Posted in Celotehan

Harap dan Cemas

Satu tahun belakangan, saya dan suami benar-benar merasa Allah didik dalam berbagai kondisi..Kalau mau diibaratkan, kami seperti bola yang sedang menggelinding ke sana ke mari..Tapi entah kenapa, kondisi ini malah membuat saya lebih tenang dan bahagia… Satu demi satu kejadian, nampak dalam kasat mata seperti sebuah kegagalan..Satu demi satu “kegagalan” harus dihadapi..Tapi inilah indahnya. Tiap kali kondisi yang dianggap sebagai “kegagalan”itu muncul, kami malah menanti-nanti dengan harap dan cemas, “Allah, pertolongan seperti apalagi yang kan Kau berikan kepada kami?” “Kejutan apa lagi?”…

Suatu hari rumah yang kami tempati tiba-tiba atapnya roboh..Antara merasa diberi musibah dan diberi pertolongan. Entah apa jadinya jika saat kejadian itu terjadi kami tengah berada di rumah, padahal tempat robohnya atap adalah tempat di mana Kayyis sering bermain..Pontang-panting seharian mencari rumah, tak ada satu pun rumah yang cocok dengan kantong kami saat itu. Sebenarnya sejak awal ada sebuah rumah cantik berlantai dua yang langsung memikat hati..Apa boleh daya, melihatnya saja sudah membuat keder, “Waduh paling juga mahal.”.Tapi masyaAllah, apa sih yang tidak bisa Allah beri. Kurang dari satu hari kami bisa pindah ke rumah itu berkat pertolongan Allah dan kebaikan hati sang pemilik rumah, karena mau menurunkan harga sedemikian rupa..

Lain waktu suami saya ternyata harus “gagal” tes CPNS, padahal seyogyanya berbagai plan sudah dipersipkan. Ingin itu ingin ini. Tapi siapakah yang bisa mengatur kehendak Allah. Dalam detik itu rasanya hati menciut sedih, tapi seperti perkataan Ibnu Qoyyim, kesedihan sesungguhnya hanya akan terasa di awal saja, seterusnya akan hilang dengan sendirinya. Selang beberapa waktu, dosen pembimbing suami saya mengabari ada beasiswa ke luar negeri. Seketika itu saya bahagia, pikir saya,”Ah barangkali saat itu tidak luluas karena Allah mau memberi jalan ini.” Tapi apa daya, suami akhirnya melepas jalan ini pula karena tak sesuai minatnya. Ada kecewa, tapi lagi, harap dan cemas kembali bergejolak, “Allah, apa lagi keajaiban yang ingin Kau tunjukkan?” Lagi, selang beberapa waktu, tiba-tiba seorang dosen tempat suami saya sempat tidak lulus tes menghubungi, menawari sesuatu yang tidak disangka-sangka. Dan lagi, hati saya berkata, “Allah, inikah hikmah kami melepaskan kesempatan sebelumnya?”..Entah selanjutnya, apa dan apa lagi..Kisah kami akan terus berlanjut hinggal ajal menjemput..

Kami malu dan tidak berani meminta apalagi mendikte Allah dalam skenario yang harus dijalani. Doa kami hanya, “Tunjukkanlah jalan yang membawa kepada ridha-Mu Yaa Allah, memberi kebaikan pada dunia dan akhirat kami.”…Selalu, harap dan cemas yang menyertai tiap doa.. Allah memberi rizki dari arah yang tidak terduga..Sesuatu yang bukan “jatah” kita dari Allah, walaupun seluruh isi dunia membantu mendekatkan, maka itu takkan jadi milik kita..Tapi sesuatu yang memang “jatah” rizki kita dari Allah, walau seluruh isi dunia berusaha menjauhkan, maka tetap akan menjadi milik kita bagaimanapun caranya..

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s