Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 5 : “Hati-Hati dengan Pemadam Cahaya Keluarga”

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Mengingat kembali proyek besar yang tengah menanti. Betul, kita sedang berada pada masa akhir zaman, dan generasi kita barangkali akan merasakan gonjang-ganjing masa itu. Namun bukan hanya kengerian, ada sebuah optimisme, kabar bahagia akan sebuah proyek besar yang berabad-abad lalu Rasulullah SAW sampaikan. Penaklukan Roma. Pilihan pun ada pada kita sebagai orang tua, maukah kita menjadi bagian yang terlibat membangun generasi pembebas Roma?

Ini proyek besar dan panjang, yang memulai belum tentu menjadi bagian yang mengakhiri. Jika mengingat penaklukan Konstantinopel, sesungguhnya bukan hanya Muhammad Al-Fatih yang berperan, namun lihatlah bagaimana ayahandanya, Sultan Murad II, yang menyiapkan para prajurit hebat itu. JIka membaca kisah pembebasan Al-Quds jilid II, sesungguhnya bukan hanya Shalahuddin Al-Ayyub yang berperan, tapi tengoklah peran besar Nuruddin Zanky dalam membangun persatuan ummat. Bahkan banyak tokoh-tokoh lain yang barangkali tak tercatat sejarah. Intinya, maukah kita mengambil peran?

Satu minggu terakhir saya mendengar Kayyis berkali-kali berceloteh, “Latuftahannal Kostontiniyyah..” Bahasa Arab saya memang amburadul, tapi ketika mendengar kata Kostontiniyyah, saya baru ngeh kalau itu hadits tentang penaklukan Konstantinopel. Lalu dia menyuruh saya ikut menghafal juga, “Umi udah hafal belum?” Masya Allah, malu saya. Dulu, ibunda Al-Fatih setiap subuh mengajak putranya melihat benteng Konstantinopel lalu membisikkan kalimat motivasi dan doa, “Nak, namamu seperti nama Nabi kita, maka kau lah yang akan mewujudkan perkataannya.” Maka barangkali saya perlu mencoba memperlihatkan peta besar di mana letak Roma, lalu saya katakan, “Nak, pada namamu ada nama Al-Fatih sang pembuka Konstantinopel, maka kau pun kelak insyaAllah akan menjadi bagian hamba-hamba Allah para pembebas Roma.”

Maka, agar semua itu tak hanya menjadi kata manis, atau mimpi yang kadang menggebu kadang meredup, perlu penjagaan luar biasa dalam keluarga. Menjaga cahaya keluarga tetap bersinar. Kunci cahaya dalam keluarga tentu hanyalah Allah, cinta Allah. Lalu bagaimana agar keluarga kita dicintai Allah?

1. “..Fattabi’uunii yuhbib kumullah.. Ikutiah aku niscaya Allah akan mencintaimu”. (QS.Ali Imran :31). Ittiba’ Rasul, menghidupkan sunnah Rasul. Libatkan ALLAH dalam setiap aktivitas kita. Sedari kecil, anak-anak kita biasakan dengan berbagai sunnah walaupun hal-hal kecil. Masuk kamar mandi dengan kaki kiri, makan sambil duduk, membaca basmallah, berdoa untuk setiap aktivitas. Kita talqinkan kepada mereka lafadz-lafadz Allah sejak kecil.

2. Membuat taman syurga di rumah. Barangkali ada orang tua yang memiliki kapasitas ilmu untuk mengisi taklim, mengajar ngaji, membuat halaqoh-halaqoh. Tapi barangkali ada yang tidak, atau karena kesibukan pekerjaan tidak bisa demikian. Namun setidaknya kita bisa menyediakan waktu barang beberapa menit untuk berkumpul dengan keluarga mengaji beberapa ayat Al-Qur’an. Inilah taman surga di rumah, majlis ilmu dan Qur’an.

Selain menjaga cahaya rumah, kita pun harus berhati-hati terhadap apa-apa yang bisa memadamkan cahaya itu. Apakah itu? Jawabannya ada pada QS. An-Nur :35-37.

35. Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

36. Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Bertasbih kepada Allah pada waktu pagi dan waktu petang,

37. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).
(QS.An-Nur : 35-37)

Allah lah pemberi cahaya itu. Cahaya Allah yang begitu kuat, laksana pelita besar yang diletakkan dalam misykat. Pelita itu dinyalakan dari minyak zaitun, minyak yang diberkahi. Cahaya itu muncul di atas cahaya, menembuas setiap ruang kehidupan manusia dan semesta.

Lalu di mana kah sumber cahaya itu? Maka perhatikan lanjutannya pada ayat 36. Sumber cahaya itu adalah MASJID Tempat berkumpulnya orang-orang beriman untuk bertasbih dan memuji Allah SWT di waktu pagi maupun petang. Jika keluarga jauh dari masjid, tentu akan jauh pula dari sumber cahaya. Terlebih bagi para ayah. Jika ia tidak atau jarang ke masjid, padahal shalat bagi laki-laki adalah di masjid, maka bagaimana dia mau menerangi keluarganya?

Dalam ayat 37, Allah semakin menjelaskan bahwa ada yang dapat menghalangi kita dari mendapatkan cahaya Allah yang mulia. Yaitu perniagaan dan jual beli, atau secara umum adalah pekerjaan atau mata pencaharian kita. Terkadang kita terlalu disibukkan dengan pekerjaan hingga lupa bahwa ada waktu-waktu yang telah disyari’atkan. Dunia yang melenakan membuat kita lupa mengingat Allah, lupa kepada masjid dan akhirat. Karena kesibukkan kita, kita lalai dalam shalat tepat waktu dan berjama’ah.

