0

Cerita I’tikaf Perdana Anak-Anak….

Bismillahirrahmaanirrahim

PERHATIAN! Tulisan ini berisi curhat yang panjang.. 😁Semoga tetap mengandung ibroh

Setelah memiliki anak-anak, saya cukup lama libur dari itikaf… Rasanya melihat keluarga lain yang begitu semangat menjalankan itikaf bahkan dengan anak-anaknya yang masih kecil, membuat saya iri puoolll.. Maka, bismillah sejak mendekati Ramadhan saya dan suami mencoba bertanya ke kiri dan kanan mengenai masjid yang kiranya dapat menerima jamaah anak kecil…

.
Ramadhan pun berlalu dengan cepat, sampai akhirnya hanya tinggal beberapa hari saja mendekati 10 hari terakhir, qodarullah Allah menganugerahi saya sakit sampai harus ngicip nginep di rumah sakit… Suami udah was-was saja, “Wah, itikaf di rumah sakit nih ceritanya.” Tapi masyaaAllah wal hamdulillah, Allah anugerahi kesembuhan lebih cepat, tapi tetap saja saya sudah melewatkan separuh momen emas langka ini…

.
Di malam ke-25 alhamdulillah akhirnya keturutan juga itikaf di sebuah masjid di ibu kota. Jauh amat.. Iya, sempat nanya masjid di dekat rumah sebenarnya. Saat ditanya via WA bilangnya gapapa bawa anak yang penting tidak ganggu. Tapi saat abinya nyobain itikaf di sana, ternyata ada tempelan “Hanya untuk anak di atas 15 tahun”.. Qodarullah… Akhirnya bismillah kami berangkat ke ibu kota, yang sebelumnya sudah disurvey abinya, “Banyak mi ummahat yang bawa anak itikaf di situ”.

.
Awalnya deg-degan, dan memang butuh effort mengondisikan anak-anak, terutama yang besar. Di tinggal sedikit, dia tiba-tiba sudah punya teman baru dan ngobrol heboh kayak emak-emak.. eh.. begitu terus beganti-ganti temannya, malah yang kecil yang adem ayem terkendali…

.
MasyaaAllah, lihat masjid penuh sesak saya sebenarnya ngeper, “Orang mah yah pengen lailatul qodr ikhtiarnya kenceng pake banget. Mau masuk surga ngotot banget”.. Sekilas saya lihat beberapa ummahat membawa anak-anak juga bahkan bayi.. Panitia pun tak bosan mengingatkan agar yang membawa anak bisa mengondisikan.. Ada juga beberapa ummahat yang sudah sepuh yang shalat pun harus sambil duduk di kursi. Saat tiba qiyamullail yang masyaaAllah berdurasi panjang, dengan berdiri, ruku dan sujud yang sama-sama panjang, saya kira jamaah ini akan berguguran melipir, ternyata tidak! Mereka tetap ngotot pake banget.. Memang, jika berdirinya atas dasar iman akan sulit tergoyahkan… Makin ngeper aja si saya…

.
Dengan berbekal uji coba malam  ke-25 yang alhamdulillah Allah mudahkan, ternyata ga seserem itu ya bawa bocah-bocah, akhirnya saya nekat membawa anak-anak lagi di malam ke-27. Nekat? Iya karena mungkin harusnya saya siap-siap aja buat mudik esok harinya, jaga stamina gitu..

.
Lalu mulailah ujian datang…

.
Pernah ga dapat cerita orang seperti merasa tertampar oleh dosa saat menjalankan haji dan umroh? Suka ada yang bilang, di Makkah mah dosa itu seolah akan diingatkan melalui kejadian-kejadian. Nah, saya mah boro-boro Makkah, masih di masjid di ibu kota ini saja, saya langsung merasa ditampar saat pertama kali datang saat waktu maghrib. Ada kejadian yang sebenarnya agak bikin jengkel karena dinyoloti sama orang. Tapi yang heran saya merasa gaya nyolotnya beliau yang mungkin ga bermaksud nyolot ini mirip nyolotnya saya juga. MasyaaAllah… “Bi, orang nyolot nyebelin ya.. Berarti ummi juga nyebelin..” Suami cuma nyengir.. Eh, beberapa menit kemudian nyolot saya keluar lagi.. Yaa Allah Rabbighfirlii…

