Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 3: “Keselarasan antara Rumah dan Sekolah”

Menurut Dr.Khalid Ahmad Asy-Syantut, salah seorang pakar pendidikan Islam, rumah adalah lembaga pendidikan pertama bagi anak. Peran rumah bagi anak mencapai 60%, sedangkan sekolah dan lingkungan masing-masing hanya 20%. Oleh karennya, penting sekali menyelaraskan gerak antara sekolah dan rumah, karena sering terjadi apa yang dibangun oleh sekolah rubuh oleh orang tua di rumah, ataupun sebaliknya.

Pentingnya rumah dalam pendidikan dikarenakan :

  • Anak hadir pertama kali di dunia adalah di rumah
  • Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu paling banyak adalah di rumah
  • Orang tua adalah yang bertanggung jawab terhadap anak
  • Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang tua
  • Allah menjadikan rasa cinta orang tua terhadap anak-anaknya
  • Keluarga adalah jamaah yang setiap orang akan berafiliasi seumur hidup kepadanya

Hal yang paling utama tentang pendidikan rumah tentu adalah peran orang tua. Dan peran terbesar pendidikan adalah pada sosok ayah. Ayah harus bisa menjadi qowwamah dalam keluarga. Kenyataannya saat ini peran qowwamah ini mulai menghilang. Qowwamah bukan sekadar mencari nafkah, tapi peran kepemimpinan yang harus ditegakkan. Seringkali terjadi pada banyak keluarga ayah tak mau tahu menahu urusan pendidikan anak, semuanya diserahkan pada ibu, yang penting ayah bisa mencari uang. Ini yang keliru.

Ayah adalah pemimpin keluarga dan akan dimintai pertanggungjawaban. Ibu memelihara rumah dan anak-anak dan akan pula dimintai pertanggungjwaban. Inilah yang Rasulullah SAW sampaikan.

Lalu apa yang harus dilakukan qowwamah? Yang pertama adalah menjadi teladan. Contoh praktisnya, bila adzan berkumandang, maka ayah segera bergegas shalat ke masjid. Ini sudah menjadi salah satu bentuk penanaman iman kepada anak. Sebagai teladan, ayah harus menjadi sosok yang dikagumi anak-anak. Untuk hal ini, istri bisa membantu menceritakan kelebihan dan kebaikan ayah di depan anak-anak, jangan sekali-kali menjatuhkan ayah di depan mereka. Atau ketika berkunjung ke kakek-nenek, anak-anak bisa meminta diceritakan tentang ayahnya.

Selain itu, sebagai qowwamah, kepemimpinan ayah harus dirasakan di dalam rumah terutama dalam mengambil keputusan-keputusan bahkan untuk hal kecil sekalipun. Contoh, “Bu, aku boleh ga main ke rumah teman?” Maka jangan langsung katakan boleh, tapi katakan, “Coba kita tanya ayah dulu ya.” Walaupun mungkin ibu hanya bersandiwara, tapi ini untuk menunjukkan peran ayah sebagai pengambil keputusan.

Lalu bagiamanakah sinergi antara rumah dan sekolah?

Sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah orang tua wajib untuk tidak menyebutkan keburukan sekolah dan gurunya di depan anak, terutama yang masih kecil. Hal ini bisa menjatuhkan izzah guru di hadapan anak, sehingga anak akan sulit merasakan manisnya ilmu. Pun sebaliknya, guru sebaiknya membantu anak agar mereka semakin mengagumi orang tuanya. “Nak, ayahmu itu hebat loh, bertanggung jawab.” “Nak, ibu mu itu jago bikin kue.” dst.

Kuttab tidak berupa asrama atau boarding school, karena pada usia ini (5-12 tahun) interaksi anak dengan orang tua masih sangat besar diperlukan. Oleh karena itu, Dr. Asy-syantut memberikan contoh pembagian waktu harian bagi anak yang masih dalam usia Kuttab. Dimulai dari ba’da Isya, anak-anak dibiasakan untuk menyiapkan perlengkapan untuk sekolah esok hari lalu bersegara untuk tidur. Lalu kapan anak bangun tidur? Sebaiknya anak mulai bangun maksimal saat adzan pertama, yaitu kira-kira setengah jam sebelum subuh, dilanjutkan aktivitas pagi higga sekolah sampai siang hari. Siang hari atau sekitar ba’da dzuhur adalah waktunya anak untuk beristirahat, tidur siang (alangkah baiknya bila anak dibiasakan), lalu bermain. Main sangat penting untuk anak. Imam Ghazali mengatakan, biarkanlah anak-anak bermain, karena bila anak-anak dilarang bermain bisa mengakibatkan hati mereka menjadi keras. Lalu ba’da ashar adalah waktu mereka untuk belajar dan juga bermain. Sedangkan ba’da maghrib adalah waktu Al-Qur’an, yaitu untuk muroja’ah dan ziyadah.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah, jangan pelit untuk mengapresiasi anak dan membisikkan nasihat kasih sayang kepada mereka. Baik itu oleh guru di sekolah, terlebih oleh orang tua di rumah. “Nak, kamu adalah anak yang hebat.” “Nak, abi sayang kamu.”, dst. Juga, jangan malu untuk menyampaikan maaf kepada anak bila orang tua memang salah.

