Posted in Tausyiah dan hikmah

Menyoal Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga

Suatu sore Kayyis sama abinya jalan-jalan keliling komplek. Tiba-tiba, BUGG,,Kayyis jatuh, tapi dengan segera ia bangun kembali sambil senyum-senyum. Seorang tetangga yang kebetulan lewat langsung berkomentar, ” Wah hebat yah ga nangis, emang siapa yang ngasuh di rumah?” Lalu dengan bangga abinya menjawab,”Ibunya”. Namun seketika sang tetangga berkata, “Oh, emang ibunya ga kerja ya? Kirain kerja di Semen Gresik gitu atau Holcim”..Lalu abinya pun hanya tersenyum dan menjawab sekenanya, “Ibunya sedang belajar bisnis kecil-kecilan di rumah.”hehe…

Saya sendiri sebenarnya sudah tak mau sok-sok membandingkan manakah yang lebih baik antara ibu rumah tangga full time stay at home ataukah ibu bekerja. Semua orang dihadapkan pada kondisi dan pilihan yang berbeda-beda, yang tak selalu orang lain memahami. Toh semuanya punya tantangan masing-masing, pahalanya masing-masing, dan tanggung jawab masing-masing di hadapan Allah. Semua ada kelebihan dan kekurangan.

Almarhumah mamah saya adalah seorang ibu bekerja, tapi kami tumbuh dengan tanpa kekurangan kasih sayang dan pendidikan sedikitpun darinya. Kami selalu bangga padanya. Sedang ibu mertua saya adalah seorang ibu rumah tangga yang menurut saya juga luar biasa,nyatanya ia berhasil mendidik seorang anak luar biasa yang sekarang jadi suami saya,,ehmm..Jadi, semua kembali pada pribadinya. Yang terpenting seorang ibu tahu mana tanggung jawab utamanya dan bisa memanage semuanya dengan baik.

Kalau hanya mendengarkan apa kata orang, tentu tak akan ada habisnya.Misalkan, pada seseorang yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga, mungkin ada komentar seperti ini, “Duh sayang baget sih udah sekolah tinggi-tinggi, ilmunya ga bermanfaat, cuma di rumah aja.” Atau pada ibu bekerja, mungkin akan muncul pula komentar,”Padahal ibunya lulusan ITB, tapi anaknya kok diurus sama lulusan SD.” Bila di titip ke neneknya, mungkin komentar pula, “Kok ga kasian yah, orang tua waktunya istirahat malah disuruh ngasuh cucu.” Atau jangan-jangan sama ibu yang bekerja di rumah pun ada yang berkomentar ,” Padahal seharian di rumah, tapi anaknya ga keurus juga karena ibunya sibuk ngurusin dagangan dan internetan”. Duuuh…

Tak hanya sudut pandang orang luar. Para pelakunya sendiri pun tentunya tidak perlu merasa diri menjadi yang lebih unggul dibanding yang lain. Tak perlu nyinyir terhadap yang lain. Kalau meminjam kata-kata salah seorang ibu di sebuah forum, tak perlulah seorang ibu rumah tangga yang full time stay at home berkata,”Alhamdulillah ya, bisa ngerjain pekerjaan rumah dan ngurus anak sendiri. Kerja gratisnya tidak sia-sia, lho. Insya Allah surga balasannya.” Seorang ibu bekerja tak perlu pula berkata,”Alhamdulillah ya, sesuatu banget. Punya gaji sendiri. Bisa beli ini-itu tanpa nyodorin tangan ke suami. Nikmatnya menjadi wanita mandiri.” Atau sekarang ada trend baru, para ibu yang bekerja di rumah, pun tak perlulah berkata, “Bisa main terus sama anak sekaligus dapat penghasilan sendiri. Sesuatu banget”. Yang satu merasa berhak atas surga, yang satu mengatasnamakan kemandirian, yang satu merasa sebagai pemenang sejati..hmmm…

Saya sendiri merasa sangat kagum ketika menemukan contoh para ibu yang sukses mendidik putra-putrinya, bisa pula menebar manfaat untuk orang banyak, dan bisa pula menjadi pribadi yang mandiri. Saya pikir mungkin itulah orang-orang yang sudah selesai urusannya dengan hal yang kecil-kecil, sehingga Allah memantaskan padanya urusan yang lebih besar.

Akhir kata, bagi yang terjebak membaca note ini, doakan saya semoga bisa menjadi ibu yang yang lebih baik dan bisa pula menjadi manusia yang memberi manfaat lebih banyak untuk sesama..

ibu
============

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa/siapa yang di bawah kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak suaminya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) terhadap apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

2 thoughts on “Menyoal Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga

  1. meni sehati nulis dengan Tema yang sama, terinspirasi dari sumber yang sama😀 hehe.

    Andaikan ada penelitian ilmiah tentang Efek SAHM, WK, dan “Pemenang Sejati” terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak ya Lan..canggih tuh! karna kalau ukurannya pengalaman pribadi to, akan sangat tidak mewakili mana “kondisi terbaik”..hehe

  2. setujuuu,,sok atuh teteh aja yg meneliti,sy ikutan jd anak buah.hehe..nampaknya harus bertemu para ibu sukses🙂

    btw, sy setuju sama yg teteh bilang,,ibu teh emang harus bahagia, dan itu teh harus diikhtiarkan, dengan sabar dan dengan syukur,,nuhun ya teh🙂 luv u pul lah pokoknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s