Posted in Celotehan

KARIR atau KELUARGA…??? # 3

Baca artikel “lucu”  yang dipost Teh Patra di grup ITB motherhood. Teh Patra ini adalah sosok yang saya kagumi, walau tak pernah bertemu orangnya langsung dan beliau pun pastinya tak kenal saya, tapi hanya dengan mendengar dari orang-orang dan membaca tulisan-tulisannya saja membuat saya tertarik dengan pribadinya. Lulusan S1 ITB dan S2 UI dengan 5 orang anak. Menikah saat masih kuliah, sudah punya anak saat harus TA, dan sekarang menjadi seorang ibu rumah tangga. Lalu adakah yang pernah bertanya, ” Ga sayang apa dengan gelar dan kuliah ampe setinggi itu tapi cuma jadi ibu rumah tangga?” Entahlah Teh Patra akan menjawab apa, tapi tampaknya kalimat ini akan muncul, ” I’m a full time mom and wife at home, and I Love it”. Bagiku, itu sesuatu yang Wooow. Sempat beliau hampir saja lolos seleksi penerimaan pegawai BI, tapi beliau mengundurkan diri dalam tahap wawancara karena bagi Teh Patra keluarganya jauh lebih penting.

Ok, kembali ke artikel yang Teh Patra postingkan. Artikel itu memuat cerita dari seorang ibu yang pernah jadi seorang working mom. Tanpa bermaksud menyamaratakan, ibu ini berkisah tentang pengalamannya selama menjalani karir di luar rumah plus hal-hal yang menurutnya kurang baik. Kalau dirangkumkan kira-kira begini:
1. Dandan saat mau berangkat ngantor
Untuk siapakah itu? Walaupun mau ngeles biar keliatan rapi dan bla bla bla, ujungnya tetaplah sama yaitu ingin keliatan cantik dan menarik. Daaan di antara yang melihat kecantikan itu tentunya ada para lelaki yang sebetulnya tidak punya hak untuk itu. Boleh saja rapi, tapi dalam Islam seorang istri hanya boleh bersolek untuk suaminya. Jangan terbalik, saat mau ke luar rumah cantik dan wangi tapi saat di rumah, di depan suami, lusuh dan bau.

2. Bercampur baur dengan teman sekantor yang bukan mahram.
Tak dapat dipungkiri ini sering terjadi. Demi menjaga keakraban dll sering kali benteng-benteng hijab terdobrak, apalagi kalau sudah ada pikiran,”Aku kan sudah bersuami, ga mungkin lah dia suka ama aku”..Eitsss tunggu dulu, setan itu tak kenal henti untuk menggoda manusia. Dia akan mencoba masuk dari pintu mana saja, dan masalah ikhtilat ini adalah pintu yang sangat rawan.

3. Profesionalitas
Katanya emansipasi, tapi kalau urusan kerjaan yang berat-berat  pasti ujung-ujungnya nyuruh bapak-bapak. Juga, sering ditemui ibu-ibu kalau di kantor lebih banyak ngobrol atau ngegosip, jajan, buka internet buat Facebookan, chatting, dll yang ga ada urusan ama kerjaan. Nah lho, apa kayak gini namanya wanita karir yang profesional?

4. Wanita karir itu memiliki peran ganda, hebat kan?
Eitss benarkah? Sebenarnya bisa jadi yang punya peran ganda tuh malah  ART di rumah. Di suruh ngerjain pekerjaan rumah tangga iya, disuruh ngasuh anak iya, padahal gajinya aja paling banter juga sama kayak UMR. Sekalinya anak pinter, komentar deh,”Siapa dulu dong ibunya”. Tapi kalau anak bandel dikit, “Dasar pembantu Be*o, ngurus satu anak aja ga bisa”.

Ibu ini akhirnya merefleksikan semua yang dijalaninya selama ini. Sebenarnya apa yang dia kejar? Kalau urusan uang, toh suaminya sudah bisa memberi lebih dari cukup. Kalau urusan emansipasi, kenyataannya di tempat kerja gitu-gitu aja, yang dibilang mau jadi wanita karir profesional ternyata nggak juga. Yah, semua itu ternyata hanya untuk egonya dalam mengejar “AKTUALISASI DIRI” dalam pemahamannya. Selebihnya dia tak mendapat apapun selain kehilangan waktu dengan sang buah hati. Akhirnya sekarang dia memutuskan berhenti dari kantor dan menjadi momprener agar bisa terus bersama sang anak.

