Posted in Dongeng Abi

Hijrah ke Negara Kafir

Alhamdulillah, bisa dipertemukan lagi dengan tamu agung, bulan yang penuh berkah, bulan ibadah, syahrulqur’an, bulan Ramadhan..

Ada satu program di bulan ini yaitu kultum abi..Hari pertama kemarin pembahasannya mengenai Bab pertama dari syarah Riyadhusshalihin, spesifiknya tentang hijrah ke negeri kafir.

Hijrah paling utama adalah hijrah dari negara kafir ke negara Islam. Apabila seseorang yang berdomisili di negara kafir tidak bisa menunjukkan keislamannya, dan tidak bisa menjalankan kewajiban agamanya, maka dia wajib meninggalkan negara tersebut dan hijrah ke negara lain. Namun apabila ia mampu menunjukkan identitas keislamannya, dan tidak ada yang melarang ketika menjalankan syiar-syiar Islam, maka hukumnya berhijrah adalah sunnah.

Berdasarkan hal tsb, maka bepergian ke negara kafir lebih berat daripada domisili di negara tsb. Artinya, seorang yang berdomisili di negara Islam tidak boleh bepergian ke negara kafir, karena di negara tsb terdapat hal-hal yang dapat membahayakan agamanya dan budi pekertinya. Apalagi jika tujuan bepergiannya itu hanya untuk berbelanja, berwisata, yang sifatnya menghambur-hamburkan uang dan malah menguatkan perekonomian orang kafir.

Akan tetapi, seorang muslim diperbolehkan pergi ke negara kafir jika memenuhi 3 syarat :
1. Dia mempunyai ilmu yang bisa digunakan untuk menolak perkara-perkara yang syubhat. Jadi, bukan hanya bisa membedakan mana yang halal dan haram, tapi sudah masuk perkara syubhat. Karena, orang kafir selalu memasukkan kerancuan dalam tiap hal agar muslim menjadi ragu dan bimbang.

2. Mempunyai agama yang dapat memproteksi dirinya daari gejolak syahwatnya.

3. Karena ada kepentingan mendesak. Apa sajakah itu ?
• Berobat
• Berdagang, dan setelah perdagangannya selesai, dia kembali ke tanah airnya
• Mendalami sebuah ilmu yang tidak bisa diperoleh kecuali di negara kafir

Oleh karena itu, Syaikh Al-Utsaimin berpendapat, bahwa pergi ke negara kafir tanpa keperluan mendesak, atau hanya dengan tujuan berwisata, maka hukumnya adalah dosa. Sementara uang yang dibelanjakan pun hukumnya adalah haram, dan termasuk menghambur-hamburkan harta. Dan tiap yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Allahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s