Wallahu a’lam

==

Sumber : Kajian KAF Tangsel yang disampaikan oleh Ust.Galan Sandy (General Manager Kuttab Al-Fatih)

 

 

Posted in Celotehan

Yang Terganteng

“Kayyis mau nikah sama abi.” Saya yakin si sulung ga ngerti apa itu nikah, tapi saban hari itu yang diucapkan pada abinya. Siapa coba yang ga geer, cieee..Kayaknya kalau yang kecil udah bisa ngomong, ia pun akan ikut memperebutkan abinya..Oh, begitu berharganya kah abi kalian nih?

Kadang saya dirundung cemburu tak berkesudahan. Kata artikel yang beredar, bagusnya ada interaksi bantal antara suami dan istri sebelum tidur, ngobrol sebelum tidur lah sederhananya. Tapi apa boleh dikata, saat kami mau tidur, muka abinya harus ngadep dan ngelonin si kakak, tangan kanannya megangin si ade, akhirnya mau tak mau saya dapat tangan kirinya.

Udah jelas kalau baru pulang kantor mah, denger suara motornya saja, anak-anak udah ‘cingkleung’, nyadar bapaknya pulang. Belum sempat abinya menyandarkan badan barang sebentar, yang kecil udah gapai-gapai minta gedong. Sambil gendong yang kecil, kakaknya udah mulai gelendotan di kaki, dan si saya cuma bisa manyun..Mau mulai ngobrol, tiba-tiba pesaing ikutan ngomong, seolah ingin beradu nyaring, ingin menjadi pertama yang didengar lelaki paling ganteng di rumah ini..hiuuufff..

Inilah rutinitas kangmas bersama kami setiap hari..Kami tahu dia lelah, seharian di kantor, berangkat dan pulang harus jadi roker. Tapi rasa rindu kami padanya tak pernah berkurang setiap harinya. Jika syafaq mulai muncul, maka itu tandanya sesaat lagi adzan maghrib dan kangmas pulang ke rumah. Telat sedikit saja, maka galau lah seisi rumah..hmmm

====

Setiap hari kau keluar rumah untuk mencari nafkah, untuk beribadah, maka kami titipkan engkau pada Dzat Yang Maha Melindungi..Allah yang akan menjaga..

Cinta kami, istri dan anak-anak adalah cinta makhluk, yang kadang membuncah kadang meredup. Tapi cinta Allah tak pernah surut, cinta Allah berbeda dengan cinta makhluk. Maka kami berdoa agar Allah senantiasa mencintaimu, hingga ia akan menjagamu dalam segala keta’atan yang Dia ridhai..

Baarakallahu fiik..tak hanya untuk umurik tapi juga untuk semuanya..Yassarallahu umuuraka..

We Love You, Abi..

 

 

 

 

Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 2: “Belajar dari Keluarga Ibrahim”

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala ummat (di masa mereka masing-masing).” (QS. Ali Imran : 33)

Nabi Adam dan nabi Nuh disebut Allah sebagai individu, karena kita tahu bahwa pada keluarga nabi Adam ada anak yang melakukan dosa besar, sedangkan pada keluarga nabi Nuh istri dan anaknya adalah kafir. Jika kita membaca surat At-Tahrim : 10, istilah istri untuk nabi Nuh dan nabi Luth adalah ‘Imra-ah’ bukan ‘zaujah’. Padahal dalam kosakata bahasa Arab, kata istri adalah zaujah. Allah menggunakan kata imra’-ah untuk menunjukkan ketidakserasian antara istri-istri yang kafir tersebut dengan suami mereka yang adalah seorang nabi.

Adapun nabi Ibrahim dan ‘Imran disebutkan Allah beserta keluarganya, karena suami, istri, dan anak-anaknya, bahkan cucunya adalah orang shalih. Inilah potret keluarga yang seharusnya menjadi teladan bagi seluruh muslim. Dari kedua keluarga ini sesungguhnya kita bisa mengambil teladan yang saling melengkapi. Keluarga nabi Ibrahim kita tahu adalah contoh rumah tangga poligami dengan model pendidikan bagi anak laki-laki. Sedangkan keluarga ‘Imran adalah rumah tangga monogami dengan contoh pendidikan bagi anak perempuan.

Nama Ibrahim AS disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an sebanyak 69 kali dalam 25 surat. Maka tentu begitu istimewanya Abul Anbiya ini. Kita harus menggali sosok beliau sebagai teladan, terutama bagi para kepala keluarga dan ayah. Beliau memiliki sifat-sifat mulia yang Allah sebut dalam Al-Qur’an, yaitu:

  1. minal muhsinin. Nabi Ibrahim adalah seorang yang muhsin. Muhsin atau orang yang Ihsan adalah derajat paling tinggi setelah muslim dan mukmin. Orang Muslim belum tentu mukmin, orang mukmin belum tentu muhsin, sedangkan muhsin pasti mencakup muslim dan mukmin.
  2. minash sholihin, termasuk orang-orang shalih
  3. Qonitan Lillah, ta’at kepada Allah
  4. Shiddiq, benar
  5. Awwah, selalu mengadu kepada Allah
  6. Haliim, sabar
  7. Haniif, lurus
  8. Khullah, cinta-Nya kepada Allah tidak ada kekurangan sedikitpun. Itulah mengapa Allah menjadikan nabi Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS sebagai Khalil-Nya, kekasih-Nya, karena cinta keduanya tidak ada sedikit pun kekurangan.
  9. Ummah. Nabi Ibrahim hanya seorang diri, namun kualitasnya setara dengan satu ummat. Sedangkan ummat Islam saat ini, satu orang individu pun terkadang kualitasnya tidak ututh satu, kadang cuma setengah bahkan kurang dari itu. Namun nabi Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS Allah setarakan dengan ummat karena kualitasnya.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan kata uswatun hasanah  sebanyak tiga kali, yaitu pada QS.Al-Ahzab: 21 yang merujuk kepada Rasulullah SAW, dan pada QS Al-Mumtahanah: 4 & 6, yang merujuk kepada nabi Ibrahim AS.

Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil dari keluarga Ibrahim ‘alaihissalaam?

  1. At-Thadzhiyah Ash-Shodiqoh, pengorbanan yang benar

Ibnu Abbas berkata,

“Yang pertama kali memakai minthoq (kain yang diikat di badan dan dijulurkan ke tanah) adalah ibunya Ismail. Tujuannya agar kain tersebt menghapus jejaknya dari Sarah.

Kemudian Ibrahim membawanya berikutnya anaknya Ismail pergi. Sambil sang ibu menyusuinya, mereka di bawa hingga sampai al-Bait (Ka’bah) di samping pohon besar di atas Zamzam di atas masjid. Saat itu Makkah tidak ada seorang pun dan tidak ada air. Maka Ibrahim meletakkan keduanya di sana dan membekali keduanya dengan sekantong kurma dan sekantong air.

Selanjutnya Ibrahim pergi meninggalkan mereka. Ibunya Ismail megikatnya dan berkata: “Hai Ibrahim, kamu mau pergi ke mana dan kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada apa pun?”

Berkali-kali ia berkata eperti itu, tapi Ibrahim tidak mau melihatnya sama sekali. Kemudian ibunya Ismail bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?”

Ibrahim menjawab: “Ya”

Ibunya Ismail berkata:”Kalau begitu dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kecintaan nabi Ibrahim kepada Allah jauh lebih besar dibanding cintanya kepada keluarga. Dan tidak berhenti di sini, kelak Allah pun akan menguji kembali dengan perintah menyembelih Ismail. Masya Allah, anak yang diidam-idamkan begitu lama, lalu setelah hadir harus ditinggalkan di negeri yang jauh, bertemu kembali setelah sekian lama malah harus disembelih. Tentu bukan manusia biasa yang bisa menjalani itu semua. Itulah keluarga Ibrahim.

  1. Cepat merespon. Nabi Ibrahim AS dan keluarganya akan segera melakukan setiap yang Allah perintahkan.
  2. Nabi Ibrahim AS banyak mendoakan keluarganya.

Ini adalah pelajaran penting bagi setiap orang tua untuk tidak lalai dalam mendoakan anak keturunan. Karena salah satu doa yang mustajab adalah doa orang tua untuk anaknya.

Saat nabi Ibrahim AS meninggalkan Ismail dan ibunya, beliau berdoa kepada Allah sambil mengangkat kedua tangannya, “Ya Rabb, aku meletakkan keturunanku di lembah yang tidak ada satu pun pohon, di samping rumah-Mu yang mulia…” Doa tersebut Allah abadikan dalam QS.Ibrahim: 35-41. Jika kita mentadabburi ayat-ayat tersebut, maka urutan doa nabi Ibrahim adalah :

  • Baladan Aaminan, negeri yang aman. Ini memberi kita pelajaran untuk memilihkan lingkungan yang baik untuk anak kita, baik itu lingkungan tempat tinggal, tempat menuntut ilmu, tempat bermain, dsb.
  • Jauhkan dari menyembah berhala. Nabi Ibrahim mengajarkan kita tentang pentingnya penanaman akidah kepada anak, menjauhkan anak dari kemusyrikan.
  • Ummatnya banyak yang menyembah berhala, maka nabi Ibrahim mendoakan ummatnya yang tersesat (QS.Ibrahim :36)

Dalam ayat tersebut, bagaimana nabi Ibrahim mendoakan ummatnya menunjukkan betapa lemah lembutnya ia, “ Maka barang siapa yang mengikutiku maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Coba kita bandingkan dengan doa nabi Nuh, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26). Sebuah permintaan yang tegas dari seorang nabi yang sudah menyeru siang malam selama 950 tahun namun tetap saja diingkari.

Nabi Ibrahim yang lembut dan nabi Nuh yang tegas. Rasulullah menjadikan kedua nabi mulia ini sebagai perumpamaan untuk kedua sahabatnya, Abu Bakar seperti nabi Ibrahim dan Umar bin Khattab seperti nabi Nuh.

  • Menempatkan Ismail dan Hajar di Baitul Harom. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati)…” (QS. Ibrahim:37)

Hal ini mengajarkan kita untuk memilihkan tempat bagi keluarga yang dekat dengan tempat ibadah, agar keluarga kita menjadi bagian orang-orang yang senantiasa menegakkan sholat

  • memiliki kemuliaan akhlak, sehingga orang-orang menyukainya. Pengakuan sosial dengan akhlak mulai adalah konsep pendidikan yang luar biasa.
  • meminta rizki berupa buah-buahan agar bersyukur. Inilah doa terakhir yang diucapkan nabi Ibrahim dalam rangkaian doanya tsb. Bahkan saat memohon rizki pun nabi Ibrahim menyertakan kata syukur. Hal ini mengajari kita bahwa apa yang diberikan kepada keluaga sudah seharusnya semakin menambah rasa syukur, bukan sebaliknya.