Ada sebuah kisah dari ustadz. Saat itu beliau naik angkot di sekitar Depok. Lalu saat adzan dzuhur berkumandang, tiba-tiba sang sopir memutar mobil memasuki halaman masjid, padahal saat itu angkot sedang penuh penumpang. Lalu pak sopir berkata, “Bapak, ibu saya mau sholat dulu, kalau ada yang mau sholat juga silakan, tapi kalau ada yang mau ganti angkot juga tidka apa-apa tidak usah bayar.”  MasyaAllah, begitulah ikhtiarnya mendahulukan kewajiban kepada Allah, tidak takut kehilangan rizki. Karena sesungguhnya shalat lah yang akan membawa keberkahan rizki.

Nah, apabila shalat sudah tersingkir dari aktivitas kehidupan, mulailah kita pun menghitung harta dengan sangat detail. Kita akan mulai merasa bahwa mengeluarkan zakat hanya akan mengurangi harta, zakat hanya investasi yang sia-sia.

Jika sudah meninggalkan mengingat Allah, lalai terhadap shalat, enggan mengeluarkan zakat, maka cahaya Allah akan meredup, hati menjadi keras hingga sulit melihat kebenaran. Puncaknya adalah melupakan akhirat di mana saat itu semua akan dipertanggungjawabkan.

Pada ayat ke 37 ini Allah memulainya dengan kata Rijaaal (para laki-laki). Ayat ini langsung tertuju kepada para kepala keluarga. Artinya tanpa disadari laki-laki telah menjadi pemadam cahaya bagi keluarganya. Pekerjaan atau bisnis suami di luar rumah bersentuhan langsung efeknya dengan cahaya bagi keluarga.Lalu bagaimana dengan para istri? Bila hanya seorang suami saja yang terus disibukkan urusan dunia sudah cukup menghancurkan cahaya keluarga, apalagi bila istri pun sama saja. Pantaslah banyak keluarga tanpa cahaya.

Wallahu a’lam bishshawaab.

=====

Sumber : Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel bersama Ust. Elvin Sasmita

tambahan : buku Inspirasi dari Rumah Cahaya

Posted in Tausyiah dan hikmah

Kisah Sebuah Terong

Dulu pada masa tabi’in, dikisahkan ada seorang pemuda di Damaskus, ibukota Syam, yang miskin namun ingin sekali menuntut ilmu. Maka datanglah ia ke sebuah masjid bernama At-Taubah, di mana di masjid tersebut ada seorang syaikh yang shalih dan alim. Karena pemuda ini sangat miskin maka ia meminta izin kepada syaikh tersebut untuk menumpang tinggal di masjid tersebut, bantu-bantu di masjid dan hidup bersama syaikhnya. Artinya, ia ikut makan dan minum bersama syaikhnya.

Singkat cerita pemuda ini pun menuntut ilmu dan tinggal di masjid bersama gurunya. Gurunya adalah orang yang sangat zuhud. Ada makanan, ya dimakan, tidak ada makanan maka puasa. Hingga suatu ketika, sudah hampir tiga hari mereka tidak punya makanan sehingga mereka berpuasa. Sahur dengan air dan sebutir kurma, berbuka pun demikian. Menjelang hari ketiga, pemuda ini sudah semakin kepayahan hingga ia harus menekuk badannya untuk menahan perutnya yang lapar.

Dalam kondisi sangat lapar itulah muncul bisikan-bisikan dari syaitan yang menyuruhnya untuk mencuri makanan sekadar untuk mengobati lapar yang teramat. Bergeraklah ia memanjat sebuah rumah yang persis di samping masjid, namun ketika itu ia melihat di dalam rumah tersebut ada tiga orang wanita yang tidak menutup auratnya sedang memintal bulu domba, maka ia pun memalingkan pandangan. Akhirnya ia berpindah ke rumah kedua, dan dari atas ia sudah mencium bau masakan, maka ia pun turun masuk ke rumah tersebut.

Ditemukan olehnya panci berisi dua buah terong yang baru saja dimasak. Maka ia ambil satu lalu ia makan. Saat ia hampir menelan terong itu, tiba-tiba muncullah rasa takut dan ta’atnya kepada Allah.”Subhanallah, syaitan sudah berhasil menjerumuskanku dalam tiga dosa sekaligus.” Iya, tiga dosa, yaitu masuk ke rumah orang tanpa izin, mencuri, dan memakan makanan yang haram. Lalu ia pun membuang terong yang ada di mulutnya, “ Tidak mungkin Allah membiarkan aku mati kelaparan karena Rasulullah SAW sudah bersabda bahwa barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebi baik”. Pemuda itu pun akhirnya pulang ke masjid.

Di masjid sedang ada kajian ilmu bersama syaikhnya, namun ia sangat sulit menangkap apa yang dismpaikan sang guru karena lapar yang teramat. Saat majlis itu selesai, datanglah seorang laki-laki dan seorang wanita bercadar berbincang dengan gurunya, sedang gurunya menundukkan pandangan dari wanita tersebut. Namun kemudian sang syaikh memandang pemuda ini lalu memanggilnya. Syaikh bertanya pada muridnya ini, “Kamu sudah menikah?” Yang dijawabnya,”Belum.” “Kamu mau menikah?”lanjut sang guru. Ditanya demikian pemuda ini tidak menjawab hingga gurunya bertanya sebanyak tiga kali namun tetap saja pemuda ini diam. Akhirnya pemuda ini berkata, “Ya Syaikh, Anda tahu bahwa selama ini saya ikut tinggal bersama Anda, bahkan sudah tiga hari ini kita tidak mempunyai makanan, lalu bagaimana nanti saya memberi makan istri saya?” Syaikhnya pun menjawab, “Wanita di sampingku ini baru saja menyelasaikan masa iddah karena suaminya meninggal. Ia ditinggali harta yang cukup dan ia takut fitnah. Apa kamu mau menikah dengannya?” Pemuda itu pun mengiyakan, begitu pula dengan sang wanita. Akhirnya dalam hitungan menit mereka pun menikah.

