Posted in Celotehan

PKS dan Kekayaan

Celotehan di siang yang terik..

Saya tidak punya kapasitas untuk membahas sisi hukum dari kasus Ust.LHI yang kini sedang booming plus bumbu-bumbunya yang lama-lama jadi tampak berlebihan (kalo kata Pak Fahri Hamzah sih udah kayak festival aja). Apalagi membahas sisi konspirasi dan politisasinya,duh ga kepikiran, maklum saya cuma sarjana sains yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga..#naoon deuih#..Hanya saja ada satu tulisan menarik dari seorang ustadz, yang menurut beliau adalah bentuk cintanya kepada PKS.

“Belakangan ini PKS mendapat sorotan secara tajam dari media-media sekuler–setelah sebelumnya beberapa tahun lalu juga pernah dikritik tajam sebagian kader-kadernya. Saya tidak memungkiri adanya kemungkinan pihak-pihak anti Islam dari kalangan zionis dan salibis yang berkolaborasi dengan kelompok sekuler lokal untuk melemahkan bahkan menghancurkan PKS dengan mengunakan instrumen-instrumen resmi. Orang yang paham dakwah dan menelaah secara dalam sejarah panjang dakwah Islam tentu tidak menolak kesimpulan ini. Tetapi, mesti dipahami bahwa secermat apapun sebuah konspirasi musuh tetap tidak mampu menimbulkan goncangan hebat pada bangunan dakwah kalau bangunannya kokoh. Sebaliknya kalau bangunannya rapuh maka sebuah goncangan hebat bisa menyebabkan kiamat bagi sebuah gerakan dakwah bahkan sebuah imperium kekhilafahan. Ambillah pelajaran dari imperium Khilafah Utsmaniyyah. Karena kerapuhan kompleks negaranya maka memberikan peluang besar bagi zionis salibis untuk menghancurkannya meskipun membutuhkan waktu lima puluh tahun. Dan ambillah pelajaran dari Al-Ikhwaan Al-Muslimiin. Karena kekokohan bangunan dakwahnya–meskipun dalam pandangan sebagian pemikir pergerakan melakukan beberapa kesalahan ijtihad politik–maka hanya mampu membunuh Imam Hasan Al-Banna, Dr. Abdul Qadir ‘Audah, dan Syaikh Sayyid Quthub rahimahumullaah jamii’an. Sedang bangunan dakwah tetap kokoh dan sekarang berkuasa di Mesir.

Selama satu bulan ini saya perhatikan ustadz-ustadz, pengurus-pengurus, kader-kader, simpatisan-simpatisan, dan website-website PKS justru sibuk membahas sisi konspirasinya. Sementara sisi kekokohan bangunan dakwah justru lepas dari pembahasan. Bangunan dakwah yang tersusun dari qiyaadah raasyidah, qaa’idah shalbah, manhajul harakah wat tarbiyyah, siyaasatut dakwah, i’laanul jamaa’ah, dan seterusnya tidak tersentuh evaluasi dan otokritik. Dan hal itu sangat berbahaya karena PKS hanya melihat “pelaku kejahatan” tanpa melihat kesempatan yang terbuka besar di dalamnya.” (Ustadz Ibnu Luthfie At-Tamaniy)

Mungkin ada sebagian pihak yang merasa bahwa elit-elit PKS mulai meninggalkan gaya hidup bersahaja seperti awal mula gerakan dakwah ini muncul di panggung politik dengan nama PK, terlihat dari harta, mobil, rumah yang dimiliki, juga gaya yang semakin perlente dari para elitnya. Dan mungkin banyak pihak yang menyayangkan hal itu dan mengaharapkan para kader dakwah, juga para da’i semestinya bisa menunjukkan gaya hidup dan selera yang normal sesuai standar dakwah dan syariah.

Memiliki harta banyak dan halal bukanlah suatu yang dilarang, apalagi harta itu digunakan di jalan Allah.Itu adalah hal yang mulia. Soal gaya, para sahabat pun punya standar masing-masing. Semisal Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang memang terkenal sebagai saudagar kaya. Keduanya senantiasa berpakaian terbaik. Berbeda halnya dengan Umar bin Khattab yang memilih posisi tengah dalam berpakaian ataupun memilih makanan, bukan standar teratas bukan pula standar terbawah, tapi pertengahan. Apalagi di masa pemerintahannya, sosok Umar bin Khattab begitu menjadi panutan dan sosok pemimpin idaman karena sikapnya yang juhud dan bersahaja.

Kalau kata saya, mungkin masalahnya bukan soal kaya, tapi soal kesan berlebihan. Masalahnya standar berlebihan tiap orang pun berbeda. Jadi gimana dong? Ya sudah abaikan…

Tapi nasihat ustadz Ibnu Luthfie di atas pun nampaknya sangat baik bila dijadikan renungan dan diamalkan. Bagaimanapun introspeksi diri itu penting. Sebuah ujian itu datang bisa jadi untuk membuat derajat kita semakin tinggi atau malah sebuah bentuk peringatan karena ada hal-hal yang terlalaikan. Seperti kata Ustadz Anis Matta, bisa jadi selama ini kita mulai terlalu dekat dengan sumur sehingga lawan dengan mudah memerosokkan kita ke dalamnya. Maka taubatlah solusinya, perkuat barisan, dan jangan deket-deket sumur lagi..hehe..

Walaupun begitu, saya ingin mengutip kata-kata teh Frikza Etsia Pramadina, “Tidak menyukai pilihan mewah seseorang , jangan sampai membuat kita menjadi bagian yang memecah kesatuan. Tidak menyukai pilihan mewah seseorang, jangan sampai membuat kita keluar dari barisan kebaikan, dan akhirnya sendirian.”

Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita jalan kebenaran.Aamiin.
Wallahu a’lam bishshawaab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s