Posted in Dongeng Abi

Abdurrahman Al-Ghafiqi

“Al-Ghafiqi adalah tokoh yang percis dengan Musha bin Nushair dan Thariq bin Ziyad dalam hal ketinggian semangat dan cita-cita.” (Sejarawan)

” Seandainya tidak karena kemenangan Karel Martel atas muslimin dan panglimanya Al-Ghafiqi, tentulah spanyol akan bisa hidup dalam kearifan Islam, dan tidak terbelakang hingga delapan abad.” (Sejarawan Perancis)

Siapakah Abdurrahman Al-Ghafiqi ini????

Ketika Umar bin Abdul Aziz baru dilantik menjadi Khalifah, beliau mengadakan pergantian para gubernur dan pejabat secara besar-besaran, di antaranya adalah melantik seorang gubernur baru untuk Andalusia (sekarang Spanyol dan beberpa kota yang telah ditaklukkan di Perancis) bernama As-Samah bin Malik Al-Khaulani.

Sesaat setelah dilantik, hal yang pertama kali As-Samah bin Malik tanyakan adalah, ‘Masiih adakah generasio senior tabi’in di sini?” Orang-orang menjawab, “masih, di sini masih ada seorang tabi’in bernama Abdurrahman Al-Ghafiqi.” Kemudian As-Samah menawarkan kepada al-Ghafiqi agar sudi berkenan membantunya dalam jajaran pemerintahan, hanya saja tabi’in saat itu menolaknya.

Beberapa lama kemudian, As-Samah bin Malik merencanakan penyerbuan ke Perancis untuk menggabungkannya dengan wilayah kedaulatan Islam yang besar. Saat pertempuran terjadi di Touluse, ibukota Octania, kejayaan di pihak pasukan Islam sudah di ambang pintu, namun saat itu raja Octania mencari bantuan kepada raja-raja Eropa dan memprovokasi mereka. Hasilnya tak satu negeri pun melainkan mengirimkan pasukannya. Jumlah pasukan musuh begitu besar, namun As-Samah bin Malik tetap berada di baris terdepan hingga akhirnya sebuah anak panah mengenai dirinya, dan panglima tertinggi yang perkasa itu pun syahid.

Begitu mengetahui panglimanya gugur, goncanglah pasukan Islam dan hampir saja porak poranda oleh pasukan Eropa. Namun untunglah tampil seorang sosok yang cerdas dan selama ini disegani Eropa, yaitu abdurrahman Al-Ghafiqi.  Di bawah komando panglima baru ini , pasukan Islam mundur dan bertekad akan menebus kekalahannya.

***********

Setelah As-Samah syahid, Abdurrahman Al-Ghafiqi dibai’at menggantikan beliau. Sesaat setelah diangkat menjadi gubernur Andalusia yang baru, Al-Ghafiqi berkeliling ke seluruh pelosok negeri dan mengumkan bahwa pemerintah telah membuka semacam kotak pengaduan bagi rakyat yang merasa teraniaya, dan ini berlaku untuk seluruh rakyat baik muslim maupun non muslim. Inilah contoh bagaimana seorang pemimpin yang adil..

Suatu hari Abdurrahman Al-Ghafiqi mengundang seorang kafir dzimmi Perancis. Di antara isi perbincangannya adalah sebagai berikut: “Mengapa raja kalian, Syarl, tidak turununtuk membantu raja-raja lainnya yang berperang dengan kami?” Dzimmi itu menjawab:” Sesungguhnya panglima besar Anda, Musa bin Nushair, telah berhasil menguasai seluruh Spanyol. Kemudian dia ingin melintasi pegunungan Pyrenees yang memisahkan Spanyol dengan negeri kami yang indah. Maka raja-raja kecil dan para rahib itu menghadap raja kami dan berkata, ‘ Kehinaan apa yang aka menimpa kita wahai Maha raja?Kami mendengar tentang kaum muslimin dan mengira mereka akan datang dari timur, namun ternyata mereka datang dari barat dan langsung menguasai Spanyol. Jumlah mereka sebenarnya kecil dan persenjataannya mereka juga sedikit.”

