Rupa-rupa fenomena yang nampak..Ada yang menyejukkan hati, ada yang terkadang membuat miris dan sedih..Sesekali saya berselancar di media sosial, menengok pesbuknya anak-anak saya..Ada kalanya saya membaca status mereka yang menggetarkan hati, berbicara tentang hafalan Al-Qur’an, semangat menjaga izzah, tauhid, hingga jihad..Tapi tak jarang saya harus melihat sosok-sosok yang dulu anggun menjulurkan khimarnya hingga menutup dada, perlahan mulai memendekannya..Ia yang dulu di pondok tangannya tak lepas dari Al-Qur’an, tiba-tiba berfoto gaya dengan bukan mahram, menulis status galau, dan sejenisnya…

Maka, pertanyaan tadi muncul kembali, “Kenapa nasihat kami seperti tak ada yang berbekas?”…

Cermin pertama adalah diri…Barangkali, saya yang lisannya tiap hari menasihati, sesungguhnya hatinya belum lurus dan ikhlas, atau bahkan belum muncul sebagai teladan, hingga apa yang keluar dari lisan seperti anak panah yang melesat begitu saja tak mengenai sasaran…Maka, kami harus selalu memperbaiki diri, memohon ampun, memohon pertolongan sang Maha Pemberi Hidayah dan pembolak-balik hati..

Yang kedua adalah tidak bisa dipungkiri bahwa dalam mendidik anak setidaknya ada tiga unsur yang menentukan..Lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan pergaulan…Ada kalanya lingkungan sekolah sudah ma’ruf, begitu Islami, tapi ternyata ketika di rumah atau di lingkungan pertemanan masih belum ma’ruf, maka kemungkinan si anak terpengaruh hal negatif masih besar, begitu pun sebaliknya…Hakikatnya, keburukan itu akan lebih cepat menular dibanding kebaikan..Jika penularan kebaikan bak barisan aritmatika 2,4,6,8,10..begitu lambat, maka penularan keburukan bak barisan geometri 2,4,8,16,32..cepat sekali tumbuhnya…Maka penting bagi sekolah, terutama sekolah Islam, untuk berjalan seiringan dan satu pemahaman dengan orang tua dalam mendidik anak-anak..

Adapun hal paling penting dan tak boleh terlewat adalah do’a…Jika kita membaca lebih dalam shiroh Rasulullah dan para sahabtnya, maka akan banyak didapati bagaimana contoh Rasulullah mentarbiyah generasi terbaiknya, salah satunya adalah dengan mendo’akan, seperti ucapan beliau “Semoga Allah merahmatimu”..Do’a kala sunyi maupun terang-terangan adalah senjata seorang guru..Masih ingatkah kisah Imam besar Masjidil Haram, As-Sudais? Masyhur kisahnya bagaimana kala kecil dulu ia termasuk anak yang aktif sekali, hingga kadang membuat ibundanya jengkel..Tapi sang ibu tak pernah mengeluarkan cacian kasar kala kesal selain berkata, “Pergilah kau jadi imam masjid haram”..Itulah ucapan yang menjadi do’a..Saya sangat terinspirasi dengan kisah tersebut, hingga saya selalu mengikhtiarkan memberikan julukan terbaik untuk anak-anak, ”Shalih, shalihah, pinter..”, dengan harapan walaupun saya bukan ibu kandung mereka dan saya tentu tak seshalih ibunda As-Sudais, tapi mudah-mudahan para malaikat yang mendengar akan mengamini, dan Allah akan mengabulkan…

Terakhir, tak ada kata menyerah… Semua yang diamalkan seorang guru, Allah catat pahalanya walupun muridnya lupa atau sang murid tidak ingat gurunya, “ Famayya’mal mitsqoola dzarrotin khoiroyyaroh. Wa mayya’mal mitsqoola dzarratin syarroyyaroh” ..Dan ingatlah juga, betapa dalam Islam kedudukan seorang guru yang mengajarkan kebaikan begitu dimuliakan…”Sesungguhnya Allah,para malaikat-Nya,penduduk langit dan bumi sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (H.R Tirmidzi, di shahihkan oleh Al Albani)…Tidakkah tergiur?

Penutup…

Nuruddin Zanki, sultan yang oleh sebagian sejarawan diberi gelar khalifah rasyid yang keenam mempunyai kisah menarik dengan ilmu dan ahli ilmu. Beliau belajar madzhab fikih Hanafi, tetapi beliau membangunkan madrasah- madrasah utk semua madzhab, memberikan gaji serta tunjangan yang sangat besar sekali bagi para guru dan ahli ilmunya. Suatu hari seorang staf nya mengingatkan keperluan negara yang besar untuk pembiayaan jihad dan meminta kepada Nuruddin agar mengurangi sedikit gaji para ahli ilmu. Nuruddin marah dan berkata, “Mereka adalah panah panahku di malam hari saat kalian semua tidur!”

Semoga kita bisa menjadi “PANAH-PANAH” itu..Aamiin..

Allahu ta’ala a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s