Posted in Dongeng Abi

Sopir Bus itu…

Suatu hari, suamiku bercerita bahwa dia baru saja berbincang dengan seorang ibu setengah baya penjual tiket perjalanan. Awalnya hanya basa-basi, namun akhirnya perbincangan itu berlanjut cukup lama. Ibu tersebut bercerita tentang suaminya.

Dulu suami si ibu adalah seorang sopir bus, dia sangat dipercaya dan diandalkan oleh bosnya.Suatu saat pak bos membeli bus baru, dia pun meminta suami si ibu untuk menyiapkan bus baru ini agar siap pakai, mencek mesin, mengoptimasi,dll, dengan imbalan bus baru ini boleh digunakan oleh si bapak untuk menggantikan busnya yang sudah lama dikendarainya dan mulai butut. Tapi, setelah bus baru ini siap, alih-alih suami si ibu yang mendapatkannya, malah sopir yang lain yang menyerobot memakainya. Suami ibu ini pun hanya bisa pasrah dan mencoba ikhlas. Kembali dia pun menyupiri bus lamanya. Beberapa waktu kemudian, bosnya kembali membeli bus baru, dan kembali bapak ini disuruh untuk menyiapkan bus ini agar siap pakai. Tapi lagi-lagi seperti sebelumnya, bus yang sudah disiapkan si bapak kembali diserobot supir lain, dan si bapak pun kembali hanya bisa pasrah. Kejadian ini kembali terulang hingga ketigakalinya, sampai akhirnya suami si ibu ini merasa jengkel dan memilih untuk berhenti dari pekerjaannya itu.

Si bapak akhirnya memilih untuk menjadi supir truk, mengantarkan barang ke luar pulau jawa. Ketika menyampaikan maksudnya kepada sang istri, si ibu merasa keberatan karena menurutnya menjadi supir truk akan lebih berat, apalagi harus pulang pergi antar pulau. Si ibu merasa berat jika harus lebih jarang bertemu dengan suaminya. Akhirnya siang malam si ibu memohon kepada Allah agar suaminya tidak menjadi supir truk, ia meminta agar suaminya kembali ke pekerjaannya semula sebagai supir bus saja. Ibu ini pun terus menerus berdoa hingga pada suatu hari datanglah ke rumah mereka bos suaminya dulu juga teman sesama supir yang dulu sempat menyerobot bus-bus yang disiapkan si bapak. Mereka meminta maaf dan meminta bapak agar mau kembali bekerja bersama mereka. Setelah dibujuk, akhirnya suami si ibu bersedia kembali ke pekerjaannya semula.

Tak lama setelah akhirnya suami si ibu kembali ke pekerjaannya, sebuah kecelakaan maut menimpa bus yang dikendarainya. Alhamdulillah suami ibu ini selamat namun dia harus kehilangan kedua kakinya yang diamputasi akibat kecelakaan tersebut. Kini, bila mengingat kejadia itu si ibu terkadang merasa menyesal dengan doa-doanya dulu. Bukan doanya yang dia sesali tapi cara dia bedoa yang terasa memaksa kepada Allah yang begitu ia sesali. Dia merasa begitu malu kepada Allah.

Tentu musibah tersebut kini telah menjadi takdir bagi ibu dan suaminya dan tidak ada gunanya mengandai-andai sesuatu yang telah terjadi. Hanya saja dari ceritanya tersbut, si ibu seolah kembali mengingatkan akan pentingnya menjaga adab dalam berdoa kepada Allah SWT. Tidaklah pantas kita sebagai makhluk memaksa atau seolah mendikte pilihan kita kepada Sang Khaliq. Tentu suatu keharusan bagi kita memohon kepada-Nya sebagai satu-satunya tempat bergantung, namun hanya Allah juga lah yang paling berhak memilihkan pemberian untuk hamba-Nya. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

“…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah:216)
Wallahu a’lam bishshawaab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s