Posted in Celotehan

(Jawaban) Suamiku, Mengapa Kau Mencintaiku?

Istri: ” Mas, saya teh suka minder kalo baca statusnya temen mas buat istrinya. Dia suka bilang,,’Udah shalihah, cantik, cerdas, sederhana, penyayang, pekerja keras, pinter masak lagi,,memang perfect lah istriku’.. Duh saya teh suka mikir,,kalo istrinya suami saya gimana ya,,ga jago masak, ga pinter-pinter amat, dibilang cantik juga kayaknya biasa aja. Kasian banget sih suami saya”.

Suami: ” Hmmm..Dik, mas itu tidak memandang cinta hanya karena parameter-parameter itu. Coba kalo mas cinta adik hanya karena adik cantik,,nanti kalo adik udah tua dan ga cantik lagi cinta mas ilang juga dong. Trus kalo mas cinta adik karena adik pinter masak, kalo suatu saat kita punya khadimat yang lebih jago masak, masa mas jadi lebih cinta ke khadimat. Semua parameter tadi itu, cantik, pinter masak, dll, adalah bumbu-bumbu dalam masakan, sedangkan bahan utamanya adalah ketaatan. Mas mencintai adik karena ketaatan adik, jadi ga usah minder lagi”.

Istri: ” Tapi tetep aja, masakan kalo ga ada bumbunya ga enak. Taat aja kalo ga ada yang lain-lainnya juga gimana?”

Suami : ” Iya, bumbu-bumbu emang penting dan lebih baik ada. Tapi kalo lagi lapar sih makanan yang kurang bumbu juga akan tetep dimakan, karena yang paling penting kan bahan utama makanannya”.

Istri : “Tapi kan tetep aja kalo ada masakan yang lebih enak pasti mau yang lebih enak “.

Suami : “Hmmm…”

Istri : -_-‘

=========================================================================
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban . Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang palingbaik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci ” (HR. An-Nasai dan Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s