Posted in Celotehan

J.O.D.O.H

Jodoh, seperti halnya rizki yang lain, saya yakini sepenuhnya bahwa Allah telah mengaturnya. Dan, seperti rizki yang lain, jodoh adalah sesuatu yang harus diikhtiarkan.

Beberapa saat saya mengingat perjalanan tiga tahun lalu ketika saya berulangkali menyatakan ketidaksiapan saya untuk menikah kala itu, padahal ada seorang pangeran (?) yang jelas-jelas bermaksud mempersunting saya. Di tengah kegalauan itu, seorang sahabat saya yang ternyata sedang mengalami hal serupa berkata begini : “Ukht, kalau kata seorang ustadzah, jodoh itu adalah rizki yang spesial, tidak bisa disamakan dengan rizki harta atau pendidikan. Ada kalanya seorang akhwat mengatakan belum mau menikah karena memikirkan pendidikannya ataupun karirnya. Padahal, rizki kesempatan melanjutkan pendidikan ataupun uang jika tidak datang sekarang mungkin bisa datang tahun depan atau tahun depannya lagi. Tapi, bila jodoh yang ternyata memang sudah ada di depan kita namun kita mengabaikannya, bisa jadi kita baru bertemunya kembali lamaaa lagi atau bahkan tidak dipertemukan lagi di dunia”. Jlebbb dah.

Saat itu saya terbilang cukup nekat ketika memulai untuk ta’aruf. Hanya mengandalkan doa dari orang tua, istikharah, dan nekat itu. Dulu saya ingat pesan seorang kakak angkatan. Lupa bagaimana redaksi aslinya. Intinya, ketika memaknai kemantapan hati dalam hasil istikharah maka teruslah melangkah. Dalam setiap langkah itu terus dibarengi istikharah. Jadi, melangkah. Istikharah. Melangkah. Istikharah.dst..Sampai ketika ada sesuatu yang menghalangi atau membuat proses itu gagal, maka memang bukan itulah jodoh kita. Dulu saya pakai teknik ini. Melangkah terus, sampai sudah begitu jauh, kok ga gagal-gagal yah? Hah..Udah terlanjur jauuuh (sok-sok kaget, padahal seneng)..Ya sudah, bismillah, mungkin memang sudah jodohnya🙂

Nah, tentang bagaimana ikhtiarnya, ada kalimat yang sudah sangat populer, ” Laki-laki berhak memilih, dan perempuan berhak menolak..”. Lah terus kalau ga ada yang milih, piye??? Atau emang ga boleh yah perempuan milih duluan?

Perempuan berhak berikhtiar dengan ikhtiar terbaiknya. Berdoa tentu saja; selalu membekali dan memantaskan diri, of course; dan pastinya terus bergerak. Bergerak di sini tentu saja bukan pacaran yah sodara-sodara. Tapi bergerak dengan cara yang syar’i. Ada yang minta dicarikan calon oleh orang tuanya, guru ngajinya, temannya, biro jodoh, dsb. Atau kalau perempuan nunjuk siapa yang ia inginkan, apakah tak boleh? Ya boleh-boleh saja. Tentunya dengan tata cara yang berlaku, mengingat seorang perempuan besar rasa malunya.

Pada dasarnya saya percaya jodoh itu sudah tertulis, dengan siapa dan kapan dipertemukannya. Ada dua jalan yang bisa dipilih. Mendapat jodoh dari Allah dengan cara baik-baik, diberikan dengan penuh kasih sayang oleh Allah, atau diberikan oleh Allah dengan cara dilempar penuh dengan kemarahan. Mungkin jodohnya tetap sama si itu itu juga, namun nilainya begitu berbeda..

Maka dari itu, bagi yang sedang dalam penantian, bersabarlah dan teruslah perbaiki diri, insyaAllah si dia yang di sana pun sedang melakukan hal serupa. Hindarilah maksiat yang dapat merusak perjalanan dan ikhtiar dalam pencarian. Hingga ketika saatnya tiba, Allah pertemukan kita dengan sang belahan jiwa dengan penuh rahmat dan keridhaan-Nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s