0

“Abi Mau Poligami?”

Orang tua ingin anaknya shalih, tapi ketika mereka shalih di luar ekspektasinya, maka yang muncul adalah kepanikan, “Apakah anak saya ikut aliran sesat, dst”.  Itu karena sebagai orang tua,  kita tidak menyiapkan diri menjadi orang tua yang akan memiliki anak shalih. Kurang lebih begitu kata Ustdaz. Budi Ashari.

Pun seorang istri, tentu berharap memiliki suami yang shalih, yang akan bisa menjadi imam dan qowwam. Lantas ketika suaminya begitu rajin mengilmui diri, hadir dalam kajian-kajian ilmu, dan setapak demi setapak menjalankan sunnah, hingga tibalah pada sunnah yang besar, “Abi, mau poligami.” Maka kira-kira bagaimana reaksi istri jika mendengar itu?

Ini lah keluarga. Siapapun pasti ingin menjadi keluarga hingga ke Surga, maka semua langkah menuju ke sana harus dijalankan oleh semua elemen dalam keluarga itu. Hingga tidak ada kekagetan-kekagetan, apalagi muncul ketidaksekufuan.

Pagi ini saya iseng tanya suami, “Abi mau poligami?” Maka tak seperti jawabannya yang dulu-dulu, yang mungkin masih malu-malu, ia sekarang langsung  to the point mengiyakan. Sesaat dada saya berdegub kencang, rasa-rasanya jantung saya jadi menciut, mata saya pun mulai memerah, mulai kan lebaynya.. Huehue.. . Walau suami mengatakan kalimat lanjutan, ” Tapi buat abi, standar poligami itu tinggi.” Tetap saja semua kalimat itu seolah diterpa hembusan angin begitu saja, yang ada di telinga saya hanya bisikan-bisikan, “Hayoo loh suami kamu ternyata cinta nya berkurang ga seperti dulu”.. Dst.. Dst…Mulai berasa ala sinetron-sinetron 😂😂

Yaa Rabb.. Betapa Maha Besarnya Engkau yang menciptakan wanita dengan hatinya yang lembut, perasaan yang mendominasi. Maka seringkali ketika sedang mellow atau PMS, saya sekuat tenaga menarik hati agar bisa nyambung kepada akal, termasuk seperti pagi tadi..

Lalu saya mulai berkontemplasi..

Yaa Rabb..
Hamba hanya seorang anak manusia, yang tengah hidup di dunia yang fana dan sekejap ini
Hamba hanya seorang anak manusia yang berharap Kau beri akhir yang khusnul khatimah
Hamba hanya seorang anak manusia yang mengemis kasih sayang dari Mu agar selamat melewati shiraat
Hamba hanya seorang anak manusia yang berharap ridha dan ampunanMu
Hamba hanya seorang anak manusia yang berharap bisa memasuki Surga Firdaus-Mu, walau rasanya hamba jauh dari layak

Lalu ngapain tetiba saya membahas poligami? Karena ujug-ujug di FB saya rame bahasan tentang sebuah dauroh yang bertajuk “Cara cepat beristri 4” . Woow banget yak…Pembahasan dan komentar-komentarnya sudah melebar kemana-mana.. 

Mencari laki-laki yang ingin berpoligami, terlepas dia siap atau tidak, sepertinya tidak sulit. Mencari calon istri ke-2 dst, mungkin juga masih lebih mudah dibanding mencari istri petama yang siap untuk dipoligami. Makanya saya kira panitia harusnya menyelenggarakan daurohnya bukan hanya untuk bapak-bapak, tapi juga pasangannya.. 😁

Jika melihat kehidupan para shahabat dan shahabiyah, masyaaAllah rasa-rasanya poligami dijalankan begitu saja seperti halnya ibadah lainnya. Para sahabat terbiasa berlomba menjadi “pelindung” bagi istri dan anak-anak yang ditinggal syahid oleh sahabat lainnya. Lalu mengapa di kehidupan kita kini mendengar katanya saja, para istri dan termasuk saya rasanya sudah ciut hati? Mungkin jawabannya ada pada iman dan ilmu. Dan tak menutup mata contoh-contoh poligami yang terekspos  di sekitar kita  lebih banyak contoh yang “gagal” nya dibanding yang ‘berhasil”.

Ini dari tadi ngalor-ngidul gomongin apa yak… 😁😁

Seperti kata para istri tangguh yang ditinggal jihad oleh suami mereka, “Mereka itu adalah tukang makan. Jika mereka pergi, maka sesungguhnya Sang Pemberi Makan  tidak lah pergi”. Suami kita hanya lah makhluk, maka cintai sewajarnya saja. Menikah adalah wasilah untuk beribadah yang muaranya tetaplah Allah. Jadi istri atau suami adalah peran tambahan, sedang peran utama kita di bumi adalah hamba-Nya. Ga usah risau, ga usah galau.  Tujuan kita mah tetap Allah.. Allah… Ini ceritanya  kata hati saya kalau lagi muncul bapernya 😁..

Mulai  saja dengan mencicil sunnah yang kecil-kecil, manjangin jenggot dulu, mendekkin celana dulu, kan ga ngeluarin modal. Karena kita tidak tahu yang Allah takdirkan. Jangan sampai kalau Allah takdirkan berpoligami, kita malah menjadi orang yang makin memperburuk citra syariat poligami… Nah kalau yang ini kata-kata pak suami.. Huehue.. 

