Posted in Episode Mengajar

UN bekal untuk akhirat?

Pada zaman dahulu..

Tinggallah dengan damai binatang-binatang di hutan. Ada gajah, kebau, monyet, kancil. Ada belalang dan ada juga sekelompok semut beserta rajanya. Pada suatu hari yang cerah, belalang beserta hewan-hewan lain sedang asik bernyanyi dan bergembira. Seekor semut minta izin pada rajanya untuk ikut serta, tapi sang raja menjawab, “Tidak, sebaiknya kita mencari makanan karena musim kemarau akan segera datang”. Mendengar itu hewan-hewan lain pun tersadar dan mengikuti saran raja semut, kecuali belalang. “Ah, makanan sih gampang, musim kemaraunya saja masih lama”. Ya, belalang terus saja bernyanyi hingga tertidur.

Saat belalang bangun dia kaget karena hari sangat panas. Panaas sekali. Oh, ternyata musim kemarau telah tiba. Belalang merasa lapar, tapi saat mau makan daun, daun-daun sudah mengering. Saat ia ingin minum, tak ada air yang tersisa. Akhirnya belalang pun pingsan. Ia ditolong oleh sekelompok semut dan dibawa ke markas mereka..Ketika belalang tersadar, ia takjub melihat banyaknya makanan di sarang semut. Raja semut pun berkata, “ Saat yang lain bersantai, kami bekerja keras mengumpulkan semua makanan ini karena kami tidak tahu berapa lama dan sesulit apa musim kemarau ini”..

Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak tahu apa yang terjadi satu tahun lagi atau dua tahun lagi, dan apalagi kita tidak tahu bagaimana nasib kita di yaumil akhir nanti. Bahkan semut saja menyiapkan begitu banyak makanan untuk musim kemarau . Apalagi kita yang akan menghadapi kematian dan yaumil akhir, tidakkah ingin bersip-siap juga?

UN ini sebenarnya bagian dari persiapan anak-anak kita menghadapi masa depan. Mungkin yang terdekat adalah masa depan mereka di jenjang pendidikan berikutnya. Tapi apakah UN ini bukan bekal mereka untuk akhirat? Jika setiap anak-anak belajar, walaupun itu adalah ilmu umum, tapi bila diniatkan karena Allah, maka insyaAllah itu menjadi ilmu akhirat..Saat mempersiapkan UN mereka belajar, awalnya tidak bisa lalu menjadi bisa, kemudian mereka banyak bersyukur, bukankah itu juga pahala? Ketika mereka belajar, masih juga tidak bisa dan mereka terus belajar dengan sabar, bukankah itu pahala? Setiap mereka membulati jawaban, satu demi satu, lalu mereka terus mengingat Allah, bersungguh-sungguh memohon pertolongan –Nya, bukankah itu juga pahala?

Nilai 100? Prestasi terbaik? Itu hanyalah bonus. Tapi sesungguhnya doorprize utamanya adalah limpahan-limpahan pahala bila semua yang dilakukan adalah hanya untuk Allah Ta’ala..

Bila Allah cinta, bila Allah Ridha, apa sih yang tidak Allah beri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s