Posted in Celotehan

Mamah&Apa, Mengukir Cinta Dunia Akhirat

Mamah, cucu dari dua kyai dan pejuang yang cukup dikenal di daerah kami. Tapi, seperti gadis di masanya, mamahku seorang gadis yang modis, terbiasa memakai rok selutut, dan tentunya belum berjilbab. Dia cantik, cantik sekali, sehingga banyak pemuda yang mencoba mendekatinya. Walau demikian, mamah tak pernah menanggapi mereka.

Sempat suatu saat akhirnya mamah menjatuhkan pilihan pada pemuda teman sekolahnya, seorang primadona sekolah yang terkenal dengan kepandaian dan kegagahannya. Suatu hari si pemuda datang ke rumah, maka mamah pun mengujinya. Saat itu hari sudah sore dan mamahpun menyuruhnya untuk shalat, namun pemuda itu menunda-nunda, maka bagi mamah pemuda itu bukan calon yang tepat yang akan menjadi imamnya.

Hari pun berganti, teman-teman sekantor mamah mulai sibuk menjodoh-jodohkannya. Salah seorang atasan mamah berseloroh, “Lah, ini mah pasti dapet yang disarung, sok liatin aja nanti.” Maksudnya, mamah paling dapatnya santri. Tapi, mamah malah mencibir, “Ih, ga mau, nanti harus pakai kerudung, baju panjang, ribet banget.”

Suatu malam mamah bermimpi. Saat itu mamah sedang sakit. Dalam mimpi terdengar sebuah suara yang menuntunnya ke suatu tempat, hingga tibalah di sebuah rumah. Suara itu mengatakan, jika ingin sembuh maka datanglah ke orang yang sedang duduk di depan teras rumah itu. Di teras itu duduk seorang pemuda berpeci dan bersarung.

===============
Apaku seorang cucu kyai, ayahnya pun seorang guru ngaji juga pejuang. Sejak kecil hidupnya sangat sederhana. Hampir sepuluh tahun saat Apa kecil, abah pergi berjuang, alhasil apa hanya dibesarkan oleh ibunya, yang biasa dipanggil ema. Ema , lulus SD pun tidak, tapi beliau adalah guru ngaji yang sangat dihormati masyarakat, wanita kuat yang sangat luar biasa, seorang yang dikenal begitu mencintai Qur’an. Ibu yang menjadi kebanggaan apa.

Jika kisah perjuangan untuk sekolah di film laskar pelangi nampak begitu memukau, maka Apa merasakan hal itu sepanjang perjuangannya untuk sekolah. Setiap hari apa harus berjalan kaki di pagi buta untuk menempuh jalan ke sekolah yang letaknya jauh sekali di kota. Seringkali kakinya lecet-lecet karena sepatu yang ia punya baru dipakainya di depan gerbang sekolah karena takut rusak kalau dipakai berjalan jauh.

Selain sekolah, apa juga mengaji pada abah, ayahnya. Ia senang menghabiskan waktu malam untuk ngobrol dengan abah, tentang Islam, tentang perjuangan. Ia juga rajin mendengar siaran-siaran radio luar negeri, seperti BBC, yang membuatnya punya pandangan luas.

Jika pemuda pada masa itu sudah mulai terjangkiti mode-mode dan kehidupan “modern” seperti bioskop dan disko-disko, apa tetaplah seorang santri desa yang lebih senang menghabiskan waktunya untuk membaca atau pergi ke sawah. Pemuda yang sehari-hari selalu bersarung dan berpeci.

Usianya yang tak lagi muda tak menyurutkannya untuk terus menuntut ilmu. Sampai akhirnya ia pun memutuskan kuliah sambil mengajar. Hampir gajinya sebagai PNS pemula saat itu habis untuk biaya kuliahnya. Sampai suatu hari keinginan menikah pun disampaikannya pada abah. Suatu malam abahpun shalat istikharah. Esoknya abah bilang, “Mail, jodoh kamu teh namanya Aam.” Begitulah, menurut cerita nama itu muncul dari hasil shalat istikharah Abah. Kebetulan apa punya sepupu bernama de Aam, maka abah pun mencoba mempertemukan keduanya. Tapi memang bukan jodoh, apa maupun sepupunya tidak saling klop.

Waktu pun terus berlalu. Usia Apa sudah lebih dari 30 tahun. Suatu hari Apa bermain ke tempat temannya yang seorang guru juga yang ternyata punya seorang keponakan bernama Aam. Maka tak berlama-lama Apa pun menyatakan maksud ingin menikahi. Dua kali bertemu dengan gadis itu, dan satu kali pertemuan perwakilan keluarga, tanggal pernikahan pun ditentukan. Proses yang sangat cepat.

Pernikahan sederhana itu akhirnya berlangsung. Ijab qobul berbahasa arab, dengan mahar sebuah cincin seberat 5 gram. Cincin yang terlalu kebesaran untuk jari sang mempelai wanita, nantu sama sekali tak mengurangi nilainya.

