Posted in Celotehan

Warna-warni Menjadi Blogger..

Ada pengalaman lucu menjadi seorang blogger hampir 2 tahun ini..Urusan menulis, tentu ini masih dalam proses belajar..Tapi ternyata ada proses belajar lain yang saya alami, yaitu mengenai mengelola emosi..

Awalnya saya kira menulis di blog seolah menulis diary saja,,suka-suka saya saja toh ini “rumah saya”. Tapi dunia maya tak sesederhana itu, karena pada kenyataannya akan banyak orang yang ternyata membaca blog kita, baik itu yang sudah kenal maupun orang asing..

Kebetulan salah satu tulisan saya yang berjudul “Kecewa Film Fetih 1453″ ternyata memiliki rating yang tinggi, kadang bisa sampai ratusan yang melihat dalam sehari..Alhasil komentar yang muncul mulai banyak..Awalnya komentar-komentar yang ada selalu sejalan dengan apa yang saya paparkan, tapi akhir-akhir ini semakin banyak saja muncul komentar yang kontra. Tak tanggung-tanggung, caci maki mulai muncul, kata-kata kasar juga sudah tak terfilter dari akun-akun anonim bahkan abal-abal..

Awalnya saya bete menghadapi komentar-komentar itu, tapi lambat laun akhirnya saya sudah merasa biasa. Saya anggap saja mereka memang belum faham dan harus didoakan agar menjadi faham. Bukankah orang sejahat apapun akan ada saja yang membela. Dan bukankah orang sebaik apapun akan ada saja yang membenci. Itulah dunia saat ini. Apatah saya yang cuma orang biasa yang banyak salah, yang sedang mencoba menyebar kebaikan lewat tulisan, itupun masih amatiran..

Ini baru pendapat tentang film yang berjudul Islam tapi isinya begitu banyak bumbu yang tak sesuai. Masalahnya, karena ummat sudah rindu dengan film-film berjudul Islami di tengah tontonan yang sudah acak adut nggak karuan saat ini, mereka merasa film Islami walaupun tak sesuai masih layak dipuja-puji..Intinya, bagi mereka seolah tak ada pilihan lain. Memilih yang buruk di antara yang terburuk..

Lalu solusinya apa? Kalau solusinya saya disuruh bikin film sendiri ya tentu tak bisa..Tiap orang punya peran masing-masing dalam hidup..Tak mungkin tiap kali memberi kritik atau masukan akan selalu dibilang,” Lo aja gih yang bikin sendiri..”

Tanpa mengurangi rasa hormat pada pihak-pihak yang sudah berjasa membuat film-film Islami walau dengan banyak kekurangan di sana sini, saya pribadi tetap berpendapat bahwa kita sebagai “konsumen” harus tetap cerdas dalam memilih tontonan dan menelan isi tontonan..Betul, sudah beruntung ada yang mau membuat film berjudul Islam, tapi jika isinya masih disisipi bau pornografi, bukankah malah lebih berbahaya, karena ada unsur susupan terhadap tontonan yang dianggap “wah” sebelumnya..Begitulah intinya..

Semoga saya bisa lebih santun dalam menulis. Pun bagi orang-orang yang suka memberikan komentar terhadap tulisan orang, bisa lebih santun dan cerdas dalam menyampaikan pendapatnya 🙂

Wallahu a’lam

======
Jadi inget kata-kata murobbiyah tercinta saya. Ketika orang-orang heboh pengen nonton Ayat-ayat Cinta di bioskop, teteh tercinta saya ini bilang, “Bagi aktivis dakwah sudah berlalu masa-masa untuk menonton film-film seperti itu, karena film-film itu adalah bentuk dakwah kepada umum. Sedangkan yang mengaku aktivis dakwah harus lebih menyibukkan dirinya untuk membaca..”

Lagi-lagi ini adalah pendapat bukan fatwa, karena saya atau murobbiyah saya bukan ulama..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s