Syaikh pun berkata, “Pulang lah ke rumah istrimu karena kau sudah tidak pantas tinggal di masjid. Datanglah ke masjid untuk shalat dan untuk kajian ilmu.” Maka pemuda itu pun pulang bersama istrinya. Saat berjalan, pemuda itu melewati rumah pertama yang hampir dia masuki untuk mencuri namun tidak jadi, dan mereka melewatinya begitu saja. Tapi saat sampai di rumah yang kedua, istrinya berhenti dan berkata, “Masuklah suamiku inilah rumah kita.” Pemuda itu kaget, dalam hatinya dia berkata, “Bukankah ini rumah yang kumasuki tadi untuk mencuri?” Lalu istri nya pun berkata, “Tadi aku dengar kau sudah tidak makan selama tiga hari. Aku akan menghidangkan makanan untukmu.” Istrinya kemudian masuk ke dapur dan kaget karena melihat panci yang sudah terbuka, juga terong yang bekas digigit. Spontan ia berteriak, “Siapa yang sudah memakan makanan saya ini?” Pemuda ini pun akhirnya menceritakan apa yang dilakukannya tadi kepada istrinya, “Demi Allah wahai istriku tadi aku begini dan begini tapi demi Allah karena rasa takutku kepada Allah, aku belum sempat memakan terong ini dan aku membuangnya”. Istrinya yang mendengar hal ini tidak lantas marah, namun ia berkata yang perkataannya ini menunjukkan kualitas keimanannya, “Wahai suamiku, engkau tinggalkan segumpal makanan yang haram, maka Allah jadikan makanan itu, pancinya, rumahnya, pemilik rumahnya menjadi milikmu sekarang”.

Bukan hanya laparnya yang Allah hilangkan, bahkan Allah memberikan panci, rumah, bahkan pemilik rumahnya untuk pemuda itu. Orang yang bertakwa kepada Allah akan senantiasa Allah beri jalan keluar. Maka bertakwalah kepada Allah di mana pun kita berada.

Wallahu a’lam bishshawaab

Posted in Aghniya

AGHNIYA (10 Bulan..)

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal..MasyaAllah Nduk, kamu semakin besar, maafkan ummi yang semakin jarang menulis tentang dirimu, habis lebih asyik main sama kamu sih..uhuuk..🙂

Untuk banyak hal kamu selangkah lebih maju dari kakak Kayyis saat dulu seusiamu. Gigimu sekarang sudah tiga. Tingkahmu tak ada habisnya. Entah berapa kali kamu thawaf ngelilingin seisi rumah dalam sehari. Ngintilin umminya mulai dari jemuran hingga kamar mandi. Ngesot ataupun pegangan tembok.

Tapi, ada satu hal yang kakakmu lebih unggul, berat badan dan pamer senyum..Kalau keluar dari pintu rumah, senyummu hilang seketika, digodain orang aneka rupa, wajahmu tetap jaim luar biasa, entah kayak ada on off nya aja, mode rumah dan mode luar rumah. Di usiamu kini berat badanmu baru mencapai 8,8 kg. Si ummi sempat shock, berhubung dulu kakakmu sudah jauh melampaui angka itu..Iya, kamu beda Nak sama kakakmu, ummi cuma bingung, apakah selama ini ummi kurang memberimu asupan gizi, padahal nafsu makanmu luar biasa tak tertandingi. Gugur sudah semua idealisme ummi tentang MPASI, nasi tim sudah ga laku lagi, kamu maunya makan seperti kami..Walau begitu, tak apa Nak, yang penting kamu sehat, aktif, dan shalihah..

Sesaat lagi saingan ummi bertambah satu. Kamu..iya..kamu De. Abimu bilang di antara semuanya kamu lah yang paling dikangenin, maklum kamu lagi lucu-lucunya. Siapa coba yang ga meleleh disambut di ambang pintu dengan senyuman merekah darimu..Kalau digendong abi, senyummu tiada henti, seolah pengen pamer, “Ini Abi ku loh..”

Bukan hanya abi yang setia kau suguhi senyum di ambang pintu. Kakakmu juga. Kayaknya saat kakak pulang sekolah, walaupun badannya udah letih, mukanya udah kuyu, jalannya diseret ga karuan, jiwa mu tampaknya tetap berteriak gembira, “Horeee nambah orang yang ngajak aku maen..”..Kadang saat kakakmu sudah tumbang tidur siang, kamu tetap mengganggunya, menindihi badannya, menjambak-jambak rambutnya, sampai dia harus merengek, “Adeeek, kakak ngantuk laaah, mau tiduuuur..”haha…

Zanky shalihah..semoga Allah senantiasa menjagamu Nduk..Menjaga sehatnya fisik dan batinmu..We Love you..🙂

Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 4 : “Mendidik Anak dengan Hikmah seperti Luqman”

Dalam Al-Quran terdapat sebuah surat bernama Luqman. Para ulama salaf berbeda pendapat tentang siapa Luqman. Ada yang mengatakan bahwa ia nabi namun pendapat yang kuat adalah ia hamba Allah yang shalih namun bukanlah seorang nabi.