.
Sampai bada tarawih semua aman terkendali..Saya gelar “lapak” di belakang agar kalau malam tidak sampai memutus shaff shalat Beberapa kali di sapa panitia dan beliau mengapresiasi memang harusnya begitu.. Alhamdulillah aman saya pikir, anak-anak siap tidur dan saya bisa tilawah.. Lalu tiba-tiba seorang bayi persis di depan saya jatuh kecengklak. Otomatis si bayi nangis dengan durasi yang panjang karena ibunya sedang ke toilet. Seorang ummahat yang menggendong dan mencoba menenangkan pun tidak berhasil. Alhamdulillah saat ibunya datang seketika bayi ini pun tenang…

.
Selang beberapa menit, tiba-tiba dua orang ummahat yang sudah senior mendatangi ibu ini. Tanpa ba bi bu mereka berkata, “Anti tau ga aturannya?” Si ibu kaget saya pun ikut kaget, aturan apa nih.. “Anti itu hanya mengikuti nafsu sendiri karena ingin lailatul qodr tapi dzalim sama anak. Anak itu harusnya istirahat di rumah bukan di sini. Ini juga nanti ganggu sama yang lain.. Anak itu amanah ya jangan dzalim. Nih dia kalau bisa ngomong mungkin akan bilang ga mau dibawa ke sini, tapi kan dia cuma bisa nangis. ” Melihat ibu itu dicecar sedemikian rupa, sebenarnya ga tega, dia berusaha menjelaskan alasan tapi akhirnya diusir juga. Karena waktu sudah malam akhirnya dia diusir ke teras masjid.

.
Apakah berhenti? Tidak. Ternyata mereka beralih kepada saya, cecaran yang sama disampaikan pada saya, qodarullah Kayyis malah tiba-tiba batuk saat tidur. Maka kali ini beliau menambahkan, “Bu, di sini ada ratusan orang. Walaupun pake AC tapi bahaya bu ke dada, gimana kalau anak-anak kena kuman…. dan panjaaang sekali”.. MasyaaAllah jadi ingat seminggu lalu anak-anak diusir dari rumah sakit karena takut infeksi nosokomial.. Iya sih di rumah sakit… Saya pun pasrah kena usir juga, bahkan Kayyis yang sedang tidur pun tetap dipaksa bangun olehnya.. Daaan kami pun berakhir di teras masjid… MasyaaAllah kondisi di luar ternyata panas ditambah orang lalu lalang dan anak-anak yang ribut bermain…

.
Sesaat setelah menidurkan anak-anak lagi, kebetulan banget pas ustadz yang sedang memberi kajian menjelaskan tentang orang yang “diharamkan” mendapat Lailatul qadr.. MasyaaAllah hati saya campur aduk, apakah kejadian yang menimpa saya adalah teguran, jangan-jangan saya yang termasuk orang seperti itu…Lebih-lebih saya pun merasa tertohok dengan kata-kata “dzalim” yang disampaikan Ummahaat tadi.. Apa benar saya ini dzalim pada anak-anak. Jangan-jangan saya itikaf ini hanya mengandalkan semangat tanpa ada ilmu..

.
Pikiran yang berkecamuk akhirnya saya alihkan dengan banyak berdoa dan tilawah. “Yaa Allah kalau saya termasuk orang terdzalimi, maka saya mohon kabulkan, ampunilah dosa-dosa saya. Tapi kalau saya termasuk orang dzalim, maka ampuni juga saya.” Maksa banget yak😂 Intinya banyak-banyak mohon ampun kalau kata pak suami..

.

