Posted in Dongeng Abi

“Sharing” Bersama Syabab..

Padahal baru tadi pagi bikin status untuk tidak terlibat debat kusir, adu lisan, dan ashobiyah golongan. Eh, ternyata ditakdirkan bertemu teman lama yang malah ngajak sharing Harokah Tetangga..Terpaksa deh dilayani sharingnya, tentunya bukan sama saya tapi sama si abi..

Lalu apa yang dibahas? Masih bahasan klasik dan itu-itu saja..Tinggalkan DEMOKRASI! Dan songsonglah syariat Islam di bawah naungan KHILAFAH. Bagaimana caranya? Dengan THOLABUNNUSHROH.

Asal tau ya, saya dan suami bukan pemuja demokrasi..Apaan tuh demokrasi dipuja-puja..Demokrasi bukan dari Islam? Right..Tapi, kalo setuju dengan pendapat bahwa demokrasi bisa ditunggangi, apakah otomatis jadi kafir? Tuh kan debatnya muter-muter di situ… Emang kalo semua umat Islam di Indonesia GOLPUT, Khilafah bisa langsung tegak gitu? Padahal pemegang kekuasaan nantinya adalah orang sekuler, liberal, sosialis, syi’ah, dll.. Gimana caranya coba? Tholabunnushroh lagi? Yakin sama mereka? Emangnya mau gitu orang-orang yang notabene musuh Islam ngasih nushroh?…hmmm..

Sebenarnya kenapa sih Tholabun Nushroh dianggap sesuatu yang saklek bahkan cenderung agung? Apa sih Tholabunnushroh itu?
Jika menilik shiroh nabawiyah, tholabun nushroh sebenarnya bukanlah suatu cara istimewa yang saklek. Itu adalah dakwah biasa, di mana 13 tahun di Makkah da’wah Rasul akhirnya mengalami stagnansi, maka diperlukan perluasan basis. Dilakukanlah da’wah ke tempat-tempat lain, dengan konsekuensi yang menerima da’wah, pun harus melindungi Rasulullah dan kaum muslimin. Setelah Thoif menolak, akhirnya orang-orang Yatsrib lah yang menerima da’wah Rasul dan bersedia melindungi Rasul. Ketika Rasulullah hijrah ke Yatsrib dan mendirikan Daulah Islam Madinah, maka aktivitas Tholabun Nushroh itu berhenti. Catatan, saat itu Daulah Islam Madinah belum diakui secara eksternal, dan baru diakui eksistensinya oleh global saat perjanjian Hudaibiyah…

Nah, jika benar HT mengikuti apa yang Rasul lakukan, harusnya Tholabun Nushroh itu sudah lama ditinggalkan. Dari dulu sudah ada beberapa negara yang berusaha mendirikan daulah Islam walau akhirnya jatuh bangun. Bahkan kabar terakhir disebutkan bahwa telah berdiri Daulah Islam Iraq Selatan. Dengan begitu, mengapa HT tidak bergabung saja ke sana? Jadi pertanyaannya lagi-lagi, mau Tholabun nushroh sampai kapan? Apa parameter berhentinya tahapan tholabun nushroh dalam pandangan mereka? Dan dari mana dasarnya? …Jangan jawab,”Makanya ngaji di HT..”

Ada pernyataan menggelitik dari teman saya ini:”Makanya tinggalkan DEMOKRASI! Nyatanya walaupun IM di Mesir menang, tetap saja ditumbangkan. Artinya demokrasi tidak bisa dijadikan cara untuk menegakkan Islam”. Kalau kesimpulannya begitu, maka tidak menutup kemungkinan akan muncul kalimat seperti ini:”Tinggalkan saja JIHAD. Toh mujahidin di Afgan, Iraq, Mali, dll juga masih ditumbangkan. Artinya jihad tidak cocok untuk menegakkan Islam.” Lalu pertanyaannya, apakah selama lebih dari 50 tahun sejak didirikan, HT sudah berhasil dengan Tholabun Nushrohnya, padahal tak ada sejengkal tanah pun di bumi ini yang dikuasai Islam atas nama tholabun nushroh mereka. Biasanya mereka akan jawab, ” Namanya juga ikhtiar, butuh proses, dan yang menentukan adalah Allah”..Loh, dirinya saja boleh berproses, kenapa orang lain tidak boleh dan harus sim salabim kayak sulap??

Intinya, sudahlah. Tiap orang berjuang dengan cara yang diyakininya, dengan ijtihadnya sendiri-sendiri. Jangan hanya mengatakan ulama mu’tabar pada ulama yang hanya sepemahaman saja dengannya, jangan hanya membaca kitab-kitab yang dianggap mu’tabar sesuai keinginan kelompoknya..Karena percuma bilang jangan ashobiyah pada yang lain, sedang dirinya secara tak sadar telah ashobiyah.

Keluarlah dari medan retorika, karena yang lain sudah berjibaku dengan peluh dan tetesan darah. Bertanyalah jika perjuangan kita hanya adem ayem saja. Begitu takutkah musuh pada kita? Atau jangan-jangan, betapa tak berartinya perjuangannya kita di mata musuh?

Saudara-saudara kita di berbagai penjuru dunia sedang dibantai, apakah cukup hanya dengan mengatakan, “Makanya dong tegakkan Khilafah agar ada amir yang mengirimkan bala bantuan, karena dengan khilafah bla..bla..bla..!”. Yang lebih tidak elok lagi adalah mengatakan, “Makanya jangan pake cara itu, kan udah dibilangin dari dulu bla..bla..bla..”, padahal di depan mata saudara-saudara yang “diomeli” itu tengah bersimbah darah..

Dan janganlah membuat premis yang ngawur. “Anda ingin menegakkan syariat Islam?” “Ya” “Berarti Anda mendukung HT, karena HT adalah hizb yang memiliki tujuan menegakkan syariat dan khilafah Islam”. “Anda tidak dukunh HT? Berarti Anda tidak mendukung syari’at Islam”..naooon deuih..

Stop mencaci, menebar fitnah dan benci..Jika tak bisa bersinergi, minimal jangan saling senggol. Diam, tak usah merecoki perjuangan orang lain!
Wallahu a’lam

=====
#dan pada akhirnya debat memang tidak akan menghasilkan apapun, selain kami yang diblock dari pertemanan oleh yang bersangkutan…hiks..dia yang mulai, dia yang lari..😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s