Tentu ada yang istimewa dari sosok mulia ini, hingga Allah menajdikannya nama salah satu surat Al-Qur’an. Mengapa ia begitu istimewa? Karena Allah menganugerahinya hikmah. Hikmah yang Allah SWT berikan kepadanya ini antara lain berupa ilmu, agama, benar dalam ucapan, dan kata-kata yang bijak. Ia selalu bersikap dan bertutur dengan adil dan tepat, seperti nasihat kepada anaknya yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an.

Ibu ‘Athiyah menyebutkan bahwa Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Luqman itu bukan Nabi, namun ia seorang hamba yang:

  • BANYAK BERFIKIR
  • BAGUS KEYAKINANNYA
  • MENCINTAI ALLAH

Dan Allah pun mencintainya, lalu memberikannya HIKMAH.”

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS.Luqman : 12)

Sebagai orang tua, tentu kita pun berharap Allah anugerahi hikmah sebagaimana Luqman, yang dalam tiap nasihatnya selalu benar dan tepat dalam menyampaikan. Dari Luqman kita belajar bahwa agar hikmah itu datang kita harus memiliki keimanan dan kecintaan yang kokoh kepada Allah. Selain itu, kita harus rajin berfikir. Tentang apa? Bertafakkur tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah, bertafakkur tentang segala nikmat. Dengan peka terhadap tiap nikmat maka kita bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur. SYUKUR adalah batu bata pertama bangunan HIKMAH.

Nasihat Luqman kepada anaknya tercantum dalam QS.Luqman ayat 13-19. Namun kita perlu memperhatikan ayat-ayat sebelumnya yang merupakan prolog kisah Luqman.

QS. Luqman :1-5 berisi tentang sumber hikmah, yang lain dan tak bukan adalah Al-Qur’an Kariim.

QS. Luqman : 6-7 berisi tentang pemadam cahaya hikmah. Inilah yang patut kita waspadai. Apakah itu? Cerita kosong yang menyesatkan, perkataan yang sia-sia.

QS. Luqman : 8-9 adalah tentang visi keluarga, yaitu surga yang penuh kenikmatan

QS. Luqman : 10-11 tentang ma’rifatullah.

HIKMAH LUQMAN DALAM MEMBERI NASIHAT

Dari Tamim Ad-Dari, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, dan untuk pemimpin ummat Islam serta masyarakat umumnya.” (HR.Muslim)

Jumhur ulama mengatakan bahwa Luqman adalah seorang da’i di masyarakatnya, namun ia tetap menyempatkan waktu duduk berdua dengan anaknya. Adapun isi nasihat Luqman dalam ayat 13-19 adalah :

(Ayat 13) Jangan menyekutukan Allah

(Ayat 14) Berbuat baik kepada orang tua. Bersyukur kepada Allah dan orang tua

(Ayat 15) Tidak mena’ati keburukan tapi tetap berbuat baik kepada orang tua, ikutilah jalan orang yang kembali kepada Allah.

(Ayat 16) Perbuatan baik walau seberat biji merica tetap akan Allah balas.

(Ayat 17) Laksanakan shalat, amar ma’ruf nahyi munkar, bersabarlah

(Ayat 18) Jangan memalingkan wajah (sombong), jangan berjalan dengan angkuh

(Ayat 19) Sederhanakanlah langkah, lirihkanlah suara.

Jika kita mengamati pola nasihat yang disampaikan Luqman kepada anaknya, maka ada tiga bentuk cara Luqman menyampaikan nasihatnya. 1. LARANGAN dengan penggunaan kata jangan, 2. PERINTAH, 3. ANALOGI /ILUSTRASI.

Tentang LARANGAN, ada 4 hal yang disampaikan, sedangkan untuk PERINTAH ada 9 hal. Adapun nasihat berupa ILUSTASI terdapat dalam satu ayat penuh yaitu pada ayat ke-16. Nasihat Luqman pun berisi tentang pokok-pokok agama Islam yang mencakup aqidah, ibadah dan akhlak.

Saat ini muncul teori parenting tentang larangan penggunaan kata “JANGAN” kepada anak-anak. Padahal, bila kita melihat contoh nasihat yang disampaikan Luqman, kata JANGAN tetaplah digunakan dalam penyampaian nasihat. Ada 4 hal yang menggunakan kata jangan, yaitu jangan menyekutukan Allah, jangan mena’atai dalam keburukan, jangan sombong, dan jangan berjalan dengan angkuh. Keempat hal tersebut adalah dosa- dosa yang amat Allah benci. Maka, sebenarnya tak apa kita menggunakan kata jangan kepada anak-anak, tapi jangan pula terlalu sering atau boros menggunakannya. Misal, sedikit-sedikit kita katakan, “Jangan lari, jangan pegang itu, jangan manjat, dst..”. Kebanyakan menggunakannya membuat JANGAN-nya kita menjadi tak bertenaga, sehingga ketika kata JANGAN itu disandingkan dengan hal besar, anak kita menjadi kurang perhatian.

Lalu, apa rahasia di balik dahsyatnya nasihat Luqman? Rahasianya terletak pada isi nasihat yang runut dipadukan dengan variasi kata yang tepat, sehingga menghasilkan nasihat yang dahsyat. Dalam menyampaikan nasihatnya, Luqman tahu prioritas yang diutamakan. Ia sampaikan dulu tentang aqidah, lalu ibadah, terakhir tentang akhlak. Dalam variasi kata yang digunakan, Luqman memiliki sentuhan-sentuhan yang istimewa, yaitu sentuhan sapa, sentuhan penguatan, sentuhan ilustrasi, dan sentuhan penutup.