Uniknya, nabi Ibrahim berdoa di padang pasir yang tandus tak ada tanaman. Namun ia tetap meminta Allah tumbuhkan bauah-buahan. Artinya, nabi Ibrahim tidak membatasi Allah SWT dengan logika berfikir, karena Allah Maha Kuasa, apa pun bisa Dia hadirkan walaupun awalnya tak ada.

Selain dalam QS.Ibrahim :35-41, doa lain nabi Ibrahim Allah abadikan pula pada QS.Al-Baqarah: 124. “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “SEsungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi selurug manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan juga dari anak cucuku?” Allah berfirman,” Benar, tetapi janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang dzalim.”

Ketika Allah memberi nabi Ibrahim reward (menjadikan pemimpin) , Ibrahim memohon kepada Allah agar reward itu pun diberikan kepada keturunannya. Begitu istimewanya nabi Ibrahim, karena dalam setiap doanya ia selalu menyertakan anak dan keturunannya.

  1. Tidak putus asa dan senantiasa tawakkal. Ini bisa kita ambil dari kisah ibunda Hajar yang berlari-lari mencari air untuk bayi Ismail
  2. Pola komunikasi yang baik. Kita bisa meneladani kisah nabi Ibrahim saat berkomunikasi dengan nabi Ismail mengenai perintah sembelih. Salah satunya adalah penggunaan panggilan sayang untuk anak. Nabi Ibrahim di sini mencontohkan memanggil Ismail dengan panggilan “Yaa Bunayya..” bukan “Yaa Ibnii..”
  3. Menjadi teladan bagi anak

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS.Ibrahim:40). Nabi Ibrahim memulainya dengan kata Aku, yaitu diri beliau sendiri. Inilah teladan, semua bermula dari diri.

Inilah pelajaran-pelajaran dari nabi Ibrahim dan keluarganya yang mulia. Maka, setiap kita menemukan kata Ibrahim saat membaca Al-Quran, berhentilah sejenak untuk mengambil pelajaran darinya. Inilah sosok teladan sepanjang masa, hingga setiap sholat kita pun bershalawat untuknya dan keluarganya.

“TAK ADA YANG MUSTAHIL DENGAN DOA AYAH DAN TAWAKKAL BUNDA”

===

Sumber:

  1. Kajian orang tua Kuttab AL-Fatih Tangsel yang disampaikan Ust.Akhmad Nizaruddin,Lc.MA.
  2. Buku “Inspirasi dari Rumah Cahaya” karangan Ust.Budi Ashari,Lc.
Posted in Parenting

GURU, untuk Digugu Bukan Ditinju

Saya ingat saat tes Kayyis masuk Kuttab, ada satu pertanyaan yang kurang lebih isinya, “Bila orang tua menemukan bahwa ada penjelasan ustadz/h yang menurut orang tua salah, bagaimana orang tua menyampaikan kepada anak?” Dulu kami menjawab panjang lebar, yang kalau dipikir lagi, kalimat sepanjang itu kalau disampaikan pada Kayyis belum tentu dia mengerti.

Pagi ini, saya mendapat kiriman yang cukup menohok. “Jika Izzah (kemuliaan) seorang guru sudah jatuh di hadapan muridnya lantaran lisan orang tua yang menjatuhkan izzah guru di hadapan anaknya, maka jangan pernah berharap anak itu menikmati manisnya ilmu. Karena manisnya ilmu salah satunya diperoleh dari kemuliaan seorang guru di hadapan santrinya.” Ini baru tentang lisan. Apalagi jika sudah bentuk penghinaan dan menyakiti secara fisik seperti yang sedang ramai di berita hari ini.

Saya yang pernah menjadi guru dan sekarang menjadi orang tua murid, jika mendengar berita-berita seperti ini, yang membuat saya paling sedih adalah memikirkan sang anak. Membuat saya menyadari bahwa apa yang saya perbuat, kebiasaan-kebiasaan yang saya tunjukkan di hadapan anak, doa saya, bahkan makanan yang saya berikan kepada mereka, akan sangat mempengaruhi seperti apa mereka kelak. Menjadi orang tua ternyata memang tak mudah.

Dulu, sekolah tempat saya mengajar pernah beberapa kali terlibat konflik dengan orang tua murid. Ada yang mengancam bawa pengacara, menyebar berita buruk di luaran, hingga mengoblok-goblokan guru di hadapan muka. Saya ingat betul jawaban kepala sekolah saya saat itu, “Pak, jika Bapak tidak menghargai para guru seperti ini, maka jangan harap apa yang sudah anak bapak pelajari akan barakah.” Barakah, bukan tentang seberapa pintar anak kita, bukan tentang sesukses dan sekaya apa dia kelak. Tapi barakah, tentang seberapa besar ilmu itu mengantarkannya menjadi hamba yang ta’at dan bermanfa’at. Menjadi hamba yang mencintai Allah sekaligus takut kepada-Nya.

Betul, guru pun bukan malaikat, kadang berbuat salah dan khilaf. Tapi, lagi, saat ini kita sedang mengajarkan anak-anak tentang adab.