Kesimpulan :
Udah ahhh.. Fokuus ibadah yang ada di hadapan mata… Mengais sedikit demi sedikit pahala, menabung sereceh demi sereceh untuk bekal di akhirat. Apapun skenario kehidupan yang Allah berikan, apapun peran yang Allah percayakan, dunia ini sebentaaaar saja, akhirat lah yang kekal selamanya 😉😊

Advertisements
0

Cabang Iman ke-19 : Mengagungkan, Mempelajari dan Mengajarkan Al Quran, Menghafalkan Hukum, Mendalami Ayat yang Mengandung Janji dan Ancaman dari Allah sampai Menangis Karenanya (Part 1)

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al-Hasyr :21)

Al Quran sangatlah berat. Maka Allah pun mempersiapkan Rasulullah SAW dengan saat sempurna untuk menerimanya, seperti membersihkan hari beliau saat kecil. Bahkan dalam beberapa riwayat dikisahkan bagaimana kondisi Rasulullah saat wahyu turun, saking beratnya Al Quran. Ada kalanya ketika Al Quran akan turun seperti ada lonceng yang sangat kuat berdengung di telinga Rasulullah. Atau seperti suara lebah yang juga pernah didengar para sahabat. Pernah pula para sahabat melihat Rasulullah berkeringat padahal saat itu sedang musim dingin. Dan bila wahyu turun saat beliau sedang di atas unta, maka unta pun bergetar hingga Rasul jatuh, dst.

Kulit orang beriman akan merinding saat mendengat ayat Al Quran.

Al Quran adalah izzah kita–> Seperti perkataan Umar bin Khattab, “Jika kita meninggalkan Al-Quran maka Allah akan menghinakan kita.”

Ustadz Abdul Azis Abdul Rouf pernah berkata, proses kita berinteraksi dengan Al Quran adalah dengan diulang-ulang, seperti mengulang,-ngulangnya kita pada Al Fatihah.

Ada seorang ulama Tabiin yang berwasiat kalau meninggal dunia ia ingin dikuburkan di rumahnya. “Saya ingin dikuburkan di trmpat saya mengkhatamkan Quran 1000 x”

Saudara-saudara kita di Palestina, Mesir, dll, yang tengah menghadapi kedzaliman di penjara, mereka mengisinya dengan m3mbaca Al Quran hingga bisa khatam 90 x dalam tiap bulan. Karena mereka yakin betul bahwa Al Quran akan memberikan keteguhan, maka harus banyak berinteraksi dengannya.

Jika anak kita sedang mengalami kesulitan menghafal Al Quran, maka langsung introspeksi, jangan-jangan kita lah orang tuanya yang tengah jauh dari Al Quran.

Dalam Kitab Mukhtashor Syuabul Iman,cabang ke 19 ini hanya tertulis 4 halaman, padahal di kitab Syuabul Iman aslinya tertulis 200 halaman, dengan pembagian beberapa pasal.

PASAL 1. TENTANG KEUTAMAAN MEMPELAJARI AL QURAN

Dari Abu Abdurrahman As-Sulami, dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Pada suatu saat ketika sedang berada di medan jihad, sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman pernah mendengar perselisihan tentang bacaan Al Quran, padahal memang Al Quran Allah turunkan dengan 7 macam bacaan. Dalam sebuah hadits disebutkan : “Al Quran diturunkan dengan 7 huruf, barangsiapa membacanya demikian, maka seperti membaca sebagaimana yang Allah turunkan kepada Rasulullah”.

Abdurrahman bin Abdul Qari’ bahwa dia berkata, Umar bin Khathab ra. berkata; “Aku mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surah Al-Furqan dengan cara yang berbeda dari yang aku baca sebagaimana Rasulullah saw. membacakannya kepadaku dan hampir saja aku mau bertindak terhadapnya, namun aku biarkan sejenak hingga dia selesai membaca. Setelah itu aku ikat dia dengan kainku lalu aku giring dia menghadap Rasulullah saw. dan aku katakan: “Aku mendengar dia membaca Al-Qur’an tidak sama dengan aku sebagaimana engkau membacakannya kepadaku”. Maka, beliau berkata kepadaku: “Bawalah dia kemari”. Kemudian beliau berkata, kepadanya: “Bacalah”. Maka dia pun membaca. Beliau kemudian bersabda: “Begitulah memang yang diturunkan”. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Bacalah”. Maka, aku membaca. Beliau bersabda: “Begitulah memang yang diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh dialek (qira’ah sab’ah), maka bacalah oleh kalian (qira’ah) mana yang mudah”. (HR. Bukhari)

Karena perselisihan-perselisihan tsb, Hudzaifah memberi usulan kepada Khalifah Utsman Bin Affan agar ummat tidak semakin terpecah. Terbentuklah tim pengumpulan Al Quran yang diketuai Zaid bin  Tsabit . Dan hadirlah 6 mushaf Al Quran, satu disimpan di Madinan, dan 5 lainnya dikirim ke Makkah, Syam, Kuffah, Basrah, dan Yaman. Tiap mushaf, dikirim pula seorang muqri nya, seperti Abu Abdurrahman As Sulami yang diutus untuk mengajarkan Quran di Kuffah selama 40 tahun.

Para ulama bersepakat bahwa Rosm Utsmani tidak boleh diubah. Dan setelah pembukuan itu, orang-orang yang memiliki mushaf pribadi harus membakarnya dan hanya menggunakan mushaf resmi, agar tidak ada lagi perdebatan.

