Posted in Celotehan

PKS, Tarbiyah, dan Demokrasi…Mengapa? #Celotehan Pemula#

Hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal maulaa wani’mannashiir..

Sejujurnya saya tidak punya cukup ilmu untuk membahas pergerakan-pergerakan Islam yang ada. Tapi saya selalu diajari bahwa insyaAllah tiap gerakan (kecuali gerakan sesat) tentu punya tujuan baik untuk meneggakkan kalimah Allah di muka bumi, hanya saja jalan tempuh yang diambilnya berbeda-beda. Kalau kata Ust.Felix Siauw, janganlah ketika melihat banyaknya gerakan, banyaknya jama’ah saat ini membuat kita enggan turut serta bergerak, dengan dalih,”kok Islam terpecah-pecah gini yah,”. Mungkin memang sunnatullah nya seperti ini,mungkin ini pula yang disebut berlomba-lomba dalam kebaikan. Jadi masuklah dalam jama’ah, bergeraklah, berdakwahlah.

Lalu mengapa terkadang satu dan yang lain saling memperolok, seolah jalan yang ditempuh saudaranya begitu hina, dan dirinyalah yang begitu mulia. Bukankah ini masalah ijtihad yang bahkan para ulama pun masih berbeda pendapat tentang ini. Lalu mengapa kita yang ilmu nya masih cetek secetek-ceteknya malah lebih sering ribut dibanding beramal? Kita masih satu agama loh, satu yang disembah yaitu Allah, satu Rasul, masih sama-sama shalat. Ya kalau memang tujuannya untuk mengoreksi, ya mbo dengan cara yang ahsan begitu. Jangan asal nyeletuk. Bagaimana orang bisa respect? Tidakkah setiap yang diucapkan kecuali dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Jujur saja , lagi-lagi saya katakan bahwa saya bukanlah orang yang mafhum. Kalau ada yang mau bilang saya follower, yang memang saya follower. Saya follower jama’ah Tarbiyah. Ndak salah kan jadi follower dalam kebaikan, yang penting tidak taklid buta. Terkadang suka terbersit dalam hati, ” Wah kalau jama’ah-jama’ah lain suka bilang ini itu, terus langkah konkrit mereka gimana ya untuk merubah sistem Jahiliyah ini? Ya, mau disebut ikut-ikut demokrasi thagut juga, minimal sudah ada peran dan sumbngsih yang bisa kami beri.” Hussss..Astaghfirullah, mungkin itu adalah riak kesombongan juga. Padahal bisa jadi kontribusi dan amal saudara-saudara di harokah lain sudah jauh lebih banyak, lebih mulia, hanya saja saya tidak tahu karena saya tak pernah masuk rumah mereka, atau barangkali mengetuk pintunya saja enggan. Maka, mungkin mereka pun demikian. Dalam pikiran mereka selalu terbersit, selalu ter-frame-kan bahwa kami adalah jama’ah yang mengikuti thagut demokrasi, perjuangan kami salah, perjuangan kami hanyalah sia-sia, dsb. Bisa jadi karena mereka tak pernah mau mengetuk pintu kami.

Politik memang sering dianggap seperti air selokan kotor. Orang yang masuk ke dalamnya, yang pada awalnya ingin membersihkan selokan kotor itu, malah pada akhirnya ikut-ikutan kotor juga. Benarkah akan selalu demikian? Ah ga tau lah. Tapi ada yang saya ingat dari perkataan Syekh ‘Utsaimin rahimahullah,”Bahwa sudah seharusnya (ada yang) masuk dan turut serta dalam pemerintahan. Dan hendaknya seseorang dengan masuknya ia ke dalam pemerintahan meniatkannya untuk melakukan perbaikan bukan untuk menyetujui setiap keputusan yang dikeluarkan. Dan dalam kondisi seperti ini, bila ia menemukan sesuatu yang menyelisihi syari’at maka ia berusaha menolak / membantahnya. Walaupun pada kali pertama dia tidak banyak orang yang mengikuti dan mendukungnya, maka (ia mencoba terus) untuk kedua kalinya, atau (bila tidak berhasil pada ) bulan pertama, (maka ia mencoba lagi) pada kedua dan ketiga, atau (bila tidak berhasil) pada tahun pertama, (maka ia mencoba lagi) pada tahun kedua maka di masa yang akan datang akan ada pengaruh yang baik. Namun jika (pemerintahan) itu dibiarkan lalu kesempatan itu diberikan kepada orang-orang yang jauh dari (cita-cita) penerapan syari’at maka ini adalah sebuah kelalaian yang besar yang tidak seharusnya seseorang itu memiliki / melakukannya.”

