Posted in Celotehan

KARIR atau KELUARGA?

Hmm..topik yang sebenarnya ngulang-ngulang. Beberapa hari ini di salah satu grup yang kuikuti sedang hangat-hangatnya membicarakan tentang bagaimana bila jadwal kerja suami istri ga klop, terutama untuk yang kerja di site dengan model kerja bermingu-minggu lalu libur berminggu-minggu juga dst. Apakah si istri harus ngalah jadi ibu rumah tangga saja ataukah gimana, padahal seorang istri pun berhak mewujudkan mimpinya.

Apakah mimpi para akhawat sebenarnya? Pertanyaan ini seringkali kutanyakan pada diri sendiri setelah semua perubahan yang terjadi dalam hidup.
Masih tetapkah mau jadi birokrat? Pendidik? Peneliti?dll. Lalu bagaimana dengan anak di rumah? Apakah rela anak diasuh orang lain atau dimasukkin playgroup saja?hmmm..Benarkah kuantitas waktu bersama keluarga tidak akan mencerminkan kualitas?

Satu hal yang tidak kusepakati, NIKAH MENJADI PENGHAMBAT MIMPI PARA AKHAWAT,terlebih kalau sampai muncul komentar, SIAPA SURUH NIKAH DULU JADI AJA GA BISA KERJA,JADI AJA GA BISA S2, JADI AJA CUMA BISANYA DI RUMAH PADAHAL SARJANA,DLL.

Sebenarnya dengan menikah bukan berarti mimpi para akhawat itu hilang atau menguap, tapi lebih tepatnya ketika kita menikah maka bisa jadi kita menemukan mimpi baru atau mimpinya tetap sama tapi cara mencapainya yang diarrange ulang. Bahkan tak jarang akhawat lebih jelas mengetahui mimpinya setelah menikah. Jangan sampai akhawat terkena sindrom GALAUNITI karena hidupnya tidak seperti yang direncanakannya saat lajang dulu.

Ada kisah salah seorang teman. Menurutku beliau akhawat yang sangat potensial, optimis,pokoknya keren banget. Tapi saat ada tawaran melanjutkan studi ke luar sedangkan dia dalam kondisi hamil dan suaminya pun masih terikat kontrak kerja di dalam negeri selama bertahun-tahun, maka akhawat ini rela menunda waktu untuk menggapai mimpinya tapi bukan berarti lupa pada mimpinya. Baginya, dirinya sudah dia wakafkan untuk melayani suami dan mendidik anaknya. Dan kisah seperti ini banyak kutemui. Bahkan dulu sempat ada seorang teteh yang membuatku melongo. Ketika kutanya, “Teteh mau kerja di mana?,eh teteh keren ini malah bilang, “Kayaknya teteh mah pengen di rumah aja ngurus anak dan suami”. Subhanallah, dan sekarang dia memang di rumah dengan membuka usaha. Walaupun bukan wanita karir yang kerja kantoran, tapi menurutku beliau tetap keren .

Ada juga kisah seorang teteh yang memang pada awalnya tampak galau karena dia sarjana sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung tapi akhirnya dia harus di rumah sampai anak keduanya cukup besar, sedang suaminya melanjutkan kuliah lagi. Mungkin di pikiran banyak orang, sayang banget ya sekolah tinggi-tinggi, masuk, kuliah, bahkan untuk lulus dari sekolah itu saja susah. Begitulah mungkin kira-kira. Tapi apa yang terjadi? Setelah suaminya selesai kuliah master dan memiliki usaha yang stabil, maka oleh suaminya teteh ini disekolahkan lagi dan sekarang menjadi dosen. Ternyata pasangan ini memang punya strategi sendiri, istilahnya giliran karena semua ada waktunya.

Yah, pernikahan bagaikan sayap. Suami istri adalah kedua sayap yang tidak boleh besar atau berat sebelah, agar pernikahan bisa terbang tinggi mengangkasa. Namun, bagaimanakah cara merawat dan menyeimbangkan sayap-sayap itu, setiap rumah tangga punya cara unik masing-masing. Secara pribadi, menurutku kedua sayap harus seimbang ini tidak selalu harus diartikan bahwa keduanya harus jadi menteri, atau keduanyan harus jadi direktur, tapi intinya potensi keduanya terus berkembang, ilmu keduanya terus bertambah dan bermanfaat, dan yang pasti keduanya harus sama-sama menjadi lebih shalih.

Kembali kepada topik semula. Intinya bagi para akhawat, semua kembali pada mimpi dan tujuan hidup masing-masing. Apa sih PASSION lu? Begitulah kira-kira kata seorang sahabat saya. Sah-sah saja kalau kita ingin jadi birokrat, pendidik, bisnis woman, dll. Tapi ingatlah wahai para akhawat, apa juga tujuan kita hidup di dunia? Tentu tujuan hidup yang utama adalah ibadah kepada Allah dan kelak meraih surga-Nya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa bila seorang wanita mendirikan shalat, shaum di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mena’ati suaminya, maka surga menantinya. Ya, ta’atilah suamimu. Intinya, semuanya harus dengan ridha suami kita.

Betul sekali, terkadang perubahan terbesar akan terjadi saat anak telah hadir. Sindrom galauniti mulai muncul. Apakah akan jadi FTM ( full time mother) atau jadi working mom. Kalau mendengarkan obrolannya ibu-Ibu di salah satu grup keren yang kuikuti (hehe), ujung-ujungnya selalu saja rumput tetangga tampak lebih lebat. Yang FTM iri ingin berkarir, eh yang berkarir iri ingin fokus di rumah saja,hedeuuh. Tapi sebenarnya semua kembali pada yang menjalani. Percuma di rumah saja seharian tapi anak juga ga terdidik dengan baik, atau ngeluuuh aja kerjanya alias ga bahagia. Atau kerja tapi ga fokus juga, bahkan anak dititip ke orang lain, dan ujungnya ga ngerasa bahagia juga.

Jadi intinya dari celotehan ini apa ya???
1. Seorang akhawat tetap harus punya VISI MISI hidup yang jelas menyangkut pribadinya, keluarganya, dan juga ummat (inget loh akhawat juga punya tanggung jawab terhadap ummat). Tetaplah jadi manusia yang bermanfaat.
2. Untuk membangun peradaban Islam maka semuanya di mulai dari rumah dan keluarga, so jadilah istri dan ibu yang shalihah.
3. Jadilah MANAJER RUMAH TANGGA YANG HEBAT. Masalah jadi apapun profesi kita, nikmati serta syukuri semuanya. Dan yang terpenting manage samua dengan baik agar tak ada yang terbengkalai apalagi sampai mendzalimi keluarga.
4. Ta’atilah suami (hadeuh pantesan surga teh mahal karena disuruh yang gini saja bagi para istri mah kadang susaah pisan)
5. Ikhlas dan niatkan semua karena ALLAH SWT.
Kalau kata seorang teteh mah, yang paling penting ujung-ujungnya RIDHA ALLAH..RIDHA ALLAH..SURGA..SURGA..SURGA..

Wallahu a’lam bishshawaab

One thought on “KARIR atau KELUARGA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s