Dari Abdullah bin Mas’ud  RA Nabi SAW bersabda :
” Al Quran adalah hidangan Allah. Pelajarilah apa yang bisa kau pelajari. Al Quran adalah tali Allah,cahaya yang terang dan obat yang mujarab, pelindung bagi orang yang berpegang dengannya, penyelamat bagi orang yang mengikutnya. Al Quran tidak bengkok, tidak menyimpang, tidak habis keajaibannya. Bacalah kerana Allah akan memberikan pahala,  setiap satu huruf sepuluh pahala. Aku tidak katakan alim Laam Miim sebagai satu huruf tetapi alif satu huruf dan Laam satu huruf serta miim satu huruf. ” ( HR al Hakim).

Dari Uqbah bin Amir RA, ia menceritakan, “Rasulullah saw. Datang menemui kami di shuffah, lalu beliau bertanya, ‘Siapakah diantara kalian yang suka pergi setiap hari ke pasar Buth-han atau Aqiq lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta betina dari jenis yang terbaik tanpa melakukan satu dosa atau memutuskan tali silaturahmi?’ Kami menjawab, Ya Rasulullah, kami semua menyukai hal itu.’ Rasululullah saw. Bersabda, ‘Mengapa salah seorang dari kalian tidak kemasjid lalu mempelajari atau membaca dua buah ayat al Qur’an (padahal yang demikian itu) lebih baik baginya dari pada dua ekor unta betina, tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta betina, dan begitu pula membaca empat ayat lebih baik baginya daripada empat ekor unta betina, dan seterusnya sejumlah ayat yang dibaca mendapat sejumlah yang sama dari unta-unta.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat pernah mengadukan kondisi orang-orang yang sibuk dengan hadits namun tidak mempelajari Al Quran sebagaimana mestinya. Maka Ali RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Bahwa nanti akan ada fitnah (musibah luar biasa). Bagaimana agar keluar dari fitnah itu? Dengan Al Quran, karena dalam Al Quran ada kabar orang-orang sebelun kalian dan orang-orang sesudah kalian, ada hukum. Orang yang meninggalkan Al Quran adalah orang sombong akan Allah parahkan, orang yang mencari petunjuk selain Al Quran akan Allah sesatkan….” –> Ada yang mengatakan bahwa ini bukan hadits marfu tetapi hadits maukuf perkataan Ali RA.

Dari Zaid bin Arqam RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitabullah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(HR. Tirmidzi,Ahmad,Thabrani)

Dari Jubair bin Muth’im RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Hendaklah kamu sekalian bergembira, karena sesungguhnya Al-Qur’an ini ujungnya berada ditangan Allah sedang ujungnya yang lain ditangan kamu sekalian. Oleh sebab itu hendaklah kalian berpegang teguh kepadanya, maka  sungguh kamu sekalian tidak akan binasa dan tidak pula akan sesat sesudah itu selama-lamanya”. (HR. Ath-Thabarani)

Bila para sahabat biasanya bertanya tentang kebaikan, maka sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kejelekan, karena khawatir terjerumus dalam kejelekan itu. Maka Rasulullah SAW menjawab, “Yaa Hudzaifah berpegang teguhlah kepada Al Quran, pelajarilah dan ikutilah.” Sampai diulang 3x.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa membaca dan hafal Al-Qur’an lalu menghalalkan yang halal di dalamnya dan mengharamkan yang haram di dalamnya niscaya Alloh akan memasukkannya dengan sebab itu ke dalam jannah, dan menerima syafa’atnya untuk 10 orang dari keluarganya yang kesemuanya mesti masuk ke dalam neraka.” (HR Tirmidzi )

Orang yang menghafal Al Quran sebelum baligh maka ia telah diberi hikmah ketika dia belia. Seperti hadits dari abu Hurairah RA, ” Siapa yang mempelajari Al Quran ketika masih kecil maka al Quran itu akan menyatu dengan daging dan darahnya. Dan siapa yang mempelajarinya saat dewasa, ilmu itu lepas darinya dan tidak melekat pada dirinya, maka baginya pahala 2 kali. “( HR. Baihaqi)

Para sahabat mengatakan, “Kami bila belajar 10 ayat dari Rasulullah, kami tidak akan beranjak ke ayat lain sebelum mempelajari apa-apa yang ada dalam ayat-ayat tersebut”. Umar bin Khattab belajar Al Baqarah selama 12 tahun, sedangkan Abdullah bin Umar mempelajari Al Baqarah selama 8 tahun, karena keduanya mempelajari hingga hukum-hukum dan ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya.

Bagaimana terhadap anak-anak kita? Untuk anak-anak, karena bila dijelaskan hukum-hukum Al Quran belum tentu faham, maka tak apa memulai dengan menghafal dulu. Seperti dalam penanaman iman, mereka ditalqin dulu, seiring dengan usia, mereka diajak untuk memahami dan mendalami ilmunya.
===

Sumber: Kajian Ummahat KAF Tangsel, Kitab Syu’abul Iman, yang disampaikan oleh Ust.Akhmad Nizaruddin, MA.

Dirangkum oleh Wulan Ummu Kayyisah

0

L.I.Q.O

Lagi rame bahas liqo, jadi pengen nostalgia..😁

Saya mengenal mentoring atau liqo di awal tahun 2004. Itu momen tak terlupakan. Saat awal-awal mentoring, saya dan teman-teman termasuk yang sering bolos bahkan main petak umpet sama teteh mentor..Tapi melihat beliau yang sedang hamil besar begitu gigih “mengejar” kami, akhirnya membuat kami luluh..Dan, jika mengingat itu saya merasa sangat berterima kasih. Semoga Allah senantiasa menjaganya, melimpahkan pahala untuknya..