Maka dalam kondisi saat ini, ketika kita masih “terjebak” dalam sistem demokrasi, seyogyagnya parlemen atau pemerintahan lebih banyak diisi oleh orang Islam yang mengerti dan mengamalkan Islam dengan baik. Maka dari itu apakah salah ketika memikirkan “kotak suara”?? Untuk dapat mendominasi parlemen, maka butuh suara masyarakat pula yang berafiliasi pada Islam. Seluruh warga atau sebagian besarnya harus diberi pemahaman yang benar tentang Islam, sehingga aspirasi yang mereka sampaikan tidak keluar dari ajarannya. Disitulah dakwah ini.

pks

Di dunia Internasional, gerakan ikhwanul muslimin di beberapa negara pun menggunakan cara ini. Sebutlah di Mesir , Turki, juga Palestina dengan Hamasnya. Setidaknya dengan mereka berada di panggung politik, banyak kebijakan-kebijakan politik yang bermanfaat untuk ummat. Namun inilah perjuangan. Ketika ketiganya menjadi pemenang dalam sebuah sistem poliik bernama demokrasi, maka bagi yang tidak menyukai Islam, kemenangan-kemenangan itu bagai tidak ada artinya. Mereka terus saja diguncang dengan berbagai dalih. Lihatlah kondisi Mesir sekarang. Atau Hamas yang hampir mutlak memenangkan seluruh suara pemilu namun tetap digoyang Israel dan dunia barat. Yah, inilah perjuangan. Janganlah mengira ketika kita kelak jadi juara dalam sistem demokrasi ini maka semuanya akan menjadi lancar, tenang, sentosa. Sungguh mereka yang tidak ridha Islam menjadi pedoman hidup tidak akan duduk diam. Apakah setelah Fathul Makkah, Rasulullah menjadi berdiam diri? Apakah setelah turun ayat, “Akmaltu lakum diinakum…”, maka ummat Islam tinggal ongkang-ongkang kaki? Tidak! Perjuangan terus berlanjut. Maka, ketika saat ini cara inilah yang dipilih, ini adalah suatu pilihan berdasarkan kondisi yang ada. Berbeda dengan pola perjuangan saat Orba, bahkan bisa jadi akan berbeda pula untuk saat-saat mendatang.

Sejarah Indonesia pun mencatat, ketika DI TII Kartosoewiryo berjuang dengan senjata sedang Masyumi dengan cara masuk ranah politik, maka belum satu pun dari keduanya yang berhasil menegakkan syari’at Islam, karena keduanya diberangus saat itu. Lalu kini, ketika yang satu mencoba lagi jalan yang ditempuh Masyumi, dan yang lain menempuh jalan lain, maka biarlah waktu yang menjawab siapakah yang akan Allah beri pertolongan-Nya. Ketika saat itu tiba, maka sudah menjadi kewajiban seluruh muslim ta’at pada satu pemimpin.

Kadang suka gemes (Astaghfirullah)..Ketika mereka teriak-teriak bahwa kami hanyalah pengikut thagut, kami hanya pengejar kotak suara(???), ingin sekali berkata,”Wahai Akhi ukhti,,bisakah antum menjelaskan kepada saya yang bodoh ini jalan apa yang menurut antum benar itu? Mengapa antum menganggap kami begitu keliru layaknya orang sesat? Bagaimana langkah antum untuk merubah sistem thagut ini? Plisss,,ajari saya”. Abaikan,,itu hanya unek-unek ga penting..