Menjelang akhir malam tiba-tiba saya dihampiri seorang akhawat yang ternyata panitia. Lalu dia bilang,” Kak.. kok mau sih disuruh pindah? Kasian anak-anak di sini. ” Saya bengong.. Lah bukannya saya melanggar aturan yak… Lewat obrolan akhirnya saya tahu ummahat yang mempersilakan saya dan anak-anak di teras ternyata bukan panitia tapi sesama peserta… Hiksss.. Semakin baper setelah masuk ke dalam ternyata banyak sekali anak-anak yang tidur dengan nyaman di ruangan masjid tanpa terkena usir… Rabbighfirlii…

.
Pulang ke rumah saya masih saja kepikiran. Maka saya memutuskan bertanya kepada ustadz via WA. Apakah benar membawa anak saat itikaf bisa mendzalimi anak? Karena sepanjang pengetahuan saya anak sebaiknya ditahan dari masjid karena khawatir mengganggu. Lalu jika tidak mengganggu? Maka jawaban singkat ustadz, “Sepengetahuan saya tidak masalah bu”. Maksudnya jika anak-anak tidak mengganggu, tidak mengapa dibawa itikaf..

.
Namun barangkali memang ada hal-hal harus dipertimbangkan dan dipersiapkan lebih baik.. Ini pelajaran berharga untuk saya. Kata pak suami mah, “Mudah-mudahan dengan banyak ujian, pahalanya juga besar Mi…Anggap saja latihan berlapang dada menghadapi berbagai macam karakter muslimah..” . Akhir kata semoga Allah menerima amal-amal kita semua dan anugerahi istiqomah…

Advertisements
0

Curhat heula…

Mau ngalor ngidul.. Entah sedih, bingung, kesel, campur aduk rasanya jadi satu…
Pemboman kembali terjadi.. Isu terorisme kembali terangkat. Walaupun setiap orang menyerukan bahwa terorisme tidak beragama tapi tiap mata tetap tertuju kepada kaum muslimin…
Media mengatakan bahwa pelaku adalah orang yang rajin berjamaah ke masjid. Lalu saya berfikir apakah nanti orang yang rajin ke masjid akan dicurigai sebagai bibit teroris? Belum lagi muncul meme- meme provokatif yang bilang teroris itu jidatnya hitam, jenggot nya panjang, celana cingkrang, istrinya bercadar… helloowwww..
Pengalaman kurang elok bahkan pernah dialami oleh bapaknya anak-anak yang memang sengaja memangjangkan jenggot. Kalau lagi mudik ke kampung, beberapa “oknum” keluarga akan mengatakan kalau dia udah kayak teroris.. Plis deh.. Inilah yang menjadi persoalan. Orang lebih takut keluarganya berjenggot dan rajin ke masjid. Tapi malah merasa tenang – tenang saja kalau keluarganya keluyuran untuk maksiat… Saya malas bicara teori konspirasi, tapi diakui atau tidak, tindakan-tindakan tidak bertanggung jawab ini memberikan efek buruk. Keluarga- keluarga muslim makin khawatir kalau anak atau famili mereka malah “terlalu shalih”, bahkan muncul kembali kesinisan terhadap sunnah dan syariat..