Semua teteh mentor saya, murabbiyah saya, amat istimewa. Salah satu yang paling saya ingat adalah murobbiyah yang harus direpoti oleh saya karena ada ikhwan yang bolak-balik mengajukan proposal nikah. Berkali-kali ditolak, ujung-ujungnya balik lagi, alhamdulillah selesai, da akhirnya beneran jadi suami 😂😂..Semoga pahala terlimpah padanya. Juga untuk seluruh murobbiyah saya hingga detik ini..

Apakah selama perjalanan ini mulus-mulus saja? Tidak. Berkali-kali saya galau, saya lanjut apa nggak ya? Sempat awal kuliah saya bertemu harakah lain, yang mengatakan tarbiyah adalah gerakan konspirasi buatan manaaa gitu, lupa 😀..Beuh anak bawang kayak saya waktu itu galau tak terkira. Tapi saya diingatkan seorang teteh, “Coba tanyakan pada hati, bukankah tarbiyah telah menorehkan banyak kebaikan untuk hidup kita?”

Mungkin tarbiyah tidak membuat saya menjadi seorang ‘alim, tapi dari tarbiyah setidaknya saya tahu kalau kaki itu aurat, makanya saya belajar memakai kaos kaki. Saya tau bahwa memakai khimar harus menutup dada dan pakaian tidak boleh membentuk tubuh. Dan dari tarbiyah saya semakin mencintai kedua orang tua saya, bahkan belajar mencium tangan mereka, aktivitas yang tidak pernah saya lakukan sebagai anak kecuali saat lebaran saja.😥Sepele? Mungkin iya bagi sebagian orang. Tapi bagi saya yang bodoh, hal-hal kecil itu akhirnya membuka jalan kepada kebaikan yang lebih besar. InsyaaAllah.

Namun begitu, hati saya pun merasa sedih ketika muncul keriuhan yang malah semakin memperuncing perpecahan antar kaum muslimin. Potongan video 1 menit yang beredar membuat saya penasaran, maka saya cari video kajian utuhnya. Saya ikhtiarkan menyimak baik-baik pernyataan utuh beliau saat menjawab pertanyaan seorang akhawat tentang liqo. “Liqo tidak dicontohkan oleh Rasul.” Terkait ini  asaatidz sudah banyak yang membahasnya. Tapi jika video 1 menit itu dilanjutkan, maka akan ada pernyataan beliau tentang menuntut ilmu tidak harus di liqo saja. Ikutilah kajian di mana pun untuk menuntut ilmu. Husnudzon saya mungkin ustadz mengira bahwa liqo adalah satu-satunya tempat menuntut ilmu bagi para liqoers. Padahal nggak kan ya? kan kan? 😀Apalagi sekarang mah kajian banyak , dari mulai di  dunia nyata hingga dunia maya. Tinggal kitanya yang mau apa nggak…

Dari dauroh mentor yang baru saya ikuti kemarin, terkait pemenuhan ilmu ini harus diakui memang menjadi PR kita semua. Bagaimana pun dalam proses tarbiyah, ilmu adalah salah satu output yang seharusnya didapatkan. Sering saya menemukan komentar sebagian liqoers yang haus akan ilmu karena merasa di liqonya kurang pembahasan ilmu. Maka, menurut salah seorang ustadz, hal ini memang harus sama-sama menjadi perhatian, bagaimana agar para murobbi memilik kafa’ah syar’iyyah yang lebih dibanding binaannya dan bagaimana agar mutarobbi memang mendapatkan ilmu dalam liqonya.

Ini sebenarnya seperti menampar diri saya sendiri. Dulu saya pegang kelompok mentoring, dan sekarang sebagai anak bawang,  saya senang jadi mentor badal. 😂 Tapi saya akui khusus untuk diri saya sendiri memang masih jauh dari sebutan ahli ilmu, disebut thullab juga belum tentu pantas 😔.. Maka PR saya adalah agar “teko”  ini bisa mengeluarkan isi, saya harus rajin mengilmui diri. Mengikuti kajian, membaca buku, tidak malas saat diminta hadir tasqif, dst. Dan sebagai mutarobbi pun tidak bisa hanya mengandalkan liqo pekanan, lalu mengeluh tidak mendapat ilmu apa-apa dari liqo. Karena liqo hanya salah satu sarana tarbiyah, terlebih durasinya yang terbatas. Maka lagi-lagi kembali, rajinlah mengilmui diri, bagaimanapun ada namanya tarbiyah fardhiyah…Duuh enak banget ya ngomong gini, melaksanakan mah sulit 😢😢

Akhir kata, yuk ah kembali pada ladang amal nyata yang banyaaak di sekitar kita..MasyaaAllah ada asaatidz yang concern memberikan ilmu bagi masyarakat di majlis-majlis ilmu, masjid-masjid, forum-forum..Tapi mungkin ada pribadi-pribadi yang belum layak menyandang predikat ustadz/ustadzah tapi tetap bergerak membina adik-adik, anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan kaum marjinal yang belum tersentuh majlis- majlis ilmu. Yang harus didatangi secara aktif, harus pelan-pelan dibina dan disentuh. Kadang terberit dalam pikiran saya sendiri, “Walau bahasa Arabmu belum lulus, setidaknya ajari mereka huruf hijaiyah Wulan!”. Ladang amal nyata itu luas teramat, alangkah indah semuanya bergerak berkolaborasi..Duuh lagi-lagi enak banget nih ngetik cuma tinggal pakai jari, ngamalinnya yang susaaah 😔

Akhir kata (lagi?). Berhati-hatilah terhadap adu domba. Terhadap potongan-potongan video, terhadap artikel-artikel yang harus dicek dan ricek. Dengan ributnya kaum muslimin, ada yang sedang mancing di air keruh. Naooon cenah 😀😀

0

Cabang Iman ke-13 : Tawakkal kepada Allah SWT

PENGERTIAN

Tawakkal adalah tsiqoh, pasrah, dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah dengan adanya sebab-sebab usaha.