Dalam sentuhan sapa, kita akan menemukan kata “Yaa Bunayya” (wahai anakku) sebanyak tiga kali yaitu dalam penyampaian lararangan syirik, pengenalan ilmu Allah, dan penegakkan shalat. Yaa Bunayya adalah sapaan sayang orang tua terhadap anak. Bahkan sapaan ini pun digunakan oleh para Nabi kepada anaknya, yaitu Nabi Nuh (dalam Hud:42), Nabi Ya’qub (dalam Yusuf: 5), dan Nabi Ibrahim (dalam Ash-Shaffat: 102).

Dalam sentuhan penguatan, Luqman tahu kapan perlunya penegasan. Adapun untuk sentuhan ilustrasi, inilah yang perlu kita perhatikan betul, terutama saat menjelaskan kepada anak tentang Allah. Tentu kita tidak akan bisa menjelaskan tentang dzat Allah kepada anak, sehingga untuk itu kita memerlukan kemampuan membuat ilustrasi sebagaimana Luqman ketika menjelaskan kepada anaknya tentang ilmu Allah. Mengenalkan Allah tidak harus dengan mengenalkan dzatnya karena tentu itu tidak bisa, seperti apa Allah, matanya bagaimana, padahal tekadang mucul pertanyaan-pertanyaan tersebut dari anak-anak. Maka kenalkan lah Allah melalui kemahabesaran-Nya, keluasan-Nya, ketinggian-Nya, kasih sayang-Nya, dan cipataan-ciptaan-Nya.

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (perbuatan) seberat biji merica, yang berada di dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendayangkannya (untuk diberikan balasannya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS.Luqman:16)

Dalam ayat tersebut Luqman menggunakan berbagai analogi. 1. seberat biji merica: isyarat sangat kecilnya perbuatan, 2.yang berada di dalam batu : isyarat tersembunyinya perbuatan, 3. atau di langit : isyarat jauhnya tempat dilakukannya, 4. atau di dalam bumi: isyarat gelapnya tempat dilakukannya perbuatan. 5. niscaya Allah akan mendatangkannya (untuk diberikan balasannya): maknanya lebih dalam daripada “niscaya akan diketahui Allah”.

Sentuhan penutup terdapat pada kalimat Luqman, “Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Ayat ini memantapkan keyakinan bahwa Allah akan membalas amal perbuatan yang sangat kecil, dilakukan di tempat tersembunyi, jauh dan gelap. Ada orang yang tahu sesuatu tapi dia tidak bisa mengambilnya karena kecilnya sesuatu itu dan letaknya yang sempit atau jauh. Namun bagi Allah semua itu mudah. Allah Maha Halus, dan menghadapi sesuatu yang semakin halus, kita harus lebih waspada dan hati-hati.

Ketika Luqman menutup nasihatnya pada ayat 15 dengan ungkapan, “Maka Aku akan mengabarkan kepada kalian apa-apa yang kalian lakukan, “ barangkali anaknya akan berpikir bahwa jika ia melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi maka tidak akan dihisab Allah. Oleh karena itu, Luqman menghapus sampai bersih semua persepsi salah itu dari keyakinan anaknya dengan untaian nasihat pada ayat ke-16 ini. Sekecil apapun, tersembunyi bagaimanapun tetap akan Allah hisab. Luqman ingin membuktikan kepada anaknya bahwa ilmu Allah itu mutlak kedalamannya, kelembutannya, ketinggiannya, dan keluasannya.

Dari awal nasihat hingga ayat 15, Luqman belum masuk pada perintah dan larangan tentang syari’at, seperti shalat dsb. Sampai ayat 16, Luqman tetap fokus mengingatkan dan menyiapkan jiwa anaknya sehingga nanti siap menerima perintah dan larangan Allah.

“Nak, kamu telah beriman kepada Allah, maka sekarang kamu harus menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Namun sebelum itu, ketahuilah bahwa kamu sedang berhadapan dengan Dzat yang berdiri sendiri, yang tidak pernah mengantuk dan tidur, yang tidak tersembunyi sesuatu pun dari tatapan-Nya. Maka lakukanlah perintah Allah dan tinggalkanlah larangannya dengan terus memegang keyakinanmu ini. Nak, ketika kamu tidak melihat Allah bukan berarti Allah tidak melihatmu. Ketahuilah amalmu akan dihisab atasmu, walau itu kecil.” Itulah perkataan Luqman kepada anaknya.

===

Sumber: Kajian orang tua Kuttab Al-Fatih Tangsel oleh Ust. Herfi G. Faizi (Pembina Kuttab Al-Fatih)

Posted in Celotehan

2.190 Hari

Alhamdulillah, segala puji dan syukur ke hadirat Allah atas segala nikmat-Nya yang takkan pernah bisa dihitung..

Enam tahun bukan waktu yang singkat namun juga bukan waktu yang cukup untuk mengatakan diri sebagai pasangan  senior. Kami masih junior, masih belum cukup memakan asam garam berumah tangga. Kami masih anak ingusan yang harus terus belajar tentang kehidupan.

Ini adalah lima tahun kedua pernikahan kami. Ada kepercayaan yang berkembang bahwa ujian pernikahan akan silih berganti sesuai usia lima tahunan pernikahan. Entahlah. Bagi kami ujian itu tentu akan selalu ada bahkan dalam bentuk yang terlihat sebagai sebuah kesenangan.

