Posted in Episode Mengajar

Matematika Asyik..Really?

Heboh PR matematika anak SD kemarin ternyata membawa efek tersendiri untuk saya..Si saya yang guru matematika tapi bukan sarjana matematika menjadi menggalau sendiri..Bukan galau mikirin 4×6 atau 6×4, tapi mikirin hakikat dan tujuan saya mengajar matematika pada anak-anak..

2 UAS berlalu, 3 UTS berlalu, tapi ternyata saya masih tetap tak bisa mencapai target kelulusan anak-anak..Entah pembenaran atau apa, tapi target 75% anak lulus dengan nilai 80 membuat saya jumpalitan kalau ga mau dibilang nangis di pojokan..Kalau mau nyari pembenaran, saya pasti bilang, “tuh target ga masuk akal..udah tau matematika itu susah dan bla..bla..bla” Eitsss..padahal sehari-hari saya bilang ke anak-anak ,”matematika gampang kok, asyik kok” …

Tiap awal pembelajaran saya akan cerita pada anak-anak tujuan dan manfaat apa yang bisa mereka peroleh dari topik pembelajaran saat itu..Kadang nyambung ga nyambung, tapi it’s oke menurut saya..hehe..Sampai masuk materi aljabar, saya bingung, nih anak SMP pasti mikir, belajar yang ginian buat apaan yak? Ujung-ujungnya saya bilang, “Nak, walaupun saat ini kalian belum mengerti manfaat belajar aljabar, tapi setidaknya kalian punya rasa bangga belajar ilmu yang ditemukan oleh seorang ilmuwan muslim keren –Al-Khawarizmi, saudara kita loh”..

Ternyata kegalauan aljabar ini terus berlanjut..Seorang anak saya tiba-tiba nyeletuk saat ngobrol dengan temannya,”Aku nunggu, kapan ya aljabar bisa dirasakan dalam hidup…” heu…Eh, tak lama berselang seorang rekan saya juga bilang gini,”Dulu waktu sma saya ga suka matematika..Saya mikirnya ga papa deh saya ga jago matematika, saya kan maunya jadi psikolog” Waduh, jangan-jangan pikiran murid-murid saya juga gitu..heu

Akhirnya pangeran berhelm merah saya bilang gini, “ Ya udah mi, bilang aja gini ke anak-anak:’ Nak, anggap kalian sedang dalam perjalanan, lalu kalian disuruh membawa bekal ini dan itu..Bawa saja dulu yang diminta sebagai persiapan, urusan nanti akan dipakai atau tidak ketika sampai di tujuan, kita liat nanti..Nah, kalian juga begitu, ini adalah masa mempersiapkan perbekalan kalian, harus belajar ini itu dan lulus ini itu..Apakah nanti beneran dipakai dalam aplikasi hidup atau tidak, kita belum tau masa depan kalian satu-satu”…Lalu tiba-tiba muncul ide di kepala saya, “Atau bilang gini kali ya bi: ‘Nak, entah kamu nati mau jadi enginer, dokter, pebisnis, atau apapun, tapi ustadzah yakin kelak kalian pasti ingin menikah dan punya anak bukan? Nah betapa kerennya kalian nanti kalau anaknya Tanya PR lalu kalian masih bisa jawab sendiri..” Hehe..dasar pikiran emak-emak banget..

Oia, sebenarnya agak sebel juga ketika orang-orang kemarin heboh nyalahin gurunya tanpa tahu jelas duduk persoalannya ..Secara sang guru tidak bisa mengklarifikasi dan membela diri (buat apaa meureun yah)..Kalau liat rekan-rekan saya di sekolah, duh, tiap hari jungkir balik mikirin strategi pembelajaran, nyari-nyari ide sampai rajin buka mbah google, buat berbagai alat peraga dengan segala keterbatasan, habis itu saat nilai anak-anak jelek harus selalu merasa dirinyalah yang salah..Saya sih sepakat-sepakat aja dengan prinsip introspeksi diri, tapi plissss tetap hargai para guru..Banyak kok guru yang sepenuh hati setulus jiwa mendidik anak-anaknya..(heu..jadi meluap-luap ginih)…

Btw soal komentar kemendikbud yang katanya di K-13 guru ga boleh menyalahkan nalar murid, membuat saya ingat pada kejadian UTS kemarin…Ada sebuah soal yang saya buat untuk anak-anak kelas VII. Kira-kira begini: Diketahui sebuah himpunan A={Umar, Sa’ad}. Sebutkan semua himpunan bagian yang mungkin dari himpunan A tersebut!Harapan jawaban yang muncul adalah : {Umar}, {Sa’ad}, {Umar, Sa’ad), { }…Taraaaa..jawaban out of the box beberapa anak membuat saya tak bisa menahan tawa..Seorang anak menjawab {himpunan sahabat Rasulullah}..Ada juga yang jawab {Umar, Sa’ad, Utsman, Ali, Abu Bakar}, bahkan ada yang menjawab {sa, ad, as, da, um, ar}…Lalu haruskah saya bilang bahwa itu hasil kreatifitas anak? Yaah, setidaknya Alhamdulillah pelajaran shiroh mereka lulus…

Pada akhirnya saya bilang pada diri sendiri..”Ayo belajar lebih keras lagi Bu..Buatlah sejarah di hati mereka bahwa Matematika itu ilmu Allah juga, dan matematika tidaklah seseram yang dipikirkan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s