Lebih jauh lagi, ujung-ujungnya kita akan memangkas syariat dan menghilangkan kosakata-kosakata yang dianggap “ngeri”. Jihad, mati syahid identik dengan ekstrimisme tak perlu lah dibahas, begitu kira-kira. Islam itu rahmatin lil ‘alamin, Islam itu agama pertengahan, betul saya sepakat. Tapi Islam itu kamil (sempurna) dan syumul (menyeluruh). Saya meyakini bahwa semua syariat Allah itu ada hikmahnya, kita tak perlu alergi pada sebagiannya termasuk pada syariat poligami, eh..naha jadi kesini..
Lalu bagaiamana dangan kita (saya. pen)  dan keluarga ?
1. Menuntut ilmu itu ada tahapannya. Tidak langsung ujug-ujug bahas jihad. Yang ada malah muncul salah penafsiran, pemahaman serba instan tapi salah jalan. Maka di sinilah pentingnya memilih majlis ilmu juga guru.
2. Salah satu ilmu yang perlu dipelajari adalah tentang shiroh. Karena ini bagian dari ilmu hikmah, bagian dari sunnahnya Rasulullah SAW selain tentang ilmu hadits. Dari shiroh kita bisa belajar bagaimana Rasulullah bersikap, berstrategi, mengambil keputusan. Sikap beliau untuk satu kasus saja bisa berbeda tergantung orang yang dihadapi dan kondisi-kondisi lainnya.
Islam itu lemah lembut namun juga keras. Apa maksudnya? Dalam kondisi aman, kondisi mengharuskan kita berdakwah, maka kaum muslimin harus menunjukkan kelembutan. Dakwah itu lembut, tidak mempersulit. Jika saat seharusnya kondisi lembut kita malah kasar, itu namanya dzolim. Ada kalanya pula Islam harus keras, yaitu pada kondisi perang. Kalau kondisi perang malah lembut, ini menunjukkan kelemahan. Kebayang dong kalau dulu Pangeran Dipinegoro atau Jenderal Sudirman ga mau perang karena takut dibilang ga rahmatan lil alamin.. hiksss
Paham-paham ekstrim menyimpang dalam Islam itu selalu ada dan hidup dari zaman ke zaman. Biasanya mereka semakin subur saat terjadi perang saudara atau terjadinya ketidakadilan pemimpin di suatu negeri. Salah satu faham ekstrim ini bernama khawarij yang bahkan sudah Rasulullah SAW sebutkan dalam hadits-hadits beliau. Dan kalau kata Ust. Budi,  kelompok ini selalu membuat lelah kaum muslimin, menguras energi kaum muslimin. Sepanjang zamam mereka hidup, dan hanya pernah satu kali mereka “rehat” yaitu pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dari dalam Islam, memang harus diakui ada paham menyimpang ini. Tapi dari luar, framing media harus diakui masih tidak berimbang. Kadang saya heran, apa bedanya pembom di Prancis atau Surabaya kemarin,  dengan penembak puluhan orang di Amerika sana? Apa bedanya penyerang gereja kemarin dengan penyerang masjid berbulan-bulan lalu? Kenapa ada yang dilabeli teroris dan ada yang tidak… Entah…
Akhir kata, saya hanya bisa memohon kepada Allah untuk senantiasa menunjukkan kepada jalan yang lurus. Di masa fitnah ini, di masa yang semuanya terasa abu-abu, campur aduk antara haq dan bathil, semoga Allah tetap melindungi dan nenerangi… Hanya kepada-Nya satu-satunya tempat bersandar…