Banyak dari kawan kami yang dalam usia ini sudah punya segala hal yang bisa dianggap mapan, apakah itu rumah yang nyaman ataupun kendaraan. Tapi Alhamdulillah di usia pernikahan kami yang sekarang hal-hal semacam itu belum menjadi bagian dari kehidupan kami. Rumah? Alhamdulillah masih diberi rizki untuk mengontrak rumah yang layak di lingkungan yang aman. Kendaraan? Alhamdulillah Allah beri rizki sebuah motor yang kata teman-teman saya di Tuban motor itu penuh kenangan. Bagaimana tidak, hampir dua tahun setengah motor itulah yang menjadi saksi sejarah betapa besar pengorbanan suami saya harus antar jemput saya ke sekolah setiap hari.

Dulu sekali, saya kadang baper ketika dinasihati keluarga untuk cepat beli rumah, tanah, dsb. Bukan tak mau, tapi uangnya belum ada, hehe. Sekarang? Ya tetap lah, siapa yang tidak ingin punya rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman, bukankah itu salah satu nikmat Allah. Tapi satu yang selalu terngiang dari pesan suami saya,” Mi, mulai sekarang harus menguatkan mental. Kita tidak akan pernah mundur ke belakang.” Iya, itu pilihan kami untuk tidak mundur ke belakang, berurusan dengan riba. Lalu kapan bisa beli itu semua kalau harus nunggu tunai? Allah yang Maha Tahu dan Maha Kaya.

Suatu hari abinya keceplosan bilang sama si sulung bahwa rumah yang kami tempati bukan rumahnya. Dia menangis, lalu bertanya, “Terus rumah Kayyis yang mana?” Lalu saya katakan padanya,” Minta dong sama Allah, Kayyis mau rumah apa?” Dengan polosnya dia menjawab, “Rumah warna merah.” Sambil senyum saya katakan, “Iya Nak, apa sih yang nggak Allah kasih. Tapi yang penting minta istana sama Allah di Surga, yang besaaaaar dan cantik.” Hidup di dunia ini sesungguhnya pun ngontrak, maka saya katakan pada suami, “Bi, ummi mah yang penting bisa punya rumah di Surga, ga kan nolak kok Ya Allah, beneran.” Ya iya laaah..hehe..

Mari tinggalkan urusan rumah dan kendaraan, karena sesungguhnya Allah telah menganugerahkan sesuatu yang lebih berharga di tahun ini, yaitu hadirnya bidadari kedua kami. Aghniya, yang wajahnya lebih banyak ngikutin abi. Alisnya panjaaaang suka kerut-kerut kayak lagi ikut mikirin tax amnesty. Oh jangan Dek, kamu masih bayi..

Omong-omong soal wajah anak, kata salah seorang psikolog, kedekatan ayah dengan anak, terutama anak perempuan, akan meminimalisir potensi perselingkungan. Katanya ya, saat ayah lihat wajah anaknya, dia akan teringat istrinya. Alhamdulillah, dua putri kami mah kayak berbagi wajah. Si kakak kata orang mah kopian umminya banget, lah si adek ngejiplak abinya ga pake banget. Artinya,abi lihat kakak ingat ummi, ummi lihat adek ingat abi. Adil kan? Tos dulu bi..(ini ngomong apa sih)..

Kembali tentang perselingkuhan. Saya sering banget bilang sama abinya, “Bi, ummi mah insyaAllah bisa dibawa hidup susah tapi ga bisa kalau abi nyakitin hati ummi.” Selama saya hidup, kisah-kisah suami berpaling mulai dari cara yang halal hingga yang haram sudah sering saya dengar, dan itu sukses membuat saya baper. Bahkan kisah nikahnya lagi seorang pejabat berinisial MS tempo hari yang dibumbui kisah menceraikan istri tua, sukses membuat saya galau berhari-hari. Bukan itu sih esensinya. Saya tak pernah tahu esok hari, tapi kalau suami saya bilang, “Abi kan bukan tipe yang suka aneh-aneh.” Maka saya akan menjawab, “Jangan sombong jangan lengah, syaitan tahu di mana celah kita.” Saya sudah pernah hidup puluhan tahun dengan seorang lelaki yang jauh lebih cool dari abinya. Jangankan senyum apalagi pecicilan, ibu-ibu rekan kerjanya saja mana ada yang berani ngajak ngobrol, semua bilang sungkan. Tapi ternyata ujian itu tetap datang dari orang jahat. Walaupun Allah jaga dan selamatkan hingga tutup usia, tapi semua itu sudah terlanjur membekas di ingatan saya. Maka, hanya kepada Allah lah kami memohon perlindungan.

Oleh karenanya, menjadi hal yang menarik bagi saya saat tempo hari ada sebuah diskusi ibu-ibu tentang bagaimana menyenangkan hati dan pandangan suami agar si dia tak berpaling. Menyenangkan pandangan adalah salah satu sifat istri shalihah, maka perlu diperhatikan. Ada yang berikhtiar melakukan perwatan, rajin olahraga, hingga memakai baju-baju lucu atau seksi di depan suami. Saya yang cupu urusan begitu akhirnya penasaran juga. Mulailah saya searching baju-baju yang dibilangin para senior. “Bi, ummi perlu pakai baju-baju ala-ala korea gitu ga?” “Ga usah.” Jawabnya datar. “Bi, lihat deh, boleh ga ummi pakai ini?” Saat saya tunjukkan baju daster anti emak yang girly gimana gitu, tapi jawabnya, “Ah ga ah..” Akhirnya saya tanya aja, padahal mah malu nanya ginian, “Jadi, abi teh sukanya ummi pakai apaaaa?” Jawabnya, “Abi suka waktu ummi pakai mukena, soalnya ngingetin shalat jama’ah pertama kali kita habis nikah.” Gubraaak..Sebenarnya sih saya sudah bisa menebak jawabannya, karena jawaban ini tak pernah berganti hingga enam tahun pernikahan. Alhamdulillah seleranya ga berubah.