Kemudian maha raja berkata,” Masalah ini sudah saya pikirkan dan saya kira saat ini kita tak perlu menghadapi mereka secara langsung. Mereka orang-orang bermental baja dan memiliki akidah yang kokoh, sehingga tak menghiraukan jumlah dan senjata. Mereka punya kejujuran dan iman yang lebih berharga dibanding senjata, pakaian perang atau kuda. oleh karena itu, lebih baik kita biarkan mereka, biarkan mereka terus menumpuk harta dan ghanimah, lalu merek membangun rumah dan gedung, juga melipatgandakan jumlah budak-bhudak mereka, dan lihatlah mereka pasti akan berebuit kekuasaan. Pada saat itu kita bisa menaklukan mereka dengan mudah tanpabanyak pengorbanan…

Tersentaklah Abdurrahman Al-Ghafiqi, sedih rasanya mendengar berita dari dzimmi tersebut..

*********

Abdurrahman Al-Ghafiqi melanjutkan perjuangan dalam menaklukkan wilayah-wilayah Perancis, dan kemenangan demi kemenangan diraihnya bersama pasukan muslimin dalam menghadapi Duke Octania. Dunia Eropa tersentak mendapati Perancis Selatan telah takluk di tangan Abdurrahman Al-Ghafiqi dalam waktu beberapa bulan saja. Orang-orang Eropa mulaui waspada dan bangkit untuk melawan pasukan Islam di bawah komnado karel Martel.

Hingga pada akhir Sya’ban 104 H pasuka Abdurrahman Al-Ghafiqi dan Karel Martel bertemu di kota Poitiers. Perang dahsyat ini tercatat dalam sejarah dan dikenal sebagai “balath Syuhada” karena banyaknya prajurit Islam yang syahid.

Pasukan Islam benar-benar dalam puncak kejayaannya, namun sayang punggung mereka terlalu berat membawa harta ghanimah yang berlimpah ruah. Abdurrahman Al-Ghafiqi merasa sedih dan khawatir, hingga akhirnya ia memerintahkan untuk menyimpan harta-harta tersebut di dalam tenda yang berfungsi sebagai gudang agar konsentrasi paasukan tidak tewrpecah anatara memandang harata dan musuh.

Namun saat peperangan telah berlangsung hampir delapan hari, dan bayang-bayang kemenangan pun sudah di depan mata, sekelompok prajurit barat menyerang gudang penyimpanan ghanimah dan menguasainya. Melihat hal itu, pasukan Islam mulai goyah. Sebagian pasukan memilih mundur untuk menyelamatkan harta mereka dan menyebabkan barisan depan rusak. Saat itulah Abdurrahman Al-Ghafiqi berusaha keras mencegah pasukannya mundur dan sebuah anak panah pun mengenai tubuhnya dan ia pun syahid di medan perang yang didambakannya…

Begitulah, semuanya telah menjadi sunnatullah terhadap hamba-Nya, tak ada kuasa merubah ataupun menggantinya..Peristiwa kekalahan pasukan Islam di Balath Syuhada ini laksana ulangan tragedi Uhud yang memilukan..

********

Seorang pemimpin redaksi majalah  “Review Parlementer” bernama Henry de Syambon mengatakan, “Seandainya tidak karena kemenangan Karel Martel atas muslimin dan panglimanya Al-Ghafiqi di Perancis, tentu negeri kita tidak perlu tenggelam dalam kegelapan kebodohan pada abad pertengahan. Dan kita juga tidak perlu mengalami pembantaian yang didasari oleh fanatisme sekte-sekte agama. Benar, seandainya tidak karena kemenangan Barat pada waktu itu, Spanyol akan bisa hidup dalam kearifan Islam dan tidak terhambat menerima arus kemajuan sampai delapan abad. Kita harus mengakui bahwa kaum muslimin adalah teladan tentang kemanusiaam yang sempurna di saat kita dulu masihbmenjadi manusia barbar yang ganas.”

***********

Diceritakan ulang dari “Dongeng Abi” tgl. 6 Mei 2011 dan diambil juga dari buku “Mereka adalah para Tabi’in” karya DR.Abdurrahman Ra’fat Basya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s