Tawakkal disebutkan sebanyak 70 kali di dalam Al-Qur’an, ini menunjukkah betapa pentingnya tawakkal.

URGENSI TAWAKKAL

  1. Karena salah satu sifat yang menonjol dari seorang muslim adalah tawakkal.
  2. Al-Anfal : 2. Menurut Ibnu Katsir, orang-orang mukmin itu hanya berharap kepada-Nya, tujuan kepada Allah, dan memohon perlindungan kepada Allah.
  3. Tawakkal adalah syarat sah keimanan seseorang. QS.Al-Maidah : 23
  4. Tawakkal adalah setengan agama (nisfud diin)

Agama itu terdiri dari 2  hal (QS.Al-Fatihah : 5)

  • Isti’anah, memohon pertolongan kepada Allah, termasuk dalam hal ini adalah tawakkal
  • Ibadah, yang di dalamnya juga ada Al-Mahabbah, khauf, raja’

Dalam ayat-ayat tentang Tawakkal, Allah selalu mendahulukan objeknya terlebih dulu. “Iyyaaka Na’budu”, “Wa ‘alallahi fal yatawakkal..”, dst. Mengapa demikian? Ini mengisyaratkan bahwa mengenal siapa yang ditawakkali, mengenal Allah terlebih dulu, itu sangat penting. Tak kenal maka tak cinta. Jika kita sudah kenal, apalagi cinta, maka semua ibadah akan terasa ringan dan isti’anah akan terasa mudah. Seperti perkataan Salaf, “Jangan lihat kecilnya dosa, tapi lihatlah siapa yang kau langgar.”

Dalam QS. AL-Fatihah: 7, siapakah yang dimaksud Allah beri nikmat atas mereka? Mereka adalah para nabi, shiddiqin, para syuhada, dan sholihiin.

Apakah mudah ? Tidak.Jalan yang mereka tempuh sangat sulit, ujian mereka pun berat. Tapi karena mereka mencintai dan dicintai Allah, maka mereka menikmati ujian-ujian itu.

Nabi Ayyub AS, menikmati ujian karena tahu bahwa di dalam ujian itu ada cinta Allah.

Rasulullah SAW merasakan ujian yang sangat berat, yaitu ketika berdakwah ke Thaif pada tahun ke-10 kenabian. Tapi lihatlah isi doa beliau saat di Thaif. “Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku di hadapan sesama manusia. Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku. Tetapi asal Kau tidak marah padaku, aku tidak perduli semua itu. Kesehatan dan karunia-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada murka-Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sehingga Engkau meridhaiku. Tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu”

“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa ridha (menerima cobaan tersebut), maka baginya keridhaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Allah memerintahkan tawakkal dalam segala urusan, bahkan doa keluar dan masuk rumah saja isinya adalah tentang tawakkal kepada Allah.

Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud no. 5090, Ahmad no. 27898 Ibnu Hibban. Dihassankan oleh Syaikh Syuaib Al-Arnauth dan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3388)

Akan masuk surga suatu kaum yang hati mereka seperti hati burung.” (HR. Muslim no. 2840) à hati yang penuh tawakkal dan hanya bergantung kepada Allah SWT

KEUTAMAAN TAWAKKAL

  1. Sifat ahli surga adalah sabar dan tawakkal
  2. Orang yang tawakkal kepada Allah, akan Allah cintai. QS.Ali Imran: 159à masih ada hubungan dengan kisah perang Uhud di Ali Imran : 152. Allah tidak mencela proses yang sudah terjadi pada perang uhud (Musyawarah)à فاذاعزمت فتوكل على الله
  3. Orang yang tawakkal akan senantiasa Allah jaga, Allah penuhi semua kebutuhannya. QS. Ath-Thalaq :3
  4. Orang yang tawakkal susah untuk dipengaruhi syaitan dan dilindungi Allah dari orang jahat. QS. An-Nahl : 99
  5. Orang tawakkal adalah uswah (teladan) QS. Al-Mumtahanah: 4
  6. Tawakkal adalah penyebab utama Allah akan memberi rizki

Rizki tidak melulu tentang harta, tapi bisa dalam bentuk ilmu, kenyamanan, kesehatan, harmonis, dst.

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim)

  1. Tawakkal adalah penyebab utama kemenangan kaum muslimin menghadapi musuh. QS. Ali Imran : 160 –> Jika Allah menolong kalian makan tidak ada yang bisa mengalahkan kalian

HAL-HAL YANG PERLU DITAWAKKALI

  1. Tawakkal dalam hal yang biasa kita khawatirkan, yaitu tentang rizki.

Syaikh Qardhawi pernah mengatakan bahwa urusan rizki dan ajal banyak membuat orang berpikir, khawatir, dsb. Padahal semua itu sudah dijamin.

Mari belajar dari kisah Abu Bakar RA, saat beliau ditanya tentang apa yang akan diinfakkan untuk perang Tabuk. Jawabnya adalah seluruh hartanya. Cukup baginya dan keluarga Allah dan Rasul-Nya.