Nomong-ngomong, beberapa hari ini mulai ramai lagi bahasan tentang baby blues dan istri butuh piknik, gegara kasus mutilasi oleh seorang ibu tempo hari. Saya berdoa semoga keluarga ini dikuatkan. Ibu atau istri, memang betul perlu diperhatikan. Ini bukan hanya psikolog yang berkata, tapi sudah langsung dicontohkan oleh manusia mulia Rasulullah SAW. Saya suka terkagum-kagum jika membaca shirah Rasulullah SAW. Maha Suci Allah yang sudah menciptakan manusia sesempurna itu, fisiknya, akhlaknya, semuanya. Seorang suami yang begitu lembut dan cinta pada istrinya. Yang tak malu turut bejibaku dalam urusan rumah tangga. Yang menyediakan waktu khusus mendengar istrinya. Yang kakinya rela dijadikan pijakan istrinya untuk menaiki unta. Yang..yang..terlalu banyak untuk dikatakan. Maka jika para suami begitu bersemangat menjalankan sunnah Rasul –ta’addud- yang kadang hanya jadi bahan candaan tak semestinya, alangkah lebih baik memperhatikan dahulu sunnahnya yang lain tentang bagaimana memperlakukan istri dengan akhlak terbaik.

Urusan istri butuh piknik, saya termasuk yang tiap akhir pekan minta libur dan minta piknik. Kadang kasian juga kalau abinya udah mulai merengek, “Ummi minta libur weekend, terus abi kapan liburnyaaa?” Sebenarnya yang paling saya senangi bukan piknik tapi ngobrol. Bahkan sekadar ngobrol yang ga penting, “Benar sama betul kan sama, kok kebetulan dan kebenaran ga sama?” Krik..obrolan macam opo iki. Kadang juga ngobrol yang penting, semisal kopi sianidanya Jessica, atau ngobrol tentang keruntuhan Andalusia. Alasan saya suka ngobrol salah satunya karena ngobrol adalah obat manjur untuk saya kalau sedang insomnia. hehe..Tapi sebenarnya alasan utamanya bukan itu. Sudah menjadi sunnatullah bahwa perempuan adalah makhluk yang perlu didengar. Kemampuannya untuk mengeluarkan kata-kata berkali lipat dari laki-laki. Maka para suami harus mau menyediakan waktu dan telinga mendengar semua keluh kesahnya, curhatannya, ceritanya yang mungkin tak penting atau berulang-ulang. Tak rela kan kalau istri malah nyari tempat curhat ke orang lain. Na’udzubillah..

Akhir kata, hatur nuhun Kangmas karena masih sangat bersabar menghadapi istrimu yang kolokan. Pagi ngirim whatsapp cinta, sore hari bisa berubah manyun karena telat pulang kerja. Semoga Allah hadiahkan bagimu bidadari-bidadari surga, tapi saya tetap berharap saya lah ratunya kelak. Ga bosen kan?kan?

 

Yaa Allah bimbinglah kami…

 

 

 

 

 

Posted in Kuttab Al-Fatih

Catatan Kajian Kuttab Al-Fatih 3: “Keselarasan antara Rumah dan Sekolah”

Menurut Dr.Khalid Ahmad Asy-Syantut, salah seorang pakar pendidikan Islam, rumah adalah lembaga pendidikan pertama bagi anak. Peran rumah bagi anak mencapai 60%, sedangkan sekolah dan lingkungan masing-masing hanya 20%. Oleh karennya, penting sekali menyelaraskan gerak antara sekolah dan rumah, karena sering terjadi apa yang dibangun oleh sekolah rubuh oleh orang tua di rumah, ataupun sebaliknya.

Pentingnya rumah dalam pendidikan dikarenakan :

  • Anak hadir pertama kali di dunia adalah di rumah
  • Anak-anak (sebelum baligh) menghabiskan waktu paling banyak adalah di rumah
  • Orang tua adalah yang bertanggung jawab terhadap anak
  • Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang tua
  • Allah menjadikan rasa cinta orang tua terhadap anak-anaknya
  • Keluarga adalah jamaah yang setiap orang akan berafiliasi seumur hidup kepadanya

Hal yang paling utama tentang pendidikan rumah tentu adalah peran orang tua. Dan peran terbesar pendidikan adalah pada sosok ayah. Ayah harus bisa menjadi qowwamah dalam keluarga. Kenyataannya saat ini peran qowwamah ini mulai menghilang. Qowwamah bukan sekadar mencari nafkah, tapi peran kepemimpinan yang harus ditegakkan. Seringkali terjadi pada banyak keluarga ayah tak mau tahu menahu urusan pendidikan anak, semuanya diserahkan pada ibu, yang penting ayah bisa mencari uang. Ini yang keliru.

Ayah adalah pemimpin keluarga dan akan dimintai pertanggungjawaban. Ibu memelihara rumah dan anak-anak dan akan pula dimintai pertanggungjwaban. Inilah yang Rasulullah SAW sampaikan.

Lalu apa yang harus dilakukan qowwamah? Yang pertama adalah menjadi teladan. Contoh praktisnya, bila adzan berkumandang, maka ayah segera bergegas shalat ke masjid. Ini sudah menjadi salah satu bentuk penanaman iman kepada anak. Sebagai teladan, ayah harus menjadi sosok yang dikagumi anak-anak. Untuk hal ini, istri bisa membantu menceritakan kelebihan dan kebaikan ayah di depan anak-anak, jangan sekali-kali menjatuhkan ayah di depan mereka. Atau ketika berkunjung ke kakek-nenek, anak-anak bisa meminta diceritakan tentang ayahnya.

