Posted in Dongeng Abi

Bolehkah Wanita Haid Membaca dan Menyentuh Al-Quran?

Ramadhan adalah syahrulqur’an. Waktunya kita bermesra-mesraan dengan alqur’an jauh lebih intens dari bulan-bulan selainnya. Tapi terkadang suka muncul dilema bagi wanita yang tiap bulan kedatangan tamu istimewa yaitu haid, masih bolehkan wanita membaca Alqur’an saat haid?

Imam Abu Hanifah, imam Syafi’i, juga Imam Ahmad berpendapat bahwa wanita haid dan wanita junub boleh berdzikir dan membaca Alqur’an, dan ini merupakan pendapat yang rajih. Ibnu Hazm mengatakan, “Membaca Alqur’an, sujud ketika membaca ayat sajdah, menyentuh mushaaf, dan dzikrullah adalah perbuatan baik dan dianjurkan untuk dilakukan serta dibalas dengan pahala. Barangsiapa yang mengklaim bahwa hal itu dilarang dalam beberapa kondisi, maka dia harus mendatangkan dalilnya”. Padahal tidak ada satu riwayat pun yang marfu’ yang melarang membaca al-Quran dalam keadaan tidak berwudhu, haid, maupun junub. Bahkan Rasulullah SAW pernah mengatakan kepada Aisyah RA yang saat itu sedang haid:”Lakukanlah apa yang dilakukan orang berhaji, kecuali thawaf di Ka’bah”. Dan sebagaimana diketahui, orang berhaji itu berdziikir kepada Allah dan membaca al-Quran.

Berbeda dengan perihal bolehnya membaca Alqur’an bagi wanita haid menurut jumhur ulama, mengenai boleh tidaknya menyentuh mushaf terdapat perbedaan pendapat. Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad berpendapat bahwa orang berhadats tidak boleh menyentuh mushaf. Ada dua dalil yang dijadikan argumen:

1. Firman Allah QS.Alwaqi’ah: 79, “Laa yamassuhu illalmuthohharuun” Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

Adapun ayat ini tidak dapat dijadikan dalil kecuali setelah mengembalikan dhamir yamassuhu kepada Al-qur’an. Padahal mayoritas ahli tafsir menganut pemahaman bahwa dhamir hu tsb bukan merujuk kepada Alqur’an, melainkan kepada kitab yang tersimpan di langit, yaitu Lauhil Mahfuzh. Sedangkan kata al-Muthahharuun (orang-orang yang disucikan) tsb adalah para malaikat.

Hal tsb sesuai redaksi ayat -ayat berikut:

“Innahu laqur’anun kariim. Fii kitaabim maknun. Laa yamassuhu illalmuthahharuun”

“Sesungguhnya alQuran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh al-Mahfudz). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (QS.AlWaqi’ah:77-79)

2. Hadits dari ‘Amr bin Hazm. Nabi SAW menulis surat kepada penduduk Yaman yang di dalamnya ditulis: “Janganlah menyentuh Alqur’an kecuali orang yang suci”.

Adapun hadits ini merupakan hadits yang dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah.

Dengan demikian, pendapat Madzhab Abu Hanifah, Daud dan Ibnu Hazm mengatakan bahwa sesungguhnya tidak ada dalil yang mewajibkan wudhu untuk memegang mushaf. Ini pun merupakan pendapat Ibnu Abbas dan sebagian salaf, juga pendapat Ibnu al-Mundzir.

Wallahu a’lam
=======

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah , Karya: Abdul Malik Kamal bin as-Sayyid Salim. Ta’liq: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s