Dulu, anak-anak seorang Khalifah mulia, Harun Ar-Rasyid, berebut mengambilkan sandal gurunya. Harun Ar-Rasyid, sang ayah, malah mengancam akan memecat bila sang guru malah menghentikan kebiasaan anak-anak itu. Dulu, seorang pemimpin mulia, Nuruddin Zanky, marah kepada stafnya yang mengusulkan memotong gaji para ahli ilmu,”Mereka adalah panah-panahku di malam hari, saat kalian tidur.”

Suatu hari Kayyis bercerita, “Ummi, tadi Hafsah bantu ustadz cuci piring.” “Oh ya, Kayyis bantu juga?” Lalu dia jawab sambil cengengesan, “Hmmm..Kayyis yang dibantu ustadz..” Gubraaakkk…Tak apa-apa Nak, bila Al-Makmun dan Al-Amin dulu berebut sandal sang guru, mungkin beberapa hari lagi, biarlah kamu dan Hafshah yang berebut piring ustadz kalian. InsyaAllah.

 

 

Posted in Parenting

Anonim, Awkarin, dan Al-Fatih

Satu,

Dapat oleh-oleh dari lingkaran cinta yang lumayan bikin pening kepala. Ada seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang sangat terjaga dan bi’ah Islam yang baik, hingga suatu hari orang tuanya memutuskan memasukkannya ke sekolah umum, setelah sebelumnya selalu berada di sekolah Islam. Karena merasa asing dan tak terbiasa, akhirnya anak ini cenderung pendiam di sekolah barunya hingga ia menjadi korban bully teman-temannya. Mendengar bagaimana ia dibully rasanya lutut saya sudah lemas. Ia disodori gambar-gambar tak senonoh bahkan nyaris jadi korban sodomi teman-temannya. Sampai akhirnya anak ini sakit dan dirawat di rumah sakit. Saat dirawat, secara fisik dokter tak mendeteksi penyakit apapun, tapi beberapa kali si anak hampir saja lompat dari jendela, karena sesungguhnya psikisnya yang sakit, ia mengalami trauma akibat bullying. Semoga Allah menyembuhkannya dan melindunginya.

Lain lagi cerita yang sedang hits sekarang, yang jadi bahan pembahasan di medsos akhir-akhir ini. Seorang gadis cerdas yang dulunya begitu manis, berjilbab, lalu kini bertransformasi jungkir balik dari pribadinya yang dulu. Menjadi trendsetter tapi dalam konotasi yang negatif. Ah sudahlah, sudah terlalu banyak yang membahas.

Subhanallah. Inilah ujian bagi orang tua masa kini. Dari kisah pertama dan kedua saya menjadi berfikir, bahwa sesungguhnya membentuk anak yang shalih ternyata harus  dibarengi pembentukan karakter yang kuat, serta pribadi yang mushlih yaitu yang mampu menshalihkan yang lain. Ini berat. Sungguh, apalagi untuk saya yang ilmunya masih butiran-butiran debu.

===

Dua,

Muhammad Al-Fatih, siapa yang tak mengenalnya. Tapi tahukah bagaimana ia saat masih kecil dulu? Ia yang seorang anak sultan dengan daerah kekuasaan yang luas juga harta yang melimpah, ternyata adalah seorang anak yang malas belajar. Setiap dihadapkan pada seorang guru, maka ia akan menertawakannya, tidak menaruh hormat pada gurunya.

Ayahandanya, Sultan Murad II, tentu merasa khawatir dengan perangai putranya ini. Maka suatu hari ia meminta seorang ahli ilmu nan shalih bernama Ahmad bin Ismail Al-Kurani untuk mendidik Muhammad kecil. Namun sebelumnya ayahnya memberikan amanat kepada sang guru, yaitu dengan memberikan sebuah alat pukul,”Jika ia tak mau belajar, maka pukullah dengan ini.” Sultan Murad tahu bahwa seorang ahli ilmu tentu tak akan sembarang pukul, karena dalam syariat ada pukulan pendidikan yang memiliki aturan tertentu.

Betul saja. Saat pertama kali bertemu dengan gurunya ini, Muhammad kecil menertawakannya, malas untuk belajar. Maka Ahmad bin Ismail Al-Kurani memukulnya. Kalau zaman sekarang ,waah, gurunya sudah dilaporkan ke polisi.  Tapi ternyata pukulan itulah yang mengubah segalanya, karena hari itu menjadi hari pertama Muhammad Al-Fatih mau belajar, hingga ia menyelesaikan hafalan Al-Quran dibawah bimbingan sang guru pada usia 8 tahun.

Selain gurunya, sosok lain yang begitu berpengaruh bagi Muhammad Al-Fatih kecil adalah ibundanya. Ibu Al-Fatih adalah ibu yang istimewa, sosok yang shalihah, yang mencurahkan potensi dan kecerdasannya untuk mendidik sang putra. Setiap subuh, ia akan mengajak Muhammad kecil melihat benteng Konstantinopel, lalu berkata, “Nak, namamu sama dengan nama Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kau lah yang kelak akan membuktikan perkataan Nabi menaklukkan benteng itu.” MasyaAllah, ibu yang shalihah, yang telah menggambarkan kebesaran di benak sang putra, setiap harinya di waktu yang barakah.