Lalu mari kita pun melihat kisah para Mujahidin. Apa yang mereka tinggalkan untuk keluarga? Mereka akan berkata, “ Kita pergi untuk memenuhi perintah Allah. Allah berjanji akan memberikan rizki kepada hamba-hambaNya”. Dan bagaimana penyikapan para istri mujahidin? Mereka pun akan berkata, “ Saya tahu suami saya Cuma makan dan bukan yang memberi rizki. Jika tukang makan itu pergi, maka Sang Pemberi rizki tidaklah pergi.”

  1. Tawakkal dalam urusan agama , yaitu dalam berdakwah dan penegakkan Islam.

Tawakkal orang yang berdakwah harus lebih besar dari orang biasa.

USAHA YANG BERKAITAN DENGAN TAWAKKAL

توكل  (Tawakkal) –> berserah dengan berusaha

تواكل (Tawaakal) –> pasrah tapi tidak mau berusaha, dan ini tercela

QS.Al-Anfal : 60–> واعدوالهم –> I’dad (persiapan) adalah bentuk usaha

  1. An Nisa : 102 –> tentang shalat khauf, bersiap siaga dan mengambil senjata
  2. Ad Dukhan : 24–> Kisah Nabi Musa
  3. Al-Hijr : 65–> Kisah Nabi Luth

Beberapa ayat tersebut adalah contoh tawakkal  yaitu berserah namun tetap diiringi usaha.

Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang akan pergi berjihad dan dia berkata kepada Imam Ahmad bahwa dia tidak mau membawa bekal karena dia tawakkal kepada Allah. Maka Imam Ahmad pun menjawab, “Berangkat saja sendiri kalau begitu.”

Seseorang berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani)

Orang yang tawakkal seperti orang yang melempar benih. Ia rawat sebaik mungkin, namun kemudian ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Jangan pernah merasa keberhasilan adalah karena diri kita. Semua terjadi karena Allah SWT

Contoh tawakkal  dari para teladan mulia:

  1. Proses hijrah Rasulullah SAW yang penuh dengan persiapan dan strategi yang sangat matang
  2. Nabi Nuh AS membuat kapal sebagai bentuk usaha menyelamatkan diri
  3. Nabi Ya’qub AS melarang Nabi Yusuf AS menceritakan perihal mimpinya kepada saudara-saudaranya.

– Keluarga Nabi Ya’qub bisa mentakwil mimpi, termasuk para putranya

– Minta tolonglah kepada Allah dengan jalan menyembunyikan karena orang yang diberi nikmat itu dihasadi

  1. Orang-orang yang hanya duduk-duduk di masjid akan dipukul oleh Umar RA

BUAH TAWAKKAL

  1. Akan mendapatkan As-Sakinah dan Tuma’ninah. Contoh nya adalah saat Rasulullah SAW berada di gua Tsur.

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah : 40)

2.  Al Quwwah (kekuatan)

  • QS. Yunus : 71 –> Kisah Nabi Nuh AS
  • QS. Hud : 54-56 –> Kisah Nabi Hud AS
  • QS. Al-Ahzab : 22 –> kisah kemenangan pada perang Ahzab

3.  Al Izzah (kemuliaan) –> QS Asy Suara : 217

CIRI ORANG TAWAKKAL

  • Dari Yahya bin Muadz. “Kapan seseorang bisa dikatakan tawakkal? Yaitu jika dia ridha Allah sebagai penolongnya.”
  • Orang tawakkal adalah orang yang selalu optimis. QS. Yusuf : 87
  • Orang tawakkal tidak pernah mengeluh atau menunjukkan ketidaksabaran. Dia adalah orang yang paling sabar.

 

====

Sumber : Kajian Kitab Mukhtashor Syu’abul Iman ,Ummahat KAF Tangsel, yang disampaiakan oleh Ust. Akhmad Nizaruddin, MA.

Dirangkum oleh Wulan Ummu Kayyisah

0

2.492 Hari

Kalau tentang milad, milad siapapun yang di rumah, kami hare-hare aja, paling-paling hanya saling becanda..”Waah udah tuaa..” Tapi ketika anniversary kami suka iseng bikin momen spesial walau sekadar makan sekeluarga di emperan..hehe..Seneng aja ngobrol mengingat-ngingat momen pertama kali senggol-senggolan tangan di pelaminan, jalan berdua, apalagi momen jatuh cinta pertama kalinya..😁

Di momen anniversary yang ke-7 kemarin, bapake berbaik hati mau ngajak jalan-jalan, yang sebenarnya buat nyenengin emaknya tapi ujung-ujungnya tetap saja kebahagiaan anak-anak yang utama bagi emak..Yang spesial lagi, bapake sengaja ambil cuti. “Pak, Kimia ITB ulang tahun ke-70, saya juga mau cuti ulang tahun pernikahan yang ke-7”..Huehue..itu dialog imajiner bapake saat mau menghadap atasan..😂😂

Bagi saya dia tetaplah sang sayap. Cukup saat melihat dia tempo hari menerjang hujan petir hanya untuk mengantar jemput saya mengaji atau berbagi ilmu, mengingatkan lagi bahwa dia tetap memiliki banyak andil dalam setiap langkah saya. Semoga Allah limpahkan padanya pahala. Cukup tiap malam dia membagi isi kajian yang dia dengar, sampai kadang saya tinggal ketiduran, mengingatkan bahwa bagaimana pun dia sedang berikhtiar mendidik saya yang keras kepala tapi kurang ilmu ini. “Bengkok” dan PMS selalu menjadi senjata andalan. Wanita oh wanita…hiks..

