Posted in Dongeng Abi

Gilingan Kedelai dan Kemunafikan

Akhirnyaa abinya Kayyis kembali bercerita, lebih tepatnya akhirnya si ummi menuliskan lagi cerita abi. Judulnya gilingan kedelai dan orang munafik.

Jadi gini , beberapa hari ini kerjaan abi di pabrik kecilnya adalah menggiling kedelai. Nah ternyata,menurut abi kedelai-kedelai itu teh baru bisa digiling kalo kondisinya basah banget atau kering banget, sedangkan kalo kedelai yang pertengahan malah bikin mesin gilingnya jadi macet.

Abi mengambil ibroh dari kedelai dan gilingannya itu. Menurut abi hal itu bisa diumpakan sebagai orang munafik dan masyarakat. Orang munafik yang diumpamakan seperti kedelai pertengahan (basah ga, kering ga) sering menjadi sumber kekacauan di masyarakat. Putih dan hitam itu jelas, kering dan basah pun jelas, seperti jelasnya perbedaan muslim dan kafir. Tapi orang munafik? Mereka abu-abu dan sering membuat kerusakan dari dalam.

Dalam permulaan surat Al-Baqarah Allah menyebutkan tentang orang munafik hingga belasan ayat (ayat 8-20) sedangkan tentang orang mukmin hanya 5 ayat dan orang kafir 2 ayat saja. Bagaimana pula Allah menggambarkan balasan bagi orang munafik sebagai adzab yang pedih (‘adzaabun aliim) sedangkan untuk orang kafir berupa adzab yang besar ( ‘adzaabun ‘adziim). Apakah berbeda? Tentu berbeda. Adzab yang besar diibaratkan seperti tubuh yang terkena bom dahsyat hingga hancur kemudian utuh ladi, dibom lagi hancur lagi, dst. Sedangkan adzab yang pedih diibaratkan seperti tubuh yang dikuliiti perlahan ,kemudian utuh agi dikuliti lagi, dst. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Pada masa Rasulullah SAW pun golongan kaum munafik bagaikan duri dalam daging bagi kaum muslimin. Sampai-sampai ketika Rasulullah wafat, Umar bin Khattab mengatakan bahwa Rasulullah tidaklah wafat melainkan hanya pergi sementara dan akan kembali. Umar menganggap tugas Rasulullah belum selesai karena saat itu kaum musyrikin sudah ditundukkan, sedangkan kaum munafikin masih ada dan masih tetap eksis.

Rasulullah SAW mengajarkan pula bagaimana caranya menghadapi orang-orang munafik. Bila kaum kafir dan musyrik diperangi dengan pedang, maka beda halnya dengan orang munafik, mereka tidak kita lawan dengan pedang melainkan dengan akal.

Begitulah ringkasan dongeng abi kali ini…
Wallahu a’lam bishshawaab

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami
condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu , karena sesungguhnya Engkau Mahapemberi (karunia).” (QS.Ali ‘Imran:8)

Yaa Allah yang Maha Membolak-balik hati, teguhkanlah hati kami atas agama-Mu (HR.Tirmidzi)

One thought on “Gilingan Kedelai dan Kemunafikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s