===

Saya tak tahu korelasi antara tulisan satu dan dua. Ini hanya tulisan acak seorang emak-emak. Saya hanya memohon kepada Allah agar diberi kekuatan dan bimbingan dalam mendidik anak-anak di masa akhir zaman ini..Hanya Allah lah tempat bergantung..

Ya Allah bimbinglah kami..

 

Posted in Kuttab Al-Fatih

M.O.K.A

Apa itu MOKA? MOKA adalah masa orientasi Kuttab Al-Fatih. Kalau istilah umumnya MOS atau sekarang ganti nama jadi MPLS. Pertama kali lihat MOKA ala Kuttab dari salah satu video dokumentasi Kuttab Al-Fatih Depok yang sukses membuat saya merinding dan haru. Santri-santri yang masih kecil mungil diajak oleh asaatidz melakukan rekonstruksi penaklukan benteng Konstantinopel. MasyaAllah..

Lalu bagaimana dengan MOKA nya Kayyis di Kuttab Tangsel? Alhamdulillah, saya mendapat cerita sedikit-sedikit dari Kayyis, juga dari dokumentasi yang dibagikan ustadz di grup whatsapp orang tua.

Seperti yang sering disampaikan, sebelum belajar apapun santri akan belajar tentang adab. Maka, di hari pertama MOKA, asaatidz memberikan contoh adab menuntut ilmu melalui drama. Ada yang berperan jadi ustadz, dan ada yang menjadi santri. Anak-anak excited sekali memperhatikan. Kalau Kayyis yang cerita, “Gini loh ummii..kalau ustadz lagi ngomong, mulutnya dikunci dulu, telinganya dibuka,  matanya ditahan jangan ngantuk”.hehe..

IMG-20160724-WA0004[1]
asaatidz sedang memberikan contoh adab belajar
IMG-20160724-WA0008[1]
para santri excited memperhatikan assatidz
Lain hari, anak-anak diajak berkunjung ke masjid jami setempat dan berkenalan dengan ketua DKM nya. Lalu, mereka pun belajar adab bertamu dengan mengunjungi rumah ibu ketua PKK dan pak RT. Saat saya tanya Kayyis, “Yis kalau datang ke rumah orang tuh gimana sih?” Lalu dia jawab, “Ketuk tuh..tuk..tuk..terus salam tiga kali.” “Ga boleh masuk?” Terus dia jawab lagi,”Tunggu orang keluar lah”. “Terus kalau orangnya ga keluar gimana?” ”Pulang lah Ummii..”hehe..Alhamdulillah, ternyata Kayyis faham..

 

IMG-20160726-WA0005[1]
para santri berkunjung ke masjid dan berbincang dengan pengurus masjid
IMG-20160727-WA0007[1]
para santri silaturahim kepada pak RT dan ibu ketua PKK
Pada masa MOKA pun Kayyis belajar doa-doa harian. Doa belajar, doa sebelum dan setelah makan, doa masuk dan keluar WC, doa keluar rumah, doa setelah wudlu, bacaan-bacaan shalat, dan masih banyak yang lain. Sekarang, di rumah ada polisi doa. Ummi keluar WC diingatkan untuk doa. Ummi habis wudlu selalu dikomentari, “Doa habis wudlu ummiiii…” hehe..Tapi yang paling bikin terpukau adalah tingkahnya suatu hari setelah kami shalat maghrib. Tiba-tiba setelah membaca dzikir dan doa biasanya, Kayyis bilang,”Ummi, doakan Risyad lah.” Saya bingung, “Eh, emang gimana doanya?” Terus Kayyis angkat tangan, “Ya Allah, sembuhkanlah Risyad temannya Kayyis.” Ternyata Kayyis ingin doain temannya yang sedang sakit..

Di hari terakhir MOKA, para santri diajak untuk membersihkan lingkungan sekitar. Hal yang terlihat kecil, tapi sesungguhnya mengandung makna yang amat besar. Bagaimana Islam mencintai kebersihan, dan bagaimana menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitar.

IMG-20160729-WA0003[1]
para santri, asaatidz, dan warga gotong royong membersihkan lingkungan
Tapi, sepanjang MOKA ini ummi dan Kayyis sering bersitegang urusan makanan. Beberapa hari bekal makan siang Kayyis selalu sisa banyak bahkan pernah sama sekali tak disentuh. Akhirnya suatu malam saya ajak bicara anak 5 tahun ini. “Yis, Kayyis mau jadi teman Rasulullah kan? Rasulullah kalau makan selalu dihabiskan . Kalau makanannya dibuang-buang itu namanya mubadzir Nak, itu temannya syaitan. Jadi makanannya habiskan ya.” Lalu saya lanjutkan, “Ada loh teman Kayyis yang ga punya makanan, kasian Nak, dia lapar. Tuh lihat kurus kan (sambil saya lihatkan sebuah foto). Kayyis harus bersyukur punya makanan, jadi makan ya, biar sehat, kuat.” Wessss..panjang lebar, dengan harapan anak ini ngerti. Tetapi tiba-tiba dia tanya abinya, “Abi belum makan ya? Hah hah..ayo loh ada syaitan.” Gubrakkkk, kenapa jadi itu yang ia tangkap..Tapi, suatu hari celotehnya, “Umi, makan itu gini nih (sambil ia peragakan jilati tiga jari).” Iya deh..iyaaa…InsyaAllah Kayyis akan terus belajar tentang adab makan, bukan hanya tentang apa saja yang dicontohkan Rasul saat makan tapi bagaimana agar senantiasa bersyukur dengan apa yang dihidangkan.

Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kekuatan kepada para ustadz dan ustadzah di Kuttab..Jazaakumullah khairan katsiiran..🙂

Ya Allah bimbinglah kami..

===

 Sumber foto: dokumentasi Kuttab Al-Fatih Tangsel, insyaAllah dipublish atas seizin Kepala Kuttab

Posted in Celotehan

Selamat Datang, Hamas..

Allah akan menjawab setiap doa hamba-Nya. Tapi bentuk jawaban itu tak berarti selalu memberi apa yang diminta. Ada tiga jenis jawaban Allah untuk doa. Pertama, mengabulkan atau memberi apa yang diminta. Kedua, menangguhkan dan memberinya kelak dengan kebaikan di akhirat. Terakhir, mengganti dengan memberikan kemaslahatan yang lain, apakah kesehatan, terhindar dari musibah, dsb.

===

Saya mengenal beliau tiga tahun lalu dalam majlis ilmu. Awalnya biasa saja seperti terhadap kenalan baru. Semua mulai berubah setelah saya satu tempat mengajar dengan beliau yang memang lebih senior. Mulai saya rasakan, beliau orang yang sangat hangat. Senang bercerita dan juga mendengar cerita.

Sampai suatu hari beliau diantar suaminya datang ke rumah saat saya sedang sakit, hanya untuk memberi saya madu. Saya yang baru pindah ke lingkungan baru tentu merasa terharu sekaligus kaget, “Kok ada orang baik gini padahal baru kenal?” Seiring berjalan waktu, beberapa kali beliau datang ke rumah hanya untuk mengantarkan isi kulkasnya. Walau itu hanya sebutir apel dan sebutir pir, tetap yang dikatakannya, “Gapapa untuk Kayyis.” Suami beliau malah sempat ia minta mengantarkan berkilo-kilo mangga kiriman dari orangtuanya kepada kami. Yang paling bikin saya kaget adalah sempat suatu pagi beliau datang ngetuk pintu untuk mengantarkan hasil belanjaan lauk-pauk dari pasar, hanya karena sehari sebelumnya saya cerita kalau abinya sedang ke luar kota dan saya tak ada yang antar belanja. Sudah tak terhitung kebaikan beliau kepada keluarga kami. Saya sangat merasa malu, karena sampai kami pindah belum sedikit pun saya bisa membalas kebaikan beliau, walau sekadar berkunjung ke rumahnya.

Apakah kebaikan ini hanya untuk kami saja? Tidak. Beliau dan suami senang sekali berbagi ke tetangga. Dapat banyak ikan habis pulang dari rumah orang tua, maka kebanyakan ikan itu akan pindah ke rumah tetangga-tetangganya. Membuat bubur kacang ijo, maka tetangganya akan diikhtiarkan bisa mencicipi walau hanya sedikit. Di sekolah pun pasangan ini disukai anak-anak. Walau mereka terkadang dibilang terlalu pengatur lah, galak lah, cerewet lah, tapi tetap saja dikangeni.

Beliau sesekali senang bercerita tentang keluarganya, bagaimana dulu beliau sekolah, bagaimana bisa bertemu dengan suaminya yang notabene orang Indonesia timur. Beliau dan suaminya sudah menikah hampir 6 tahun, tapi qodarullah mereka belum juga dikaruniai momongan. Walau begitu, pasangan ini terlihat sekali senang dengan anak-anak. Kayyis salah satunya. Saya sering melihat beliau sangat senang saat bertemu dan bermain dengan Kayyis. Bukan keluarga, bukan saudara, tapi sayangnya terasa sekali. Beberapa hari tak bertemu Kayyis, pasti ditanyakan, dikangeni. Foto Kayyis entah sudah berapa banyak nyangkut di hape beliau. Bahkan dua lebaran sudah, Kayyis dapat baju lebaran dari kholahnya ini. Kini, sudah berjauhan sekalipun yang ditanya tetap Kayyis, mana foto terbaru Kayyis, Kayyis ngaji sudah sampai mana. Sampai-sampai beberapa kawan suka bilang beliau seperti ibu angkat Kayyis.

Selain rasa sayang kepada anak-anak, pasangan ini sepertinya ga ada matinya jika menyangkut urusan dakwah. Kalau ada yang bilang istri dai harus rela dimadu dengan ummat, maka teman saya inilah contohnya. Suami beliau sibuk dengan urusan pondok dan santri sepanjang hari, bahkan di hari libur. Hampir setiap hari pulang malam, belum dengan mad’u-mad’unya yang lain. Ceramah ke beberapa tempat, ngajar majlis taklim, ngajar ke panti, dll. Istrinya pun tak jauh beda. Setelah seharian ngajar di sekolah dari pagi hingga ashar, pulang-pulang sudah ditunggu anak TPA, setelah maghrib terkadang sudah ditunggu ibu-ibu yang juga minta ngaji atau pergi ngajar anak-anak di panti hingga malam.

