Posted in Parenting

Generasi Qur’ani Masa Kini

Allahummarhamnaa bilqur’an
Ya Allah rahmatilah kami dengan alqu’ran
Naungilah keluarga kami dengan petunjuk-Mu
image

Dalam lingkup ikhwah, ada dua sosok ummahat yang begitu kukagumi, terutama keberhasilan keduanya dalam mendidik putra-putri mereka menjadi para “penjaga alqur`an”. Selain itu, keduanya pun sangat luar biasa dalam berbagai peran yang dijalaninya. Mereka adalah almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh dan Ustadzah Wirianingsih. Aku pun mulai mempelajari tentang kisah sukses mereka lewat buku-buku yang ada. Hampir ada banyak kesamaan antara keduanya. Mulai dari pendidikan keduanya yang sedari kecil memang berada dalam pengasuhan kedua orang tua yang shalih dan kental dengan Islam, masa muda yang diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, proses menuju pernikahan yang terjaga, hingga memiliki visi dan misi yang jelas dalam berumah tangga.

Walaupun keduanya da’iyah yang luar biasa sibuk, namun mereka tetap menomorsatukan keluarga. Manajer rumah tangga yang sangat luar biasa. Jumlah putra-putri mereka tidak bisa dikatakan sedikit. Ustdzah Yoyoh memliki 13 anak, sedangkan ustadzah Wiwi 10 orang anak.Subhanallah.

Ada beberapa poin kesamaan antara pola pendidikan qur’ani yang dilakukan keduanya.
1. Tidak ada TV, gambar serta musik laghwi di rumah. Bilapun ada TV itu pun setelah anak-anaknya cukup besar dan hanya untuk acara tertentu saja
2. Sistem pendidikan “Dialogis”, yaitu berdiskusi dengan anak-anak
3. Memilihkan sekolah yang baik yaitu yang memiliki kegiatan utama tahfidzul qur’an
4. Tetap menjalin komunikasi dengan anak-anak walaupun sedang berkegiatan di luar, dan menjalankan sistem pendelegasian, misal anak1 menjaga anak ke 5, anak ke 2 menjaga yang ke 6, dst.
5. Mengenalkan anak terhadap alqur’an sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan. Bahkan saat bayi, ketika orang lain biasa ngajak main CI LUK-BA maka ustadzah Yoyoh mengganti kata itu menjadi ALIF-BA
6. Menjadi teladan
7. Mendo’akan setiap saat agar anak selalu dijaga dalam kebaikan oleh Allah.
image
Sebenarnya kedua ummahat luar biasa ini juga menjalankan apa yang dikatakan sahabat nabi Ali bin Abi Thalib RA mengenai bagaimana cara memperlakukan anak, yaitu 7 tahun pertama diperlakukan bagai raja, 7 tahun kedua bagai tawanan, dan 7 tahun berikutnya sebagai sahabaf. Ustadzah Wiwi menerapkan hal ini dalam membentuk anak sebagai hafidz qur’an, yaitu 6 tahun pertama adalah saatnya memberikan motivasi untuk menghafal qur’an, 6 tahun ke dua saatnya diterapkan disiplin dan pemilihan lingkungan yang kondusif, dan 6 tahun ketiga anak diarahkan sesuai kecenderungan ilmu yang diminati anak. Subhanallah, anak-anak beliau pun tidak hanya menjadi hafidz qur’an namun juga sangat cemerlang dalam akdemik mereka.

Bila diringkas, beberapa hal yang dilakukan ustadzah Wiwi kepada putra-putrinya adalah,
1. Mengenalkan huruf-huruf al-qur’an sejak dini, sekitar usia 6-8 bulan
2. Mengkhususkan waktu untuk berinteraksi dengan alqur’an, biasanya ba’da maghrib dan ba’da subuh, dan ini konsisten dijalankan. Pada waktu khusus ini pun dilakukan muraja’ah bersama
3. Saat anak memasuki usia sekolah, maka dipilihkan sekolah dengan program utama menhafal qur’an
4. Saat usia remaja anak mulai dipahamkan fadilah menghafal alqur’an , anak pun dijaga dari hal-hal yang mengundang syahwat dan memberi kegiatan yang positif
5. Menjadi teladan dan mendo’akan sepanjang waktu

Ada satu hal menarik dari buku yang kubaca, yaitu mengenai metode menghafal al-qur’an. Seringkali kita bersusah payah menghafal namun dengan sangat mudahnya kita lupa. Ternyata ada rahasia dibalik itu. Dalam memori ada istilah memori semantik dan memori konteks. Ada kalanya dalam menghafal sesuatu, memori kita hanya sampai pada memori semantik, yaitu hanya berupa kata-kata saja dan jangka waktunya sangat pendek. Ini biasa terjadi juga saat kita memaksakan diri menghafal bahan ujian dengan sistem SKS (sistem kebut semalam). Mungkin saat ujian kita bisa menjawab, namun biasanya setelah ujian usai maka hafalan kita pun akan melayang. Begitu pula dalam menghafal al-qur’an. Maka ada istilah memori konteks, yaitu ketika hafalan benar-benar tertanam dalam kepala bahkan dalam hati, sehingga hafalan yang dimiliki tidak hanya sampai di tenggorokan namun akan berbuah menjadi amal.

Biasanya, untuk membentuk memori konteks dalam menghafal , ayat-ayat alqur’an harus dikaitkan dengan sesuatu. Namun tidak seperti hadits, alqr’an cenderung lebih sulit untuk dicari pengaitnya. Oleh karena itu, ustadzah Wiwi dan suami biasanya menceritakan kisah sebelum tidur kepada putra-putrinya disertai ayat alqur’an, baik itu kisah para nabi juga kisah orang-orang shalih. Setelah cukup besar, maka ada metode lain yang digunakan, yaitu menghafal disertai diskusi.
image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s