Posted in Celotehan

Menikah itu Indah, tapi…

Banyak sekali kisah tentang bagaimana orang-orang terkenal dan besar memulai biduk rumah tangga mereka, yang kebanyakan harus memulai dan merangkak dari titik nol bahkan minus.

Kemarin saya membaca kisah perjuangan Ustadz Salim A.Fillah dan Ustadz Felix Siauw dalam menggenapkan setengah dien mereka. Yang satu meminang dengan Basmallah, yang satu lagi menikah dengan modal hanya satu juta setengah. Dan kisah keduanya sering menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk pula berjuang menikah tanpa harus dulu menunggu punya ini dan itu.

Benarlah janji Allah bahwa salah satu golongan yang akan Allah beri pertolongan dan Allah cukupkan rizkinya adalah pemuda yang menikah karena ingin menjaga dirinya. Bukan hanya dua kisah ustadz tadi, tapi banyak contoh nyata lainnya. Sebutlah pula pengusaha Bob Sadino. Menurut penuturan seorang kawan yang pernah berkunjung ke rumah pak Bob Sadino, beliau sebelum sukses seperti sekarang seringkali harus jatuh bangun bahkan setengah melarat. Tapi dengan kondisi demikian, istrinya begitu setia menemani, dan kini pak Bob Sadino sering mengatakan bahwa tanpa kehadiran istrinya ia nampaknya takkan pernah jadi apa-apa.

Kisah lain adalah mengenai seorang kakak tingkat saya yang sekarang menjadi seorang anggota dewan di daerah. Beliau menikah dengan istrinya saat masih kuliah. Awal-awal menikah mereka masih belum bisa berdiri sendiri, sampai-sampai beras pun kadang kala diantar oleh orang tua. Tapi dengan kerja keras, hanya dalam beberapa waktu mereka menjadi keluarga yang mapan.

Lalu sebagai kisah penutup, saya ingin mengisahkan perjuangan yang dilalui suami tercinta saya. Memang ia belum menjadi orang besar, tapi mudah-mudahan saja senantiasa dalam proses menjadi orang yang menebar banyak kebermanfaatan.

Teman-teman dekat suami saya tentu tahu bahwa tekadnya menikah sudah ada sejak tingkat pertama kuliah. Singkat cerita akhirnya ia dipertemukan dengan saya. Saya awalnya merasa terheran-heran mengapa ada ikhwan yang begitu ingin menikah padahal belum punya apa-apa, tapi ia mengatakan bahwa keinginannya menikah semata karena ingin menjaga diri. Qodarullah, ternyata semuanya begitu mudah. Tak perlu biaya mahal dan resepsi mewah, pernikahan kami begitu apa adanya.

Lalu apakah setelah menikah semua indah? Ya, memang indah namun tak terlepas pula dari ujian dan kesulitan. Kami waktu itu mengontrak rumah yang super kecil dan pengap, bahkan kami sampai menyebutnya gua cinta. Sempat suatu hari ketika saya sedang hamil dan harus cuti kerja, uang yang saya pegang hanya tinggal 20 ribu. Saat itu saya masih malu jika harus minta pada suami. Saya menangis sehabis shalat sampai tersedu-sedu, dan ketika suami bertanya saya tidak bisa jawab apa-apa. Saya katakan kepada Allah, saya sebenarnya ingin bisa seperti Fatimah yang bisa hidup mendampingi suami dalam kondisi apapun, tapi kok rasanya berat ya, tolonglah saya ya Allah. Terus seperti itu. Sampai tiba-tiba Mamah saya telpon dan bertanya, “Teteh masih punya uang ga?” Sedih sekali ketika ditanya seperti itu, antara malu dan takjub karena perasaan mamah yang bisa begitu peka. Dengan malu-malu saya katakan,”Cuma cukup untuk makan besok, soalnya honor suami belum turun juga.” Mamah akhirnya langsung datang ke rumah esoknya, dan beliau hanya berkata sambil memberi saya sejumlah uang,”Mamah ga mau anak mamah sengsara.”..Kalau mengingat itu rasanya sedih sekali, karena sampai meninggal, saya belum bisa membahagiakan mamah sebagaimana layaknya.

Hal seperti itu masih sering terjadi saat itu. Namun Allah pun tak bernah menyia-nyiakan kami. Ketika saya benar-benar hampir tak punya uang, maka esoknya serta merta ada saja jalan dan pertolongan Allah, kadang saya yang tiba-tiba dapat honor, atau beasiswa suami yang akhirnya cair.

Bahkan kini pun jatuh bangun masih kami rasakan. Dengan memutuskan menjadi seorang entrepreneur, tentu kondisi ekonomi tidak bisa sestrabil karyawan dengan penghasilan tetap. Tapi suami selalu berkata, ini adalah proses belajar bersyukur dan bersabar untuk kami. Ada kalanya keningnya berkerut ketika bisnisnya ada masalah, lain waktu wajahnya begitu sumringah ketika bisnisnya sedang berbuah. Dan saya sebagai orang yang berkarakter plagmatis hanya bisa merasakan dag dig dug dengan semua perubahan yang kadang terjadi dengan cepat. Benarlah katanya, ini adalah tarbiyah untuk kami dan keluarga.

Seringkali ada kata-kata penghibur darinya, ” De, dengan memulai dari nol seperti ini, seorang suami kadangkala tidak akan tega menduakan istri pertamanya yang sudah berjuang dalam kondisi susah. Mungkin kalau istri pertama meninggal, suami bisa saja poligami dengan istri keduanya dst. Jadi, ade ini khadijah untuk mas.” Yah, semoga saja bukan hanya gombalan sesaat.

Epilog yang aneh..
====

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s