Suatu hari ketika saya masih di tingkat pertama kuliah, seorang kakak angkatan mengatakan bahwa tarbiyah adalah alat konspirasi musuh-musuh Islam, seperti halnya KOMJI saat Orba. Tarbiyah hanyalah sarana intelejen untuk menjebak orang-orang yang punya ghiroh Islam tinggi, dsb. Hingga akhirnya ada perasaan ragu di hati saya, benarkah seperti itu? Jangan-jangan saya memang berada di jama’ah yang salah. Saya pun bertanya pada kakak yang lain, seorang kader tarbiyah juga. Namun dengan polosnya dia menjawab, ” Wah, teteh mah ga tau ya, mungkin karena belum baca banyak. Tapi teteh mah akan bertanya pada hati kecil. Bukankah selama ini jama’ah ini yang sudah mengajarkan kebaikan pada teteh. Membuat teteh semakin mencintai Islam, membuat teteh mencintai dakwah, membuat teteh semakin mencintai Qur’an.”

Ya, tanyalah fatwa pada hati nuranimu. Saya selalu ingat ketulusan dan tatapan teduh murobbiyah-murobbiyah saya. Ustadzah yang mungkin bukanlah lulusan pesantren hingga bisa baca kitab kuning. Ustadzah yang barangkali bahasa Arab pun tak fasih. Ustadzah yang barangkali belum sempurna menghafal Qur’an. Tapi dari mereka saya belajar kemuliaan Islam. Saya dibina untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Saya diajarkan untuk mencintai Rasul dan para sahabatnya. Saya diingatkan untuk selalu berinteraksi dengan Alquran, membacanya, menghafalkannya. Saya dibina untuk berbakti kepada orangtua saya, mencintai keluarga saya, mencintai saudara-saudara seiman saya. Bahkan tak pernah sekalipun mereka mengatakan pada saya bahwa jama’ah inilah yang paling benar, sedang yang lain salah. Tidak pernah sekalipun mereka mengajarkan untuk memperolok yang lain, karena bagi kami mereka adalah saudara kami sesama muslim, maka marilah berfastabiqul khairat. Itu saja.

Maka kini, ketika gonjang-ganjing menyeruak , ketika semua mata tertuju pada kami, seolah ingin menelan bulat-bulat, saya katakan pada diri, sungguh ini belum ada apa-apanya dibanding ujian dan cobaan yang menerpa umat terdahulu, pejuang terdahulu. Maka, jangan berhenti bergerak, jangan mundur ke belakang, jangan tercecer dari barisan.

“Ketika ada 1 juta orang yang berjuang di jalan Allah, maka pastikan kau adalah salah satunya. Jika ada 1000 orang yang berjuang di jalan Allah, maka pastikan kau salah satunya. Jika hanya ada 10 orang yang berjuang di jalan Allah, maka pastikan kau satu diantaranya. Jika hanya satu orang, maka pastikan itu adalah kau. Jika sudah tak ada yang berjuang di jalan Allah, maka artinya kau telah mati syahid.”

Sungguh hanya untuk Allah lah kami beramal. Hanya kepada-Nya lah kami menyembah, dan hanya kepada-nya kami memohon pertolongan. Allahu Akbar!
======

Walau hujan
Aku tetep pergi ke sekolah
Walau hujan
Ibu tetep pergi ke pasar
Walau hujan
Ayah tetap pergi ke sawah
Karena hujan adalah rahmat Tuhan
-karya: Abu Kayyisah zaman SD-

Maka kini….
Walau hujan
Walau terik
Walau badai
Walau angin topan
Maka tetaplah bergerak
Tetaplah bejuang
Karena bisa berada dalam barisan ini
Adalah rahmat Allah

“Dan katakanlah, “Beramallah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. At-Taubah: 105).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s