Selain itu, sebagai qowwamah, kepemimpinan ayah harus dirasakan di dalam rumah terutama dalam mengambil keputusan-keputusan bahkan untuk hal kecil sekalipun. Contoh, “Bu, aku boleh ga main ke rumah teman?” Maka jangan langsung katakan boleh, tapi katakan, “Coba kita tanya ayah dulu ya.” Walaupun mungkin ibu hanya bersandiwara, tapi ini untuk menunjukkan peran ayah sebagai pengambil keputusan.

Lalu bagiamanakah sinergi antara rumah dan sekolah?

Sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah orang tua wajib untuk tidak menyebutkan keburukan sekolah dan gurunya di depan anak, terutama yang masih kecil. Hal ini bisa menjatuhkan izzah guru di hadapan anak, sehingga anak akan sulit merasakan manisnya ilmu. Pun sebaliknya, guru sebaiknya membantu anak agar mereka semakin mengagumi orang tuanya. “Nak, ayahmu itu hebat loh, bertanggung jawab.” “Nak, ibu mu itu jago bikin kue.” dst.

Kuttab tidak berupa asrama atau boarding school, karena pada usia ini (5-12 tahun) interaksi anak dengan orang tua masih sangat besar diperlukan. Oleh karena itu, Dr. Asy-syantut memberikan contoh pembagian waktu harian bagi anak yang masih dalam usia Kuttab. Dimulai dari ba’da Isya, anak-anak dibiasakan untuk menyiapkan perlengkapan untuk sekolah esok hari lalu bersegara untuk tidur. Lalu kapan anak bangun tidur? Sebaiknya anak mulai bangun maksimal saat adzan pertama, yaitu kira-kira setengah jam sebelum subuh, dilanjutkan aktivitas pagi higga sekolah sampai siang hari. Siang hari atau sekitar ba’da dzuhur adalah waktunya anak untuk beristirahat, tidur siang (alangkah baiknya bila anak dibiasakan), lalu bermain. Main sangat penting untuk anak. Imam Ghazali mengatakan, biarkanlah anak-anak bermain, karena bila anak-anak dilarang bermain bisa mengakibatkan hati mereka menjadi keras. Lalu ba’da ashar adalah waktu mereka untuk belajar dan juga bermain. Sedangkan ba’da maghrib adalah waktu Al-Qur’an, yaitu untuk muroja’ah dan ziyadah.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah, jangan pelit untuk mengapresiasi anak dan membisikkan nasihat kasih sayang kepada mereka. Baik itu oleh guru di sekolah, terlebih oleh orang tua di rumah. “Nak, kamu adalah anak yang hebat.” “Nak, abi sayang kamu.”, dst. Juga, jangan malu untuk menyampaikan maaf kepada anak bila orang tua memang salah.

Wallahu a’lam

==

Sumber : Kajian KAF Tangsel yang disampaikan oleh Ust.Galan Sandy (General Manager Kuttab Al-Fatih)

 

 

Posted in Celotehan

Yang Terganteng

“Kayyis mau nikah sama abi.” Saya yakin si sulung ga ngerti apa itu nikah, tapi saban hari itu yang diucapkan pada abinya. Siapa coba yang ga geer, cieee..Kayaknya kalau yang kecil udah bisa ngomong, ia pun akan ikut memperebutkan abinya..Oh, begitu berharganya kah abi kalian nih?

Kadang saya dirundung cemburu tak berkesudahan. Kata artikel yang beredar, bagusnya ada interaksi bantal antara suami dan istri sebelum tidur, ngobrol sebelum tidur lah sederhananya. Tapi apa boleh dikata, saat kami mau tidur, muka abinya harus ngadep dan ngelonin si kakak, tangan kanannya megangin si ade, akhirnya mau tak mau saya dapat tangan kirinya.

Udah jelas kalau baru pulang kantor mah, denger suara motornya saja, anak-anak udah ‘cingkleung’, nyadar bapaknya pulang. Belum sempat abinya menyandarkan badan barang sebentar, yang kecil udah gapai-gapai minta gedong. Sambil gendong yang kecil, kakaknya udah mulai gelendotan di kaki, dan si saya cuma bisa manyun..Mau mulai ngobrol, tiba-tiba pesaing ikutan ngomong, seolah ingin beradu nyaring, ingin menjadi pertama yang didengar lelaki paling ganteng di rumah ini..hiuuufff..

Inilah rutinitas kangmas bersama kami setiap hari..Kami tahu dia lelah, seharian di kantor, berangkat dan pulang harus jadi roker. Tapi rasa rindu kami padanya tak pernah berkurang setiap harinya. Jika syafaq mulai muncul, maka itu tandanya sesaat lagi adzan maghrib dan kangmas pulang ke rumah. Telat sedikit saja, maka galau lah seisi rumah..hmmm

====

Setiap hari kau keluar rumah untuk mencari nafkah, untuk beribadah, maka kami titipkan engkau pada Dzat Yang Maha Melindungi..Allah yang akan menjaga..

Cinta kami, istri dan anak-anak adalah cinta makhluk, yang kadang membuncah kadang meredup. Tapi cinta Allah tak pernah surut, cinta Allah berbeda dengan cinta makhluk. Maka kami berdoa agar Allah senantiasa mencintaimu, hingga ia akan menjagamu dalam segala keta’atan yang Dia ridhai..

Baarakallahu fiik..tak hanya untuk umurik tapi juga untuk semuanya..Yassarallahu umuuraka..

We Love You, Abi..