==========
Begitulah, akhirnya kedua jiwa itu bertemu dan memulai bahtera rumah tangga. Mamah akhirnya bertemu dengan pemuda bersarung yang muncul dalam mimpinya bertahun-tahun lalu. Saat memulai rumah tangga, semuanya nampak serba terbatas. Apa yang masih harus membiayai kuliahnya belum bisa memberi nafkah yang terhitung layak untuk mamah. Tapi alhamdulillah saat itu mamah sudah punya penghasilan sendiri.

Tahun demi tahun berlalu, rizki dari Allah pun satu demi satu mereka peroleh, termasuk anak-anak yang hadir dalam kehidupan keduanya. Apa yang tegas dan disiplin, dan mamah yang penuh sabar dan kasih sayang menjadi komposisi yang pas bagi kami anak-anaknya. Setiap malam, Apa menjadi pendidik untuk urusan mengaji, belajar alquran, dan mamahlah yang membantu kami untuk urusan pelajaran sekolah.

Seiring perjalanan waktu, Allah pun mulai menguji keduanya dengan sesuatu yang baru dari waktu ke waktu. Saat si bungsu lahir, maka sebuah ujian besar mulai datang. Setiap menjelang malam, Mamah akan merasakan punggungnya panas seperti dibakar. Emosinya pun seringkali tersulut. Di matanya Apa nampak mulai berubah, padahal kenyataannya tidak demikian. Api cemburu pun sering tiba-tiba berkobar. Pertengkaran pun jadi sering terjadi. Namun untunglah dengan mamah yang terkadang emosional, apa masih lebih bersabar.

Waktu demi waktu terasa berat untuk mamah yang saat itu baru melahirkan. Setiap malam selama enam bulan mamah tidak pernah bisa tidur walaupun matanya ingin sekali terpejam, dan tubuhnya merasa sangat lelah. Malam-malamnya ia habiskan untuk mengaji, shalat, menangis mengadu kepada Allah.

Sampai suatu hari mamah minta diobati karena ia merasa memang ada yang tidak beres. Mendatangi satu ustadz ke ustadz yang lain jawaban tetap sama, ada orang dzalim yang menggunakan sihir untuk menghancurkan rumah tangga.Santet atupun sihir, mungkin bagi sebagian orang adalah sesutu yang nampak mengada-ada. Tapi kenyataannya itu memang ada, terlebih di masyarakat Indonesia. Itulah yang dirasakan mamah setiap hari kala itu, perasaan dan fisik yang tersiksa. Tapi saat itu pun apa masih tidak percaya. Sampai suatu hari hampir setengah putus asa mamah berdoa agar apa pun bisa merasakan apa yang dirasakannya sehingga tidak melulu muncul prasangka. Qodarullah, akhirnya Apa pun mengalami hal serupa. Ikhtiarpun dilakukan keduanya. Berobat dari satu ustadz ke ustadz lain, sampai ruqyah oleh diri sendiri.

Bertahun-tahun ujian itu menerpa. Kejadian aneh sudah tak terhitung begitu banyak bermunculan. Apa bahkan sempat tidak bisa jalan dan muntah darah. Mamah bahkan lebih parah, perutnya sempat membuncit seperti orang hamil, dan kulit wajahnya rusak meletup-letup seperti terbakar. Bila bukan karena pertolongan Allah, mungkin ikatan keduanya sudah tercerai berai sejak lama. Tapi kedewasaan keduanya pun membuat mamah dan apa sadar bahwa di tengah ujian yang sedemikian rupa yang dibutuhkan adalah bersatu dan saling menyokong. Mereka begitu meyakini Allah takkan pernah menyia-nyiakan mereka. Kejadian demi kejadian membuat mereka semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Hampir 12 tahun ujian itu terus menerpa. Tak ada sedikitpun keinginan untuk membalas dsb, hanya ada keinginan untuk sembuh. Bahkan sesekali apa berkata, bahwa bisa jadi ujian ini datang sebagai teguran karena banyaknya salah dan dosa. Dibalik ujian selalu ada kebaikan, bisa jadi di balik ujian ini Allah akan memberi suatu kebaikan yang besar. Begitulah keduanya memaknai setiap ujian yang menerpa.

Sampai suatu hari sebuah benjolan kecil muncul di dada mamah. Awalnya tak dianggap serius, namun akhirnya mamah pun memutuskan memeriksakan diri ke dokter. Obat-obat yang diberikan dokter malah membuat benjolan itu membesar perlahan-lahan dan terkadang menimbulkan rasa sakit. Kekhawatiran pun mulai muncul, maka diputuskanlah untuk mengangkat benjolan itu. Tak disangka, proses pertama yang harus dilalui yaitu pengambilan sampel atau biopsi membuat kondisi mamah mulai melemah. Benjolan yang awalnya kecil mulai mengganas seolah terpancing. Mamah pun divonis terkena kanker payudara yang pada akhirnya mengharuskan mamah merelakan payudara kananya untuk dingkat. Lagi-lagi proses ini pun membuatnya semakin melemah, ditambah proses radiasi yang harus dijalaninya sebanyak 30 kali malah membuat punggungnya sampai hangus dan membuatnya sulit untuk duduk.