Tulisan ini adalah hasil curhat bolak-balik sama bapaknya anak-anak…

0

N. G. O. P. I

Dialah Sa’ad bin Muadz, sahabat mulia yang wafatnya membuat ‘Arsy Allah berguncang. Masuk Islamnya Sa’ ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah, 2 tokoh Madinah, adalah salah satu titik tolak perkembangan Islam di Madinah. Lalu siapakah yang menjadi jalan Islam bagi keduanya? Tentu adalah hidayah Allah, tapi seruan itu tersampaikan oleh sahabat mulia sang diplomat pertama Islam yaitu Mush’ab bin Umair RA.
Bayangkan, wafatnya Sa’ad bin Muadz saja membuat ‘Arsy Allah berguncang, menunjukkan betapa istimewanya kedudukan beliau di sisi Allah. Lalu bagaimana dengan Mush’ab yang mendapat setiap kopian pahala dari amalnya Sa’ad? Juga bayangkan tentang Abu Bakar AshShiddiq, yang dengan izin Allah melalui beliaulah banyak sahabat mulia masuk Islam, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya. Berapa banyak kopian amal yang diterima oleh Abu Bakar RA.. Dan tentulah puncak dari semuanya adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ..
Hidayah iman, dakwah tauhid ini betapa dahsyatnya.. Bukan hanya pahala shalat, bukan hanya pahala puasa, tapi semua amal terkopi pahalanya kepada sang perantara hidayah…
Ceritanya ini teh tausiah bapake anak-anak sebelum tidur kemarin malam
===
Habis dapet tausiah saya teh berkontemplasi…
Ingat suatu hari seorang teman curhat tentang betapa sulitnya ia ngajak temen-temennya datang pengajian. Padahal dalam hati juga saya garuk-garuk mojok, duh kesindir juga soalnya saya termasuk yg susah diajak.. Padahal saya aja kadang suka baper kalau ngajak anak-anak sekolah ngaji tapi yang datang bisa dihitung sebelah tangan.. Kadang godaan datang, “Udaaah.. capeee.. libur ajaa. ga da yang datang ini..” Setiap godaan datang si cinta suka bilang, “Mi, seorang aja yang datang dan dapat kebaikan, bayangkan pahalanya, kopian amalnya..”
Tentang ajak mengajak ini kadang suka lupa.. Bikin publikasi super menarik, ngebroadcast tiada henti, tapi lupa mengetuk pintu langit, minta sama yang memiliki tiap hati, yang punya hak penuh sama hidayah. Rabbighfirlii…
Kadang suka lupa juga kalau ada ladang kopian amal yang tepat di depan mata,yang pertama dan utama. Buat emak-emak mah siapa lagi yang bisa jadi ladang pahala kalau bukan anak-anaknya di rumah. Mengajarkan AlFatihah saja , yang itu teh akan dipakai seumur hidup anak minimal dalam shalat 5 waktu, masyaaAllah pahalanya. Iya kalau 1 anak shalih, kalau 2, 3, 4, dst.semuanya shalih, dan yang diajarkan bukan hanya Al Fatihah.. MasyaaAllah, makanya suka ngiri sama Ummahaat yang putra putri nya banyak shalih shalihah pula..
Ini di dunia nyata, kalau dunia maya?
Nah, kalau kata  seorang ustadz mah sosmed juga harus menguntungkan.. Kalau ga buat mendulang pahala ya buat mendulang untung alias dagang, sisanya mah sia-sia. Makanya saya suka takjub sama temen yang sering share info kajian, atau ringkasan kajian. Tentang ilmu dan pendapat pribadi sangat berhati-hati menyampaikan, tapi tetap menyebar kebaikan. MasyaaAllah coba aja ada yang dateng kajian atau tergerak melakukan amal shalih gara-gara membaca share-sharean dari FB nya, pahalanya akan mengalir juga..
Udah ah.. Panjang teuing.. Bentar lagi Ramadhan, Allahumma ballighnsa Ramadhan.. Ini bulan mulia momen mendulang pahala sebesar-besarnya, pahala dari ibadah pribadi juga ngopi pahala ibadah orang lain.. Emang bisa? Bisaa…
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Wallaahu a’lam

 

 

 

 

0

C. E. M. B. U. R. U

Saya cemburu pada mereka, wanita-wanita yang hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan menuntut ilmu. Kajian demi kajian bagaikan taman surga yang menjadi magnet luar biasa.Asalkan masih bisa ditempuh dengan kendaraan,  walaupun lintas kota, bagi mereka itu tetaplah dekat. Demi tholabul ‘ilm..
Saya cemburu pada mereka, wanita yang mimpinya akan generasi amatlah besar. Bukan hanya pada ucapan, tapi hari-harinya dipenuhi dengan ikhtiar-ikhtiar nyata. Saat mendapat ilmu, mereka akan mengamalkan ilmu itu sekuat tenaga walaupun tidak populis.. Iman.. iman.. apa yang datang dari Allah pastilah benar.
Saya cemburu pada wanita yang terkadang saya pun heran pada mereka. Tiba-tiba bertanya, “Mba bagi tips ngatur jadwalnya gimana?” Padahal mereka bukan hanya mendidik satu dua anak seperti saya, tapi 11 anak, 4 anak, dst. Kadang rasa-rasanya saya pengen “nyungsep” . Apa coba yang mau dibagi-bagi saat harusnya saya yang menengadahkan tangan dan mereka yang memberi. Allah hiasi akhlak mereka dengan tawadhu yang luar biasa.

Saya cemburu padanya, wanita yang Allah berikan kepadanya dan keluarga anugerah kelapangan rizki, lalu tak hentinya mewakafkan apa yang dimiliki. Sebuah rumah dipakai puluhan anak calon penerus generasi, tiap hari nama Allah dan Kalamullah disebut di dalamnya. Tak berhenti, rumah lain tempat ia dan keluarga tinggal,  rela sesekali dijadikan tempat mengaji puluhan ibu lain yang ingin memperbaiki diri dan generasi. MasyaaAllah.. Saya cemburu membayangkan berapa banyak tabungan pahala yang akan ia tuai..
Saya cemburu padanya, wanita yang ghirohnya luar biasa. Saat ustadz membahas pahala besar laki-laki yang shalat berjama’ah di masjid, maka serta merta ia bertanya, “Ustadz,  apakah perempuan juga bisa begitu, padahal shalatnya di rumah?” MasyaaAllah, untuk urusan akhirat memang tak mau kalah.