Sempat saya tanya beliau, bagaimana rasanya ditinggal-tinggal terus begitu? Apa gak kesepian? Beliau menjawab, “Dulu juga saya kadang merasa kurang diperhatikan, tapi  suami saya mengatakan, ‘mungkin dengan cara mengabdikan diri untuk ummat, siapa tahu menjadi wasilah untuk mendapatkan keturunan’. Sekarang saya ingin belajar dari siti Hajar, suami saya keluar untuk ibadah, jadi saya yakin Allah akan menjaga saya di dalam rumah dan menjaga suami saya di luar rumah.” Duh makjleb banget buat saya yang masih suka menye-menye..

Kisah rumah tangga mereka pun terkadang bikin saya malu. Beliau dipinang oleh calon suaminya dulu dalam kondisi sang calon suami harus menanggung banyak adiknya yang sedang sekolah di Jawa. Tak ada perasaan khawatir tak dapat dinafkahi. Beliau yang seorang putri bungsu kesayangan keluarga, yang biasa tercukupi materi apalagi kasih sayang dari orang tua dan kakak-kakak, tetap rela diajak tinggal hanya di sebuah rumah kecil di samping mushola, karena suaminya mendapat amanah untuk memakmurkan mushola itu. Saat ayahandanya menawarkan membelikan rumah, ia tetap tak menerima karena suaminya sudah mewanti-wanti ingin suatu saat rumah mereka hadir dari jerih payahnya.

Suatu hari teman saya ini bercerita kalau kasur mereka di rumah sudah rusak. Ia membujuk sang suami untuk membeli kasur baru, kalau perlu springbed sekalian biar awet. Tapi suami beliau yang memang terkenal menjunjung kesederhanaan memilih mengisi bagian kasur yang sudah kempes dengan kapuk. Alhasil karena yang penyok sudah banyak, kapuk yang dibeli pun habis satu karung, dan harganya bisa buat beli kasur baru. Yang lebih lucu, setelah kasur mereka diperbaiki, mereka akhirnya milih tidur di lantai karena ternyata kasurnya jadi terlalu keras.hehehe…

Dari semua kebaikan pasangan ini yang saya lihat, ternyata Allah berkehendak memberikan mereka ujian. Teman saya harus menderita sakit setiap bulan. Tamu bulanan yang datang pada setiap wanita, baginya adalah waktu datangnya pula penggugur dosa. Karena setiap tamu bulanan itu datang, maka sehari hingga tiga hari pertama beliau harus merasakan sakit luar biasa hingga tak mampu melakukan aktivitas, bahkan saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana rasa sakit itu sampai harus membuatnya muntah-muntah tak berdaya. Itu dilaluinya bertahun-tahun, bukan sebulan dua bulan. Setiap ia datang berobat dari dokter satu ke dokter yang lain, selalu dikatakan bahwa ia akan sulit mendapat keturunan. Baginya yang juga wanita biasa, mendengar hal seperti itu tentu menyakitkan.

Terkadang ketika beliau meminta saran saya bagaimana agar bisa hamil, saya bingung sendiri, karena jawaban yang bisa saya sampaikan dan saya pendam dalam hati hanyalah tentang berdoa. Bagaimana saya bisa menyarankan itu pada beliau, padahal untuk yang satu ini saya yakin beliau dan suaminya jauh lebih banyak melakukannya dibanding saya, lebih khusyuk, dan lebih didengar Allah. Barangkali Allah senang mendengar doa itu terus diulang-ulang, nama-Nya terus menerus disebut oleh hamba-hamba-Nya yang shalih ini, sehingga menangguhkan memberikan apa yang mereka harap.

Sampai suatu hari ia dengan wajah sumringah bercerita kepada saya baru saja pulang periksa dari sebuah rumah sakit di kota besar. Saat harus menjalani USG, ia berdzikir begitu banyak, ia berdoa dalam harap, “Ya Allah, setidaknya beri saya kabar gembira walau hanya saat di ruang periksa saja.” MasyaAllah, saat diperiksa, penyakit yang biasanya terlihat di layar USG tiba-tiba dokter katakan bersih. Ia sehat, dan punya kesempatan punya anak. Saya masih ingat wajah bahagianya, sampai-sampai ia bilang, “Baru dibilang gitu aja, saya bahagianya udah kayak dibilang hamil.”

Segala puji bagi Allah, selang sebulan atau dua bulan dari obrolan itu, saya mendapat kabar bahagia beliau benar-benar hamil. Jika saya hanya harus merasakan mual muntah, maka kepayahan beliau saat mengandung jauh-jauh berkali lipat dari yang saya rasakan. Harus selalu bedrest, merasakan sakit, bahkan beberapa kali mengalami flek.

Kini, doa-doa panjang itu Allah jawab dengan kehadiran seorang calon mujahid dalam kehidupan mereka. Saat saya mendengar kabar beliau sudah melahirkan, rasanya perasaan bahagia yang saya rasakan persis seperti saya sendiri yang habis melahirkan. Lega, bahagia.

Ahlan wa sahlan Abdullah Hafizh El Hams. Maafkan kholah, kakak Kayyis dan Aghniya yang belum bisa melihatmu langsung. Semoga engkau mewarisi kebaikan-kebaikan ayah dan ibumu, bahkan lebih baik dari mereka.

Untuk saudariku yang tengah berbahagia..

Semoga Allah menjadikannya anak yang diberkahi untukmu dan untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.