Tapi pesbuk setidaknya mengingatkan memori 4 tahun lalu..Tentang pesannya di suatu pagi, “Mi, suami dan istri adalah satu kesatuan dalam sebuah keluarga, maka ketika menilai tentang kebermanfaatan, jangan lagi mendikotomikan keduanya, karena pada dasarnya mereka satu keluarga, kebermanfaatannya pun adalah manfaat dari sebuah keluarga utuh..Apapun peran sosial maupun domestik masing-masing, satu dan lainnya saling mempengaruhi..Maka jadilah istri yang bisa membantu suaminya bermanfaat, pun jadilah suami yang bisa membantu istrinya bermanfaat.” Itu adalah pesan jitu saat bisik-bisik mulai menghampiri telinga saya, “Ga bosen di rumah saja?”..”Sayang loh potensinya.” Dst..Semoga kami sedang berbagi peran yang keduanya tetap mendulang pahala..

====

Di Surga, seorang suami akan terpana melihat istrinya selama 40 tahun”, katanya sambil ngisengin menatap si saya lama. Latihan heula cenah..he… Mudah-mudahan Allah kabulkan kelak bisa masuk Surga, dan bisa saling menatap berlama-lama. Lalu saya tanya, “Kalau kita Surga nya ga setingkat gimana? Emang abi mau ngangkat umi?” Eh, malah dia jawab, “Kalau abi yang di bawah, ummi mau ngangkat abi?” Pertanyaan yang tak perlu jawaban, hanya doa dan ikhtiar yang harus semakin kencang.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Kami masih tertatih dan masih harus banyak mengilmui diri. Agar visi rumah tangga, bersama hingga ke Surga, bukan cuma slogan semata. Perjalanan panjang dan sulit. Menjaga agar bahtera tak melenceng dari jalan-Nya. Mendidik anak-anak agar seperti yang dicita-cita, menjadi pemimpin orang-orang bertaqwa.

091010-091017

0

Belajar Berbagi dari Kayyisah

Kisah 1

Sore kemarin  si Kakak menggerutu sendiri sambil menekuk wajah. Saya coba tanya apa yang sedang ia bicarakan. Lalu mulai lah dia bercerita bahwa saat di sekolah beberapa kawannya makan snack tapi dia tidak dibagi dan tidak boleh lihat.

U: “Loh..maksudnya Kakak pengen lihat untuk apa?”

K : “Aku kan cuma mau tau,  ga akan minta kok.”

U :”Iya Nak, tapi kan ga semua orang suka dilihatin waktu makan.”

K :  “Ya udah kalau gitu, besok-besok juga aku mau rahasia-rahasiaan jajan.”

U : “Kak, tadi kakak sedih ga teman-teman rahasia rahasiaan?”

K : “Sedih…”

U : ” Nah, samaa..Kalau kakak rahasia rahasiaan juga, nanti teman-teman ada yang sedih..”

K: “Tapi kan kata ummi harus berbagi.”

U : “Iya Nak, kalau kakak punya makanan, kita berbagi, itu shalihah..Tapi kalau sama orang lain kita ga boleh minta-minta. Kalau dikasih alhamdulillah, kalau nggak, jangan minta atau ngeliatin makanannya. Memberi itu lebih baik Nak”.

K :” Ooh..kayak kemarin ya..waktu kakak A minta kurma aku. Kakak A bilang, ‘Mau dong kurmanya’. Tetus aku bilang deh, ‘Silakan dimintaaa..” -sambil nunjukki adegan membuka tangan, hehe..-

U : “MasyaaAllah iya Nak begitu, shalihahnya anak ummi”..

K : “Terus kakak A nya masih mau, tapi kurma aku cuma tinggal satu..”

U: “Ooh gituu..Kalau memang gitu, kakak boleh bilang, ‘Maaf ya Kak kurmanya cuma tinggal satu.”

K: ” Gapapa aku potek aja pakai gigi, jadi setengah-setengah..”

U : “Ooh..MasyaaAllah..Iya, tapi kalau makanannya yang keras dan ga bisa dipotek, ya Kakak minta maaf aja belum bisa berbagi..”

K: “Ooh kayak apel yaa, yang keras…Kalau yang keras aku pergi aja ke Ummu Hafidz minjem pisau buat ngebagi..”

Di situlah saya terdiam..Malu..

====

Kisah 2

Suatu hari, pulang sekolah si kakak lapor , “Ummi..ummi maaf uang infaq yang di amplop waktu jumat lupa dikasihin, jadinya tadi aku kasih aja ke temen aku, biar dia senang bisa jajan.”

Mendengar itu, ekspresi saya bengong..

“Waah Nak, kenapa dikasihin ke temen, duuh ga enak nanti sama umminya..”

” Ga papa, kan biar temen aku senang bisa jajan..”

Akhirnya,…Ya sudah lah, hitung-hitung mempererat rasa kasih sayang dengan teman, saling memberi hadiah..

Lalu besoknya sambil ngobrol santai saya tanya-tanya si kakak kegiatan di sekolahnya hari itu..”Kak, kakak pernah marahan ato berantem ga ama temen ?”

“Ga, yang pernah si A ama B, D sama C..”

“Ooh..kalau yang marah sama Kakak pernah ada?”

” Pernah, tuh E..”

“Kapan emangnya? Kakak bikin salah apa?”

” Itu kemarin..Ga tau kenapa, dia ga mau deket-deket aku..”

“Loh kemaren? Jadi Kakak ngasih uang yang kemaren itu biar dia ga marah lagi?”