Ternyata tak cukup disitu, selain penyakit secara medis, penyakit gaib yang sempat mereda beberapa waktu mulai muncul lagi seolah ingin memperparah kondisi. Mamah pun menjadi semakin melemah ditambah jiwanya yang tidak tenang. Setelah proses radiasi, benjolan yang sekiranya dianggap akan mati malah menjadi tersebar tak terkendali hingga dokter yang menangani pun merasa kebingungan dan malah menyuruh mamah kembali mengangkat payudara yang sebelahnya. Merasa lelah dengan pengobatan medis yang tidak terasa khasiatnya, ditambah pikiran bahwa sebenarnya ada penyakit gaib yang juga menjangkitinya lagi, mamahpun akhirnya beralih ke pengobatan alternatif.

Hari demi hari ustadz yang mengobati datang silih berganti, dari yang murni meruqyah dan membacakan ayat alquran sampai yang sedikit nyeleneh dan mencoba menipu datang ke rumah. Sesekali kondisinya nampak membaik, tapi seketika pula esoknya mamah menjadi drop kembali malah lebih buruk. Terus seperti itu. Sampai akhirnya Allah benar-benar mengambilnya kembali, setelah perjuangan berat satu tahun terkhir yang dirasakannya.

Satu minggu sebelum meninggal mamah sempat bercerita pada apa, bahwa dalam mimpi ia melihat ada sebuah kuburan terbuka dan cahaya terang keluar darinya. Semoga saja benar, kini mamah berada di alam barzah yang terang benderang dipenuhi kenikmatan tiada tara. Untuk setiap ketaatannya kepada Allah, untuk baktinya pada suami dan orangtuanya, untuk kasih sayang pada kami anak-anaknya. Semoga Allah mengganti rasa sakit yang harus ditanggungnya bertahun-tahun, terlebih di satu tahun terakhir hidupnya dengan penghpusan seluruh dosa-dosanya dan tercurahnya pahala untuk kesabaran dan kepasrahan dirinya kepada Allah semata.

Sepanjang perjuangan menghadapi penyakitnya yang berat itu, ada sosok yang tak pernah meninggalkan mamah, yaitu Apa. Kadang dengan tergopoh-gopoh Apa membawakan apa-apa yang diminta mamah ketika sudah tidak bisa apa-apa. Membersihkan kotorannya, merawat lukanya, mengganti bajunya, menungguinya terus dan terus. Juga sosok ema, ibunya mamah, yang seringkali tak bisa tidur untuk menunggui mamah, dan tangannya senantiasa menengadah memohon pertolongan Allah untuk putri tercintanya sembari terisak. Yah, dua sosok inilah yang mungkin merasakan kehilangan yang teramat sangat saat kepergian mamah.

Setelah mamah tidak ada, banyak yang bilang Apa menjadi sering bengong, seperti tak menapak bumi, mungkin tak jauh dari gambaran kondisi pak Habibie ketika ditinggal ibu Ainun. Separuh jiwa yang menemaninya selama 26 tahun menjadi hilang. Apa seringkali minta maaf pada Ema karena belum bisa membahagiakan mamah, istrinya. Saat apa mendoakan orang-orang yang sudah tiada, maka ketika sampai pada nama mamah, semua doa dipanjatkan apa sebanyak-banyaknya, minta kebahagiaan untuk mamah. Pun ketika mamah dimakamkan, saat yang lain sudah pulang, hampir 2 jam apa mengaji di makam mamah.

Satu hal yang paling teringat. Apa bukanlah sosok yang romantis dan sama sekali tak terlihat pandai berkata-kata manis. Tapi ketika suatu hari apa mengantarku jiarah ke makam mamah dan apa mengucapakan, “Assalamu’alaika yaa zaujatii..”, maka bagiku salam itu bagai panggilan paling mesra yang pernah kudengar darinya untuk mamah.

Tepat dua bulan setelah kepergian mamah ke hadirat Allah, akhirnya sang belahan jiwa pun turut menyusulnya. Apa tiba-tiba terserang stroke, begitu cepat, begitu mendadak. Ia hanya sempat dirawat di rumah sakita selama 3 hari, seolah tak ingin merepotkan orang-orang di sekitarnya. Begitu mudah, begitu cepat kepergiaannya.

Begitu banyak orang yang menganggap keduanya sebagai pasangan sehidup semati, cinta sejati. Wallahu a’lam. Tapi begitulah keduanya menjalani biduk rumah tangga ini di dunia. Satu hal yang terkesan dan terkenang, bahwa tiap ujian yang menerpa selalu membuat mereka semakin bersatu padu untuk menjadi kuat, selalu mereka pasrahkan kepada Allah dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya. Semoga kini dan kelak keduanya kembali dipersatukan dalam naungan cinta Allah Ta’ala.

Allahummaghfirlahumaa warhamhumaa wa’aafihumaa wa’fu ‘anhumaa..Aamiin
..

One thought on “Mamah&Apa, Mengukir Cinta Dunia Akhirat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s