Saya cemburu pada mereka, yang mungkin saya tak sempat mengetahui kisahnya. Mereka tersembunyi dari pandangan mata manusia tapi Allah selalu memandangnya. Namanya jarang disebut-sebut manusia, tapi penduduk langit mengenal dan menyebut-nyebutnya.

Mereka adalah Ummahaat shaalihaat yang saya jumpai…
Jangankan membayangkan bersaing dengan para shahabiyah yang mulia, bersaing dengan mereka saja rasanya seperti menjadi debu… Semoga.. semoga bisa mencontoh sedikit demi sedikit semangat mereka, keteguhan mereka, kesungguhan mereka dalam beramal, dalam menuntut ilmu, dan dalam berbakti kepada suami serta mendidik generasi..
Baarakallahu fiihinna 😘😘

0

Tiga Semester Kayyisah Alfatih dan Kuttab Al-Fatih

Sudah lama tidak update kisah Kayyis dan Kuttab…

Kuttab dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bagi kami adalah sebuah rizki dari Allah yang Maha Pemurah. Tentu seperti yang pernah disampaikan Waalid Ilham dulu sekali saat Kajian pertama wali santri, Kuttab hadir bukan karena merasa paling baik. Kami pernah lalai bertawakkal, hingga suatu saat Allah menegur, lalu kami berikhtiar memperbaharui lagi niat atas keberadaan kami di Kuttab. Kuttab adalah bentuk ikhtiar manusia, sedang tawakkal, segala ketergantungan tetaplah hanya kepada Allah..

Sesekali melihat anak tetangga yang sekolah di bilingual school mulai belajar bicara bahasa Inggris, membuat saya tergoda. Apa saya mulai ajari Kayyis juga ya? Lain hari melihat obrolan di sebuah grup tentang matematika Cambridge, membuat saya pun membisiki suami, “Ayo bi, bisa lah kita juga..” dst.. Saya lupa terhadap tahapan dan kesabaran yang harusnya saya perbaharui dari waktu waktu. Kesabaran atas keputusan yang tidak populis yang telah kami ambil..Kesabaran untuk meniti tangga ilmu satu per satu dulu, yang tentu saja dimulai dari iman, adab, dan Al Quran.

“Ummi, kata ustadz pernah ada kisah begini ya..” Hampir setiap hari kisah-kisah kebaikan dia bawa dari Kuttab. Bagi kami ini adalah perkembangan luar biasa. Tahun lalu saat masih kelas 1, ketika ditanya, “Tadi di sekolah, ustadz berkisah apa?” Maka hampir selalu dijawabnya dengan menaikkan bahu.. Kini, tanpa diminta pun ia akan bercerita panjang lebar…

Lambat laun, saya pun bahkan sering merasa malu kepada Kayyis. Suatu hari dia bertanya, “Mi, kok umi ga pakai cadar, kan sudah besar?” Umminya cuma mesam- mesem. Lain hari, saat tanduk ummimya sedang keluar tiba-tiba dia berkata kepada saya setengah malu-malu, “Ummi.. Sebenarnya aku mau ingetin umi tapi aku malu.. Umi kalau marah nanti Allah ga suka..” Seketika itu pula hati saya luluh.. Yang paling  terbaru, saat umminya marah dan melipir dulu ke kamar sebelah, tiba-tiba muncul secarik kertas di bawah pintu.. “Umi kalau marahnya sampai kecatat malaikat umi gamau seperti Rasulullah dia tidak pernah marah umi nanti kalau teteh bikin sebel umi marahnya senyum”. Walau tanpa titik dan koma, plus  susunan katanya tak beraturan, tapi satu paragraf ini sukses menjadi pengingat seketika. 