Si Kakak cuma nyengir, “Hehe..iyaaah..biar dia senang..”

===

MasyaaAllah…

Mungkin itu lah bedanya jiwa yang tanpa dosa, dengan jiwa saya yang berlumur dosa.

Anak kecil mampu berbagi untuk hal kecil sekalipun bahkan akan mencari akal bagaimana pun untuk berbagi. Tapi orang tua mencari-cari alasan untuk menahan tangan. Menghitung-hitung dan berfikir lama saat akan berinfaq..

Anak kecil saat bertengkar, akan dengan mudah saling memaafkan, bahkan mencari jalan untuk berdamai lalu bermain lagi seolah tak terjadi apapun. Tapi orang tua kadang masih menaruh dendam, perasaan tak enak, bahkan tak segan mencari perselisihan di antara perbedaan..

Nak..terima kasih, hari ini ummi belajar lagi..

Baarakallahu fiik..😘😘

Dan lagi, semoga ridha dan penjagaan Allah senantiasa meliputi asaatidzahmu..

 

 

0

Galauniti Vaksinasi

Seminggu terakhir FB saya, iyah saya, isinya rame pembahasan tentang vaksinasi. Sebenarnya pro kontra vaksinasi bukan hal yang baru, tapi berhubung saat ini pemerintah sedang menggalakan program imunisasi MR, maka wajar lah rame lagi.

Sebagai emak-emak, saya juga pernah galau, terutama pada aspek kehalanan vaksin. Bahkan seminggu  lalu saat menimbang-nimbang Kayyis mau divaksin apa nggak, duuh umminya tiap hari menggalau..Hebatnya, nyari ilmunya via FB ama mbah Google..duh..duuh..manusia zaman sekarang, eh si ummi aja ini mah deng. Alhasil,hari ini provaks, besok bisa ganti jadi antivaks..Apa pula ini istilah..

Lalu tiba-tiba dapat inspirasi, akhirnya nyoba-nyoba baca buku-buku zaman kuliah dulu..MasyaaAllah, udah berdebu banget tuh buku-buku..Ditutup diskusi dengan abinya anak-anak, yang diakhiri pertanyaan epik nan makjleb, “Umi serius udah lupa pelajaran kuliah?”😂

Saya ga mau bahas provaks dan antivaks, itu mah udah mainstream..huehue..Saya hanya ingin nulis kenangan minggu lalu saat akhirnya memutuskan memvaksin Kayyis di sekolahnya, saat sebagian besar anak yang lain memilih untuk tidak divaksin di sekolah, tentunya dengan aneka macam alasan dan pertimbangan. Ini lah kerennya Kuttab, hal seperti ini memang seharusnya diserahkan pertimbangannya kepada orang tua, bahkan saat divaksin anak wajib didampingi orang tuanya.

Yang lucu, sehari sebelum divaksin, pulang-pulang si Kayyis bilang gini, “Umi..umi …kata temen aku ga boleh disuntik..ga halal..” Hayoo loh, si ummi cuma bisa nyengir kuda..Akhirnya saya jawab sebisa-bisa, “Iya nak, umminya A dan B baca berita kalau obat yang mau disuntiknya ga halal, jadi belum boleh dulu. Tapi abinya Kayyis sudah baca juga di tempat lain kalau obatnya insyaaAllah halal, jadi gapapa ya beda…”

Malam sebelum vaksin, saya pun sempatkan berdialog iman dengan Kayyis:

U: “Kak, yang ngasih sehat siapa sih?”

K :” Allah..”

U : ” Iya Kak, masyaaAllah Alhamdulillah, Allah baik banget..Tapi kita juga harus ikhtiar Kak. Gimana biar kita sehat Kak?”

K : “Olahragaa..makan makanan yang sehat-sehat..bersih-bersih..”

U : ” Iya Kak, makan buah sayur ya..madu juga..Kalau sakit, terus  ke dokter, ya dikasih obat.. Tapi yang ngasih sembuh siapaaa?”

K : ” Allah…”

Mengapa saya awali pula ikhtiar ini dengan berdialog iman dengan si kakak? Karena saya ingin mengingatkan dia bahwa semua adalah milik Allah termasuk sehat dan sakitnya kita. Libatkan Allah, senantiasa. Kita, hamba-Nya, hanya berikhtiar. Makan sehat, lingkungan sehat, tibunnabawi, pengobatan modern, termasuk vaksin,  hanya lah bentuk usaha.  Tak ada yang Maha Benar selain Allah.

Sepanjang malam saya terus berdoa, “Yaa Allah, kalau vaksin MR ini tidak baik, maka tolonglah hamba..” Beneran dag dig dug seperti sedang milihin jodoh.huehue..Saya takut ada setitik saja barang haram yang mengalir dalam darah anak saya, yang akan menjauhkannya dari ridha Allah..

Dan, akhirnya semua pun berlalu..Bagi kami ini hanya lah bentuk ikhtiar, yang kami awali dengan bertanya dan membaca kepada yang ahli, serta memohon petunjuk Allah. Tawakkal, memasrahkan segala sesuatu setelah usaha sekemampuan diri.

Allah yang menciptakan bumi dan seisinya. Allah pula yang mengaruniakan akal, dan juga ilmu kepada manusia. Terlebih Allah berikan petunjuk agung yaitu Al-Quran. Kemampuan dan ilmu kita terbatas, barangkali yang hari ini kita yakini, esok hari bisa saja berganti setelah kita lebih jauh mengilmui diri..

Berilmu itu memang sulit, tapi yang lebih sulit adalah memiliki adab…😊