Posted in Celotehan

Warna-Warni Kampung Halaman Suami

Akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah jawa timur..Waah rasanya dulu tak bermimpi akan hijrah sejauh ini..saking ga sukanya pergi jauh-jauh sampe dulu mikirnya pengen dapet suami orang garut juga,,heu,.

Tapi subhanallah yah bumi Allah memang begitu luas dan berwarna. Padahal masih dalam satu pulau, tapi banyak sekali perbedaan yang terasa, sungguh menarik. Hal yang cukup membuatku kesulitan adalah soal bahasa. Kadang kalo orang rumah pada ngomong aku cuma bisa cengo, senyum-senyum, atau ngangguk-ngangguk doang. Paling parah kalo ditanya orang, maka beberapa kali aku akan bilang ,”Hah? Hah?”.

Kemarin aku belanja ke sebuah toko, trus penjaganya pake bahasa jawa tok. Ketika dia nanya aku cuma bisa bilang “hah” doang. Atau kalau ada suamiku aku akan nanya ,”Apa mas maksudnya?”. Sempet juga salah ucap bilang, ” Teh”, padahal kan di sini harusnya manggil ,”Mbak”.hehe….

Subhanallah ini baru cuma beda propinsi dan masih satu pulau, gimana kalau cita-citaku keliling dunia kesampaian ,heu,,ngarep dot com,,Aamiin..

Satu cerita menarik yang kudapat di sini adalah tentang hajatan. Yang kutahu kalau orang mau ngadain hajatan atau syukuran, terutama pernikahan, maka orang harus ngumpulin uang dulu yang banyak biar bisa ngadain hajatan yang berkesan, bisa menjamu tamu dengan baik, dsb. Bahkan tak jarang kutemui orang meninggalkan hutang karena gelaran tersebut. Tapi yang kutemui di sini malah sangat berebeda. Nenek buyutnya Kayyis cerita, kalau di sini orang bisa untung banyak kalau hajatan. Yah gimana nggak, saat hajatan para tetangga atau saudara akan menyumbang beras dan gula, atau kalau laki-laki akan nyumbang uang. Sebenanrnya di daerahku juga sama, para tetangga dan undangan akan memberikan amplop, tapi sang pemilik hajat juga akan ngasih semacam “berkat” yaitu berupa makanan kotak yang lauknya super komplit, mulai dari daging, ikan, telur, tahu, hingga kerupuk. Jadi seolah-olah uang yang dikasih itu impas oleh pemberian ” berkat” tersebut. Beda dengan di sini, ketika sang empunya hajat dapet beras, gula, dan uang, maka untuk gantinya akan memberikan oleh-oleh berupa sebungkus kerupuk, rangginang, roti, atau jajanan lain, kadang juga beberapa bungkus mie. Makanya setelah hajatan terkadang yang punya hajat akan untung bersak-sak gula dan beras.

Ini juga yang kutemui saat pertama kali membawa Kayyis ke sini. Kalau di garut dulu orang-orang nengokin kayyis dengan membawa kado atau amplop, di sini beda, para tetangga berkunjung dengan membawa beras dan gula. Tapi yang luar biasanya ibu mertua akan mengisi kembali tas mereka dengan mie dan bahkan beberapa buah piring sebagai ucapan terima kasih.

Di balik semua cerita itu, yang paling kusuka di kampung halaman suami ini adalah rasa kekeluargaan yang sangat kental. Nice…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s