Bukan tanpa cela. Terkadang Kayyis pun masih terlewat tentang adab, misal lupa membaca doa. Lalu panjang lebar umminya menasihati, walau entah apa bedanya dengan omelan. Maka saat kajian kemarin,  rasanya saya seperti tertampar bolak-balik ketika ustadz mengisahkan teladan Rasulullah dan para nabi.  Manusia paling mulia saja, Rasulullah SAW,  saat mengingatkan para sahabatnya yang mulia, tidak dengan mengomel, Rasulullah selalu mengingatkan dengan hikmah.. Nabi Ya’qub saja yang tahu tentang kedzaliman saudara-saudara Yusuf tetap bersabar. Karena itulah hakikat mendidik, shobrun jamiil.. Kesabaran yang indah.. Ini pula yang seringkali saya lihat dari asaatidzah. Sempat suatu hari saya melihat Kayyis ditegur oleh seorang ustadzah karena mengunyah makanan sambil jalan, ustadzah pun mengingatkannya dengan berjongkok mensejajari, berbicara sambil menatap Kayyis dengan lembut.. MasyaaAllah.. Allahu yubaarik fiihaa..

Suatu hari ada cacatan istimewa tentang adab Kayyis dalam majlis. Saking semangatnya bercerita, Kayyis seringkali malah memotong pembicaan asaatidz, dan ini pun terjadi di rumah bersama kami. Bolak-balik kami ingatkan, tapi tetap saja begitu. Sampai suatu hari saat saya sedang membacakan kisah kepadanya tiba-tiba dia mengangkat tangan dan berkata, “Afwan, kata ustadz kita harus seperti pohon kurma…” Sesaat sata tertegun kaget. MasyaaAllah walaupun masih keliru tapi saya takjub dengan caranya mengangkat tangan dan mengatakan afwan. Lagi-lagi kebaikan yang ia peroleh dari asatidznya..

Tentang Al Quran,  ada saatnya dia begitu cepat dalam menghafal, walau terkadang saya khawatir tidak dibarengi dengan imannya. Saat menghafal, Kayyis senang bertanya, “Ummi ini artinya apa?” Saya pun membacakan artinya dan menjelaskan sebisa-bisa. MasyaaAllah berasa sekali bodohnya, menyesal kenapa saya tidak menuntut ilmu dengan benar dari dulu. Jika sampai pada ayat-ayat surga, dia akan girang bukan main, “Ooh.. Nanti buahnya metiknya gampang ya..”

Tapi ada saatnya sulit sekali dia menghafal walau hanya satu ayat, maka saya ajak dia untuk beristighfar. Walau hakikatnya dia belum berdosa, tapi umminya lah yang bertumpuk dosa. Kadang pula saya tiru kata-kata seorang ummahat shalihah saat putranya kesulitan menghafal, “Barangkali ayatnya sedang kangen sama kamu Nak, makanya ingin terus diulang-ulang”.. MasyaaAllah…

Suatu hari dalam kajian diceritakan, bahwa asaatidz Kuttab bahkan punya waktu khusus untuk mendoakan satu per satu santri yang diajarnya. MasyaaAllah saya merasa sangat malu, beliau-beliau adalah guru Kayyis, sedang saya ini ibunya yang harusnya lebih kencang bermunajat..Baarakallahu fiikum asaatidzah..

Seperti yang selalu diingatkan.. Ini bukan akhir perjalanan, ini masih awal perjuangan, masih jauh dari hakikat sukses.. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberikan pertolongan. .
Iman sebelum Quran, adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal..
0

Mendidik Keluarga dengan Berkisah

Alhamdulillahi bi ni’matihi  tatimmush shoolihaat

Beberapa kali dapat tugas dari sekolahnya Kayyis untuk melakukan halaqoh keluarga. Sebenarnya sih itu cuma pemicu,  yang harusnya setelah tugas usai kegiatan ini dijadikan kegiatan rutin di rumah. Apa daya, waktu efektif untuk kumpul semua, duduk tertib melingkar emak, bapak plus bocah-bocah adalah bada shubuh, sedang saat itu adalah waktu emak jumpalitan dengan cucian, sarapan, dan kumbahan 😁.. Maka saat halaqoh biasanya si emak izin dulu melipir matiin kompor lah, matiin keran lah dan iklan- iklan lainnya… Hiks

Tapi ada satu agenda penting keluarga yang nampaknya kurang serius tapi dampaknya MasyaaAllah mudah-mudahan serius berkahnya. Judulnya adalah Cerita Abi. Sebenarnya ini kegiatan rutin sejak saya hamil Kayyis. Dulu mah judulnya Dongeng Abi, tapi cenah dongeng mah terkesan cerita boongan..

