Posted in Tausyiah dan hikmah

Kewajiban Istri itu…….

Baca ini dari status seorang teman di Facebook…
=============
Tulisan Ustad Abdul Hakim Hafidhohullah
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), DAN KARENA MEREKA (LAKI-LAKI) TELAH MENAFKAHKAN SEBAGIAN DARI HARTA MEREKA. (QS. An-Nisa’ : 34)

Apa kata para ulama mazhab dalam masalah ini ?
1. Madzhab Hanafi
“Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap” (Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai‘)

2. Mazhab Maliki
– Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya
punya kemampuan untuk berkhidmat
– Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan,maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya.(kitab Asy-Syarhul Kabir oleh Ad-Dardiri)

3. Mazhab Syafi’i
– Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak,mencuci dan bentuk khidmat lainnya untuksuaminya. Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban. .(kitab Al-Muhadzdzab oleh Asy-Syairozi)

4. Mazhab Hambali
– Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat
kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan
makanan, membuat roti, memasak, dan yang
sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya. (Imam Ahmad bin Hanbal)

5. Mazhab Dzahiri
– Tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni,
membuat roti, memasak dan khidmat lain yang
sejenisnya, walau pun suaminya anak khalifah.
Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam. Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur. (Al Muhalla – Ibnul Hazm)
================

Ragam sekali komentar yang muncul, baik dari laki-laki maupun perempuan. Lalu si ummi pun dengan semangat 45 bilang ke abi ” Bi, baca deh statusnya Kang X, katanya ngerjain pekerjaan rumah tangga teh bukan kewajiban istri. Jadi, boleh dong ummi ga usah nyuci, ngepel, masak?” Lalu abi pun menjawab gini, ” Iya mi, siapa bilang kewajiban ummi ngepel, nyuci, dll. Kewajiban ummi mah cuma 2, ta’at dan menyenangkan hati abi. Itu aja kok. Nah, sekarang abi minta tolong ummi untuk membantu abi mengerjakan pekerjaan rumah selagi abi keluar rumah nyari uang. Gimana mi? Kan karena abi minta tolong, jadi sebagai istri ummi wajib ta’at bantuin abi”. Krik…krik…krik….

Kalo kata abinya Kayyis mah rumah tangga teh ga cukup dengan hanya ngomongin dan ngitung-ngitung hak dan kewajiban. Karena dalam rumah tangga ada yang namanya cinta, kasih sayang, juga tanggung jawab. Jadi, buat para istri yang suaminya memberikan khadimat untuk membantunya, ya alhamdulillah, tapi tetap ingat bahwa seorang istri adalah pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga kelak Allah akan tetap bertanya tentang apa-apa yang dipimpinnya. Lalu, bagi istri yang harus bejibaku sendiri membantu suami mengerjakan pekerjaan rumah, jangan merasa hina, jangan berkecil hati.

Ini adalah kisah seorang wanita mulia, sosok putri kesayangan Rasulullah SAW, Fatimah AzRahra RA. Suatu hari Rasulullah pernah menemui Fatimah sedang menggiling gandum sembari menangis, lalu Rasul pun bertanya, ” Apa yang menyebabkan kau menangis wahai Fatimah?” Lalu Fatimah pun menjawab, “Ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis. Sudikah kiranya ayahanda meminta Ali mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”.

Rasulullah pun berkata kepada putri tercintanya itu, “Wahai Fatimah, jika Allah SWT menghendaki niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nyauntukmu beberapa derajat. Ya Fatimah,perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.Ya Fatimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.

Ya Fatimah, perempuan mana yang meminyaki
rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fatimah, perempuan mana yang
tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fatimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), “teruskanlah ‘amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”.

Ya Fatimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai surga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah SWT akan
menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat”.

Masya Allah. Sungguh luar biasa. Amal-amal yang seolah tampak sepele itu sesungguhnya begitu mulia di mata Allah. Amal-amal yang terkadang menurut para pengagung feminisme akan membuat para wanita tampak rendah, tidak emansipatif, dsb, namun sesungguhnya tidaklah demikian. Semua amal itu adalah jihadnya para istri yang dapat membawanya ke syurga Allah. Insya Allah.

Akan tetapi, lihatlah pula bagaimana Islam mengatur segalanya dengan sempurna dan penuh keseimbangan. Jikalah para istri harus membantu suami mengerjakan semua pekerjaan rumah yang tak ada habisnya itu, bukan berarti para suami hanya boleh berpangku tangan. Lihatlah bagaimana Rasulullah sebagai suami tak malu menjahit sendiri pakaiannya yang sobek, dan masih banyak pekerjaan rumah tangga lainnya yang Rasulullah kerjakan sendiri.

Namun demikian, terkadang yang dibutuhkan seorang istri bukanlah bantuan tangan sang suami untuk turun tangan ke dapur, menyuapi atau memandikan anak. Yang paling dibutuhkan istri adalah sebuah pengakuan, penghargaan, kehangatan kasih sayang dan kesediaan suami untuk mendengar.

Tak ada salahnya seorang suami menunjukkan pengakuan dan penghargaannya kepada sang istri lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih, sehingga tak ada lagi air mata yang menetes dari kedua kelopak matanya. Juga, kesediaan suami membuka telinga untuk sang istri, hingga tak akan ada lagi istri berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar.

Seorang suami sepantasnya mengingat pesan Rasulullah SAW ini, “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka.Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepadaAllah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik. “

Suami mengambil istrinya sebagai amanah dari Allah, dan kelak harus melaporkan amanah itu kepada-Nya. Apakah suami mengabaikan istrinya sehingga gurat-gurat dengan cepat menggerogoti wajahnya jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, sang suami sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istrinya?

Akhirnya, si ummi pun mangamini apa yang dikatakan abinya Kayyis, bahwa sesungguhnya rumah tangga ini tak hanya terdiri dari komponen kewajiban dan hak suami maupun istri. Aada cinta, ada kasih sayang, dan ada tanggung jawab pula di dalamnya. Semoga bila suami maupun istri menjalankan semuanya dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap ridha-Nya, maka Allah akan semakin memperkuat cinta keduanya, hingga kelak masing-masing mereka akan mengatakan tentang yang lain, “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”, seperti ucapan ibunda Aisyah RA tentang suami tercintanya Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bishshawaab
====================
Ditulis sebagai pengingat untuk diri sendiri. Semoga bisa menjadi istri dan ibu yang semakin “profesional”, lebih sabar, dan tak mudah mengeluh🙂

Sumber inspirasi dan referensi:
Artikel “Pekerjaan Rumah Tangga yang Mulia”, ibu Anindya Sugiyarto, dan artikel ” Secangkir Teh Cinta di Pagi Hari”, pak Fauzil Adzim, yang dipublish di http://www.Islamedia.web.id.

2 thoughts on “Kewajiban Istri itu…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s