Saya tidak bermaksud mendeskreditkan para working mother, karena toh banyak working mom yang profesional dan keren serta bisa menjaga diri. Saya juga tidak akan membahas working mom yang bekerja karena memang ada tuntutan, misal sebagai single parent atau memang harus membantu suami dan keluarga. Saya hanya ingin membahas soal “AKTUALISASI DIRI” yang akhir-akhir ini sering didengungkan kaum wanita.

Lagi-lagi bagi para ibu betitel sarjana, magister apalagi doktor tentu punya keinginan yang kuat untuk mengaktualisasikan dirinya dan memanfaatkan ilmunya di luar rumah. Tapi ya itu, semua harus terencana dan sadar betul dengan semua yang dijalani.Worth it kah? Lagi-lagi itulah pertanyaannya. Misal, punya mimpi berkontribusi di birokrat hingga bisa memperbaiki tatanan birokrasi yang carut-marut ini, maka harus sudah punya rencana yang terbayang bagaimana proses jenjang karir yang harus dicapai agar mimpi itu benar-benar dapat diraih, dsb. Jangan semata karena telinga panas dengan komentar orang, “Kok udah sekolah tinggi-tinggi cuma di rumah aja, ga sayang sama ilmunya?” Lalu mem ba-bi-bu dengan semangat 45 ingin menjadi wanita karir, ingin beraktualisasi di luar rumah. Nilai kebermanfaatan ilmu tak melulu harus berwujud kita menjadi pekerja, karena ketika ilmu kita bisa bermanfaat untuk keluarga atau lingkungan rumah, itu pun adalah suatu nilai kebermanfaatan yang sama besarnya.

Walaupun begitu seorang wanita tetaplah harus punya mimpi. Mungkin karena efek bersekolah di Institut Terbaik Bangsa dengan orang-orang cerdas dan mimpi mendunia, saya pun akhirnya memiliki mimpi yang mirip dengan mereka, yaitu jadi peneliti yang hebaaaat. Lalu setelah itu so what? Entahlah saya pun tak tahu. Sehingga sekarang saya pribadi lebih suka mengatakan mimpi dengan sebutan “NILAI KEBERMANFAATAN HIDUP”. Tak ada yang menjamin saya masih tetap hidup sampai saya lulus magister atau kuliah ke luar negeri misalnya, atau sampai saya lulus CPNS LIPI misal yang lain. Saat ini peran pasti dan memang benar-benar saya jalani adalah sebagai istri dan ibu, maka disitulah NILAI KEBERMANFAATAN saya harus digali saat ini. Pada akhirnya mimpi bagi saya tak harus selalu berhubungan dengan profesi tertentu, dan ternyata mimpi pun bukan sesuatu yang mutlak. Ada kalanya seiring waktu, seiring episode hidup yang dijalani, mimpi pun turut berubah.

Terkadang dulu pun saya suka menyayangkan teteh angkatan yang habis menikah kok agak-agak melempem gimanaaa gitu seolah ga punya aktivitas, ga kerja juga, ya gitu deh mana aktualisasi dirinyaaa? Tapiii, ternyata orang yang belum ngrasain jadi istri dan ibu memang ga pas kalo harus mengkritisi orang yang udah jadi istri dan ibu, seperti halnya kurang pas ibu yang baru punya anak satu menkritisi ibu yang anaknya udah banyak, lah wong belum ngerasain. Makanya waktu zaman-zaman dauroh dulu suka dibilangin kalo akhawat militan itu baru bener-bener bisa dibilang militan kalau anaknya sudah banyak dan dia tetap luar biasa.

Tentu hampir semua orang kenal, minimal pernah dengar,  sosok wanita hebat bernama Ustadzah Yoyoh Yusroh. Bagi saya beliau salah satu contoh figur akhawat militan yang berhasil menjalankan “peran ganda” di dalam dan luar rumah. Buktinya beliau berhasil mendidik putra-putrinya menjadi pribadi-pribadi yang shalih dan cerdas, dan beliau sendiri pun adalah tokoh yang punya peran di lingkup nasional maupun internasional. Lalu apa rahasianya? Entahlah, tapi  menurut saya yang pasti salah satu kuncinya tentu karena kedekatannya dengan Sang Maha Pengatur Urusan, sehingga Allah mudahkan baginya segala urusan, Allah pun rela membebaninya dengan banyak amanah luar biasa karena memang beliau layak. Mengapa beliau bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan besar? Karena beliau sudah beres dengan yang remeh temeh. Tidak ada waktu untuk mengeluh apalagi menggalau. Semua waktunya adalah untuk ummat, untuk da’wah fii sabilillah.

Pada akhirnya tiap orang punya pilihan hidup masing-masing…..

Wallahu a’lam

#I’m a full time mom and wife. I love it and I proud of it …..
I Love Kayyisah & Abu Kayyisah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s