Posted in Tausyiah dan hikmah

Uang Suami = Uang Istri ???

Jadi  teringat ceramah mamah Dedeh Ramadhan tahun lalu. Saat itu mamah menyentil soal nafkah suami untuk istri. Seringkali ditemui di masyarakat kita suami seolah-olah seperti pegawai istrinya.  Suami kerja pontang-panting, dan saat menerima gaji semua gajinya diserahkan kepada istrinya. Lalu tiap hari suami dapat jatah uang harian untuk transport dan makan, dan bahkan jika ada kebutuhan mendadak, suami harus minta-minta pada istrinya. Ini adalah hal yang kaliru kata mamah.

Dalam masalah nafkah suami terhadap istri, tidak berarti uang suami seluruhnya milik istri, yang betul adalah dari uang suami ada hak dan rizki istri. Selain rizki istri, tentu ada juga rizki anak, rizki saudara, rizki orangtua, dan rizki faqir miskin.

Memang tidak selalu dikatakan salah  ketika suami menyerahkan seluruh uangnya untuk dikelola istri, karena bisa jadi ada suami-suami yang khawatir tdak dapat mengelola uangnya dengan baik. Tapi ya itu tadi, dalam manajemen keuangan rumah tangga harus ada pos-pos anggaran yang disepakati bersama. Jadi, kalau memungkinkan alokasikan dana untuk hal-hal lain selain kebutuhan keluarga inti. Suami pun sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk meminta izin kepada istrinya ketika akan mempergunakan uangnya, tapi alangkah baiknya jika semuanya transparan, jadi sifatnya adalah pemberitahuan atau bisa saja berupa permintaan pendapat suami kepada istri sehingga tidak muncul su’udzon.

Dulu sering sekali dengar bahwa salah satu alasan pria jawa dilarang menikahi wanita sunda karena katanya wanita sunda itu suka “ngokop”.”Ngokop” maksudnya semua uang suami benar-benar dikuasai istri, sampai-sampai saat suami ingin memberi untuk ibu atau saudara-saudaranya susahnya bukan kepalang. Inilah yang biasanya jadi sumber konflik dalam keluarga. Sebenarnya pandangan seperti ini tidak bisa disamaratakan, karena tiap orang tentu berbeda, hanya mungkin ada beberapa kasus ditemui beberapa wanita sunda bersikap seperti itu, sehingga terkenallah istilah ini. Hal ini tentu tidak akan terjadi ketika istri faham bahwa bagaimanapun suami tetaplah punya kewajiban berbuat baik kepada orang tuanya. Namun begitu, suami pun jangan lupa bahwa kewajibannya memberi nafkah adalah kepada istrinya sedangkan kewajibannya kepada orangtua adalah berbuat baik.

Saya suka nasihat bapak mertua saya kepada suami saya dulu. ” Nak, setelah menikah ini kamu punya 3 keluarga, yaitu keluarga baru kamu dengan istrimu, keluarga orangtua mu, dan keluarga mertuamu. Berusahalah untuk selalu bersikap baik kepada ketiganya”.

============================================
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya”. (Al-Baqarah :233)

“Dan mereka (para isteri) memiliki hak yang menjadi kewajiban kamu, yaitu (kamu wajib memberi) rizki (makanan) dan pakaian kepada mereka dengan ma’ruf (baik)”. (HR Muslim)

2 thoughts on “Uang Suami = Uang Istri ???

  1. saya mu curhat gimana kalau dalam suatu keluarga,ternyata seorang suami lebih brat pda ibu dan sodaranya.
    ketimbang anak dan istrinya.sampe”mslh keuangn istri pun hrus di atur oleh mertua.
    tolong ksh sarannya supaya itu tidak terjadi terus

    1. kalau boleh saya menebak, mungkin ini terjadi krn mba tinggal bersama keluarga suami? kalo tebakan saya benar, kejadian spt yg mba ceritakan memang kemungkinan besar terjadi…tapi kalo ternyata tebakan sy salah,mungkin bs dicari solusi bersama dengan mengkomunikasikannya dengan baik bersam suami…semoga dimudahkan sgala urusannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s