Di tengah rutinitas hariannya berangkat pagi pulang malam, plus jadi pejuang roker yang saya aja ga berani bayanginnya 😀, bapake masih mau meluangkan waktu untuk kami. Semoga Allah menjaganya..

Jadi menjelang tidur, sudah siap tiga ‘pasien’ yang menunggu antrian cerita Abi.. Dimulai dari si kakak, si teteh, dan terakhir emaknya..

Si Kakak akan diceritakan kisah para Nabi dan shiroh Rasulullah SAW. Si teteh akan diceritakan kisah para nabi dan orang  shalih yang pokoknya  ada hubungannya dengan bayi. Entah, kenapa pula temanya itu padahal si teteh udah bukan bayi lagi😎.. Dan terakhir si emak dapat kisah para Nabi, Rasulullah SAW namun cenah dari pendalaman yang berbeda, duh padahal yang dangkal aja belum tentu tau dan mengamalkan 😓

Majlis ilmu, majlis Al Quran adalah cahaya bagi tiap rumah. Barangkali ada para ayah atau bunda yang punya majlis ta’lim di rumahnya, mengisi halaqoh-halaqoh di rumahnya, mengajari ngaji anak-anak sekitar di rumahnya, MasyaaAllah betapa cahaya menerangi rumah mereka.. Tapi bagi kami yang terbatas ilmunya, mudah-mudahan kegiatan kecil seperti ini Allah ridhai menjadi cahaya juga di rumah kami..

0

Air Kencing Unta

Dari Anas bin Malik berkata, “Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya. Maka mereka pun berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa unta-untanya. Kemudian berita itu pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang siang. Maka beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka. Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, maka tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beberapa pekan lalu, masalah air kencing unta ini sempat ramai di media sosial. Terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum meminumnya. Kata si abi, bukan itu yang mau dibahas, tapi tentang hikmah apa yang bisa kita ambil dari hadits di atas.

1. Sebagai muslim, saat kita mendengar apapun yang datang dari Rasulullah SAW maka kita harus percaya, walaupun belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Saat Rasul menyuruh orang-orang itu meminum air kencing unta sebagai obat, maka kita percaya tentang itu.

2. Selanjutnya masih tentang meminum air kencing unta. Ini harusnya menjadi ladang bagi kaum muslimin, terutama yang bergerak di bidang medis, untuk menelitinya. Saat Rasul menggunakan air kencing unta, apa sebenarnya penyakit dan gejala yang diderita orang-orang itu. Apa zat-zat yang terkandung di dalamnya, dst. Sehingga penggunaannya semakin efektif dan efisien. Karena belum tentu semua penyakit diobati dengan meminum air kencing unta.

3. Saat mendengar cerita bagaimana Rasulullah SAW menghukum para pengkhianat itu, saya begidik ngeri. Kata abinya itu adalah hukuman yang tidak pernah Rasul berikan sebelum dan sesudah kejadian itu. Hanya itu sekali-kalinya. Lalu kenapa segitunya?

Orang-orang itu melakukan perampokan (rampok loh ya bukan nyuri), pembunuhan, murtad, dan berkhianat. Dosa – dosa besar dilakukan sekaligus. Kaki dan tangan mereka dipotong sebagai hukuman merampok, mata mereka dicongkel dan dibuang di gurun panas hingga mati, karena mereka pun melakukan itu kepada sang penggembala. 

Inilah qishos. Wah kalau jaman sekarang mungkin akan dianggap melanggar HAM. Tapi prinsip Islam adalah mencegah kerusakan yang lebih besar. Dan ini menjadi pelajaran bagi masyarakat saat itu untuk tidak ada lagi yang melakukan hal keji demikian. Kita hari ini?